Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Melahirkan


__ADS_3

Wahyu tampak tidak sabar untuk menyusul istrinya Salma. Namun ia harus bersabar menunggu keputusan dokter. Bu Rahma dan kedua adik Salma memang berhasil membujuk pria itu agar bersabar apa lagi sudah terbukti jika Salma kini dalam keadaan selamat. Bu Rahma juga sudah menghubungi pak Adi dan memberitahu jika Salma selamat dan ditemukan oleh penduduk setempat. Pak Adi pun merasa bersyukur saat mengetahui jika Salma selamat. Ia pun segera memberitahu pada tim penyelamat untuk menghentikan pencarian.


Ia juga segera menuju ke lokasi tempat Salma kini berada. Sementara Wahyu yang sudah mendapatkan izin dari dokter juga langsung menyusul ke tempat Salma bersama bu Rahma dan yang lainnya. Meski lukanya belum kering namun pria itu tetap bersikeras untuk ikut menjemput Salma. Kekhawatirannya tentang keadaan Salma dan kandungannya membuat Wahyu tidak memperdulikan hal lainnya.


Pak Adi tiba terlebih dahulu di rumah kepala kampung tempat dimana Salma dirawat setelah ia diselamatkan oleh warga. Pria paruh baya itu tampak bahagia melihat keadaan Salma yang baik-baik saja. Apa lagi bidan Ning juga memastikan jika bayi dalam kandungan Salma juga dalam keadaan baik. Tak berapa lama Wahyu pun tiba di tempat Salma berada. Melihat keadaan istrinya yang sedikit pucat membuat pria itu merasa sangat bersalah tidak bisa melindungi Salma dari perbuatan keji mamanya. Beruntung nyawa istri dan calon anaknya itu selamat. Jika tidak entah apa yang akan ia lakukan pada bu Desi. Meski pun wanita itu adalah ibu kandungnya.


Setelah berterima kasih pada bidan Ning dan juga waraga kampung yang sudah menolong Salma, mereka pun segera kembali rumah Wahyu. Selama perjalanan Wahyu tidak pernah melepaskan pelukannya pada Salma. Pria itu seakan takut kehilangan istrinya itu.


"Mas apa lukamu sudah sembuh?" tanya Salma sambil melihat perban yang menutupi luka Wahyu.


"Kau tenang saja sayang... luka seperti ini tidak akan lama akan sembuh... jadi kau jangan khawatir..." sahut Wahyu sambil membelai rambut Salma.


"Bagaimana keadaan mama mas?" tanya Salma tentang bu Desi.


Tadi ia sempat mendengar percakapan Wahyu dengan pak Adi tentang bu Desi meski tidak terlalu jelas.


"Mama sudah berada di kantor polisi... jadi kau jangan khawatir dia tidak akan mencelakaimu lagi" terang Wahyu.

__ADS_1


"Kantor polisi? tapi mas... dia mama kandung kamu..."


"Aku tahu... tapi perbuatannya kali ini sudah sangat keterlaluan Ma... bisa saja kau dan calon anak kita kehilangan nyawa..." kata Wahyu yang terdengar geram atas perbuatan mamanya yang sudah mencelakai Salma.


"Tapi mas..."


"Ssst... kau tenang saja... aku tidak akan menuntut mama... tapi dia juga harus diberi pelajaran agar tidak bertindak sesuka hatinya..." potong Wahyu.


Salma pun mengangguk pasrah. Wahyu benar... bu Desi memang harus diberi pelajaran. Karena perbuatannya bisa saja mencelakai buah hatinya dengan Wahyu. Jika wanita itu hanya menyakiti dirinya mungkin ia akan melupakannya. Tapi bila menyangkut calon anaknya Salma pun tak bisa tinggal diam. Meski ia masih merasa iba dengan nasib ibu mertuanya itu.


