
Air mata begitu deras jatuh ke pipi Anggita saat melihat kekasihnya berduaan dengan perempuan lain, hati perempuan mana yang tidak sakit. Tatapan Anggita begitu sendu menatap Damar penuh kecewa, hatinya sakit dan sesak. Jadi selama ini Damar sudah mempunyai seseorang yang selalu berada di sampingnya.
Anggita masih menatap Damar dengan ponsel yang melekat di telinganya, Damar tidak bisa berkata apa-apa saat Anggita memergokinya saat ini. Mata Damar mulai berkaca-kaca dan memerah namun ia mecoba menahannya di depan Alya yang mulai memperhatikannya. Alya sedikit heran mengapa mimik wajah Damar menjadi berubah saat mendapatkan telepon.
"Mar, kamu kenapa?" tanya Alya menatap Damar dengan lekat.
Suara Alya terdengar oleh Anggita disaluran ponselnya, dengan cepat Damar memutuskan telepon secara sepihak membuat Anggita sangat sedih dan kecewa. Tangisnya semakin pecah dan Anggita memutuskan untuk pergi meninggalkan Lara sendirian. Melihat kepergian Anggita membuat Lara mengikuti langkah kaki sahabatnya, Lara takut terjadi apa-apa dengan Anggita karena dirinyalah Anggita seperti ini.
Padahal bukan maksud Lara untuk membuatnya sedih, Lara hanya ingin memberitahu jika Damar bersama seseorang. Sementara itu Damar terus terdiam membisu saat Alya bertanya kepadanya, pikirannya mulai kacau dan air mata mulai jatuh menetas ke pipinya dan Alya masih setia menunggu akan jawaban Damar.
"Al. Aku minta maaf karena harus pergi sekarang juga, kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Damar dengan nada terdengar parau menatap Alya yang begitu lekat menatapnya.
Alya merasa heran apa yang terjadi dengan Damar, mengapa sikapnya berubah saat menerima telepon? Apa karena telepon itu yang membuat Damar terlihat sangat sedih? Alya tidak mempunyai pilihan lagi selain mengiyakan permintaan Damar.
"Iya, Mar. Aku akan pulang sendiri, kamu jangan khawatir." Alya mencoba meyakinkan Damar agar tidak khawatir kepadanya.
Damar merasa tidak enak kepada Alya karena dirinya yang sudah mengajak perempuan berkulit kuning langsat pergi bersamanya dan kini Damar harus meninggalkannya sendirian.
"Aku pesan taksi online buatmu, ya?" Damar mencoba menebus rasa bersalahnya dengan memesankan taksi online untuk Alya, dan perempuan cantik itu hanya mengangguk tersenyum manis menatap Damar.
Sikap Alya membuat Damar sangat tenang, mengapa Alya begitu sangat mengerti dan tidak marah sedikitpun kepadanya. Dengan cepat Damar memesan taksi online untuk Alya.
"Kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah," kata Alya ketika sudah berada di dalam mobil hendak pergi.
Deg, Damar sedikit terkejut dengan ucapan Alya. Mengapa Alya berbicara seperti itu, seharusnya Damar yang berbicara seperti itu kepada Alya saat dirinya sudah sampai di rumah. Sikap Alya membuat Damar sungkan.
"Pasti. Kamu juga kalau sudah sampai rumah jagan lupa kabari aku," ucap Damar sambil menutup pintu taksi online.
"Iya, aku pergi dulu." pamit Alya seraya menutup kaca mobil dengan senyum manis menatap Damar yang masih berdiri mematung.
Hanya lambaian tangan dan senyum manis yang dapat Damar lakukan di tengah kegalauannya memikirkan Anggita. Tanpa membuang waktu Damar pergi ke rumah Anggita namun mamanya bilang jika Anggit sedang pergi bersama Lara.
