
Keingintahuan kedua pasang kakek dan nenek Wahyu membuat Salma semakin salah tingkah. Ia menjadi semakin cemas karena kurang percaya diri. Wahyu yang sadar jika Salma merasa kurang nyaman langsung menggandeng Salma menjauhi keluarganya dengan alasan akan menemui rekannya.
Setelah Wahyu dan Salma pergi bu Desi yang sedari tadi kesal dengan kehadiran Salma langsung menjalankan aksinya untuk meminta dukungan dari orangtua serta mertuanya.
"Tapi sebenarnya aku kurang setuju dengan wanita itu ma.. pa.." ucap bu Desi ketika pak Adi sudah tidak bersama mereka karena harus menyapa temannya.
"Memang kenapa? apa gadis itu miskin?" tanya papa bu Desi pak Danu.
"Bukan cuma miskin pa... dia itu juga seorang janda" sahut bu Desi dengan ada mencibir.
"Hah! kau tidak bercanda kan?" kata pak Hamid tak menyangka jika cucunya lebih parah dalam memilih pasangan dari pada papanya.
"Apa papa lihat aku sekarang ini sedang bercanda?" dengus bu Desi.
"Ini tidak bisa dibiarkan..." sahut bu Lastri ibu pak Adi.
"Sudahlah Jeng... biarkan saja itu menjadi urusan Wahyu dalam mencari jodohnya..." ucap bu Anggi mama bu Desi.
"Mama ini gimana sih ... apa mama ga malu punya cucu mantu seorang janda?" potong bu Desi.
"Lebih baik janda dengan status yang jelas dari pada gadis tapi sudah bekas banyak orang!" seru pak Adi yang tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka.
Bu Desi langsung terkesiap dengan perkataan pak Adi. Wajahnya yang tadi garang seketika langsung berubah pucat.
"Maksud kamu apa Adi?" tanya pak Hamid.
Kedua orang tua bu Desi juga terdiam mendengar ucapan menantu mereka. Tak menduga jika pak Adi akan kembali mengungkit masa lalu bu Desi.
"Katakan apa maksud kamu Adi!" seru pak Hamid.
"Aku yang katakan atau kau sendiri yang mau mengaku?" tanya pak Adi pada bu Desi.
"Nak Adi... bukankah kamu dulu sudah berjanji pada kami" kata pak Danu yang tak ingin aib anaknya terungkap.
"Saya tidak bermaksud untuk mengungkitnya lagi tapi putri anda sudah berani mengganggu kebahagiaan putra saya padahal dia sudah saya peringatkan" sahut pak Adi sambil menatap bu Desi dengan tajam.
Mendengar itu kedua orangtua bu Desi menatap putri mereka dengan tajam. Masih teringat dengan jelas dalam ingatan keduanya saat pak Adi mengajukan syarat agar ia mau melanjutkan perjodohannya dengan bu Desi yang diwarnai drama penjebakan oleh orangtua pak Adi dan juga bu Desi putri mereka.
Ya pak Adi waktu itu telah mengajukan syarat agar bu Desi mau patuh pada pak Adi sebagai suaminya dan tak boleh membantah. Dan bu Desi serta kedua orangtuanya telah menyetujuinya. Lagi pula selama ini perintah pak Adi tak pernah ada yang melanggar norma bahkan membimbing bu Desi agar menjadi lebih baik.
"Apa-apaan ini Adi? kenapa kalian tak satu pun ada yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak Hamid geram.
"Papa tidak usah ikut campur dalam rumah tanggaku! Cukup dulu aku yang jadi korban karena keegoisan papa dan mama yang hanya memandang orang lain karena harta. Tapi aku tidak akan membiarkan sejarah terulang lagi pada putraku. Dia harus mendapatkan kebahagiaannya termasuk bersama Salma" kata pak Adi.
__ADS_1
"Itu juga berlaku pada putriku Gita jika suatu saat nanti ia menemukan pasangannya!" sambung pak Adi.
"Kau sudah tidak menganggap kami orangtuamu?" tanya pak Hamid emosi.
"Jika aku sudah tidak menganggap kalian orangtua maka saat ini kalian tidak akan berada disini" sahut pak Adi sengit.
Perdebatan mereka terhenti saat tiba-tiba saja lampu di ruangan tersebut padam. Dan di tengah ruangan terpampang sebuah layar besar yang menampilkan siaran langsung saat Wahyu membawa Salma ke sebuah ruangan yang didesain romantis penuh dengan bunga dan juga lilin.
Tampak Wahyu menghadap pada Salma dan memandang gadis itu dengan tatapan penuh cinta. Semua orang yang menyaksikan tayangan itu pun terpana. Termasuk sepasang suami istri yang baru saja datang.
"Mas... bukankah itu Salma?" ucap Nadia yang terkejut saat mengenali wanita yang ada pada layar besar tersebut.
Amran hanya terdiam saat ia juga mengenali Salma mantannya yang kini tampak jauh lebih cantik dari terakhir ia lihat. Dan ternyata hatinya masih saja berdesir saat menatap wajah Salma. Tapi kini saat melihat Salma tengah bersama Wahyu yang merupakan salah satu kliennya membuatnya tersadar jika gadis itu sudah tak mungkin lagi dijangkaunya.
Semua orang di ruangan itu menatap penasaran apa yang akan dilakukan oleh Wahyu. Sebagian sudah menduga jika pria itu akan melamar gadis yang ada dihadapannya itu.
"Salma... boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Wahyu sambil memandang Salma lekat.
"Iya..."
