Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Pesta


__ADS_3

Bu Desi tampak sangat geram saat mengetahui jika putranya ingin melamar Salma tepat saat acara ulang tahun perusahaan suaminya. Jika acara lamaran itu berhasil maka akan semakin sulit baginya untuk menyingkirkan Salma dari kehidupan Wahyu. Tapi dia juga tidak bisa terang-terangan menggagalkan rencana putranya itu. Sebab akan sangat beresiko baginya.


Bukan hanya Wahyu yang akan memusuhinya tapi juga suaminya. Dan itu yang paling ia takuti. Adi adalah sosok pria yang tak banyak bicara namun hangat. Tapi jika sampai membuat pria itu marah maka tak ada ampun darinya. Kemarahan pak Adi atas kesalahannya dulu bersama mertuanya mungkin saja masih ada dan tinggal menunggu waktu untuk meledak. Karenanya ia harus bermain cantik agar tidak ketahuan. Kedua mertuanya juga akan datang malam ini jadi ia bisa minta pertolongan mereka.


Sungguh ia tak dapat mengerti pada pak Adi dan Wahyu yang sama-sama terpikat pada wanita biasa. Bu Desi belum tahu saja jika Salma adalah putri dari wanita yang dulu hampir menjadi istri pak Adi. Mungkin ia akan syok jika tahu kebenarannya. Atau mungkin juga ini karma karena dulu ia memutuskan tali cinta pak Adi dan kekasihnya tapi kini justru putranya ingin menikahi putri wanita itu.


Seharian bu Desi menyibukkan dirinya dengan ke salon dan butik untuk mempersiapkan dirinya. Bahkan ia sengaja menyuruh MUA untuk datang ke rumahnya agar bisa merias wajahnya. Hal ini selalu ia lakukan setiap kali akan menghadiri pesta besar. Dan ia selalu melakukannya bersama Gita putrinya. Namun kali ini tidak... karena sepertinya Gita lebih memilih untuk pergi bersama teman barunya yang tidak ia kenal.


.............


Sesampainya didalam butik Salma dan Wahyu disambut dengan ramah oleh pegawai disana. Bahkan pemilik butik sendiri datang untuk melayani mereka langsung. Wahyu langsung menyuruh Salma untuk memilih gaun yang ia suka. Setelah beberapa saat memilih Salma belum juga menentukan pilihannya. Semua karena Salma selalu mundur saat mengetahui harga dari gaun yang disukainya. Wahyu yang sedari tadi memperhatikannya hanya tersenyum kecil melihat tingkah Salma.


"Apa kau sudah menemukan yang kau inginkan?" tanya Wahyu pada Salma saat gadis itu kembali meletakkan gaun yang ingin dicobanya setelah mengetahui harga gaun tersebut.


"Ehem... sepertinya ga ada yang cocok untukku mas... jadi kita beli di tempat lain saja ya?" kata Salma.


"Coba kau kenakan dulu beberapa gaun yang tadi tidak jadi kau ambil... aku ingin melihatnya" ucap Wahyu.


"Tapi mas..."


"Kau coba saja... mungkin dengan mengenakannya kita bisa lebih tahu apa gaun itu cocok untukmu atau tidak" potong Wahyu.


Mau tidak mau akhirnya Salma mencoba beberapa gaun yang tadi sudah ingin dicobanya. Satu Salma persatu memperlihatkan gaun yang dicobanya pada Wahyu. Berharap pria itu mengatakan bahwa tak satu pun dari gaun itu yang cocok untuknya.


"Bagaimana mas?" tanyanya saat mencoba gaun pertama.


Wahyu langsung menatap Salma dan melihat gadis itu sangat cocok dengan gaun yang dikenakannya. Namun Wahyu malah mengatakan jika itu kurang cocok untuk Salma. Bukannya kesal Salma malah menghembuskan nafas lega karena tak harus membeli gaun tersebut. Begitu pula saat Salma mencoba beberapa gaun berikutnya.