Mungkin Anggita belum pulang dari cafe tadi dan mungkin sekarang masih bersama Lara. Diambilnya ponsel Damar dan menelepon Lara, lama sekali Lara mengangkat telepon darinya membuat Damar sangat frustasi. Dimana Anggita saat ini, kemana dia pergi bersama dengan Lara? Damar hanya mengingat wajah kekasihnya yang menatapnya dengan sendu dan berurai air mata.
__ADS_1
Hampir dua jam lebih Damar menunggu Anggita namun belum juga menampakan batang hidungnya, dan Lara tidak membalas pesannya sama sekali. Kemana mereka berdua sejak tadi. Sampai sore tiba Damar masih setia menunggu kedatangan Anggita. Damar merasa bersalah karena selama mereka berdua backstreet dirinya selalu bersama dengan Alya. Bukan maksud Damar berbuat seperti itu, tapi dirinya terlanjur nyaman dengan kehadiran Alya di sampingnya.
Saat Damar tengah melamun dan memikirkan kejadian tadi dibuat kaget dengan kedatangan Anggita. Wajah kekasihnya sangat kusut dan mata yang sembab karena habis menangis. Anggita juga kaget saat melihat kehadiran Damar yang sudah menunggunya di sana. Air mata yang sudah mengering di pipi Anggita kini kembali basah, saat ada air mata yang kembali jatuh menetas.
Sepertinya air mata yang Anggita keluarkan belum cukup untuk mengungkapkan isi hatinya, melihat keadaan Anggita membuat Damar terluka. Mengapa dirinya setega ini kepada kekasihnya yang sangat ia sayangi. Tapi rasa kecewa Anggita kepada Damar lebih dari apapun juga, selama ini Anggit berusaha untuk mengintropeksi diri tapi Damar begitu senang dengan kehadiran perempuan lain.
"Anggita. Aku mau jelasin semuanya." suara Damar terdengar sangat parau mencoba menjelaskan dan berbicara dengan Anggita.
"Jadi ini alasan kamu nggak menghubungi aku? Bukan semata karena introspeksi diri tapi karena kamu sudah mempunyai seseorang di sampingmu!" Anggita mulai emosi meluapkan amarah dan kecewanya kepada Damar yang terlihat sangat tenang.
"Bukan, Git. Bukan begitu ceritanya," tampik Damar mencoba menjelaskan.
"Sudah berapa lama kamu kenal dengannya?" tanya Anggita namun Damar terdiam tidak menjawab.
Tidak mungkin jika Damar berbohong kepada Anggita tentang pertemuannya dengan Alya. Mau tidak mau Damar harus menceritakan semuanya kepada Anggita. Meskipun Damar tahu jika Anggita pasti akan marah dan kecewa kepadanya.
"Jawab aku!" Anggita terus memaksa agar Damar bercerita kepadanya.
"Sejak kita berdua backstreet," jawab Damar dengan suara parau merasa bersalah menatap Anggita dengan lekat.
Bagai disambar petir disiang bolong saat Anggita mendengarnya, jadi selama ini Damar memang tidak merasa kesepian atau memikirkan dirinya karena ada Alya di sampingnya menemani Damar. Anggita tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mengetahui semuanya, rasanya sudah cukup bagi Anggita untuk mencari tahu semua.
"Kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu berbuat seperti ini sama aku? Apa karena aku nggak mau menuruti yang kamu mau jadi kamu berbuat seperti ini?"
Pertanyaan-pertanyaan Anggita membuat Damar semakin merasa bersalah, seharusnya Damar tidak sejauh ini berhubungan dengan Alya.
"Dia sepupunya Panca yang baru datang dari Malaysia, dan Panca memintaku untuk menemaninya selama di Jakarta," Damar mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Anggita, namun sayangnya kekasihnya itu tidak mau mendengar penjelasan darinya.
"Memangnya di sini hanya kamu yang bisa Panca andalkan? Bukannya ada Indra, kenapa jadi harus kamu yang selalu ada buat dia?"
