
Damar terlihat sangat frustasi karena setelah Anggita memutuskan hubungan dengannya sangat sulit untuk dihubungi, dari mulai menganti nomor ponsel, media sosial yang di privasi, serta Anggita menolak untuk bertemu jika Damar ke rumahnya.
Sikap Anggita membuat Damar sangat putus asa, akhirnya Damar memutuskan untuk menemui Lara. Siapa tahu dari Lara kali ini Damar bisa mendapatkan informasi bagaimana keadaan Anggita saat ini.
"Gue nggak bisa kasih tahu lo tentang dia, Mar. Sorry ya," kata Lara saat siang hari Damar meminta Lara untuk datang ke cafe yang dekat dengan tempat kerja Lara.
Mendapatkan permintaan dari Damar membuat Lara sedikit bingung, karena hanya Lara yang dekat dengan Anggita. Dan pasti saja Lara selalu masuk ke dalam pusaran jika mereka berdua ada masalah.
Damar sedikit kecewa mendengar ucapan Lara, ia tidak percaya jika Lara juga tidak mau membagi informasi tentang keadaan Anggita saat ini. Padahal Damar ingin sekali berdamai dengan Anggita dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
"Masa lo nggak mau bantu gue." Damar begitu kecewa saat Lara menolak permintaannya.
"Bukannya gue nggak mau bantu, tapi gue udah janji sama Anggita buat nggak ngomong macem-macem sama lo," jelas Lara yang merasa bersalah kepada Damar.
Bagai buah simalakama saat ini posisi Lara, di satu sisi Lara sudah berjanji kepada Anggita untuk tidak memberitahu Damar bagaimana keadaannya. Di sisi lain Lara juga tidak tega melihat Damar yang setiap hari tersiksa karena ingin tahu tentang keadaan sahabatnya.
"Kenapa dia sampai mengganti nomor ponsel, media sosial dia di privasi, bahkan gue nggak sempat menjelaskan semuanya sama dia."
Lara tahu bagaimana perasaan Damar kali ini, dan sebenarnya Lara tidak bisa membantu banyak tentang permasalahannya dengan Anggita saat ini.
"Sorry banget. Gue nggak bisa ngomong apa-apa, gue nggak bisa bantu lo kali ini," kata Lara lagi dengan mimik wajah terlihat bersalah dan menyesal karena tida bisa membantu Damar.
Sepertinya Damar tidak mempunyai cara lain selain menunggu hati Anggita mencair dan mau menemuinya.
"Sekarang dia masuk apa?" tanya Damar menggantikan topik pembicaraan.
"Dia nggak masuk, dia izin cuti beberapa hari."
Deg, Damar mendadak heran baru saja kemarin Anggita libur lumayan lama. Tapi mengapa sekarang mantan kekasihnya mengambil cuti lagi? Damar merasa jika ada yang janggal, apa mungkin jika Anggita memiliki lelaki idaman lain selain dirinya.
__ADS_1
"Gue mau tanya sama lo, tapi gue harap lo jawab jujur," pinta Damar mulai menatap Lara dengan serius.
"Apa?" Lara balik tanya tidak kalah serius menatap Damar.
"Selain gue, apa Anggita mempunyai lelaki idaman lain?"
Bagai disambar petir Lara mendengarnya, bagaimana bisa Damar mempunyai pikiran seperti itu. Tapi memang Anggita tidak mempunyai lelaki idaman lain, hubungannya dengan Fatur hanya sebatas teman biasa walaupun saat ini Anggita sedang bersama dengan Fatur di Batam.
Mimik wajah Lara gugup seketika entah apa yang harus dikatakannya, yang pasti jangan sampai Lara salah bicara dan membuat masalah menjadi kisruh lagi.
"Nggak ada, Mar. Dia nggak punya lelaki idaman lain selain lo," jelas Lara dengan nada sedikit gugup mencoba meyakinkan Damar.
Namun Damar merasa jika Lara sedang menyembunyikan sesuatu kepadanya, yang pasti Damar tidak ingin berburuk sangka kepadanya.
"Gue minta tolong sama lo, bantu gue buat ketemu sama dia. Karena hubungan gue sama dia udah ada di fase serius, bukan main-main lagi."
"Akan gue coba tapi gue nggak janji sama lo," ucap Lara mencoba menenangkan Damar yang terlihat putus asa.
Rasanya Anggita sudah mulai terbiasa akan kesehariannya di Batam jika Fatur pergi kuliah. Kedekatan antara Anggita dengan Tias Ayu dan Mili begitu tampak akur sekali. Anggita tidak menyangka jika mama dan kakaknya Fatur akan menerimanya dengan tangan terbuka, berbeda dengan keluarga Damar yang belum menerima dirinya sepenuhnya.
