
Bu Desi mendatangi kedua mertuanya dan segera mencari simpati dan dukungan agar Wahyu tidak jadi menikah dengan Salma. Untuk melancarkan rencananya ia bahkan menceritakan tentang Salma yang ternyata anak bu Rahma mantan kekasih pak Adi. Mendengar itu pak Hamid menjadi murka tak menyangka jika cucunya terpikat dengan anak dari wanita yang dulu telah disingkirkannya dari kehidupan pak Adi putranya.
"Aku rasa sejak awal perempuan itu sudah berencana mendekati Wahyu karena tahu dia anak orang kaya apa lagi saat tahu dia anakku jadi dia ingin membalas dendam dengan sengaja menyuruh putrinya terus menempel pada Wahyu" kata bu Desi coba mengompori kedua mertuanya yang sejak dulu memang tidak menyukai bu Rahma karena yatim piatu dan miskin.
"Kurang ajar... berani sekali dia menyuruh putrinya untuk mendekati Wahyu!" kata pak Hamid geram.
"Sudah pa... kau tenang dulu... kita fikirkan solusinya bersama..." kata bu Lastri berusaha menenangkan suaminya.
"Mana bisa tenang ma... perempuan itu berani sekali berusaha kembali ingin masuk dalam keluarga kita! tidak bisa dibiarkan!" sergah pak Hamid.
"Kita harus temui perempuan itu dan anaknya dan suruh mereka untuk menjauhi keluarga kita jika tidak mau maka jangan salahkan jika aku akan berbuat kasar pada keduanya!" sambung pak Hamid.
Ketiganya pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit tempat Amira dirawat. Mereka tak mau membuang waktu untuk menyingkirkan ibu dan anak itu dari kehidupan mereka. Sementara di rumah sakit tampak pak Adi dan Wahyu tengah berada di musholla untuk sholat isya'. Sedang bu Rahma yang juga sedang mengerjakan sholat di ruang perawatan bersama Salma. Baru saja bu Rahma menbereskan mukenanya dan juga Salma tiba-tiba pintu ruang perawatan Salma dibuka dengan kasar dari luar yang langsung membuat bu Rahma dan Salma terkejut.
"Bagus ya... dulu aku sudah membuatmu pergi dari kehidupan putraku... dan sekarang kau masih saja mencoba untuk memasukkan putrimu kedalam keluarga kami dengan menyuruhnya untuk mendekati cucuku!" seru pak Hamid saat sudah masuk ke ruang perawatan Salma bersama istrinya dan juga bu Desi.
Bu Rahma memandang ketiganya dengan datar. Tak ada rasa takut yang terlihat diwajahnya. Memang bu Rahma kini telah berubah. Ia bukan wanita lugu dan lemah seperti dulu. Apa lagi ini menyangkut putrinya.
"Apa maksud kalian datang kemari?"
"Masih pura-pura... heh apa kau tidak dengar ucapan kami tadi hah? suruh putrimu untuk menjauhi cucuku Wahyu!"
"Ha...ha... ha... dari dulu kalian tidak berubah sama sekali... selalu saja hanya berani dengan orang yang lebih lemah... tapi kali ini kalian salah lawan" sahut bu Rahma.
"Kalau kalian ingin melarang... larang saja cucu kalian sendiri yang mengejar putriku!" sambung bu Rahma tegas.
Ketiga orang yang baru datang itu pun terdiam tak menyangka bu Rahma yang dulu lemah telah berubah menjadi singa betina jika menyangkut putrinya.
"Bukankah aku sudah bilang kalian jangan sekali-kali mencoba merusak hubungan Wahyu dengan calon istrinya..." tiba-tiba terdengar suara pak Adi yang mengejutkan semua yang ada di dalam ruangan itu terutama bu Desi.
"Dan kau Desi... apa kau sudah lupa dengan apa yang aku katakan kemarin?" tanya pak Adi sambil memandang tajam bu Desi.
"Kau jangan mengancam menantu kesayanganku Adi!" sergah pak Hamid.
"Menantu kesayangan? apa papa masih mau menjadikannya menantu kesayangan setelah papa tahu apa yang sudah diperbuatnya?" tanya pak Adi dingin.
"Apa maksudmu mas? kamu mau menuduhku selingkuh dan mengatakan jika Wahyu bukan putramu begitu? kau kejam mas... demi membela perempuan itu dan putrinya kau tega memfitnah istrimu sendiri!" kata bu Desi berusaha membalikkan fakta.
