Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Membatalkan Seleksi Dan Perempuan Kenalan Damar)


__ADS_3

Makan malam kali ini adalah makan malam yang membuat tenggorokan Fatur sangat sakit, bagaimana tidak selama di meja makan Fatur tidak bisa menelan setiap makanan yang masuk. Hanya ada kenangan masa lalu yang terus terlintas saat menatap wajah papanya. Sedalam itu luka yang telah dibuat oleh papanya sehingga Fatur tidak bisa melupakannya sedikitpun juga.


Air matanya jatuh ke pipi saat selesai makan malam, Fatur memilih untuk cepat kembali ke kamarnya dibandingkan untuk mengobrol bersama papanya. Tidak ada lagi yang harus dibicarakan antara papanya dengan dirinya. Hanya satu yang Fatur pikirkan yaitu sosok Anggita yang mampu membuka hatinya selama ini.


Pagi itu Erik begitu terkejut dan kaget saat Fatur memberitahu dirinya jika akan menemui Anggita di Jakarta. Spontan niat Fatur mendapat cibiran dan protes dari Erik. Sejujurnya Erik tidak setuju jika Fatur menemui Anggita karena tidak akan ada gunanya.


"What! Lo mau menemui Anggita ke Jakarta?" Erik kaget menatap Fatur yang terlihat begitu santai pada jam kosong mereka memilih untuk ke kantin.


"Iya," jawab Fatur singkat seraya meneguk air mineralnya.


Bukan ide bagus jika Fatur menemui Anggita ke Jakarta, untuk apa Fatur menemui Anggita? Bukannya kisah mereka berdua sudah berakhir? Bahkan tidak pernah memulai mungkin.


"Lo serius mau nemuin dia di Jakarta? Memang dia mau ketemu sama lo?" tanya Erik pesimis memasang wajah tidak yakin.


"Masa dia nggak mau menemui gue, pasti mau," kata Fatur optimis dan percaya diri namun tidak dengan Erik yang merasa jika Anggita seperti menyembunyikan sesuatu.


"Saran gue lebih baik lo fokus kuliah dan seleksi buat ke Jepang nanti."


Memang Fatur akan mengikuti seleksi beasiswa ke Jepang dan itu adalah cita-citanya sejak dulu, menjadi arsitek terkenal.


"Kayanya gue nggak akan ikut seleksi, gue mau kuliah di sini aja karena gue baru menemuka seseorang yang sangat gue sayangi."


Ucapan Fatur membuat Erik tercengang sepertinya memang syaraf-syaraf otak sahabatnya sudah mulai terganggu dengan sosok Anggita. Bagaimana bisa Fatur dengan mudah membatalkan seleksi beasiswanya demi perempuan yang baru saja dikenalnya.


"Wah, sakit nih anak. Lo udah nggak waras? Gimana bisa lo batalin seleksi demi cewek yang belum lo kenal banget?"


"Ini baru permulaan jadi lo jangan khawatir." Fatur menyakinkan Erik dengan nada optimis.


"Dengar, ya. Jangan sampai semua cita-cita lo hancur karena cewek, bukannya lo yang bilang kalau rumah tangga dan karir bokap lo hancur karena cewek." Erik mengingatkan kejadian masa lalunya.


Deg, Fatur membisu saat mendengarnya dan tiba-tiba teringat akan kejadian yang membuatnya trauma. Perceraian kedua orang tuanya karena perempuan, apakah itu juga akan menimpah Fatur?


Jakarta


Damar dan Indra menuju sebuah hotel bintang 4 di Jakarta karena hari ini adalah hari pernikahan anak atasan dari Damar dan Indra. Dilakukan sesuai dengan tradisi militer pedang pora menghiasi acara pernikahan yang begitu sakral. Kedua lelaki tampan memakai baju batik sesuai ciri khas orang Indonesia saat menghadiri acara resmi.


