
Sepulangnya Fatur dari rumah sakit membuat dirinya menjadi pribadi yang semakin pendiam, jarang sekali bicara jika tidak diajak bicara oleh mama dan kakaknya. Perubahan itu semakin terlihat saat Anggita menolak dirinya, perasaan Fatur beberapa hari ini sangat kacau tidak karuan. Apalagi mengetahui papanya sudah beberapa kali datang untuk bertamu ke rumahnya membuat Fatur semakin kesal.
Untuk apa papanya datang ke rumah padahal Fatur sudah bilang berkali-kali untuk tidak datang ke rumah jika sedang ada dirinya. Yang pasti sampai kapanpun juga Fatur tidak akan pernah memaafkan papanya. Sepulangnya Fatur dari kampus melihat mamanya begitu sangat sibuk di dapur. Tidak seperti biasanya mamanya begitu banyak sekali memasak aneka masakan ditemani oleh Mili yang ikut sibuk membantu mamanya, apa mamanya akan kedatangan tamu?
"Mama sama Kakak Mili lagi apa?" tanya Fatur saat masuk ke dapur melihat mamanya dan Mili begitu sibuk memasak seolah mereka berdua sedang dikejar oleh waktu.
Mili dan mamanya kaget dengan kedatangan Fatur yang tiba-tiba, memang mamanya maupun Mili tidak memberitahu Fatur tentang kedatangan papanya ke sini. Mili memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Fatur dan melanjutkan memasak masakan yang sudah hampir matang di atas penggorengan. Berbeda dengan mamanya yang mulai mendekati Fatur seakan mencoba berbicara baik-baik dan menenangkan putranya.
"Mama lagi masak," jawab mamanya yang menghampiri Fatur saat lelaki itu mendekati Mili yang sedang memasak dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
"Tumben mama masak sore hari? Biasanya kalau makan malam biasanya mama masaknya dadakan dan nggak sebanyak ini?"
Fatur memang tidak suka masakan yang dingin setiap Fatur ingin makan sesuatu pasti mamanya selalu membuatkannya. Namun kali ini mamanya masak begitu banyak menu dan dari semua menu yang mamanya masak hanya satu masakan kesukaan Fatur, sebenarnya mamanya memasak untuk siapa?
Berat rasanya Mili dan mamanya memberitahu Fatur akan siapa yang datang nanti malam. Tapi mamanya tidak bisa membohongi Fatur siapa yang akan datang malam ini ke rumahnya. Mamanya mencoba tenang untuk memberitahu Fatur akan siapa yang datang berharap jika putra bungsunya akan bisa menerima.
Mamanya tahu pasti Fatur akan marah jika mengetahuinya, tapi mamanya tidak mempunyai pilihan lagi selain menerima permintaan mantan suaminya untuk bertemu dengan kedua buah hatinya. Walaupun rasa sakit mamanya masih tersimpan namun setidaknya mantan suaminya berhak menerima kesempatan kedua.
Tatapan Fatur masih setia menunggu jawaban mamanya, akan siapa yang akan datang malam ini. Mengapa mamanya begitu sangat berat untuk mengatakan siapa yang akan datang malam ini ke rumahnya. Kedua bola mata mamanya melirik sesaat ke kiri dan ke kanan, sementara Mili terus berdoa jika adiknya tidak akan emosi siapa yang akan datang nanti.
"Papamu akan makan malam di sini nanti malam," jawab mamanya menatap Fatur.
Glek, rasanya Fatur sulit untuk menelan ludah dan dadanya berdegup sangat kencang karena emosi mendengar siapa yang akan datang. Mengapa mamanya begitu saja bisa memaafkan papanya dan mengajaknya makan malam bersama? Seolah semua yang dilakukan papanya tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Memang Fatur tidak melarang mama dan kakaknya memaafkan papanya tapi satu yang Fatur pinta yaitu jangan pernah mengundang papanya datang ke rumahnya lagi. Apalagi jika ada Fatur di sana. Wajah ceria Fatur berubah menjadi dingin dan datar, tatapan matanya berubah menjadi sinis. Fatur sungguh tidak percaya jika mama dan kakaknya akan memaafkan papanya begitu saja. Tetapi dirinya tidak bisa memaksakan karena Fatur sudah pernah bicara tidak akan melarang mama dan kakaknya jika mau memaafkan papanya, tapi tidak dengan Fatur yang tidak akan pernah memaafkannya sampai kapanpun juga.
Fatur hanya terdiam tidak kembali bicara setelah tahu siapa yang akan datang ke rumahnya nanti malam. Sementara Mili hanya bisa menarik napas jika amarah Fatur tidak meledak, tanpa banyak bicara Fatur melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mama dan kakaknya tanpa sepatah kata. Belum sempat Fatur melangkahkan jauh seketika langkahnya terhenti dengan pertanyaan mamanya.
"Kamu ikut juga makan bersama, kan?" tanya mamanya saat Fatur hendak melangkah pergi meninggalkan dapur.
Langkah kaki Fatur terhenti mendengar pertanyaan mamanya, sungguh pertanyaan yang sulit dan berat baginya karena akan satu meja dengan papanya setelah sekian lama mereka tidak bersama lagi. Bagaimana perasaan Fatur nanti?
"Lihat nanti, Ma. Aku nggak janji," jawab Fatur singkat tanpa menoleh kearah mamanya dan kembali pergi meninggalkan mamanya dan Mili.
Tias Ayu hanya terdiam melihat kepergian putranya, ia tahu benar bagaimana perasaan Fatur tidak semudah itu bisa memaafkan papanya. Pasti perasaan Fatur saat ini sangat kacau, itulah yang ada di pikiran Tias Ayu.