"Memfitnah? siapa yang sudah memfitnah seseorang disini... aku? atau kalian bertiga!" tunjuk pak Adi pada kedua orangtuanya sendiri dan bu Desi.
"Kau bilang aku memfitnahmu? oke... akan aku tunjukkan apa aku memfitnahmu atau tidak..." kata pak Adi lalu ia pun mengambil tas kerjanya yang tergeletak diatas meja yang ada di ruang perawatan Salma.
Kemudian ia mengambil sebuah amplop dan mengambil kertas yang ada didalamnya. Kemudian ia menyerahkannya pada pak Hamid.
__ADS_1
"Papa baca saja sendiri!" suruh pak Adi.
Dengan amarah pak Hamid meraih kertas itu dan langsung membacanya. Amarah pak Hamid pun semakin menjadi setelah membaca isi kertas itu. Tapi kini amarah itu ditujukan pada bu Desi.
"Apa maksudnya ini hah!" ucapnya sambil melempar kertas yang merupakan hasil tes DNA yang pak Adi lakukan.
Bu Desi perlahan mengambil kertas yang tadi terjatuh dikakinya dan membaca isinya. Matanya langsung membulat tak percaya jika surat itu benar surat hasil tes DNA yang dilakukan pak Adi pada Wahyu. Wajahnya langsung pias dan tak dapat berkata-kata. Ternyata perkiraannya selama ini salah. Pak Adi sudah melakukan tes DNA terlebih dahulu sebelum mengancamnya.
"Jadi sekarang katakan siapa yang memfitnah siapa? dan papa... katakan bukankah kelakuan menantu kesayanganmu itu sungguh sesuai dengan kriteria menantu idaman papa? seorang wanita murahan!"
"Jaga mulutmu Adi!" kata pak Hamid.
"Bukankah benar? mana ada wanita terhormat yang mau menjebak calon suami orang hingga mau tidur dengannya?" sahut pak Adi enteng.
Untung saja saat itu Wahyu tidak ada disana karena tengah pergi untuk membeli minuman di mini market dekat rumah sakit hingga tidak harus mendengar ucapan pak Adi barusan.
"Jadi sekarang lebih baik mana seorang janda dengan status jelas atau wanita bersuami yang selingkuh hingga melahirkan anak dari selingkuhannya?" lanjut pak Adi.
"Tapi mas aku tidak selingkuh... waktu itu aku mabuk dan aku tidak tahu saat ada orang yang memperkosaku..." kata bu Desi menggajukan alibi.
"Benarkah?" tanya pak Adi sambil memiringkan tubuhnya.
"Kalau begitu ini apa?" tanya pak Adi sambil melemparkan foto-foto tak senonoh bu Desi dengan selingkuhannya dulu yang ditemukan pak Adi tersimpan di kotak perhiasan istrinya itu.
"Kau masih menyimpannya sampai saat ini... apa kau masih berharap bisa bertemu lagi dan kembali menjalin hubungan dengan pria br**s*k itu hah?"
"Pergi kalian dari sini! aku dan putriku tidak butuh tontonan menjijikkan kalian!" seru bu Rahma tiba-tiba.
"Pergi!" usirnya lagi.
Kedua orangtua pak Adi pun segera keluar tanpa kata-kata begitu pun dengan bu Desi.
"Kau juga keluar mas... aku dan Salma ingin sendiri sekarang..." kata bu Rahma saat pak Adi tak ikut keluar dengan keluarganya.
"Baiklah... tapi aku mohon jangan sangkut pautkan hal ini dengan Wahyu... dia tidak tahu apa-apa..." kata pak Adi sebelum ia keluar dari ruang petawatan Salma.
Bu Rahma terduduk lemas disamping brankar Salma. Begitu juga Salma tampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi di depannya. Tak lama pintu ruangan terbuka dan tampak Wahyu masuk dengan menenteng kantong plastik berisi minuman kemasan.
" Salma... ibu... kalian kenapa? sepertinya ada yang mengganggu fikiran kalian?" tanya Wahyu saat melihat wajah keduanya yang lesu.
"Tidak ada apa-apa mas... hanya saja hari ini sangat melelahkan.." sahut Salma berusaha menyembunyikan keresahannya dan juga ibunya.
