Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

Setelah para perawat yang membawa pak Danu ke ruang perawatan pergi, bu Anggi segera mendekati tubuh suaminya yang terlihat sangat lemah dengan selang infus dan alat penafasan yang menempel ditubuhnya. Bu Desi pun tampak mengikuti ibunya tanpa berbicara. Mulutnya terasa kelu saat melihat keadaan ayahnya saat ini.


"Pergilah!" ucap bu Anggi pada bu Desi tiba-tiba tanpa mau memandang wajah putrinya itu.


"Tapi aku masih ingin disini menemani papa..." sahut bu Desi.


"Untuk apa? apa kau ingin melihat papamu meninggal dulu baru kau puas hah?"


"Bukan begitu ma... aku..."


"Aku yang menyuruhmu pergi... anggap saja kami sudah mati!"


"Kenapa mama sangat membenciku sekarang?"


"Kau masih bertanya? apa kau tidak sadar bahwa kelakuanmu lah yang membuat kami jadi seperti ini... bukan kami membencimu tapi kami hanya ingin kamu sadar atas kesalahanmu dan mau memperbaikinya" terang bu Anggi.


"Jika kau masih saja bertindak sesuka hatimu lebih baik hiduplah sendiri dan jangan libatkan kami lagi..." sambungnya.


Bu Desi menatap mamanya tak percaya. Mamanya yang selama ini lembut dan selalu membelanya kini malah mengusirnya. Bukan hanya dari ruangan perawatan pak Danu tapi juga dari rumahnya.


"Mama mengusirku dari rumah?" tanyanya tak percaya.


Bu Anggi tak menjawab pertanyaan putrinya itu dan malah membetulkan selimut yang menutupi tubuh suaminya. Merasa sudah tak diperdulikan lagi oleh mamanya bu Desi pun langsung keluar dari dalam ruang perawatan pak Danu dan bergegas pulang. Sementara bu Anggi hanya bisa menghela nafasnya pelan saat bu Desi sudah keluar dari sana.


"Maafkan mama... mungkin hanya dengan cara ini kamu mau introspeksi diri dan menyadari kesalahanmu selama ini..." batin bu Anggi.


"Maafkan mama juga pa... tidak bisa bersikap lembut lagi pada putri kita..." sambungnya dalam hati sambil menggenggam tangan suaminya yang terasa sedikit dingin.


Sementara bu Desi tampak sudah berada di dalam taksi online yang dipesannya. Wajahnya tampak memerah karena menahan amarahnya.


"Awas saja kalian semua... akan aku balas semua yang sudah kalian lakukan padaku..." batinnya sambil mengepalkan tangan kuat hingga membuat telapak tangannya memutih.

__ADS_1


Sementara pak Adi sudah mendapatkan kabar tentang pak Danu dari Art rumahnya saat pak Adi datang ke sana ingin menemui pria itu dan istrinya untuk membahas tentang perceraiannya dengan bu Desi. Dengan segera pak Adi pergi menuju rumah sakit dimana pak Danu sedang dirawat.


Sedangkan Wahyu dan Salma tampak baru saja keluar dari hotel dan kini keduanya sedang menuju ke rumah pribadi Wahyu. Selama perjalanan Wahyu tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Salma. Meski agak risih karena di depan ada sopir namun Salma tak bisa menolak perlakuan Wahyu yang masih terbilang wajar. Sesampainya di rumah Wahyu mereka pun langsung menuju ke kamar untuk beristirahat. Namun baru saja keduanya masuk ke dalam kamar ponsel Wahyu sudah berbunyi. Tampak nama pak Adi terpampang di layar ponselnya.


"Assalamualaikum... ada apa pa?" tanya Wahyu.


"Papa hanya ingin memberitahumu jika kakek Danu masuk rumah sakit..." kata pak Adi.


"Apa pa? masuk rumah sakit... tapi kenapa?"


"Papa juga belum tahu nak... ini papa baru dalam perjalanan menuju ke sana... tadi papa diberitahu oleh Art di rumah kakekmu" terang pak Adi.


