Jatuh Cinta Lagi

Jatuh Cinta Lagi
Flashback 5 Tahun Lalu(Alasan Anggita Ke Batam)


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Damar tidak menghubungi Anggita, bahkan saat kekasihnya sudah pulang dari Batam pun Damar tidak bertanya bagaimana kabarnya. Memang alasan Anggita pergi ke Batam karena sudah bertengkar hebat dengan Anggita, dan membuat gadis cantik berambut sebahu itu ikut dengan Lara untuk liburan.


Sejak awal memang Damar tidak menyukai akan pekerjaan Anggita karena profesi yang sedang dijalani oleh Anggita sering dianggap sebelah negatif oleh orang lain. Apalagi keluarga Damar adalah seorang pengusaha jadi harus bisa menjaga nama baik keluarga maupun dirinya. Sering kali kedua orang tua Damar meminta agar putra bungsunya mencari kekasih yang lain karena mereka berdua merasa tidak begitu suka dengan pekerjaan Anggita. Kerap kali Anggita selalu didekati oleh lelaki yang lebih tua darinya yang tidak lain adalah pelanggannya. Om-om kaya raya atau duda tampan yang berlimpah harta.


Tidak jarang juga Anggita dan Damar sering bertengkar karena masalah itu, beberapa bulan ini sikap Damar sedikit berbeda dengan Damar yang dikenal oleh Anggita saat pertama kali. Sekarang Damar mudah sekali tersinggung dan marah, entah mungkin karena pekerjaannya. Yang pasti Anggita selalu memakluminya. Namun Anggita sangat sedih kehilangan sosok Damar yang sangat dirindukan olehnya, Damar yang penyabar dan selalu membuat Anggita tenang.


Ditatapnya layar komputer yang berada di depan matanya tapi pikirannya melayang entah kemana, dan tiba-tiba saja seseorang menghampirinya sambil membawa sesuatu yang berada di tangannya. Ya, itu adalah Indra yang merasa keheranan melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya sedang melamun seperti memikirkan sesuatu.


"Melamun terus." suara Indra mengagetkan Damar yang sedang berjalan menuju meja kerja Damar.


Damar tersadar dari lamunannya dan melihat jika Indra sudah berada berdiri di sampingnya dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Eh, ada apa?" tanya Damar sambil membetulkan duduknya agar sedikit tegap menatap Indra.


Melihat sikap Damar yang begitu terlihat gundah Indra hanya tersenyum menatap Damar, seakan pertanyaannya Damar untuk dirinya sendiri. Indra juga tahu jika beberapa minggu ini Damar terlihat begitu berbeda dari biasanya. Ingin rasanya Indra bertanya bertanya tentang keadaan Damar, namun ada rasa tidak enak du hati Indra untuk bertanya masalah pribadinya.


"Harusnya gue yang bertanya, ada apa sama lo? Melamun terus kerjaannya?" tanya Indra sedikit menyindir dan Damar hanya tersenyum getir seraya menundukkan kepalanya untuk sesaat, lalu menatap kembali Indra yang sedari tadi begitu setia menunggu jawabannya.


"Nggak ada, cuma sedikit stress," jawab Damar singkat seakan menutupi sesuatu yang tidak ingin diceritakan kepada Indra.


Sebenarnya bukan Damar tidak ingin jika Indra tahu tentang masalahnya, namun saat ini Damar masih begitu bingung degan kedua orang tuanya yang mendesak Damar untuk mengakhiri hubungannya dengan Anggita. Dan Indra bisa menebak jika Damar melamun bukan karena stress dalam pekerjaan melainkan memikirkan hubungannya dengan Anggita.


"Coba ambil cuti, biasanya kalau lo stress dan banyak pikiran selalu lari ke gunung." saran Indra tetapi Damar hanya membalasnya dengan senyuman.


"Gue lagi males mendaki," jawab Damar singkat terdengar sangat malas.


Indra terkejut dan menatap Damar keheranan saat sahabatnya bicara seperti itu, tidak biasanya Damar begitu malas dalam urusan mendaki.


"Tumben lo nggak kaya biasanya."

__ADS_1


"Gue lagi males aja," jelasnya singkat sambil kembali menatap layar komputernya seakan ingin menyudahi pembicaraannya dengan Indra.


"Ya udah terserah lo. Gue mau kasih tahu kalau lo diundang sama Pak Budi." Indra mengganti topik pembicaraan.


