
Setelah hampir setengah jam berjuang untuk melahirkan bayi pertamanya akhirnya Salma bisa bernafas lega saat mendengar suara tangis bayinya yang sangat keras menenuhi ruang persalinan. Wahyu yang sedari tadi setia mendampingi istrinya selama proses melahirkan pun terlihat sumringah meski sedikit pucat karena baru pertama kali mengdampingi istrinya yang sedang melahirkan.
"Selamat tuan... bayi anda lahir dengan selamat dan sehat... dan jenis kelaminnya perempuan..." ucap dokter yang menangani Salma.
"Alhamdulillah..." ucap Wahyu dan Salma bersamaan.
Keduanya saling pandang dengan perasaan bahagia. Wahyu menggenggam tangan Salma dengan erat. Meski bibirnya tak mampu berkata-kata namun dari pancaran matanya dapat terlihat jika pria itu sangat berterima kasih atas perjuangan Salma melahirkan putri mereka. Dengan lembut Wahyu memgecup kening Salma yang masih sedikit berkeringat.
"Terima kasih sayang..." bisiknya ditelinga istrinya itu setelah berhasil menguasai dirinya.
Salma hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada suaminya karena dirinya yang masih merasa kelelahan. Tak berapa lama seorang perawat datang membawa bayi keduanya yang sudah dibersihkan agar Wahyu bisa mengadzaninya. Salma sangat terharu saat mendengar suara merdu Wahyu saat mengumadangkan adzan dan iqamat di telinga putri mereka. Setelahnya bayi mungil itu pun diletakkan didada Salma untuk melakukan inisiasi dini.
Meski awalnya agak kesusahan menemukan sumber ASI nya namun akhirnya bayi mungil itu bisa melakukannya. Bahkan terlihat sangat kuat saat meminum ASI dari Salma. Kedua orang tua baru itu pun terlihat sangat terharu dan bahagia mendapatkna anugrah yang luar biasa. Keluarga Salma dan juga Wahyu yang datang menjenguk juga sangat bahagia dan gemas melihat bayi perempuan yang terlihat gembul itu.
"Apa kalian sudah memberinya nama?" tanya bu Rahma saat menggedong cucu barunya itu.
"Sudah bu... namanya Yuma" sahut Wahyu sambil tersenyum.
"Yuma... cantik sekali namanya..." ujar Gita.
Sementara itu di tempat lain bu Desi tengah duduk di halaman belakang rumahnya setelah tadi sempat merapikan beberapa tanaman bunganya. Akhir-akhir ini ia memang menghabisakan waktunya dengan menanam bunga. Hobi yang tidak sengaja ia temukan saat merasa bosan di rumah namun tak bisa kemana-mana karena orangtuanya yang melarang. Hidupnya kini sudah seperti tahanan rumah. Tapi ia harus bertahan karena jika ia nekat maka tak ada yang bisa menjamin kehidupannya diluar sana. Sebab diusianya yang sekarang mana ada orang atau perusahaan yang mau menerimanya bekerja. Dan mengurus tanaman terutama bunga mengalihkan perhatiannya. Apa lagi terkadang mamanya juga menemaninya.
Saat ia tengah bersantai menikmati keindahan taman bunganya tiba-tiba ia mendengar suara keributan dari dalam rumah. Penasaran ia pun segera masuk ke dalam untuk mencari tahu penyebabnya.
"Jadi kita sudah mempunyai cicit pa?" terdengar suara mamanya gembira.
__ADS_1
"Iya... dan bayinya perempuan... lihatlah Adi juga mengirim fotonya... menggemaskan sekali bukan?" sahut pak Danu papanya.
Keduanya tidak tahu jika bu Desi tengah mencuri dengar percakapan keduanya sambil bersembunyi.
"Cicit? apa wanita itu sudah melahirkan?" batin bu Desi mencoba menerka-nerka dari tempat persembunyiannya.
Tiba-tiba ada rasa hangat yang menjalar dihatinya yang tidak dimengerti oleh bu Desi. Jika benar wanita itu sudah melahirkan maka ia itu berarti dia sudah mendapatkan seorang cucu...
Cucu...
Kata itu sungguh membuat bu Desi merasa tak nyaman. Teringat saat berkali-kali ia mencoba mencelakai Salma agar kandungannya gugur. Dan yang terakhir saat dia tidak segan-segan sengaja mendorong wanita yang tengah hamil itu ke dalam jurang.
