
Tidak lama Anggita datang ke kamar mamanya, betapa terkejutnya dia ketika melihat ada seseorang yang tidak dikenalnya sedang duduk berbicara dengan mamanya. Siapa lelaki itu? Anggita belum pernah melihatnya. Mamanya Anggita tidak kalah keheranan saat putrinya terkesan biasa saja kehadiran Damar di sana. Matanya terpaku dan menatap lekat kearah Damar yang sudah lebih dulu duduk menemani mamanya.
"Kamu sudah datang." mamanya menyadarkan Anggita yang sedari tadi menatap Damar.
"Oh iya, Ma," balas Anggita mengalihkan pandangannya menatap mamanya.
Sikap Damar sedikit gugup karena Anggita belum mengetahui jelas wajahnya, karena sejak bertemu Damar selalu memakai masker yang menutupi setengah wajahnya.
Anggita masih dilanda rasa penasaran akan siapa lelaki yang datang menemui mamanya, pikirannya masih menduga-duga siapa dia. Sampai akhirnya mamanya terlihat sedikit kebingungan karena sikap Anggit yang dingin. Berbeda dengan Damar yang sangat gugup dan sedikit ketakutan jika Anggita masih marah kepadanya.
"Dia siapa, Ma?" tanya Anggita dengan mimik wajah kebingungan menunjuk kearah Damar.
Mendengar pertanyaan putrinya membuat Ratih keheranan, mengapa Anggita bertanya kepadanya? Bukannya Damar adalah temannya.
"Kamu bagaimana sih, Git. Masa lupa sama teman sendiri, padahal baru semalam bertemu," jawab mamanya sambil tersenyum ringan.
Anggita semakin tidak mengerti dan benar-benar tidak tahu siapa lelaki itu, tapi sepintas Anggita mengenali matanya. Tapi dari mana Anggita melihat mata itu?
"Semalam bertemu?" Anggita balik tanya kepada mamanya.
"Iya. Masa kamu lupa?"
Deg, Anggita teringat akan kejadian semalam yang menimpanya. Jangan-jangan lelaki itu adalah polisi yang membawanya ke kantor polisi. Jika memang iya untuk apa berada di sini. Wajah Anggita yang tadinya biasa saja berubah menjadi sinis dan dingin.
“Lagi apa lo di sini?" tanya Anggita dengan mimik wajah kaget menatap Damar yang terlihat kebingungan.
Mamanya Anggita terlihat begitu aneh dengan reaksi Anggita yang seakan tidak menyukai akan kehadiran Damar di sana. Tatapan mata mamanya Anggita sesekali menatap secara bergantian kearah putrinya dan Damar yang saat ini terlihat mulai tenang.
“Aku ada perlu denganmu,” jawab Damar dengan nada yang begitu tenang menatap Anggita dan sesekali melirik kearah mamanya Anggita.
Damar bisa menebak jika Anggita masih kesal dengannya karena kejadian semalam, itu terlihat jelas di wajah dan sikap Anggita saat ini.
“Perlu apalagi? Gue rasa semuanya udah beres!" tegas Anggita sedikit kasar yang masih dengan nada ketus dan sinis.
Apa yang sedang terjadi antara putrinya dengan Damar membuat Ratih kebingungan. Kenapa tiba-tiba sikap putrinya mejadi ketus dan sinis?
“Bisa kita bicara sebentar?" tanya Damar ketika melihat ekspresi mamanya Anggita mulai curiga.
“OK,” jawab Anggita singkat.
“Aku tunggu di luar,” ucap Dika seraya bangkit dari duduknya menatap Anggita dengan begitu sangat lekat.
“Aku permisi dulu, Tante,” pamit Damar pada mamanya Anggita dan wanita setengah baya itu hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Setelah pamit Damar melangkahkan kalinya pergi keluar kamar terlebih dahulu sambil menunggu Anggita. Kedua bola mata Anggita terus mengikuti langkah kaki Damar yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Mamanya Anggita masih dipenuhi tanda tanya besar akan siapa lelaki yang baru saja datang menemuinya.