"Udah mas... ga ada yang cocok kan? jadi kita cari saja ke tempat lain" ucap Salma yang sudah lelah mencoba beberapa gaun.


"Coba sekarang aku yang pilihkan dan nanti kau coba... jika tak cocok juga maka kita ke tempat lain" kata Wahyu.


Salma pun langsung menyetujuinya. Wahyu kemudian berkeliling mencoba mencari gaun yang cocok untuk Salma. Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah gaun lengan panjang dengan warna maroon. Dengan model simple nan elegan. Sambil tersenyum ia pun meraih gaun tersebut dan memberikannya pada Salma untuk segera mencobanya.


Saat mengenakannya di kamar ganti Salma tampak terkejut saat melihat pantulannya di cermin. Entah bagaimana gaun yang kini ia kenakan tampak sangat cocok dengannya. Perlahan disentuhnya gaun yang melekat pas ditubuhnya itu. Terasa sangat halus dan nyaman dipakai.


"Sadar Salma .... baju ini pasti juga mahal seperti gaun-gaun tadi... bahkan mungkin lebih mahal" gumam Salma.


Ada sedikit rasa kecewa pada suaranya. Ya ... saat sudah mengenakan gaun pilihan Wahyu ia jadi sangat menyukainya. Tapi ia sadar jika itu tak pantas untuknya karena dia hanya wanita biasa bukan sosialita yang selalu mengenakan barang mewah.


"Apa kau sudah selesai Ma?" tanya Wahyu yang segera menyadarkan Salma.


"Iya mas... aku keluar sekarang..." sahut Salma.


Saat Salma keluar dari kamar ganti tampak Wahyu sangat terkejut dengan perubahan Salma. Hanya dengan mengenakan gaun itu saja Salma sudah tampak mengagumkan bahkan tanpa make up sebab ia baru pulang dari kiosnya dan tak sempat membetulkan riasannya.


"Cocok... cocok sekali nona..." ucap pemilik butik yang juga berada disana.

__ADS_1


Wahyu yang sedari tadi terpana dengan penampilan Salma pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah... aku ambil gaun ini..." ucapnya.


"Tapi mas..."


"Tidak ada tapi-tapian... aku membelikannya untukmu" potong Wahyu.


Akhirnya Salma pun menurut dan kembali ke kamar ganti untuk melepas gaun tersebut.


"Tolong gaun yang tadi sudah dicoba olehnya juga dibungkus... tapi tolong kirim ke rumah saya. Sedang yang barusan biar kami bawa" kata Wahyu pada pemilik butik.


"Baik tuan..."


Wahyu pun lalu melakukan pembayaran saat Salma baru keluar dari kamar ganti.


Setelah keluar dari butik Wahyu mengajak Salma untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengantar gadis itu pulang. Saat tiba di depan rumah Wahyu langsung pamit pulang tanpa mampir terlebih dahulu.


"Jangan lupa nanti setelah magrib aku kemari menjemputmu..." ucap Wahyu.


"Iya mas..."


"Dan kenakan gaun yang baru saja aku belikan" sambung Wahyu.


"Iya... aku tahu..." sahut Salma.


"Iya mas... dan terima kasih gaunnya" ucap Salma.


"Iya..."


Lalu Wahyu pun mengemudikan mobilnya meninggalkan Salma yang masih berada di depan rumah. Saat masuk ke dalam rumah Salma langsung mencari ibunya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam" sahut bu Rahma dari dalam kamarnya.


Salma pun lalu masuk ke dalam kamar ibunya. Tampak bu Rahma sedang berbaring diatas tempat tidurnya.


"Ibu kenapa?" tanya Salma.


"Ibu tidak apa-apa nak... hanya ingin istirahat sebentar saja..." jawab bu Rahma.


"Apa kau sudah mendapatkan gaun untuk nanti malam?" tanya bu Rahma.


