Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Mengetahui


__ADS_3

Pagi ini Wahyu sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Namun sebelumnya ia berencana untuk pergi ke rumah sakit sebentar untuk menanyakan vitamin yang diberika oleh mamanya pada Salma. Bukan berfikiran buruk namun ia juga tak ingin terjadi hal buruk pada istri dan kandungannya jika sembarangan meminum vitamin tanpa resep dokter. Wahyu sengaja tak mengatakan rencananya pada Salma takut jika istrinya itu jadi kefikiran. Setelah sarapan pagi akhirnya Wahyu pun berangkat ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke kantor ia juga mewanti-wanti sopirnya agar tidak memberitahukan kepergiannya ke rumah sakit pada Salma.


Tak butuh waktu lama setelah sampai di rumah sakit Wahyu langsung bisa masuk ke ruang pemeriksaan karena sejak semalam ia sudah membuat janji dengan sang dokter. Setelah menjelaskan kronologinya Wahyu pun memberikan botol vitamin yang diberikan mamanya pada sang dokter. Saat menerima botol obat itu dan memeriksanya sang dokter tampak langsung mengerutkan dahinya.


"Pak Wahyu... anda yakin jika yang di dalam botol ini benar-benar diberikan oleh ibu anda?" tanyanya pada Wahyu.


"Iya dokter... istri saya sendiri yang mengatakannya... bahkan ibu saya sendiri yang memberikannya langsung pada istri saya..." terang Wahyu.


"Memangnya ada masalah dokter?" tanya Wahyu yang penasaran dengan sikap sang dokter.


"Maaf pak Wahyu... saya harus berkata jujur pada anda... sebenarnya obat yang anda berikan pada saya ini bukanlah vitamin seperti anda dan istri anda duga..."


"Maksud dokter?"


"Ini adalah obat menggugur kandungan pak... maaf tapi saya juga tidak bisa mengerti mengapa mama anda justru memberikan obat ini pada istri pak Wahyu... bukannya ini juga cucu pertama untuknya?"


Wahyu begitu syok saat mengetahui kenyataan jika mamanya berniat mencelakai Salma dan juga janin dalam kandungannya, sehingga ia hanya bisa terdiam dengan wajah yang pias. Keji... sungguh kata itu yang bisa menggambarkan sikap mamanya saat ini. Bisa-bisanya mamanya itu berencana menghabisi nyawa janin yang tak berdosa hanya karena ia tak menyukai Salma.


"Pak Wahyu... boleh saya bertanya? apa istri anda sudah sempat meminumnya... walau hanya sebutir?" tanya dokter yang membuat kesadaran Wahyu kembali.


"Se... sepertinya belum sempat dokter... pasalnya saat kemarin ia baru akan meminumnya saya sempat mencegahnya..." jawab Wahyu.


"Syukurlah kalau begitu... karena jika istri anda sudah sempat meminumnya walau sebutir maka akan membahayakan kandungannya meski tidak sampai mengakibatkan keguguran... karena bisa saja obat itu menyebabkan kecacatan saat bayi itu lahir nanti..." terang sang dokter yang membuat Wahyu semakin khawatir.


"Dok... saya tidak ingin istri saya tahu tentang masalah ini... jadi bisakah anda meresepkan vitamin yang asli agar istri saya tidak curiga jika saya tidak membawa botol ini kembali ke rumah?"


"Bisa pak... saya juga bisa memasukkan vitamin itu pada botol yang mirip agar istri anda tidak curiga..."


"Terima kasih dokter..."


"Sama-sama pak... hanya saja saya masih penasaran mengapa ibu anda tega melakukan ini pada istri anda? maaf jika pertanyaan saya dianggap lancang..."


"Tidak apa-apa dokter... mungkin ibu saya masih emosi karena dulu dia tidak menyukai saat saya menikah dengan istri saya..." terang Wahyu yang terpaksa mengungkapkan masalah keluarganya.


