
Salma menuruti perkataan Amran untuk membersihkan diri dulu.
"Kamar kamu yang mana mas? aku ingin mencari baju ganti" tanya Salma.
"Kamarku yang itu... disana juga ada handuk bersih kau bisa menggunakannya" tunjuk Amran.
Salma pun mengangguk dan segera menuju ke kamar yang ditunjukkan oleh Amran. Sedangkan Amran langsung menghubungi Bayu untuk membelikan baju ganti untuk Salma walau dengan sedikit drama karena ia sama sekali tak mengetahui ukuran baju Salma. Setelah itu ia pun menghubungi mama Aya.
"Halo ma..." kata Amran begitu panggilannya dijawab mamanya.
"Bisakah mama bilang sama Nadia kalau sekarang mama membawa Salma untuk menginap di rumah mama?"
"Memangnya kemana Salma?"
"Dia ada sama aku ma... jadi bisakan mama membuat alasan pada Nadia?"
"Hemm... baiklah tapi kamu berhutang penjelasan pada mama"
"Baik ma... nanti akan Amran jelaskan semua sama mama"
"Baik mama tunggu" akhirnya panggilan itu pun berakhir.
Sementara Salma sudah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan mengenakan kemeja milik Amran yang agak kebesaran untuknya. Tak lupa ia juga memakai sarung sebagai bawahan agar bagian pahanya tak terekspos. Kemudian ia kembali ke kamar Amran untuk sholat magrib dengan kembali menggunakan satu sarung lagi untuk menutupi bagian kepalanya sebagai pengganti mukena. Amran yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Salma tersenyum dengan ide Salma yang menggunakan sarung sebagai pengganti mukena.
"Kau memang tak pernah meninggalkan ibadah... bagaimana mungkin dulu aku bisa percaya begitu saja dengan hasutan Nadia" batinnya.
Kemudian Amran pun keluar saat terdengar bel pintu apartemennya. Saat pintu dibuka tampak Bayu sudah berdiri disana dengan menenteng paper bag ditangannya.
"Ini pesanan lu..." kata Bayu sambil menyerahkan paper bag itu pada Amran.
"Makasih bro..."
"Sama-sama... dia ada dimana?" tanya Bayu kepo.
"Lagi sholat..."
Bayu pun mengangguk mengerti.
"Boleh gua minta tolong sekali lagi sama lu?".
"Bilang aja... nanti gua bantu"
"Nanti kalau Nadia nelpon lu bilang kalau kita sedang ke kota B buat ngurus proyek kita yang tertunda"
"Maksud lu proyek kita apa proyek lu?" kata Bayu setengah meledek.
Amran mendengus kesal membuat Bayu terkekeh dengan sikap sahabatnya itu yang susah untuk diajak bercanda.
"Iya-iya... gua tahu... ga usah khawatir yang penting selesaikan masalah lu sama istri lu itu... jangan sampai terlambat dan akhirnya lu yang menyesal" sambung Bayu.
"Ya udah gua pulang dulu... selamat bersenang-senang dengan istri lu..." ucapnya sambil ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban Amran.
Amran yang mendengar perkataan Bayu baru sadar jika malam ini ia akan berdua saja dengan Salma. Tiba-tiba saja persaan gugup kembali menyerangnya.
Saat akan menutup pintu apartemen tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama Nadia disana. Setelah menghembuskan nafas pelan ia pun mengangkat panggilan Nadia.
__ADS_1
"Halo mas... kamu dimana? kenapa tadi gak jemput aku? dan saat aku sampai mobil kamu juga ga ada di rumah" cecar Nadia pada Amran.
"Maaf Nad ... tadi aku lupa memberitahumu kalau malam ini aku ga pulang ke rumah karena sekarang aku ada di kota B dengan Bayu. Ada masalah yang harus aku selesaikan segera" kata Amran berbohong.
"Masalah apa mas? apa begitu serius hingga kamu harus menginap di sana?"
"Iya Nad... kalau tidak mana mungkin aku akan meninggalkanmu bahkan tadi aku sampai lupa memberi kabar karena panik"
"O.. aku pikir kamu sedang dengan Salma...".
"Kenapa kau berfikir seperti itu? apa perempuan itu tidak ada di rumah?" kata Amran seolah marah.
Padahal dalam hati ia khawatir karena Nadia bisa merasakan kalau kini ia sedang bersama Salma.
"Iya mas ... dia ga ada di rumah..." adu Nadia.
"Apa kau sudah tanya sama mbak Sum?"
"Sudah mas tapi dia ga lihat kalau Salma keluar dari kamarnya"
"Coba kau tanya mama mungkin dia ada bersama mama" usul Amran.
"Baik mas akan aku tanyakan pada mama... mas hati-hati disana ya..."
"Iya... kamu juga dan jangan tidur terlalu malam".
"Iya mas..."
Lalu mereka pun mengakhiri panggilan. Amran menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa sedikit lega karena Nadia mempercayainya. Saat itulah Salma baru keluar dari dalam kamar.
"Mas ga sholat?" tanyanya.
Setelah sholat ia pun keluar dari dalam kamar dan mencari Salma. Tampak gadis itu sedang kebingungan di dapur.
"Ada apa Ma?" tanya Amran.
"Ini mas aku lagi cari bahan makanan untuk makan malam tapi kok ga ada sama sekali bahkan mi instan pun ga ada" kata Salma masih sambil membuka-buka lemari dapur.
"Memang disini ga ada bahan makanan sebab aku sama sekali ga bisa masak cuma bisa rebus air" terang Amran yang membuat Salma terkejut dan melengkungkan bibirnya tersenyum tipis.
Amran yang melihat itu ikut tersenyum.
"Di sini cuma ada teh dan kopi hanya itu yang bisa aku buat" sambungnya.