Setelah perjalanan yang melelahkan mereka pun akhirnya tiba di rumah Wahyu. Para pekerja di rumah itu menyambut majikan mereka dengan suka cita. Apa lagi keduanya adalah orang-orang yang baik dan memperlakukan semua pekerja di sana dengan sangat baik. Salma dan Wahyu langsung disuruh untuk beristirahat karena keduanya masih dalam masa pemulihan.


Kehamilan Salma pun kini sudah hampir mendekati waktunya ia melahirkan. Saat seperti ini Wahyu benar-benar berindak sebagai suami yang siaga. Pria itu bahkan rela mengerjakan pekerjaan kantornya dari rumah. Wahyu ingin berada disamping Salma saat waktunya tiba bagi istrinya itu untuk melahirkan. Dan pagi ini setelah sarapan ia biasa menemani Salma untuk sekedar berjalan-jalan agar proses melahirkan Salma berjalan lancar.


Saat keduanya tiba di taman dekat komplek rumah mereka keduanya pun duduk sebentar di bangku taman yang tersedia disana. Suasana akhir pekan membuat tempat itu tetap ramai meski hari sudah semakin siang. Salma tampak antusias saat melihat beberapa anak kecil yang asyik bermain di sana. Namun tiba-tiba Salma merasakan perutnya mengalami kontraksi. Karena baru kali ini ia merasakanya maka Salma pun masih berusaha menahannya dan tidak memberitahukannya pada Wahyu. Sebab yang ia tahu dari dokter yang memeriksanya kemungkinan yang ia alami saat ini hanya kontraksi palsu karena rasa sakit itu kini sudah menghilang.


"Kita pulang sekarang ya sayang..." ajak Wahyu karena hari sudah semakin siang dan suasana di sana juga semakin panas.

__ADS_1


"Hemmm i... iya mas...." sahut Salma sambil menahan rasa sakit yang kembali datang.


"Kamu kenapa sayang? kenapa wajah kamu pucat begini?" tanya Wahyu panik melihat wajah istrinya itu pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


"Sssshhh... pe... perutku... sssa... sakit... mas..." sahut Salma terbata sambil menahan rasa sakit yang semakin menjadi.


"Apa kau akan melahirkan sekarang?"


Salma hanya bisa mengangguk pelan karena sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya.


"Sebentar... akan aku panggil sopir kemari..." ucap Wahyu yang kemudian segera menelpon sopirnya untuk menjemputnya di taman dan mengantarnya ke rumah sakit.


Tak lupa ia menyuruh sang sopir untuk memakai mobil yang ia sediakan khusus untuk saat seperti ini. Ya Wahyu memang menyediakan satu mobil untuk saat mengantar Salma melahirkan ke rumah sakit. Di dalam mobil itu sudah tersedia semua perlengkapan yang dibutuhkan saat Salma melahirkan.


Tak lama sang sopir pun datang kemudian Wahyu menuntun Salma masuk ke dalam mobil. Wahyu menggenggam tangan istrinya erat saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Berkali-kali ia menyuruh sopirnya untuk lebih mempercepat laju mobil agar segera tiba di rumah sakit. Sementara Salma terlihat menahan rasa sakit yang kini semakin sering menyerangnya. Setelah lima belas menit mereka pun tiba di rumah sakit. Disana Salma langsung dibawa ke ruang bersalin. Dalam keadaan panik calon ayah itu pun terlihat mondar mandir di depan ruang bersalin.


"Tuan... apa tidak sebaiknya menghubungi papa dan juga ibu nyonya Salma?" tanya sang sopir yang ikut mendampingi tuannya sambil membawakan tas berisi semua keperluan Salma.

__ADS_1


"Ah... i... iya..." sahut Wahyu gugup.


Segera ia pun menghubungi pak Adi, setelah itu ia juga menghubungi bu Rahma. Baru saja ia menutup ponselnya perawat keluar dari ruang bersalin dan mengatakan jika Salma ingin agar Wahyu menemaninya. Meski gugup dan sedikit takut pria itu mantap masuk ke dalam demi menemani istrinya melahirkan.


__ADS_2