Saat siang itu Anggita menunggu Fatur yang pulang kuliah dengan membantu Tias Ayu memasak, mengingat sebentar lagi Fatur dan Mili akan pulang. Sebenarnya Fatur jarang sekali makan di rumah seperti yang diucapkan olehnya kepada Anggita. Namun karena Anggita membantu Tias Ayu memasak pasti lelaku itu akan ikut untuk makan bersama.
Hubungan antara Anggita dan Tias Ayu semakin dekat saja, layaknya antara seorang ibu dan anak. Tias Ayu tidak sungkan untuk menceritakan kisah Fatur kepada Anggita. Dan sekarang Tias Ayu merasa sangat bahagia karena Fatur sangat berbeda dari biasanya.
"Terimakasih Anggita," kata Tias Ayu saat mereka berdua sedang memasak di dapur.
Anggit yang sedang menggoreng ayam menjadi keheranan mendengar ucapan Tias Ayu yang tiba-tiba. Untuk apa Tias Ayu berterima kasih kepadanya?
"Terimakasih buat apa tante?" Anggita tidak mengerti dengan ucapan Tias Ayu yang saat ini berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Semenjak ada kamu kehidupan Fatur kembali seperti dulu lagi, semua rasa kecewa, rasa sedih pudar perlahan-lahan. Kepercayaan dirinya muncul dan harapannya ada lagi semenjak dia mengenal kamu," jelas Tias Ayu menceritakan perubahan Fatur semenjak mengenal dirinya.
Mendengar perkataan Tias Ayu membuat hati Anggita bahagia campur sedih, dirinya tidak menyangka jika bisa berbuat sejauh itu bagi Fatur. Hanya senyum manis yang bisa Anggit ungkapkan saat mendengar ucapan Tias Ayu, sebenarnya Anggita juga masih belum percaya dengan perubahan sikap Fatur karenanya.
"Saat ini kamu kebahagiaan dan harapan baru bagi Fatur. Semenjak ada kamu, dia berani berharap dan bermimpi lagi akan cita-citanya. Ia seakan nggak takut jatuh dan terluka lagi. Dan semua karena kamu."
Apa benar semua yang diucapkan oleh Tias Ayu tentang Fatur karena dirinya, jika memang benar sungguh Anggit sangat bahagia karena bisa mengembalikan semua kebahagian Fatur lagi. Dan Anggita berjanji tidak akan pernah meninggalkan Fatur.
"Tante minta tolong sana kamu. berikan dia napas dan harapan baru karena kamu sekarang adalah napas cahaya baru bagi langkahnya. Tolong kamu jangan kecewakan dia," pinta Tias Ayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca yang perlahan jatuh ke pipinya sambil menatap Anggit dengan tatapan sendu.
Melihat Tias Ayu menangis membuat Anggita ikut menangis, ia berjanji tidak akan pernah mengecewakan Fatur dan akan selalu membuatnya bahagia seperti permintaan Tias Ayu.
"Iya tante, aku janji. Aku akan menjadi napas bagi Fatur." Anggit meraih kedua tangan Tias Ayu dan meyakinkannya jika dirinya tidak akan pernah melukai Fatur.
Di tempat lain Fatur sedang sibuk mencari sesuatu ditemani Erik saat pulang jam kuliah, beberapa hari ini merek berdua jarang bertemu karena Fatur sanga sibuk dengan kehadiran Anggita di rumahnya.
Sebenarnya Erik merasa sangat iri dengan kedatangan Anggita, karena saat ini perhatian Fatur tertuju kepada Anggita. Biasanya mereka berdua menghabiskan waktu di cafe atau di taman kota untuk sekedar mengobrol. Tapi saat ini Erik hanya bisa melamun dan gigit jari di kamar kos-nya.
Baru siang ini Fatur meminta Erik untuk menemaninya ke sebuah toko jam tangan, Erik yang saat itu ingin sekali bertemu dengan Anggita namun Fatur melarangnya saat ini. Dengan alasan jika dirinya ingin menghabiskan waktu untuk berdua saja.
"Lo mau kasih dia apa?" tanya Erik saat mereka sudah berada di toko jam tangan dan Fatur terlihat sedang memilih jam tangan yang cocok bagi Anggita.
Fatur yang sedang sibuk melihat model jam tangan menoleh kearah Erik yang ada di sampingnya.
"Menurut lo gue mau beli apa di toko jam tangan? Nggak mungkin kalau gue mau beli sepatu, kan?" sindir Fatur kepada Erik yang hanya tertawa ringan.
"Kenapa harus jam tangan? Kenapa nggak baju atau tas?" Erik mulai cerewet memberikan masukan kepada Fatur akan hadian apa yang akan diberikan kepada Anggita.
"Gue pengen yang beda, hadiahnya kecil tapi bisa dia pakai sehari-hari," jawab Fatur yang kembali mencari jam tangan.
__ADS_1
Pikiran Erik melayang sejenak membayangkan apa yang baru saja diucapkan Fatur.
"Kenapa nggak lo beliin dia cincin sekalian," celetuk Erik spontan dan Fatur hanya terdiam menatap sahabatnya.