Tiba-tiba pria itu langsung berlutut dihadapan Salma dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna maroon senada dengan warna gaun Salma dan membukanya. Disana terlihat sebuah cincin berlian mungil dengan desain sederhana namun mewah. Sesuai dengan selera Salma yang sederhana.
"Salma ... maukah kau menikah denganku?" tanya Wahyu pada Salma.
"Bagaimana Ma? apa kau menerima lamaranku?" tanya Wahyu lagi saat Salma masih saja terdiam.
Semua yang menyaksikan pun tampak ikut tegang. Tak bisa menduga apa yang akan menjadi jawaban Salma.
"Iya mas... aku mau..." jawab Salma setelah ia berhasil menenangkan dirinya.
"Yes!!" teriak Wahyu bahagia.
Para tamu undangan pun bertepuk tangan meriah saat mendengar jawaban Salma. Mereka ikut berbahagia dengan keduanya. Amran hanya tersenyum miris melihat Salma yang kini sudah menerima Wahyu sebagai calon suaminya.
"Kau tidak apa-apa mas?" tanya Nadia seperti merasakan perasaan suaminya.
"Aku tidak apa-apa... bahkan aku lega sebab kini dia sudah bahagia" sahut Amran memandang istrinya mencoba meyakinkan wanita itu bahwa ia sudah melupakan Salma.
Nadia mengangguk sambil tersenyum pada Amran.
"Aku tahu mas... kau masih menyimpan rasa padanya" batin Nadia miris.
Ia tak bisa menyalahkan suaminya karena itu terjadi juga karena salahnya. Jika saja dulu ia tak memaksa mereka menikah mungkin sampai kini hanya akan ada namanya dihati suaminya itu. Setidaknya ia bersyukur karena suaminya mau memaafkannya dan kembali padanya. Walau pun ia tahu sekeras apa pun Amran berusaha namun nama Salma sudah terlanjur hadir dalam hati suaminya itu.
__ADS_1
Sementara bu Desi tampak tak dapat menyembunyikan rasa geramnya karena Wahyu benar-benar melamar Salma dihadapan semua orang. Dan Salma langsung menerimanya. Sedang pak Adi tampak tersenyum bahagia putranya sebentar lagi akan menikah dengan gadis pujaannya.
Setelah lampu didalam ruangan menyala kembali tampak Wahyu dan Salma masuk ke dalam ruangan dan acara perayaan perusahaan pun dimulai. Namun sebelumnya pembawa acara mengucapkan selamat pada keduanya. Salma yang tak menduga jika acara lamarannya tadi disaksikan oleh banyak orang tampak tersipu malu. Sedang Wahyu tampak senang karena lamarannya diterima.
"Jadi kapan tuan Wahyu akan meresmikan hubungan kalian?" tanya pembawa acara setelah mengajak Wahyu dan Salma naik keatas panggung.
"Secepatnya" jawab Wahyu mantap.
Jawaban Wahyu langsung membuat para undangan bertepuk tangan meriah. Salma yang sedari tadi tangannya digenggam oleh Wahyu tampak tersenyum malu. Setelah itu Wahyu pun mengajak Salma untuk turun dari panggung karena ia tahu jika Salma tak menyukai dirinya menjadi sorotan semua orang.
Acara pun dilanjutkan dengan meriah. Di sela-sela para tamu yang memberi selamat pada Wahyu dan Salma tampak pasangan Amran dan Nadia masih berada ditempat mereka berdiri. Tampak ada keraguan diwajah keduanya untuk menemui pasangan yang tengah berbahagia itu.
"Mas... aku jadi tidak yakin akan menemui Salma" ucap Nadia.
"Kenapa?" tanya Amran.
"Aku takut kehadiranku malah akan merusak kebahagiaannya..." sahut Nadia sendu.
"Jika kau tidak yakin maka lain kali saja kita menemuinya..." kata Amran sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Lalu pria itu pun menuntun istrinya untuk keluar meninggalkan acara yang masih berlangsung. Saat keduanya baru saja mendekati pintu keluar mereka bertemu dengan pak Adi.
"Lho... kalian sudah mau pulang?" tanya pak Adi pada Amran.
Karean perusahaan mereka sudah sering bejerja sama membuat pak Adi juga sudah mengenal Amran.
"Maaf pak... istri saya tiba-tiba tidak enak badan... jadi kami pulang duluan" kata Amran beralasan.
Pak Adi memandang wajah Nadia yang memang terlihat sedikit pucat.
"Baiklah... kalian pulang saja dulu... jaga kesehatan istrimu" ucap pak Adi tulus.
"Terima kasih pak..." ucap Amran diiringi dengan anggukan oleh Nadia.
Keduanya pun kemudian keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke parkiran. Selama perjalanan pulang tampak keduanya terdiam sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
Sementara bu Desi tampak geram karena tak bisa berbuat banyak untuk menggagalkan acara lamaran yang dibuat Wahyu.
"Kamu jangan khawatir papa akan membantumu" ucap pak Hamid yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.
"Kau ingatkan... dulu Adi juga seperti itu... tapi lihatlah sekarang... dia sudah jadi suamimu" sambung pak Hamid kemudian berlalu.
"Kau jangan macam-macam Des... apa kau tidak ingat dengan ancaman suamimu tadi? jika rahasiamu dulu terungkap maka mertuamu itu pasti akan langsung menendangmu dari keluarganya tanpa fikir panjang" kata pak Danu yang diangguki istrinya.
__ADS_1
Keduanya memang sejak tadi memperhatikan putrinya itu. Mereka tahu jika bu Desi sering berbuat gegabah saat sedang emosi.