"Saya juga mohon dokter agar anda bisa lebih waspada dalam menangani istri saya... saya takut kejadian seperti ini terulang..."


"Baik pak... jangan khawatir... tanpa anda minta saya akan menjaga keselamatan setiap pasien saya..."


"Terima kasih..."

__ADS_1


Setelah mendapatkan vitamin pengganti Wahyu pun kembali ke kantor meski hati dan fikirannya tak tenang meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Namun hari ini dia ada meeting dengan klien dari luar negeri yang sangat penting karena orang itu hanya punya waktu hari ini karena akan segera kembali ke negaranya sore nanti. Meski dengan fikiran bercabang Wahyu dapat mengikuti meeting dengan baik. Bahkan sang klien memuji hasil kerja Wahyu dan timnya. Selesai meeting Wahyu langsung mengosongkan jadwalnya hari ini agar bisa langsung kembali ke rumah.


Wahyu baru merasa lega saat ia sampai di rumah dan melihat istrinya Salma tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Saking seriusnya Salma menonton sampai-sampai ia tak menyadari jika Wahyu sudah duduk di sebelahnya.


"Apa yang sedang kau tonton sayang? keliahatannya serius sekali..." kata Wahyu setelah ia duduk di samping Salma.


"Mas! akh kau mengejutkanku saja..." seru Salma yang terkejut saat mendengar suara Wahyu dan mendapati jika suaminya itu sudah duduk di sampingnya.


"Maaf sayang... jika aku mengagetkanmu..." sahut Wahyu dengan nada menyesal.


"Ga pa-pa kok mas... oh iya kenapa jam segini kamu sudah pulang mas?" tanya Salma yang merasa heran Wahyu sudah sampai di rumah bahkan sebelum jam makan siang.


"Aku hanya kangen sama kamu... sedari tadi aku merasa tidak tenang meninggalkanmu sendiri di rumah..." kata Wahyu memberi alasan.


"Aku kan ga benar-benar sendirian mas... di rumah ini masih ada mbok Asih yang menemaniku..." ucap Salma sambil tersenyum.


Wanita itu merasa geli saat mengetahui jika suaminya begitu mengkhawatirkannya.


"Aku tahu... tapi tetap saja aku khawatir sayang..." kata Wahyu tak mau kalah.


"Iya-iya... aku mengerti mas..." sahut Salma yang tak ingin suaminya ngambek.


"Kalau begitu lebih baik mas ganti baju saja sekarang... ayo biar aku siapkan baju gantinya..." sambung Salma.


"Apa yang harus aku lakukan agar aku yakin perempuan itu sudah meminum pil yang aku berikan?" batinnya.


"Apa aku harus kembali ke rumah Wahyu untuk memastikannya? tapi dengan alasan apa?" batin bu Desi lagi.


Saat jam makan siang tiba bu Desi tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi. Dengan tergesa ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Wahyu. Tak butuh waktu lama ia pun akhirnya sampai di rumah putranya itu. Hati bu Desi agak bergetar saat ia mulai turun dari dalam mobilnya. Ia sibuk memikirkan alasan tepat ia ada disana. Dan saat ia mengetuk pintu alangkah terkejutnya bu Desi saat melihat Wahyu yang membukakan pintu.


"Wahyu! ka... kau ada di rumah nak? apa kau sedang tidak enak badan sehingga kau tidak berangkat ke kantor?" tanya bu Desi berusaha menutupi kegugupannya.


"Tidak ma... aku hanya sedang ingin berada di rumah saja..." sahut Wahyu yang juga sedang menahan emosinya saat melihat kedatangan bu Desi.


Tapi Wahyu harus bisa bersikap tenang karena ia tidak ingin Salma mengetahui kebusukan mamanya yang malah akan membuat istrinya itu menjadi kefikiran sehingga dapat mengganggu kehamilannya.


"Mama sendiri mau apa kemari?" tanya Wahyu dingin.