"Siapa yang nikah?" tanya Damar yang kembali menatap Indra.


"Anaknya Pak Budi hari minggu, jangan lupa datang ajak Anggita," ucap Indra menyinggung soal Anggita.


Mimik wajah Damar pun mejadi terdiam menatap Indra, apa yang barusan Indra bilang membuatnya kembali membuat suasana hatinya semakin tidak nyaman. Dari raut wajah Damar bisa terlihat setiap kali Indra menyebut nama Anggita sepertinya Damar terlihat kecewa.


"Gue lagi nggak berhubungan sama dia," jelas Damar dengan nada bicara terdengar sedih dan kecewa.


Benar dugaan Indra jika hubungan sahabatnya sedang tidak baik-baik saja dengan Anggita.


"Lo putus sama dia?" tanya Indra kaget menatap Damar.


"Oh, sampai kapan?"


"Nggak tahu, yang jelas udah hampir satu minggu gue sama dia lost contacts."


"Putus dong kalau begitu?" Indra kaget dengan nada sedikit meninggi menatap Damar yang terlihat begitu santai.


"Nggak putus mungkin bisa dibilang lagi break."


Indra hanya terdiam memandang Damar mengapa bisa hubungan yang sudah lama mereka bangun setelah hampir dua tahun lalu berubah menjadi kata 'BREAK'.


"BREAK lo bilang?" Indra kaget mendengarnya.


"Iya begitulah."

__ADS_1


"Serius lo? Apa udah dipikirin secara matang-matang keputusan lo berdua?"


"Iya, Dra. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita berdua, saling memperbaiki diri masing-masing. Gue dan Anggita udah memikirkan hal yang serius, mungkin sebelum kita menuju kejenjang yang lebih serius lebih baik kita berdua memperbaiki diri sendiri supaya kita sama-sama tahu. Gimana pentingnya diri kita dalam kehidupan masing-masing," tutur Damar kepada Indra dengan mimik wajah serius dan penuh harapan jika mereka berdua bisa kembali bersama lagi.


"Simpel aja menurut gue. Kalau lo berdua bisa saling menerima kekurangan masing-masing dan apa adanya pasti nggak akan seperti ini," ucap Indra sedikit menyinggung dan memberi saran.


"Ini bukan masalah kekurangan dari masing-masing, tapi gue nggak suka sama pekerjaan dia termasuk keluarga gue."


"Intinya lo nggak mau kalau Anggita jadi kedi?" tanya Indra memperjelas akan ucapan Damar.


"Iya," jawab Damar tegas dan singkat.


"Gimana ceritanya. Lo udah tahu dari awal kerjaan dia, dan selama ini lo menerima dia dengan baik. Kenapa sekarang lo jadi mempermasalahkannya?"


"Bukan gue tapi keluarga gue. Mereka nggak mau kasih restu sama gue kalau Anggita masih jadi kedi."


"Kenapa?"


"Lo pasti tahu gimana negatifnya omongan orang kalau dengar ada perempuan kerja jadi kedi."


"Nggak semua kaya gitu, dan nggak termasuk Anggita juga. Tergantung mereka gimana orangnya, memang selama ini lo liat Anggita open BO?" tanya Indra yang mulai kesal saat Damar selalu mencap pekerjaan kedi dipandang negatif.


Mendengar ucapan Indra membuat Damar kaget dan menatap tajam sahabatnya. Apa yang diucapkan oleh Indra berhasil membuat Damar marah dan kesal. Mengapa Indra harus menyinggung jauh ke sana membuat suasana semakin panas dan suasana hati Damar menjadi kesal.


"Ya enggak lah!" balas Damar dengan nada terdengar sedikit meninggi menatap Indra dengan tajam.


"Terus kenapa bisa lo meragukan dia? Selama ini dia setia sama lo, selama ini dia selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Dia bukan tipe perempuan kaya gitu, Mar." Indra terus membela Anggita karena menurut Indra sosok Anggita adalah perempuan baik-baik dan cocok bagi Damar.


Kini Damar kembali terdiam dengan kegalauan di dalam pikirannya, semua ucapan kedua orang tuanya dan Indra bergelut saling bertabrakan di dalam pikiran Damar. Entah Damar harus bagaimana yang pasti saat ini mereka berdua butuh waktu untuk diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2