Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Berterus Terang


__ADS_3

Hari ini Wahyu sudah mulai kembali berangkat ke kantornya setelah beberapa hari ia tak masuk kantor sejak hari pernikahannya dan kali ini ia sangatlah sibuk. Sebab bukan hanya mengurus perusahaan pak Adi tapi juga perusahaannya sendiri yang ia rintis tanpa bantuan pak Adi. Saat sedang sibuk memeriksa berkas yang harus ditandatanganinya tiba-tiba sekretarisnya datang dan mengatakan jika ada yang ingin bertemu dengannya meski belum membuat janji sebelumnya.


"Siapa?" tanya Wahyu penasaran.


"Pak Alexander Wijaya dari perusahan Wijaya Group..." terang sekretarisnya.


Wahyu mendesah pelan. Ia tidak menduga jika pria yang seorang pengusaha sukses di negaranya mau menemuinya tiba-tiba. Pak Alex merupakan pria blasteran Amerika-Indonesia yang selama ini tinggal di Amerika. Meski ia memiliki darah Indonesia namun ia merupakan warga negara Amerika karena hanya kakeknya yang berasal dari Indonesia. Tak banyak orang yang tahu tentangnya karena selama ini ia tak pernah mau terjun langsung menangani semua pekerjaannya yang ada di Asia. Ia hanya mau menangani yang berada di Eropa dan Amerika saja. Dan tak seorang pun yang tahu alasannya.


"Kenapa tuan Alex tiba-tiba ingin menemuiku? aneh sekali..." batin Wahyu.


Tapi mau tidak mau ia pun akhirnya menyuruh sekretarisnya membawa pria itu masuk ke dalam ruangannya. Meski ia merasa aneh dengan kedatangan pria itu ke tempatnya namun Wahyu berusaha berfikir positif dan berharap mungkin saja pria itu akan membawa keuntungan bagi perusahaannya.


"Silahkan tuan Alex..." ucap sekretaris Wahyu mempersilahkan pak Alex masuk.


Wahyu pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri pria itu untuk menyambutnya.


"Selamat datang di perusahaan kami tuan Alex... perkenalkan saya Wahyu..." sambut Wahyu ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu dengan anda Wahyu..." sahut pak Alex langsung menjabat uluran tangan Wahyu.


"Silahkan duduk tuan..." kata Wahyu mempersilahkan pria itu untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


Setelah sedikit basa-basi akhirnya Wahyu pun menanyakan maksud dari kedatangan pria itu ke perusahaannya. Dan dengan enteng pria itu menjelaskan jika ia tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan milik Wahyu. Meski Wahyu merasa jika alasan yang dinyatakan oleh pak Alex sangat tidak masuk akal pasalnya menurut Wahyu pengusaha sekelas Alex tak mungkin akan tertarik pada perusahaannya yang masih tergolong baru dibidangnya kecuali pria itu memiliki niat terselubung.


Walau pun Alex terkenal tegas dan piawai dalam memimpin perusahaannya tapi Wahyu yakin jika orang seperti Alex juga bisa berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya. Yang kini harus ia ketahui adalah tujuan sebenarnya pria itu mencoba mendekatinya dengan dalih investasi.


"Baiklah tuan Alex... saya akan fikirkan baik-baik tawaran tuan pada saya..." ucap Wahyu mencoba untuk tidak menyinggung pria itu dengan tidak langsung menolak penawarannya.


"Ya... fikirkanlah baik-baik... ini juga demi kemajuan perusahaanmu agar bisa lebih berkembang dan go internasional..." ujar Alex sambil tersenyum.


Tujuannya memang bukan untuk memaksa Wahyu agar mau menerima tawaran kerjasama yang ditawarkannya tapi melainkan untuk bisa lebih dekat dengan putra kandungnya itu. Karenanya Alex sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Wahyu yang meminta waktu padanya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu karena saya masih ada keperluan yang lain..." pamit pak Alex.


Wahyu pun menjabat tangan Alex sebagai tanda perpisahan dan mengantar pria itu sampai ke depan ruangannya. Sikap sopan yang dimiliki Wahyu membuat Alex yakin jika putranya itu pasti akan mau menerima kehadirannya saat semuanya sudah terungkap nantinya. Sambil tersenyum pria itu pergi meninggalkan perusahaan Wahyu dan segera meluncur ke hotel tempat bu Desi menginap.

__ADS_1


Sementara Wahyu tengah termangu memikirkan apa kira-kira yang menyebabkan Alex tiba-tiba mau menemuinya dan mengajak kerja sama. Saat ia tengah sibuk dengan fikirannya terdengar suara ponselnya berbunyi. Tertera nama adiknya Gita disana.


"Assalamualaikum... ada apa Git?"


"Waalaikum salam... kak... mama sudah beberapa hari ga pulang ke rumah... dan dia juga sudah pergi dari rumah kakek..." kata Gita.


"Maksudnya?"


"Mama bertengkar sama papa dan dia pergi ke rumah kakek... tapi aku baru tahu jika sekarang mama juga sudah tidak tinggal di rumah kakek..." terang Gita dengan suara serak menahan tangis.


Ya walau pun bu Desi sudah melakukan kesalahan yang sangat besar yang menyakiti hatinya dan pak Adi namun tetap saja Gita mengkhawatirkan keadaan mamanya itu karena walau bagaimana pun dia adalah ibunya... wanita yang telah melahirkannya.


"Kamu tenanglah... biar kakak yang akan mencari mama..."


"Iya kak... papa juga sedang mencari mama..."