“Aku keluar sebentar, Ma," pamit Anggita.
“Iya sayang,” ucap mamanya diiringi dengan senyuman manis meskipun di dalam kepalanya begitu sangat penasaran.
Setelah berpamitan dengan mamanya dengan memasang wajah dingin, Anggita pergi menemui Damar yang sudah lebih dulu menunggu di luar kamar rawat inap mamanya. Anggita melihat Damar sudah berdiri sambil bersandar ke tembok lalu dengan kedua tangannya sedang memainkan ponsel.
“Mau bicara apa lagi?" tanya Anggita tanpa basa basi terkesan sinis.
Suara Anggita membuat Damar terkejut dengan kedatangan yang secara tiba-tiba menghampirinya. Dengan cepat Damar menoleh kearah Anggita dan memasukan ponsel miliknya ke saku celana ketika tahu Anggita ada di belakangnya.
“Aku kesini mau meminta maaf kepadamu tentang masalah semalam,” jawab Damar yang membalikkan tubuhnya dan mendapati Anggita sudah berada di belakangnya.
Entah datangnya dari mana saat ini Damar mulai merasakan sesuatu saat menatap Anggita. Damar melihat Anggita sangatlah cantik sekali, berbeda dengan Anggita yang begitu sinis menatap Damar. Hati Damar mulai merasakan sesuatu yang sangat aneh.
“Kayanya nggak usah dibahas lagi. Sebaiknya lo pergi dari sini!" usir Anggita masih dengan sikap kasarnya.
Amarah Anggita kepadanya membuat Damar bisa memaklumi akan sikap kasar Anggita kepadanya, jika Damar berada diposisi Anggita pasti akan berbuat hal yang sama.
__ADS_1
“Aku benar-benar minta maaf kepadamu,” lanjut Damar lagi terus mencoba meminta maaf kepada Anggita.
“Gue udah maafin lo, dan gue harap nggak akan pernah berurusan lagi sama lo."
Sepertinya Anggita benar-benar sangat marah kepada Damar dan ucapan maaf untuknya hanyalah klise belaka. Damar hanya menatap Anggita tanpa banyak bicara, sepertinya Anggita sudah tidak menginginkan lagi jika Damar berada di sana. Lama-lama Damar memutuskan untuk pergi walaupun sebenarnya ingin mengembalikan sesuatu kepada Anggita.
“Baiklah kalau seperti itu aku pergi dulu,” pamit Damar ramah kepada Anggita tapi Anggita hanya meresponnya dengan anggukan kepala saja.
Jujur Damar sangat kecewa dengan sikap cuek Anggita, mengapa rasanya lelaki dengan tinggi 175 cm dan berat 70 sangat sedih dan kecewa ketika Anggita bersikap seperti itu kepadanya. Lalu Anggita pergi meninggalkan Damar tanpa mengucap pamit atau sepatah kata kepadanya. Damar merasa usahanya untuk menemui Anggita dan meminta maaf kepadanya sia-sia.
“Kalau begitu KTP mu menjadi hak milikku,” gumam Damar bicara sendiri sambil menatap kepergian Anggita yang begitu saja meninggalkannya.
Anggita kembali menemui mamanya dan mencoba terlihat tenang agar mamanya tidak curiga dengan apa yang sudah terjadi.
“Mana temanmu?" tanya mamanya ketika melihat kedatangan Anggita yang sendirian tanpa Damar bersamanya.
Pertanyaan mamanya membuat Anggita gugup dan bingung saat mamanya bertanya tentang keberadaan Damar yang sudah tidak bersamanya lagi.
“Dia harus pulang, Ma. Ada perlu katanya," jawab Anggit berbohong dan mamanya hanya mengangguk percaya ketika Anggita bicara seperti itu.
KANTOR POLISI.
Damar tidak lama kembali lagi ke kantor tempat kerjanya dengan sedikit rasa kecewa karena penolakan mentah-mentah Anggita kepadanya. Sewaktu. Damar hendak masuk ke ruangannya tiba-tiba seseorang memanggilnya yaitu sahabatnya Indra.