"Hemm baiklah... bu lebih baik ibu istirahat saja dulu biar aku yang menjaga Salma..."
__ADS_1
"Tapi nak... kamu juga pasti masih lelah habis bekerja... biar ibu saja..." tolak bu Rahma.
"Tidak apa-apa bu... lagi pula sebentar lagi kami akan menikah jadi Salma sudah jadi tanggunng jawab Wahyu..."
"Baiklah..." ujar bu Rahma pasrah.
Bu Rahma pun pamit untuk pulang untuk beristirahat di rumah. Wahyu mengantar bu Rahma hingga wanita paruh baya itu masuk ke dalam taksi yang telah dipesankan olehnya. Setelah itu ia pun kembali ke ruangan Salma. Saat Wahyu pergi mengantar bu Rahma, Salma tampak kembali termenung. Kejadian tadi kembali mengguncang batinnya.
Apakah keputusannya menerima pinangan Wahyu sudah benar? namun jika ia meninggalkan Wahyu sekarang sama saja ia menghancurkan pria yang sangat dicintainya itu. Sungguh kini ia dalam dilema yang besar. Karena terlalu larut dalam fikirannya ia tak menyadari jika Wahyu telah kembali ke ruangannya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Wahyu saat melihat Salma melamun.
"Hah? a..aku... tidak apa-apa mas..." sahut Salma terbata.
"Kau jangan membohongiku sayang... kalau kau punya masalah katakan saja jangan kau pendam sendiri..." ucap Wahyu sambil membelai kepala Salma.
"Aku hanya ingin pulang ke rumah mas... aku bosan berada di sini terus..." kata Salma.
"Hemmm... besok kita tanyakan pada dokter yang merawatmu apa kau sudah boleh pulang..."
"Bener mas?" tanya Salma dengan wajah berbinar.
"Iya..." sahut Wahyu sambil mengangguk dan tersenyum melihat wajah Salma yang berubah cerah.
"Sekarang kita tidur dulu..." kata Wahyu sambil menggeser tubuh Salma lalu membaringkan tubuhnya disamping wanita itu.
"Mas..."
"Aku ingin tidur sambil memelukmu Salma... boleh kan?" ucap Wahyu pelan dengan wajah memelas.
Salma pun mengalah dibiarkannya Wahyu tidur disampingnya dan memeluk tubuhnya. Wahyu bahkan menarik kepala Salma untuk masuk ke dalam dadanya. Dan wanita itu pun hanya pasrah selama Wahyu tidak berbuat lebih. Keduanya pun langsung tertidur.
Suara azan membangunkan Salma. Sambil mengerjapkan mata ia mulai menggerakkan tubuhnya. Namun ia merasakan seseorang tengah memeluknya erat. Saat pandangannya sudah jelas ia melihat Wahyu yang sedang tertidur sambil memeluknya possesive. Salma mendesah pelan. Saat ini saja pria itu seperti takut kehilangannya apa lagi jika benar ia pergi dari Wahyu.
"Jangan tinggalkan aku Ma..." gumam Wahyu dalam tidurnya.
Setitik air mata langsung lolos dari mata Salma. Sebegitu takutkah Wahyu akan kehilangan dirinya? kenapa begitu sulit untuknya dan Wahyu bersatu? Salma kembali meneteskan air mata sesungguhnya ia juga tak ingin kehilangan Wahyu.
"Kenapa kau menangis sayang?" tanya Wahyu yang ternyata telah bangun.
"Tidak apa-apa mas... aku hanya..." perkataan Salma langsung terpotong karena Wahyu sudah membungkam mulut Salma dengan mencium bibir wanita itu dengan lembut namun penuh perasaan.
"Aku mencintaimu Salma... tak ada yang bisa merubah itu..." ucap Wahyu setelah mengakhiri ciumannya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu mas..." sahut Salma membenamkan wajahnya di dada Wahyu.
Sebenarnya Wahyu sudah bisa menduga jika Salma tengah kembali bimbang karena saat ia akan ke ruang perawatan Amira ia sempat melihat mamanya dan kedua orangtua pak Adi keluar dari lift saat di loby rumah sakit. Wajah mereka terlihat tidak mengenakkan sehingga Wahyu buru-buru menaiki lift tanpa menyapa mereka dulu karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya itu akibat kedatangan mereka.