Deg, pertanyaan Anggita kembali membuat Damar semakin tersudutkan. Memang semua benar yang diucapkan oleh Anggita dan Damar tidak bisa mengelak nya. Entah apa yang dirasakan juga oleh Damar kepada Alya saat ini.
"Aku tahu kalau kamu juga mempunyai perasaan sama dia, kan? Nggak mungkin kalau kamu melakukan hal sejauh ini. Pasti ada sedikit perasaan kamu buat dia sampai-sampai kamu menghabiskan waktu dengannya saat aku nggak ada di samping kamu."
__ADS_1
Damar masih terdiam membisu karena semua ucapan Anggita benar adanya tidak ada yang salah, dan Damar sangat pengecut karena tidak bisa mengakui semuanya kepada Anggita.
BATAM
Sudah beberapa hari Mili terlihat begitu sangat ceria tidak seperti biasanya, itu karena makan malam bersama dengan papanya yang sudah sekian lama terpisah. Terlihat jelas di wajah Mili yang memancarkan rasa bahagia luar biasa seperti dulu. Tapi tidak dengan Fatur yang masih dingin dan sinis kepada papanya sampai kapan juga ia tidak akan pernah memaafkan papanya.
Fatur memperhatikan Mili begitu ceria senyumnya merekah di bibirnya, wajahnya berbinar-binar bahagia saat mereka sedang menikmati sarapan paginya.
"Kelihatannya kak Mili lagi senang," sindir Fatur mencoba mencari tahu saat menikmati sarapan paginya.
Mendengar namanya dipanggil membuat Mili langsung menoleh menatap Fatur yang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Memangnya nggak boleh?" Mili balik tanya kepada Fatur yang sedang memakan rotinya.
"Boleh. Aku senang kalau kakak bisa bahagia lagi dan itu sudah menjadi kewajiban dia kalau ingin dimaafkan," jawab Fatur sedikit menyinggung membahas soal papanya.
Rasanya Fatur sangat tidak mau menyebutkan nama papanya, dan mamanya tahu kalau putranya itu sedang menyinggung soal mantan suaminya.
"Tur. Papa bilang kalau dia ingin membelikan mu motor baru," ucap mamanya menganti topik pembicaraan.
Seketika Fatur mulai kesal dengan ucapan mamanya, papanya tidak akan bisa mengambil hatinya hanya dengan sebuah motor baru. Karena sampai kapanpun juga Fatur tidak akan pernah memaafkan papanya, walaupun saat ini Mili sudah mulai memaafkannya.
"Bilang sama dia nggak perlu repot-repot, aku nggak butuh motor baru. Suruh dia simpan saja uangnya," ucap Fatur dengan nada ketus dan sinis.
Deg, mamanya dan Mili terdiam ketika mendengar ucapan Fatur, mereka berdua sudah bisa menebak jika Fatur tidak akan mau menerimanya. Sungguh Fatur sangat keras sekali tidak bisa dibujuk secara baik-baik.
"Tapi papa mau memberikan motor untuk kamu lomba, Tur. Jadi kamu bisa mengikuti lomba kalau ada perlombaan balap motor. Bukannya itu keinginanmu?" tanya mamanya mengingatkan keinginan Fatur mengikuti perlombaan motor.
Fatur terdiam mendengar ucapan mamanya, mengapa papanya begitu tahu kelemahannya. Papanya sangat ingin membeli motor baru untuknya ikut balapan motor sewaktu-waktu.
"Ngak perlu repot-repot, Ma. Bilang sama dia!" Fatur menolak mentah-mentah akan pemberian papanya.
Mamanya tidak mempunyai pilihan lagi selain mengikuti keinginan Fatur, meskipun sebenarnya Fatur sangat menginginkan motor baru tapi karena rasa kecewa dan bencinya melebihi apapun membuat dirinya menolak pemberian papanya. Apapun itu.
__ADS_1