“Dari mana lo? Gue cari dari tadi nggak keliatan?" tanya Indra sambil menatap Damar yang terlihat kurang bersemangat.
“Dari luar," jawab Damar dengan mimik wajah kecewa dan tidak bergairah.
Indra merasa aneh dengan sikap sahabatnya yang terkesan murung dan sedih, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada sahabatnya itu.
“Kenapa lo? Bt banget kelihatannya?" tanya Indra semakin penasaran.
“Lagi nggak mood," jawab Damar singkat.
Seketika Indra tertawa ringan ketika sahabatnya bicara seperti itu, tidak biasanya Damar seperti ini jika tidak terjadi sesuatu kepadanya. Melihat Indra tertawa ringan membuat Damar menjadi sedikit jengkel kepadanya.
“Bt kenapa sih lo? Pasti soal cewek nih," tebak Indra penasaran menatap Damar.
“Resek lo ngeledek lagi," celetuk Damar kesal.
“Wah benar tebakan gue, kenapa sih? Cerita sama gue sini?” Indra semakin penasaran dan terus bertanya.
Mau tidak mau sepertinya Damar harus bercerita kepada Indra untuk meringankan rasa kesalnya, dan Damar tidak mempunyai pilihan lagi selain bercerita kepada Indra tentang kedatangan menemui Anggita. Spontan Indra tertawa terbahak-bahak saat tahu Anggita menolaknya mentah-mentah permintaan maafnya.
Bagaimana Anggita tidak merasa kesal karena Damar malam itu dirinya harus ada di kantor polisi. Melihat ekspresi Indra seketika membuat Damar kesal bukan main. Apalagi saat tawa Indra begitu pecah di dalam ruangannya seakan mengejeknya.
“Haha...” suara tawa Indra pecah terdengar menggema di telinga Damar begitu keras dan Damar hanya menutup kedua bola matanya menahan rasa kesalnya.
“Percuma gue cerita sama lo,” kata Damar menyesal sambil menatap Indra kesal.
“Sorry, Mar. Gue pengen ketawa, bagaimana bisa lo di tolak dan diabaikan mentah-mentah sama cewek."
“Berisik lo!" Damar masih kesal sambil menatap Indra dengan tatapan mata sinis.
“Hebat Anggita bisa menolak lo, padahal di luar sana banyak perempuan yang mengantri buat jadi pacar lo,” ledek Indra lagi terus menggoda Damar.
Sedari tadi Damar hanya terdiam ketika Indra terus menggodanya, terlihat mimik wajahnya tidak bersahabat.
“Puas lo!” Damar semakin kesal dan pergi meninggalkan Indra yang sedari tadi terus tertawa meledeknya.
SELANG BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Tiga hari sudah kejadian itu tetapi Anggita belum menyadari jika KTP miliknya masih berada di tangan Damar, hingga suatu hari Anggita sadar akan keberadaan KTP nya.
__ADS_1
Anggita yang kala itu membutuhkan KTP nya untuk syarat pembelian sepeda motor matic yang harus tertunda karena persyaratan KTP miliknya tidak ada.
Susah payah Anggita mencari di dalam dompetnya dan selipan berkas-berkas lainnya tetapi nihil dirinya tidak menemuinya. Hingga Anggita teringat akan kejadian itu. Dengan cepat ketika jam istirahat Anggita memutuskan untuk ke kantor polisi tempat kemarin dirinya tertangkap rajia. Anggita yang kala itu masih memakai seragam kerjanya menjadi daya tarik tersendiri di kantor polisi, karena Semua mata menatapnya hingga saat masuk ke dalam kantor polisi.
“Permisi, Pak. Selamat siang,” sapa Anggita kepada seorang polisi yang sedang berjaga di dalam sana.
“Siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" tanyanya ramah menatap Anggita.
"Beberapa hari lalu aku terkena razia dan KTP milikku tertinggal di sini, kira-kira aku harus menemui siapa, Pak?” jelas Anggita menceritakan kejadian beberapa hari lalu yang menimpah nya.