"Ma... mama ingin melihat keadaan menantu mama apa tidak boleh?" bu Desi malah balik bertanya.

__ADS_1


"Boleh saja... asal tidak memberikan sesuatu yang tidak-tidak saja pada istriku..." sindir Wahyu.


"Maksud kamu apa sayang? mama tidak mengerti" kata bu Desi yang merasa tersindir namun tetap berusaha terlihat tenang.


"Ada siapa mas?" tanya Salma yang baru saja keluar dari dapur membawakan minuman untuk Wahyu.


Kedatangan wanita itu langsung membuat suasana tegang antara Wahyu dan bu Desi pun mengendur.


"Mama!" seru Salma senang saat melihat kedatangan ibu mertuanya itu.


Tanpa menunggu lama Salma langsung meraih tangan ibu mertuanya itu dan langsung menciumnya.


"Mas... kenapa mama dibiarkan berdiri disini? Mari masuk ma..." kata Salma sambil menggandeng tangan ibu mertuanya itu.


"Kau lihat ma... menantumu itu sangat baik dan tak pernah berfikiran buruk padamu... tapi kenapa kau sekejam itu hingga ingin mencelakainya dan juga kandungannya..." batin Wahyu sendu saat memperhatikan Salma dan bu Desi masuk ke dalam rumah.


Sesampainya diruang tengah Salma mempersilahkan ibu mertuanya itu untuk duduk dan menawarkannya minuman. Sebenarnya bu Desi ingin menanyakan soal pil yang diberikannya pada Salma namun ia merasa tidak enak karena Wahyu yang juga berada di sana.


"Ini minumnya ma..." kata Salma sambil meletakkan segelas teh hangat di meja depan ibu mertuanya.


"Terima kasih Ma..." ucap bu Desi sambil tersenyum canggung.


"Oh iya... ada apa perlu mama kemari?" tanya Salma yang penasaran karena baru saja kemarin ibu mertuanya itu datang ke rumah.


"Ehm... itu... mama hanya ingin melihat kondisi kamu Ma... apa kau sudah meminum vitamin yang mama beri?" tanya bu Desi dengan gugup.


"Oh itu... maaf ma... aku lupa... sehingga belum sempat meminumnya... tapi nanti aku akan meminumnya ma..." sahut Salma.


"Ya tidak apa-apa... yang penting nanti kamu jangan sampai lupa lagi... ini demi kandunganmu sayang..." ucap bu Desi yang sebenarnya merasa geram menantu tak diharapkannya itu tak langsung meminum pil yang ia berikan kemarin.


"Iya ma... Salma janji..." sahut Salma.


Wahyu sedari tadi hanya diam dan mendengarkan saja perbincangan mamanya dan juga Salma. Sebenarnya ia sudah sangat marah dengan kelakuan mamanya itu. Tapi Wahyu masih memikirkan Salma yang sedang mengandung dan tidak boleh stres karena akan mengganggu kesehatannya dan juga janin yang dikandungnya.


"Kalau begitu lebih baik mama segera kembali ke kantor sayang..." kata bu Desi.


"Mama tidak mau makan siang dengan kami?" tanya Salma yang memang saat ini sudah hampir lewat jam makan siang.


"Tidak usah sayang... tadi mama sudah makan siang dengan klien sebelum mama kemari" tolak bu Desi.

__ADS_1


Sedang Wahyu tetap bungkam tanpa mau ikut dalam pembicaraan bu Desi dan juga Salma. Setelah berpamitan pada Salma dan Wahyu akhirnya bu Desi pun kembali ke kantornya tanpa sempat lagi mengisi perutnya. Dan dia juga tidak perduli karena saat ini ia tengah sibuk mengutuki Salma yang tak langsung meminum pil yang sudah ia berikan.


"Dasar perempuan s**l*n! untuk mengingat hal kecil seperti itu saja susah!" gerutunya sambil memukuli stir mobilnya.


__ADS_2