"Sudah bu... tadi dibelikan mas Wahyu..." terang Salma.


"Kenapa nak? sepertinya kau tidak begitu senang?"

__ADS_1


"Bukan begitu bu... hanya saja aku merasa tidak enak dengan mas Wahyu karena dia memberiku gaun yang mahal..." ucap Salma.


"Ibu mengerti perasaanmu nak... tapi kita kan tidak bisa menolak pemberian seseorang... apa lagi nak Wahyu..."


"Iya bu... tapi apa aku tidak seperti wanita matre dengan menerima pemberiannya yang merupakan barang mewah?"


"Tidak sayang... toh kau tidak memintanya bukan?"


Salma mengangguk.


"Jadi jelas... kau bukan wanita matre..." ucap bu Rahma meyakinkan putrinya.


Malam hari setelah menghias dirinya dengan make up tipis Salma pun bersiap menunggu Wahyu dengan mengenakan gaun pemberian pria itu siang tadi. Saat Salma baru keluar dari dalam kamarnya bu Rahma sangat terkejut dengan penampilan putrinya yang sangat berubah dan mengagumkan. Walau hanya mengenakan riasan tipis namun putrinya tampak sangat menawan dengan balutan gaun merah maroon yang sangat cocok dengan kulit putihnya.


"Kau sudah akan berangkat?" tanya bu Rahma.


"Iya bu.... tinggal menunggu mas Wahyu jemput" jawab Salma.


Tak lama terdengar deru suara mobil berhenti di depan rumah. Dengan segera Salma keluar karena ia yakin jika itu Wahyu yang datang menjemputnya. Dan benar saja pria itu datang dengan mengenakan pakaian yang senada dengan gaun Salma sehingga keduanya tampak sangat serasi.


Setelah berpamitan pada bu Rahma keduanya pun segera menuju ke gedung tempat pesta diadakan. Saat sampai disana suasana sudah tampak ramai dipenuhi oleh para tamu undangan. Tampak pak Adi dan bu Desi tengah menyambut para tamu yang datang. Sedang Gita juga terlihat bersama beberapa gadis sebayanya yang merupakan anak dari para rekan bisnis papanya.


Salma sangat gugup saat harus berjalan disamping Wahyu karena semua mata langsung memandang ke arah mereka saat mereka memasuki ruangan.


"Jangan takut..." bisik Wahyu di telinga Salma sambil menggenggam tangan gadis itu yang sudah terasa dingin.


Salma hanya bisa mengangguk kecil karena menahan rasa gugupnya.


"Akhirnya kalian datang juga ..." ucap pak Adi sambil mendekat ke arah keduanya.


Sedang bu Desi tampak tidak senang dengan kehadiran Salma. Walau dalam hatinya ia juga takjub dengan perubahan penampilan Salma.


"Kakak!" panggil Gita saat melihat kakaknya datang.


"Apa kabar kak Salma... perkenalkan aku Gita adik kak Wahyu..." sambung Gita saat melihat Salma yang berada disamping Wahyu.


"Salam kenal..." sahut Salma sambil mengulurkan tangannya.


Gita pun langsung menyambut uluran tangan Salma. Melihat itu pak Adi dan Wahyu merasa senang karena Gita sudah mulai menerima Salma. Sedang bu Desi sudah tampak geram karena kini tak didukung oleh Gita.


Saat itulah kedua orangtua pak Adi dan juga orangtua bu Desi mendekat karena penasaran dengan wanita yang datang bersama Wahyu.


"Wahyu... bisa kau beritahu kami siapa gadis yang datang bersamamu?" tanya pak Hamid ayah pak Adi.


"Dia calon istriku kek..." sahut Wahyu langsung.


Kedua pasang kakek dan nenek Wahyu pun terlihat terkejut dengan ucapan Wahyu. Pasalnya selama ini mereka tak pernah mendengar kabar jika Wahyu sudah memiliki kekasih apa lagi calon istri.

__ADS_1


__ADS_2