“Pada hari apa, Mbak?"
“Selasa tengah malam."
Seketika ekspresi polisi itu menatap heran kepada Anggita karena tahu jika razia kemarin malam untuk para PSK atau biasa disebut perempuan malam. Polisi tadi terlihat aneh saat menatap Anggita, mana mungkin seorang pegawai kedi seperti Anggita bisa terlibat di dunia malam. Ketika polisi itu sedang berpikir keras tiba-tiba datang seseorang menghampiri mereka berdua. Dari kejauhan lelaki itu sudah melihat kehadiran Anggita dan mengenalnya.
“Hai Anggita,” sapa lelaki itu ramah dengan suara yang sangat lembut menghampiri Anggita.
Sontak Anggita dan polisi tadi menoleh, Anggita tidak mengenali lelaki yang datang menghampirinya tetapi berbeda dengan polisi itu yang mengenali jika yang memanggil Anggita adalah atasannya.
”Siang, Pak," sapa polisi itu kepada Indra.
“Ada apa, Pak?” tanya Indra kepada rekan kerjanya.
“Mbak ini mau bertanya soal KTP nya yang tertinggal sewaktu terkena razia."
“Oh masalah itu. Biar denganku saja, Pak." Indra mencoba menangani Anggita dan membiarkan bawahannya untuk pergi.
“Baik, Pak. Permisi." pamit polisi tadi sambil pergi.
Kedatangan lelaki itu masih membuat Anggita heran, siapa dia yang mengenali namanya. Padahal Anggita tidak pernah bertemu dengannya.
“Anggita?" tanya Indra menyebut namanya sambil menatap lekat wajah Anggita yang terlihat sedikit kebingungan.
Anggita masih terdiam terpaku karena tidak mengenal siapa laki-laki yang ada di hadapannya. Indra mengerti akan rasa penasaran Anggita kepadanya.
“Gue Indra temannya Damar." Indra memperkenalkan diri kepada Anggita sambil mengulurkan tangannya dan
Anggita membalas uluran tangan Indra.
“Anggita," balas Anggita tidak kalah ramah.
“Lo mau mengambil KTP?” tanya Indra menebak akan kedatangannya.
“Iya, Lo kok tahu?"
“KTP lo ada sama Damar," jawab Indra singkat menatap Anggita.
Damar! Ada pada Damar katanya! Bagaimana bisa KTP milik Anggita berada di tangan lelaki yang sangat membuatnya kesal.
Ternyata Damar menemuinya saat itu bukan hanya untuk sekedar meminta maaf tetapi untuk mengembalikan KTP miliknya. Karena rasa kesal Anggita kepadanya begitu dalam membuat Anggita cepat mengusir Damar tanpa memberinya kesempatan untuk bicara.
“Tadinya dia mau mengembalikan KTP milik lo, tapi sikap lo ketus sama dia jadi belum sempat deh," jelas Indra menceritakan niat Damar sebenarnya menemui dirinya.
Anggita sangat menyesal sekali akan sikapnya kala itu, andai saja dirinya memberikan Damar kesempatan untuk bicara pasti sekarang KTP miliknya sudah ada di dalam genggamannya.
“Damar nya ada?" tanya Anggita menatap Indra dengan penuh harapan dengan rasa bersalah.
“Damar sedang tugas mengamankan konser musik."
Kali ini Anggita harus menelan kecewa karena orang yang ingin ditemuinya tidak ada di sana.
“Ya sudah kalau begitu gue ambil nanti aja," kata Anggita kecewa.
__ADS_1
"Ambil sekarang aja, lagian tempatnya dekat ko masih sekitar sini," kata Indra memberi saran.
Akhirnya Indra memberi tahu nomor ponsel dan di mana Damar berada. Indra bilang jika Dika berada di sebelah barat kota Jakarta karena di sana sedang ada konser akbar beberapa band ternama sore nanti, jadi Damar harus ke TKP sebelum acara itu mulai.