"Nasib jadi jomblo kaya gini nih, ke resepsi pernikahan aja sendiri," celetuk Indra saat mereka berdua berada di dalam mobil bersama Damar menuju tempat resepsi.


Damar yang sedang menyetir hanya tersenyum simpul ketika mendengar ucapan Indra yang duduk di sampingnya.


"Sekarang lo juga jomblo, kan?" tanya Indra mengingatkan status Damar saat ini.

__ADS_1


"Resek lo," semprot Damar singkat seraya tersenyum sambil menyetir.


"Dua jomblo tampan yang menanti cinta sejati," ucap Indra bergurau sedikit menggoda sahabatnya yang sedang sedih karena hubungannya dengan Anggita.


Tidak lama setelah menempuh waktu 30 menit dari tempat Damar mereka berdua sampai, terlihat sangat ramai yang datang kebanyakan dari mereka adalah tamu-tamu penting yang mempunyai jabatan tinggi.


Rasanya Damar sangat iri saat melihat resepsi pernikahan itu, ia berharap juga ingin cepat melaksanakan apa yang sudah direncanakannya dengan Anggita selama ini. Damar membayangkan jika dirinya dan Anggita berdiri di atas pelaminan dan banyak orang yang mendoakannya. Namun semua itu harus tertunda. Setelah Damar dan Indra memberikan selamat kepada atasannya dan kedua mempelai, kedua lelaki tampan menikmati jamuan yang sudah disiapkan dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.


"Hei Mar, Dra," sapa seorang teman yang menghampiri Damar dan Indra ketika keduanya sedang berbincang bersama yang lain.


Spontan Damar dan Indra menoleh saat namanya dipanggil, begitu juga dengan beberapa temannya ikut ke arah suara tersebut. Ternyata teman lama satu pekerjaan Damar dan Indra yang bermana. Rehan dan Panca. Mereka bersalaman layaknya sesama polisi dan ikut bergabung bersama.


"Lo sendiri, Mar? Mana Anggita?" tanya salah satu temannya yang bernama Rehan seraya matanya mencari sosok Anggita di antara kerumunan teman-temannya.


Mendengar nama Anggita membuat Damar terdiam, senyumnya yang merekah kini berubah seketika. Memang teman-teman Damar sudah mengetahui tentang hubungan antara Damar dan Anggita, begitu populer kisah cinta mereka berdua di kepolisian tempat Damar bekerja.


"Dia sibuk," jawab Damar singkat mencari alasan dengan wajah datarnya.


Ternyata Rehan dan Panca tidak datang berdua, ada sosok perempuan yang sedari tadi mengikuti Panca dari belakang. Damar dan Indra sadar saat melihat perempuan cantik berkulit kuning langsat dengan mata inda sedikit besar menatap Damar sedari tadi.


Tanpa Damar sadar ternyata perempuan yang berada di belakang Panca diam-diam mencuri pandang kepada Damar. Dan Damar tersadar ika ternyata perempuan yang memakai kebaya coklat terus memperhatikannya. Damar kembali membalas tatapannya sesekali senyum manis menyapa perempuan itu. Siapa perempuan yang berdiri di belakang Panca sedari tadi? Perasaan Panca belum mempunyai seorang kekasih, lalu siapa dia? Siapa perempuan yang sangat anggun dan cantik itu.


"Kenalin ini sepupu gue, Alya." Panca memperkenalkan sepupunya sambil memberi jalan agar teman-temannya dapat melihat dengan jelas.


"Hai," sapa Alya dengan nada lembut kepada teman-temannya Panca seraya tersenyum manis.


"Gue pikir pacar lo," kata Indra dengan tersenyum manis memandang Alya yang tersipu malu karena menjadi pusat perhatian teman-temannya panca.


"Bukan. Dia sepupu gue yang baru datang dari Malaysia buat liburan," jelas Panca.


Namun nyatanya Alya masih saja terus menatap Damar dengan lekat, sepertinya Alya menyukai Damar. Begitu juga dengan Damar yang mencuri pandang kepada Alya yang masih berdiri di samping panca.


