Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Perdebatan Sengit)


__ADS_3

Sore tadi Anggita diajak pergi oleh Erik untuk berjalan-jalan ke cafe karena hari ini Fatur akan pulang terlambat. Fatur yang meminta sahabatnya untuk menemani kekasihnya agar tidak bosan di rumah hari ini. Kesempatan ini dipergunakan oleh Erik untuk bertanya tentang isi hati Anggita karena Erik tahu jika Anggita dan Fatur baru saja menjalin hubungan.


"Selama di sini udah diajak kemana aja sama Fatur?" tanya Erik sambil menikmati kopi capuccino hangat pesanannya.


Anggita berpikir sejenak sambil mengingat kemana saja Fatur sudah mengajak dirinya pergi seraya mengaduk kopi hangatnya menggunakan sedotan.


"Taman, bioskop, pantai, toko buku, cafe," jawab Anggit mengabsen tempat yang sudah mereka singgahi bersama dengan Fatur.


"Gue nggak sangka kalau lo sama Fatur bakalan jadian. Secara waktu itu hubungan lo berdua biasa aja." Erik mulai menyinggung hubungan antara Anggita dan Fatur.


Sebenarnya Erik sangat ragu akan hubungan yang sedang dijalin oleh Fatur, karena Erik mendapatkan firasat jika Anggita tidak akan bertahan lama ada di sisi Fatur.


Anggita seketika tersenyum kecil memang dirinya juga tidak menyangka jika hubungannya dengan Fatur akan terjalin lagi.


"Gue juga nggak percaya kalau gue bakalan balik lagi ke sini dan jadian sama Fatur."


"Kenapa lo nggak jawab waktu Fatur mengutarakan perasaannya sama lo? Kenapa baru sekarang saat lo berdua sama-sama jauh?" tanya Erik menyindir akan kejadian waktu lalu.


Deg, pertanyaan Erik membuat Anggita terdiam sesaat. Mengapa Erik harus membahas tentang ini. Tentu saja Anggita mempunyai alasan mengapa dirinya tidak menerima Fatur saat itu. Tantunya karena Anggita sudah mempunyai kekasih mana mungkin bisa menerima Fatur.


Erik bisa melihat reaksi wajah Anggita yang tiba-tiba saja berubah drastis seperti ada yang disembunyikan. Reaksi Anggita bisa Erik tebak jika Anggita sebenarnya sudah mempunyai kekasih.


Rasa gugup masih menyelimuti Anggita sesekali ia memainkan kedua bola matanya seakan mencari alasan atas jawaban Erik.


"Karena gue baru kenal dia jadi nggak mungkin kalau gue langsung terima dia," jawab Anggita mencoba tenang mengatasi rasa gugupnya menatap Erik.


Hanya senyum simpul yang terlukis di bibir Erik, tanpa harus jujur Erik sudah tahu semuanya. Dan berharap jika Anggita tidak akan mempermainkan sahabatnya apalagi sampai melukai hatinya.


"Gue harap lo nggak akan mempermainkan perasaannya, karena dia belum kayak gini sebelumnya," pinta Erik dan ucapan lelaki itu membuat Anggita sedikit kaget.


"Maksud lo?" Anggita balik bertanya seakan ingin Erik memperjelas ucapannya itu.


"Semenjak Fatur kenal sama lo, dia menjadi seseorang yang sangat berbeda dari biasanya." Erik mulai bercerita akan perubahan sikap Fatur dan Anggita terdiam seakan siap mendengarkan semua cerita Erik.

__ADS_1


"Dia menjadi pribadi yang ceria, nggak mudah marah, optimis dan menjadi teman yang hangat. Berbeda saat gue kenal dia dulu, sifatnya yang tempramen, dingin, emosian, keras kepala dan introvert." suara Erik terdengar sedikit sendu dan begitu lembut terdengar di telinga Anggita.


Ucapan Erik sama persis yang diucapkan oleh mamanya Tias Ayu. Apa benar jika selama ini Fatur berubah karenanya.


"Lo tahu kalau Fatur mempunyai penyakit Vertigo?" tanya Erik seraya menoleh menatap Anggita.


"Tahu," jawab Anggita seraya menganggukkan kepalanya.


Erik menarik napas panjang lalu terdiam sesaat seperti akan menceritakan lebih banyak lagi tentang sahabatnya. Dan Anggita bersedia menjadi pendengar yang baik bagi Erik.


"Penyakit dia kadang suka kumat secara tiba-tiba kalau dia stress, kecapean, dan banyak pikiran. Bahkan bisa sampai pingsan dan masuk rumah sakit."


Deg, Anggita kaget bukan main. Apa benar penyakit Fatur separah itu. Mendengar cerita Erik membuat Anggita begitu iba kepada Fatur, ternyata lelaki yang selama ini dilihatnya sangat kuat ternyata menyimpan sesuatu yang bisa menyerangnya kapan saja.


