
"Lalu bagaimana denganmu? Bukannya kamu juga telah memberikan semua milikku dan Kak Mili kepada perempuan yang sudah menghancurkan keluarga ini? Apa kamu lupa!" teriak Fatur yang mulai histeris karena amarah yang ditahannya sedari tadi.
Dada Fatur begitu sangat sesak dan berdetak kencang, tangan dan bibirnya gemetaran seakan tidak puas melampiaskan amarahnya. Tapi walaupun ia sangat membenci papanya tapi amarahnya masih saja bisa Fatur redam, walau hanya sedikit. Jika Fatur sudah marah mama dan kakaknya tahu akan jadi apa rumah ini.
Pelupuk mata Fatur mulai penuh dengan buliran putih yang siap jatuh ke pipinya, tangisnya ingin sekali pecah saat ini di depan papanya agar ia tahu bagaimana sakitnya hati Fatur selama ini. Bagaimana Fatur menderita selama ini karena perempuan yang dihadirkan oleh papanya.
"Bagaimana! Bagaimana dengan dia!?" teriak Fatur lagi semakin histeris seraya air mata jatuh terus ke pipi serta cairan bening yang keluar dari dalam hidungnya.
Kali ini Fatur tidak sanggup lagi menahan semua rasa sakit hati dan kecewa kepada papanya, apalagi jika menyinggung Anggita. Karena saat ini Anggita adalah kebahagiaannya yang telah lama hilang semenjak papanya pergi.
Tias Ayu dan Mili ikut menangis mendengar amarah Fatur yang mulai meledak sama seperti dulu. Kali ini mereka berdua terlibat perdebatan yang membuat api amarah Fatur memuncak. Ingin sekali rasanya Fatur memukul habis-habisan papanya karena telah meninggalkan luka dan trauma yang mendalam baginya.
Tapi itu tidak mungkin Fatur lakukan karena bagaimanapun juga, dia adalah papanya. Papa yang sudah membesarkan walau sampai SMP. Fatur juga tidak lupa jika sebelum papanya mengenal perempuan lain, dia sangat mencintai dan menyayangi dirinya. Yang tidak bisa Fatur terima adalah papanya pergi begitu saja, mengabaikan dirinya dan Mili tanpa ada kabar dan membiayai hidupnya.
"Kamu bilang uang yang kamu berikan bukan untuk perempuan lain. Lalu bagaimana denganmu! Bagaimana denganmu yang memberikan semua fasilitas dan kehidupan yang seharusnya menjadi milikku lalu kamu berikan kepadanya!?"
Tangis Tias Ayu dan Mili semakin pecah di ruang tengah, mereka tidak sanggup mendengar semua yang Fatur ucapkan. Semua isi hatinya dan luka yang dipendamnya kini bisa terucapkan juga. Sementara Rudi hanya terdiam merasa bersalah, dengan mata mulai berkaca-kaca menatap Fatur dengan sendu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganmu yang mengabaikan kami? Bagaimana denganmu yang memberikan semua gaji milikmu kepadanya?" nada bicara Fatur mulai merendah namun masih terdengar tegas dan sinis.
"Apa kamu pernah berpikir bagaimana kami di sini? Apa kamu pernah berpikir apa kami bisa makan enak setiap hari? Apa semua kebutuhan kami bisa terpenuhi tanpamu? Apa kamu pernah memikirkannya!?" emosi dan amarah Fatur semakin menjadi-jadi seperti hilang kendali.
Rudi bisa menerima semua rasa amarah yang Fatur luapkan kepadanya, rasa kecewa yang dipendamnya beberapa tahun lalu menjadi luka dan rasa trauma selama ini bagi Fatur. Andai saja Rudi bisa memutar waktu pasti ia tidak akan pernah mau melakukan kesalahan Fatal. Kesalahan yang kini telah disesalinya karena kehilangan kedua buah hatinya.