"Al. Kenalin ini temen-temen gue." Panca memperkenalkan temen-temannya dan disambut senyuman manis dari teman-temannya panca.


Bukan hanya Indra ingin kenal dengan Alya. Rehan, teman-temannya yang lain termasuk Damar ingin sekali mengenal Alya yang berhasil menarik perhatian Damar. Namun Panca memilih Damar untuk menemani Alya selama di sana, keputusan Panca membuat teman-temannya kecewa termasuk Indra dan Rehan. Tanpa Damar sadari jika awal dekatnya antara dirinya dan Alya adalah sebuah perkara yang akan membuat hubungan dengan Anggita hancur.


"Kamu sudah lama di Malaysia?" tanya Damar mulai berbincang dengan Alya sambil menikmati minuman segar.


"Sudah hampir 3 tahun," jawab Alya singkat sambil menatap Damar dengan lekat.


Mata Alya selalu ingin menatap Damar, walaupun Alya mencoba mengalihkan pandangannya tetap saja tidak berhasil.

__ADS_1


"Lama juga, ya."


"Iya," angguk Alya sambil tersenyum kembali menatap Damar.


"Kamu sudah lama berteman dengan Panca?" Alesa mulai bertanya kepada Damar mencoba mengawali pembicaraan dengan Damar.


"Hampir satu tahun."


"Cukup dekat berarti?" Alya mulai tidak canggung untuk mengobrol dengan Damar.


"Lumayan," jawab Damar singkat sambil kembali meneguk minumannya karena merasa tenggorokannya kering sekali.


"Berapa lama di Indonesia? Sudah jalan-jalan kemana saja?"


"Baru ke sini belum kemana-mana," jawab Alya yang kali ini begitu mudah menjawab pertanyaan Damar.


"Oh ya?" Damar tidak percaya menatap Alya dan seketika Alya tersenyum manis penuh arti menatap Damar


"Iya, belum sempat jalan-jalan."


"Belum sempat atau belum ada yang bisa diajak untuk pergi?" Damar terus menggoda Alya seolah dirinya mulai nyaman berbicara.


"Dua-duanya."


Apa ini kode dari Alya agar Damar mau menawarkan diri untuk menemaninya selama berada di Jakarta? Jika memang benar sungguh hati Alya sangat senang bukan main.


BATAM


Malam ini Rudi mengajak Mili kembali untuk makan malam, tidak lupa Rudi mencoba mengajak Fatur untuk ikut, namun ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Fatur karena sampai kapanpun juga kata maaf dari Rudi tidak akan pernah diterima olehnya. Fatur hanya ingin melihat bagaimana menderitanya Rudi saat ini. Fatur ingin melihat papanya terluka dan hancur berantakan.


"Lo mau ngapain di sini?" tanya Erik saat mengetahui kedatangan Fatur yang tidak diundang.


"Mau main lah, memangnya mau ngapain lagi," jawab Fatur sambil masuk dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur kosan Erik.


"Apa lo nggak bisa ngusik gue sebentar aja?" tanya Erik sedikit memelas.


"Nggak," jawab Fatur singkat saat mendengar permintaan Fatur.


Memang tidak ada tempat lagi yang begitu nyaman bagi Fatur, tempat yang paling nyaman setelah rumahnya adalah kosan Erik. Saat Fatur sedang sibuk memainkan ponselnya tiba-tiba saja ada panggilan masuk berdering.


Betapa terkejutnya Fatur saat melihat nama yang muncul dalam panggilan masuknya, nama yang dirindukannya selama ini, nama yang membuatnya jatuh hati beberapa waktu ini. Nama yang mulai disukai dan disayanginya.

__ADS_1


Apa Fatur tidak salah lihat atau memang hanya bermimpi, tapi itu benar adalah nama panggilan masuk di ponselnya memang benar perempuan yang ditunggu akan suara dan kabarnya, dia adalah Anggita.


__ADS_2