"Kalau begitu aku kesana sama Salma ya pa..."


"Iya..."


Kemudian Wahyu pun memutuskan panggilan ponselnya.


"Kakek Danu masuk rumah sakit Ma..." terang Wahyu.


Salma pun terlihat kaget pasalnya terakhir mereka bertemu saat pernikahannya kakek Danu terlihat sehat dan baik-baik saja.


"Kita kesana sekarang ya..." ajak Wahyu.


"Iya mas..." sahut Salma.


Keduanya pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sementara itu di dalam kamarnya bu Desi tengah memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Entah kemana ia akan pergi dari rumah orangtuanya itu. Tapi setelah diusir oleh ibunya bu Desi sudah tak ingin berlama-lama lagi berada disana. Untuk tempat tinggalnya nanti akan ia fikirkan lagi. Setelah taksi yang dipesannya datang ia pun segera pergi dari sana.


Pertama ia harus pergi ke mesin ATM untuk mengambil uang tunai sebagai biaya hidupnya. Ia harus bergegas sebab ia takut jika pak Adi sudah terlebih dahulu memblokir kartu ATMnya itu. Untung saja saat sampai di mesin ATM kartunya masih bisa ia pakai. Dan tanpa fikir panjang ia pun segera mengosongkan saldo yang ada di dalamnya. Ia tidak mau mengambil resiko jika kartunya nanti diblokir oleh pak Adi.


Setelah mendapatkan uang tunai ia pun segera menuju ke hotel untuk tempat tinggalnya sementara. Ia tak mungkin menyewa kos karena tak sesuai dengan seleranya. Dengan uang yang baru saja ia dapatkan ia bisa membiayai hidupnya paling tidak selama beberapa minggu ke depan. Sementara pak Adi yang sedang menjenguk pak Danu mendapatkan notif dari ponselnya jika kartu ATM yang ia berikan pada bu Desi baru saja ditarik dengan jumlah yang cukup besar hingga tidak menyisakan sepeser pun dalam saldo rekeningnya.

__ADS_1


Pak Adi tampak geram dengan tingkah bu Desi yang seperti pencuri. Padahal meski pun mereka jadi bercerai nantinya pak Adi masih tetap akan memberikan uang untuk bu Desi sebagai gono gini meski selama ini bu Desi tak pernah ikut bekerja dan hanya bisa menghabiskan uang yang diberikan oleh pak Adi.


"Keterlaluan kau Desi... ayahmu sedang kritis tapi kamu malah lebih memikirkan dirimu sendiri untuk bisa mendapatkan uang... meski dengan cara licik seperti ini" batin pak Adi.


"Ada apa nak Adi?" tanya bu Anggi yang melihat wajah pak Adi yang sedang menahan amarah.


"Tidak ada apa-apa kok ma..."


"Apa Desi membuat ulah lagi?" cecar bu Anggi yang bisa merasakan jika putrinya itu akan kembali berulah.


Pak Adi hanya menggeleng tak ingin menambah beban fikiran wanita senja itu atas ulah putrinya sendiri. Sudah cukup ia memikirkan kesehatan pak Danu suaminya yang sedang kritis tanpa harus ditambah lagi dengan kelakuan bu Desi yang semakin menjadi. Tak lama pintu ruang perawatan pak Danu diketuk dari luar lalu Wahyu dan Salma pun masuk.


Wahyu dan Salma tampak trenyuh dengan keadaan pak Danu yang lemah dan belum sadarkan diri. Meski Salma sudah berusaha menguatkan bu Anggi tetap saja terlihat rapuh dan tak berdaya. Bagaimana tidak suami yang selama ini mendampinginya tengah bertaruh nyawa. Sedang putri mereka malah berbuat ulah dan kini entah sedang berada dimana.


"Nenek jangan khawatir... kakek pasti sembuh..." ucap Salma sambil memeluk bu Anggi.