"Memang sejak kapan dia punya penyakit vertigo?" tanya Anggita sambil menatap Erik dengan penuh rasa penasaran.


"Semenjak kedua orang tuanya berpisah. Sejak papanya meninggalkan dia tanpa kabar. Dia sering ikut balapan liar buat mendapatkan uang karena papanya selama itu nggak membiayai kehidupan keluarganya dan kuliahnya, dari sana juga dia sering kecelakaan dan sering mengeluh sakit kepala."


Anggita tau bagaimana masa lalu Fatur sejak ditinggalkan oleh papanya, ia tahu bagaimana Fatur harus mencari biaya tambahan untuk menyambung hidup dan kuliahnya. Hidup di antara orang tua yang terpisah begitu sulit bagi Fatur agar bisa bangkit.


"Iya. Gue janji."


Sesekali Anggita melirik jam tangan yang dibelikan oleh Fatur seharga 15 juta, jam tangan termahal yang pernah dimilikinya. Sampai jam segini Fatur belum juga datang, kemana dia?


"Fatur belum datang juga." Anggita mengganti topik pembicaraan seakan rindu dengan kekasihnya.


"Akhir-akhir ini Fatur lagi sibuk ikut seleksi buat pertukaran mahasiswa ke Jepang. Dan dia lagi fokus agar bisa mendapatkannya, karena dia ingin sekali sekolah di sana."


Ucapan Erik kembali membuat Anggita terdiam karena Fatur belum memberitahu dirinya, padahal beberapa hari ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama.


"Kok gue nggak tahu kalau dia lagi sibuk ikut seleksi?" Anggita bertanya kepada Erik dengan wajah kebingungan.


Erik juga tidak tahu jika Fatur ternyata belum memberitahu Anggita tentang rencananya, mungkin Fatur belum sempat karena sedang sibuk.

__ADS_1


"Mungkin dia belum sempat memberitahu lo, gue yakin dia akan memberitahu lo cepat atau lambat." Erik mencoba menenangkan Anggita yang terlihat sedikit kebingungan.


Baru saja Fatur akan menyusul Anggit yang sekarang sedang bersama dengan sahabatnya di cafe, tapi niatnya terhenti saat kedatangan papanya yang ingin bicara dengannya.


"Apa lagi yang mau dibicarakan? Aku lagi sibuk, nggak ada waktu," jelas Fatur dengan nada sinis menatap papanya dengan tajam setajam pisau belati.


"Kamu membeli cincin dan jam tangan?" tanya papanya langsung ke pokok pembicaraan.


Ternyata papanya datang untuk membahas soal kartu kredit yang Fatur pakai kemarin. Untuk apa Rudi bertanya soal itu, bukannya Rudi sendiri yang memberikan Fatur dan Mili kartu kredit?


"Kenapa? Apa ada masalah?" Fatur balik bertanya dengan sikap dinginnya.


"Untuk siapa kamu membelikan itu semua?" Rudi terlihat sedikit tegas dan sangat penasaran.


Tias Ayu dan Mili hanya mendengar perbincangan antara mereka berdua dari balik ruang keluarga. Nada bicara keduanya terdengar tidak bersahabat dan mulai terdengar emosi.


"Apa penting aku memberitahumu untuk siapa aku beli itu semua?"


"Jangan bilang kalau kamu membelikannya untuk perempuan yang baru kamu kenal kemarin?" tebak Rudi bertanya dengan nada tegas.


Haruskah Fatur memberitahu papanya jika dirinya membeli semuanya untuk Anggita. Apa salah jika Fatur ingin membelikan kenang-kenangan buat Anggita.


"Apa salah kalau aku membelikannya?" tanya Fatur dengan nada sinis menatap papanya.


Tatapan Fatur masih sama seperti dulu tidak berubah sedikitpun, sampai kapan juga tatapan kepada papanya akan seperti itu tidak akan pernah berubah.


"Bukannya kamu sendiri yang memberikan fasilitas itu kepadaku dan Kak Mili?" nada Fatur terdengar menggema di ruang tamu.


"Untuk kamu dan Mili. Bukan untuk dipergunakan bagi orang lain!" tegas papanya tidak mau kalah.


Memang Rudi dan Fatur seperti air dan api sulit untuk disatukan, dan tidak akan pernah menyatu sampai kapanpun juga. Sifat Fatur yang keras dan tempramen serta sifat Rudi yang tegas.


"Papa sudah memberikannya kepadaku, jadi aku berhak memakainya sesuai keinginanku!"

__ADS_1


"Bukan untuk perempuan lain selain mamamu dan Mili!" bentak Rudi membuat Mili dan Tias Ayu yang mendengarnya di ruangan lain terasa kaget.


Mereka berdua takut jika ada perang hebat, Mili ingat betul bagaimana jika Fatur dan papanya marah. Semua isi rumah hancur berantakan. Tias Ayu hanya berdoa jika mereka berdua mampu menahan emosinya masing-masing.


__ADS_2