Tanpa disadarinya sudut matanya telah mengembun. Cucu... masih bolehkah ia menemui cucunya itu? setelah apa yang telah diperbuatnya dulu? Ya Tuhan... mengapa ia kini baru merasa menyesal? saat semua orang bisa menjenguk dan melihat bayi Salma tapi dirinya tidak bisa. Bahkan kabar kelahirannya pun ia tidak ada yang memberitahukannya. Bu Desi tersadar dari lamunannya saat mendengar suara mamanya memanggilnya.
"Des... Desi! dimana kau nak?"
"Ini Des... kami baru menerima kabar jika istri Wahyu sudah melahirkan... dan bayi mereka perempuan..." terang bu Anggi mamanya.
"Be... benarkah?" bu Desi tak menyangka jika kedua orangtuanya ternyata tidak melupakannya dan memberitahukan kabar kelahiran cucu pertamanya itu.
"Iya nak... kau sekarang sudah menjadi nenek..." ucap mamanya lagi sambil tersenyum.
Bukan tanpa alasan kedua orangtua bu Desi tetap memberitahukan kelahiran putri Wahyu kepadanya. Selain bu Desi itu ibu kandungnya meski tidak menyukai Salma dan berkali-kali ingin mencelakai wanita itu. Kedua orangtua bu Desi berharap jika wanita itu bisa berubah jika mengetahui jika cucunya telah lahir.
"Apa kau mau ikut kami ke rumah sakit untuk melihatnya?" tanya bu Anggi.
__ADS_1
"A...aku... apa aku boleh?" bu Desi tampak ragu menerima tawaran kedua orangtuanya itu.
"Tentu saja... karena walau bagaimana pun kau itu nenek dari bayi itu..." sahut bu Anggi mencoba membujuk bu Desi untuk ikut dengan mereka ke rumah sakit.
Ia sangat berharap jika nanti setelah bu Desi melihat cucunya itu hatinya akan luluh dan mulai menerima Salma dan juga putrinya yang baru lahir itu.
"Iya Des... ikutlah dengan kami... kau pasti akan langsung jatuh hati pada jika kau sudah melihatnya..." sambung pak Danu ikut membujuk bu Desi.
"Hemmm... baiklah... aku ikut... jadi kapan kita akan ke sana?" tanya bu Desi akhirnya setuju.
"Bagaimana kalau sekang saja? dan sebelum ke sana kita mampir ke toko untuk memberikan hadiah untuknya..." sambung pak Danu.
"Baiklah... aku bersiap dulu..." sahut bu Desi lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Tak lama mereka pun siap dan segera masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir untuk mengantar mereka ke mall sebelum menuju ke rumah sakit tempat Salma melahirkan.
Di rumah sakit Salma sudah dipindah ke ruang perawatan. Disana suasana tampak ramai karena baik keluarga bu Rahma maupun pak Adi berkumpul disana. Untung saja Wahyu menempatkan istrinya itu di ruangan VVIP sehingga mereka dapat bebas dan tidak terganggu dengan pasien lainnya.
"Wah Yuma lucu banget ya... pipinya gembul bikin gemes deh..." cetus Sarah yang sangat menyukai anak kecil.
"Iya... jadi pengen punya adik aku..." ujar Mina anak bungsu Sakina.
"Aku gak mau! punya adik kamu satu aja manjanya minta ampun... apa lagi tambah satu lagi..." seru Vano kakak Mina.
Para orangtua hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan percakapan para bocah itu. Sakina pun langsung melerai kedua anaknya itu dan mengingatkan keduanya agar tidak berisik dan mengganggu tidur bayi Yuma. Mendapat peringatan dari ibu mereka keduanya pun langsung diam dan tak lagi berdebat.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbincang pintu ruang perawatan Salma diketuk dari luar. Dan setelah dipersilahkan masuk tampak pak Danu dan istrinya datang bersama bu Desi. Suasana yang semula ramai mendadak sunyi saat bu Desi masuk ke dalam sana. Ya semua yang ada di dalam ruangan itu sudah tahu apa yang telah dilakukan oleh bu Desi kepada Salma. Hanya para anak-anak yang tidak mengetahuinya. Namun mereka ikut terdiam karena merasakan suasana tegang disana.