Bu Anggi hanya bisa mengangguk pelan mengiyakan ucapan Salma. Air mata wanita tua itu tampak mengalir dari kedua sudut matanya. Meski terlihat tegar namun tetap saja ia tak sekuat yang terlihat. Dan saat Salma memeluknya pertahanan wanita senja itu langsung bobol. Isak tangisnya terdengar pilu... kesalahannya dan juga suaminya dalam mendidik putri mereka membuat keduanya kini tak tenang diusia senjanya.


Tiba-tiba terdengar gumaman lirih dari pak Danu yang menandakan jika pria itu telah sadar. Seketika bu Anggi mendekat ke arah suaminya setelah sebelumnya ia membersihkan sisa air matanya.


"Papa sudah sadar?" ucapnya lirih.


Pak Danu terlihat hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Nafasnya pun terlihat agak kesusahan meski sudah menggunakan alat bantu pernafasan. Wahyu langsung keluar untuk memanggil dokter begitu ia melihat kakeknya itu mulai sadar. Tak lama dokter yang merawat pak Danu pun datang untuk memeriksa keadaan pak Danu.


Semua yang ada di dalam ruangan itu pun merasa lega saat dokter menyatakan jika pak Danu sudah stabil dan hanya menunggu saat pemulihan saja. Meski begitu keluarga disarankan agar menjaga pak Danu dengan ekstra agar tidak terlalu stres dan banyak fikiran. Setelah itu dokter pun pamit sehabis menjelaskan kondisi terakhir pak Danu.


Sore harinya Gita juga datang menjenguk pak Danu bersama pak Hamid dan bu Lastri. Mendapat kunjungan dari orang-orang terdekatnya membuat pak Danu merasa lebih beruntung karena masih mendapatkan perhatian yang tulus dari keluarga pak Adi setelah apa yang dilakukan bu Desi padanya. Dalam hatinya pak Danu berdo'a jika perceraian pak Adi dan bu Desi benar terjadi maka ia berharap jika pak Adi dapat segera menemukan pengganti bu Desi dan berharap orang itu memiliki sifat yang lebih baik dari putri mereka. Sehingga pak Adi tidak akan kembali tersakiti.


Meski sakit melihat rumah tangga putrinya kandas namun ia juga tahu jika itu semua terjadi karena ulah putrinya sendiri. Pak Danu kini hanya mencoba untuk ikhlas. Berada di titik antara hidup dan mati membuat pak Danu semakin sadar dan mengerti bahwa segala sesuatu itu tidak boleh berlebihan apalagi jika memberikan kasih sayang pada anak-anak kita karena bukan tidak mungkin semua itu malah membuat mereka menjadi pribadi yang egois dan tak mau memikirkan orang lain sehingga bukannya menjadi kebanggaan orangtua tapi malah mencoreng nama keluarga.


Di hotel tempat bu Desi kini tinggal, ia baru merasakan hampa. Meski ditangannya sudah ada uang ratusan juta namun tetap saja ia merasa sendiri dan kesepian. Berusaha membuat moodnya lebih baik bu Dedi pun keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri. Tujuannya kini adalah ke club tempat ia biasa minum. Setelah hampir satu jam berada disana dan menghabiskan beberapa botol minuman membuat bu Desi kehilangan kesadarannya. Para karyawan club yang melihat wanita paruh baya itu tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala menyender diatas meja berinisiatif memindahkannya ke tempat lain agar tidak mengganngu pelanggan mereka yang lain.

__ADS_1


Alih-alih membawanya ke salah satu kamar yang ada di sana sambil menunggu ia sadar para karyawan itu justru malah membawanya ke lorong yang berada di belakang club mereka. Bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Pasalnya saat memeriksa isi tas bu Desi tampak jelas jika wanita itu sudah tidak membawa uang sepeser pun bahkan kartu kredit dan kartu ATM nya sudah di blokir. Bagi mereka barang siapa yang tak memiliki uang maka akan dianggap sampah dan akan dibuang di sembarang tempat.


__ADS_2