"Kita pesan online saja untuk makan malam" kata Amran lagi lalu ia pun langsung memesan melalui aplikasi setelah sebelumnya menanyakan pada Salma apa yang ingin ia makan.
Saat menunggu makanan pesanan mereka datang ponsel Salma berdering. Ternyata panggilan dari Nadia.
"Bilang pada Nadia kamu nginep di rumah mama" kata Amran saat Salma memperlihatkan panggilan pada ponselnya itu.
"Halo Ma... kamu dimana?" tanya Nadia begitu Salma menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Aku di rumah mama Aya... Nad" jawab Salma.
"Kenapa ga memberitahu aku?"
__ADS_1
"Maaf tadi mama tiba-tiba telfon nyuruh aku ke rumahnya jadi aku buru-buru pergi bahkan aku lupa ga bilang sama mbak Sum"
"Kenapa kamu ga langsung pulang?"
"Mama melarang Nad... dia menyuruhku untuk menginap... aku ga enak untuk menolak".
"Baiklah..." ucap Nadia lalu langsung mematikan ponselnya.
Salma menghela nafasnya berat, ia merasa bersalah telah berbohong pada Nadia. Amran yang memperhatikan sedari tadi tahu apa yang sedang difikirkan oleh Salma.
"Jangan merasa bersalah... kalau kita paksakan pulang sekarang malah akan menambah masalah" ucapnya lembut.
Salma hanya mengangguk. Tak lama bel pintu apartemen kembali berbunyi. Segera Amran membukanya dan ternyata itu kurir yang mengantarkan makanan pesanan mereka. Setelah membayar ia pun membawa makanan itu ke meja makan sedang Salma menyiapkan minuman. Kemudian mereka pun makan bersama dalam diam. Selesai makan Salma pun segera membersihkan sisa makan mereka. Setelah itu tampak Salma yang kebingungan namun ia tak berani bertanya pada Amran.
"Ada apa?" tanya Amran yang melihat kebingungan Salma.
"Eum itu... aku nanti tidur dimana ya?" tanya Salma takut-takut.
"Kau tidurlah dikamarku... nanti biar aku tidur di kamar tamu" kata Amran.
"Apa tidak sebaiknya aku yang tidur di kamar tamu?" tanya Salma.
"Tidak lebih baik aku saja yang tidur di kamar tamu" ujar Amran kemudian langsung melangkah ke kamar tamu.
Salma terdiam dengan perkataan Amran. Tapi ia juga tak bisa lagi menolak karena Amran sudah masuk ke kamar tamu. Kemudian ia pun masuk ke kamar Amran sebab ia juga sudah mengantuk. Kejadian hari ini memang membuatnya kelelahan. Setelah menutup pintu kamar Salma duduk di pinggir tempat tidur. Hatinya ragu apakah ia akan tidur disana atau seperti saat di rumah tidur di lantai. Saat itulah pintu kamar dibuka dari luar. Salma pun terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. Tampak Amran berdiri di depan pintu.
"Maaf Ma... aku hanya ingin mengambil selimut... aku kira kau sudah tidur makanya aku tidak mengetuk pintu" kata Amran.
"Tidak apa-apa..." jawab Salma menutupi rasa kagetnya.
Amran pun masuk ke dalam kamar dan mengambil selimutnya. Kemudian ia pun segera keluar. Namun saat di depan pintu ia berhenti dan berbalik.
"Kau tidurlah diatas tempat tidur jangan di lantai" ucapnya lagi kemudian pergi ke kamar tamu.
Salma terkejut lagi karena ternyata Amran mengetahui fikirannya saat ini. Lalu Salma pun kembali menutup pintu kamar. Saat akan menguncinya dari dalam ia baru menyadari jika kunci kamar itu tidak tergantung di pintu. Salma yang takut jika Amran masuk lagi tanpa mengetuk berniat meminta kunci kamar pada Amran. Ia pun kemudian keluar untuk menemui Amran di kamar tamu. Di ketuknya pintu kamar tamu. Tok...tok...tok.... Tak ada jawaban dari dalam kamar. Salma pun mencoba sekali lagi kali ini sambil memanggil Amran. Tok...tok...tok...
"Mas..." panggilnya.
Tak lama pintu kamar pun terbuka.
"Ada apa?" tanya Amran.
"Maaf mas... boleh aku minta kunci kamar?" tanya Salma pelan.
Amran yang mengerti maksud Salma pun mengangguk.
"Sebentar..." ucapnya lalu melangkah ke kamarnya.
Salma pun mengikuti dari belakang. Setelah masuk ke dalam kamar Amran membuka lemari pakaian dan merogohkan tangannya ke dalam. Tak lama laki-laki itu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam lemari itu.
"Ini..." ucap Amran sambil menyerahkan kunci kamar pada Salma.
"Terima kasih mas..." kata Salma saat menerima kunci tersebut.
"Sama-sama... aku kembali dulu ke kamar..."
__ADS_1
"Iya... sekali lagi terima kasih mas..." Amran pun mengangguk dan keluar dari kamar.
Salma pun langsung mengunci pintu kamar. Sementara Amran yang masih di dekat kamar menghembuskan nafas berat. Ia tahu jika Salma masih takut padanya. Kemudian ia pun melangkah kembali ke kamar tamu. Sebenarnya ia pun sudah merasa lelah namun entah mengapa kedua matanya sulit sekali untuk dipejamkan. Amran pun hanya membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur. Karena haus ia memutuskan untuk mengambil air minum di dapur. Saat itulah ia melihat Salma yang juga sedang mengambil air dari dalam kulkas. Terlihat gadis itu masih mengenakan kemeja dan juga sarung miliknya sedang menunduk menghadap kulkas.