"Aku nggak pernah memintamu buat kembali lagi ke dalam kehidupan kami, lalu kenapa kamu kembali lagi ke dalam kehidupan kami? Apa kamu nggak pernah merasakan bahagia selama hidup dengannya? Atau memang dia hanya mencintai uangmu saja?" Fatur terus mencaci papanya seakan ini adalah jalan satu-satunya bagi Fatur agar papanya tahu bagaimana perasaan Fatur selama ini.
Bagaimana terlukanya Fatur akan perbuatan papanya karena telah meninggalkannya. Walaupun sebenarnya semua rasa benci tidak akan pernah hilang setelah Fatur melampiaskan semua perasaan yang ada di dalam hatinya.
Air mata yang terus berjatuhan membuat pipi Fatur basah serta cairan bening yang kembali keluar dari hidungnya. Hari ini emosi dan rasa amarah Fatur kembali meledak setelah dirinya memendam lama rasa luka. Rasa luka yang dibuat oleh papanya dan tidak akan pernah Fatur maafkan seumur hidupnya.
Memang Rudi pantas menerima semua yang diucapkan oleh Fatur. Setelah meninggalkan Fatur lalu mengabaikannya selama beberapa tahun apa pantas Rudi berdiri di hadapan putranya.
Lagi-lagi karena cinta dan sayang Rudi melakukan itu semua, ia berpikir jika semua ini belum terlambat untuknya memperbaiki dan menebus semua kesalahannya kepada Fatur.
"Sekali lagi aku bilang kepadamu. Walaupun kamu berlutut dan menangis darah, nggak akan pernah aku maafkan!" kata terakhir Fatur sambil pergi melangkahkan kakinya menuju kamar dan meninggalkan Rudi sendirian yang masih terdiam membisu.
__ADS_1
Tangis Fatur semakin pecah saat di dalam kamar mamanya, dijatuhkannya tubuh Fatur dipojokan sudut kamar. Tempat itu adalah tempat yang sangat nyaman baginya melepaskan semua rasa kesal, benci dan emosi yang dirasakan olehnya.
"Aku nggak akan pernah memaafkan mu walaupun kamu menyuruhku untuk mengambil nyawamu. Aku nggak pernah memaafkan mu walaupun kamu memberikan semua yang aku inginkan. Aku hanya ingin melihatmu menderita karena telah mengabaikan ku selama ini."
Fatur berbicara dalam hati sambil menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh mamanya.
Sudah hampir dua jam Anggita dan Erik menunggu Fatur namum belum terlihat juga batang hidungnya. Apa Fatur lupa jika mereka akan bertemu di cafe? Atau Fatur masih sangat sibuk hari ini karena sedang fokus untuk ikut seleksi? Tapi kenapa juga Fatur tidak menelepon atau memberitahunya jika tidak akan pernah datang.
Sesekali Anggita melihat layar ponselnya berharap jika Fatur menelepon atau mengirimnya pesan. Tapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda Fatur menghubunginya. Erik berpikir yang sama, kemana Fatur selama ini. Mengapa sampai jam segini dirinya belum juga datang.
"Apa lo yakin kalau Fatur mau datang ke sini?" tanya Anggita yang mulai kesal saat menanti kedatangan Fatur yang tak kunjung datang.
"Yakin gue. Dia sendiri yang minta gue buat ajak lo jalan ke sini. Masa gue bohong." Erik mencoba meyakinkan Anggita yang mulai meragukannya.
"Pesan gue nggak dibales, telepon gue nggak diangkat. Kemana dia bikin gue khawatir aja," gumam Anggita yang mulai kesal karena Fatur masih belum datang.
Saat Anggita sedang merasakan sedikit kecewa dan sedih, tiba-tiba sebuah suara menyapa Anggita dan Erik. Suara yang sudah lama ditunggu akan kehadirannya sejak tadi.
__ADS_1
"Lo kangen sama gue?" tanya suara itu menghampiri Anggita yang masih duduk dengan Erik.
Spontan Anggita dan Erik menoleh secara bersamaan, betapa kagetnya Anggita saat melihat seorang lelaki yang sudah tersenyum manis kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Fatur. Lelaki yang Anggita rindukan sejak tadi.