"Ya sudah... kau tenanglah... fokus saja sama kuliah kamu... ok?"


"Iya kak..."


"Papa ingin bicara dengan kamu sekarang Wahyu..." kata pak Adi dengan wajah serius.


"Baiklah... kita bicara diruanganku saja..." sahut Wahyu.


Lalu keduanya pun masuk ke dalam ruangan Wahyu. Setelah keduanya duduk di sofa dan saking berhadapan pak Adi pun memulai pembicaraannya.


"Sebelumnya maafkan papa nak... karena sudah menyembunyikan kenyataan darimu..."


"Maksud papa apa?" tanya Wahyu tak mengerti.


Tapi tetap saja hatinya langsung berdebar dengan nada bicara papanya itu. Tanpa bisa dicegah hatinya sudah mulai menduga-duga apa yang ingin dibicarakan oleh pak Adi padanya.


"Ini mengenai mama kamu nak..." ucap pak Adi sambil menghela nafasnya pelan.


Sesungguhnya semula ia berniat untuk menjaga rahasia jika Wahyu bukan merupakan putra kandungnya untuk selamanya dari Wahyu. Namun kedatangan Alex diperusahaan Wahyu membuat pak Adi harus lebih dulu memberitahukan kenyataannya pada Wahyu agar dia tidak semakin membenci ibunya sendiri.

__ADS_1


Pak Adi memang mengetahui tentang kedatangan Alex tadi. Dan saat ia melihat wajah Alex dari laporan anak buahnya ia sudah bisa mengenalinya sebagai pria selingkuhan bu Desi dulu. Mengingat kekuasaan yang kini dimiliki oleh Alex bukan tidak mungkin pria itu akan melakukan segala cara untuk memiliki Wahyu sebagai putranya. Apa lagi sampai saat ini Alex tidak memiliki penerus meski ia sudah menikah selama bertahun-tahun.


"Nak... sebenarnya pembicaraan ini seharusnya kita lakukan bersama mama kamu... tapi situasinya tidak memungkinkan karena saat ini papa belum tahu dimana mama kamu berada..." pak Adi menghela nafasnya perlahan.


"Papa hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu... tapi yakinlah jika apa pun yang kau ketahui nanti kau tetaplah putra sulung papa... kebanggaan papa dan mama kamu..." kata pak Adi sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari balik jasnya dan memberikannya pada Wahyu.


Wahyu menatap nanar amplop putih yang berada dihadapannya itu. Ternyata dugaannya benar... papanya sudah melakukan tes DNA dan amplop dihadapannya itulah hasilnya. Dengan berdebar Wahyu menerima amplop dari pak Adi dan membuka isinya. Matanya menatap satu persatu kalimat hasil tes yang telah dilakukan oleh pak Adi. Dan matanya langsung tertumbuk pada hasil akhir yang tertera disana dimana terungkap jika dia bukanlah anak kandung pak Adi.


"Maafkan papa..." ucap pak Adi saat melihat ekspresi wajah Wahyu.


Wahyu hanya bisa terdiam ditempat duduknya. Meski ia sudah tahu kenyataannya terlebih dahulu namun ia masih berharap jika apa yang didengarnya saat pertengkaran kedua orangtuanya itu hanyalah mimpi belaka. Dan kini seakan ia disadarkan akan kenyataan yang sebenarnya dengan hasil tes yang kini ada ditangannya.


"Kenapa papa baru mengatakannya sekarang?"


"Karena papa tidak mau kau mendengar kenyataan ini dari orang lain selain dari papa atau mama kamu nak..." terang pak Adi.


"Terlebih dari orang yang telah menanamkan benihnya sehingga mama kamu melahirkan dirimu..." sambung pak Adi.


"Jadi papa sudah tahu siapa orangnya?" tanya Wahyu tak mau memanggil orang itu dengan sebutan ayah.


Pak Adi menganggukkan kepalanya.


"Papa sudah pernah melihat fotonya... dan orang itu tadi datang menemuimu..."


"Maksud papa pak Alex itu..."


"Ya... dia pria itu..." sahut pak Adi tak mau berkata dengan rinci karena bagaimana pun ia masih merasa sakit hati saat mengingat pengkhianatan bu Desi dengan pak Alex.


"Kita harus segera menemukan mama kamu nak... papa yakin jika kedatangan pria itu bukan semata untuk mengakuimu..." sambung pak Adi.


"Maksudnya?"


"Entah kenapa papa merasa jika dia bermaksud buruk pada keluarga kita... terutama mama kamu... karena itulah kita harus segera menemukan mama kamu..." terang pak Adi.


Walau pun ia masih bermasalah dengan bu Desi dan bahkan sedang memproses percerain mereka namun pak Adi tak bisa lepas tangan saat bu Desi mengalami kesulitan. Saat itulah orang suruhan pak Adi menghubunginya dan mengatakan jika bu Desi ada di hotel. Pak Adi pun langsung menyuruh anak buahnya itu untuk mengirimkan lokasinya. Setelah itu ia dan Wahyu segera bergegas ke sana untuk menemui bu Desi.

__ADS_1


Sementara bu Desi yang kini sudah menempati kamar barunya di hotel yang berbeda tampak tengah menikmati kopi hangat di dalam kamarnya. Ya sejak pak Alex mengetahui hotel tempatnya menginap bu Desi langsung keluar dari hotel tersebut saat tengah malam agar tidak terendus oleh anak buah pak Alex yang mengawasinya. Dia juga terpaksa bermalam di hotel melati agar tidak ada yang menduga tempatnya bersembunyi karena itu bukan gayanya.


__ADS_2