Fatur terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dibuka pintu kamar secara kasar lalu menutupnya dengan begitu kencang sampai terdengar suara hentakan yang sangat kencang. di jatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Pikirannya melayang entah kemana rasanya Fatur tidak bisa jika harus makan malam satu meja bersama papanya nanti malam.
Pikirannya beberapa hari ini sudah terkontaminasi oleh sosok Anggita, kadang membuat Erik sangat kesal karena Anggita sudah jelas menolak sahabatnya namun Fatur masih saja berharap kepadanya. Malas membalas pesan masuk dari Erik membuat Fatur melemparkan ponsel yang diambilnya tadi di atas kasur tadi ketempat nya semula.
Fatur tidak bisa membayangkan jika malam ini harus makan malam dengan papanya, setelah sekian lama sekarang mereka bisa makan bersama lagi. Apa yang akan mereka bicarakan saat makan malam nanti, tidak mungkin Fatur bertanya alasan papanya pergi meninggalkannya. Walaupun Fatur ingin sekali tahu alasan papanya pergi meninggalkan dirinya bertahun-tahun tanpa kehidupan yang layak.
Saat Fatur sedang melamun duduk di atas kasur tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamarnya berbunyi, lamunannya pecah karena suara itu. Fatur bisa menebak jika itu adalah mamanya yang akan mengajaknya untuk makan malam. Dengan cepat Fatur membuka pintu kamarnya dan sudah melihat mamanya sudah berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Mama ada apa?" tanya Fatur dengan nada sedikit tegas menatap mamanya yang tidak diizinkan masuk oleh Fatur.
"Papamu baru datang, ayo kita makan malam bersama," ajak mamanya dengan nada penuh harapan kepada Fatur.
__ADS_1
Mulut Fatur membisu ketika mamanya memberitahukan kedatangan papanya, kedatang yang tidak pernah Fatur harapkan sampai saat ini. Tapi Fatur juga tidak mau membuat mamanya sedih, Fatur bisa membayangkan jika harus duduk bersama berhadapan makan malam bersama papanya.
Beberapa saat Fatur terdiam berpikir apa yang harus dilakukan, tapi jujur Fatur sangat merindukan kebersamaan bersama papanya. Waktu yang langka yang pernah dimiliki oleh Fatur saat bersama dengan papanya.
"Aku belum lapar, Ma. Aku capek mau istirahat sebentar, mama sama kakak duluan saja nanti aku menyusul."
Tias Ayu sangat kecewa sekali mendengar ucapan Fatur, dirinya tidak bisa memaksakan jika Fatur tidak ingin ikut makan malam bersamanya.
"Baiklah kalau kamu nggak mau ikut, tapi mama sangat berharap sekali kamu ikut makan malam bersama kami," ucap Tias Ayu berharap sambil pergi meninggalkan Fatur yang masih berdiri mematung.
Suasana di ruang makan begitu terasa canggung dan kaku, ketiga orang itu saling terdiam membisu tidak ada pembicaraan antara mereka. Rasanya baru kali ini mereka bertiga baru merasakan makan malam bersama lagi setelah sekian lamanya. Ada rasa sedih dan sakit hati jika Tias Ayu mengingat masa lalunya, begitu juga dengan Mili yang saat jam makan pasti selaku berebut sendok nasi bersama Fatur. Memori itu kini tinggal kenangan yang hanya bisa diingat oleh Mili dan Tias Ayu.
Tias Ayu, Rudi dan Mili sudah duduk bersama malam di ruang makan, mereka bertiga menikmati makan malam yang sudah disediakan oleh Tias Ayu. Hati Rudi sangat senang sekaligus sedih karena bisa makan bersama lagi setelah sekian lama, meskipun malam ini Fatur tidak ikut makan malam bersama tetapi tidak mengurangi rasa bahagia Rudi ntuk bisa makan malam bersama dengan mantan istrinya dan putri pertamanya.
"Aku buatkan makanan kesukaanmu," kata Mili memberitahu papanya saat mata papanya mulai menjelajah masakan yang ada di atas meja makan.
Mendengar ucapan Mili membuat Rudi sangat senang saat putrinya memasak makanan kesukaannya, sungguh Mili tidak lupa makanan kesukaan papanya.
"Terimakasih, Mil. Papa senang sekali," ucap Rudi begitu bahagia dan terharu menatap Mili yang duduk di depannya.
Saat mereka bertiga hendak memulai makan malam tiba-tiba Fatur datang menghampiri dan duduk di samping Mili. Melihat kedatang Fatur membuat mereka bertiga terdiam dan kaget dengan kedatangan Fatur yang ikut makan bersama. Fatur duduk tanpa bicara tetapi membuat mama dan papanya sangat senang meskipun Fatur tidak bicara tetapi dia mau makan bersama. Mata Rudi menatap lekat putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Waktu begitu cepat berlalu sehingga Rudi tidak sadar jika jagoan kecilnya itu kini sudah berubah menjadi lelaki yang sangat tampan dan dewasa.
"Jangan kamu berpikir aku ikut makam malam bersama artinya aku memaafkan mu! Aku hanya menghormati mama yang sudah capek membuatkan masakan," ucap Fatur tegas kepada papanya.
__ADS_1
Rudi hanya tersenyum mendengar perkataan Fatur, tidak masalah bagi Rudi apapun alasan putranya. Yang Rudi tahu saat ini dirinya sangat bahagia bisa melihat begitu jelas dan dekat putra dan putrinya itu. Malam ini adalah malam yang sangat bahagia bagi Rudi, namun tidak bagi Fatur yang harus bergelut perasaan dengan luka masa lalunya.