
Bu Desi menatap kedua orangtuanya tajam setelah mendengar ucapan ayahnya. Bukannya mendengarkan perkataan ayahnya ia malah merasa geram karena merasa jika kedua orangtuanya kini tak mau mendukungnya.
"Papa ini gimana sih aku kan putri kalian satu-satunya kenapa kalian malah tidak mau mendukungku?" kata bu Desi geram.
"Justru karena kamu putri kami satu-satu Des... kami tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama yang bisa membuat rumah tanggamu itu hancur..." kini bu Anggi ikut bicara.
"Kalian selalu saja merusak rencanaku!" seru bu Desi semakin kesal.
"Desi! jika kami ingin merusak rencanamu maka sejak dulu kami sudah memberitahukan pada Adi jika Wahyu bukanlah darah dagingnya melainkan benih dari pria lain yang kau sendiri tak tahu siapa orangnya!" kata pak Danu yang mulai ikut terpancing emosinya karena kelakuan egois putrinya itu.
Tanpa mereka sadari ada dua manusia yang tengah menyaksikan perdebatan ketiganya dan mendengarkan segalanya. Dua orang itu adalah pak Adi dan juga Gita yang bermaksud menemui kakek dan neneknya dari pihak bu Desi. Gita langsung menatap papanya dengan mata yang sudah mengembun. Ia sangat syok saat mengetahui kelakuan bejat ibunya sendiri. Dan Wahyu kakak yang selama ini sangat disayanginya ternyata bukan kakak kandungnya.
Sedang pak Adi tampak menggeretakkan giginya menahan emosi saat mengetahui kenyataan jika Wahyu bukan darah dagingnya. Sungguh ia merasa sangat bodoh bisa-bisanya ia terjebak sampai dua kali oleh bu Desi. Itu berarti bu Desi telah mengkhianatinya setelah mereka menikah karena Wahyu lahir setelah dua tahun pernikahan mereka. Sehingga pak Adi sama sekali tak mengira jika Wahyu bukan anak kandungnya.
"Papa... apa Gita juga bukan anak papa?" tanya Gita lirih pada pak Adi dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Seketika pak Adi langsung memeluk putrinya itu mencoba menenangkan gadis yang tubuhnya sudah bergetar hebat karena menahan tangisnya agar tak terdengar oleh bu Desi dan kedua orangtuanya.
Pak Adi langsung membimbing Gita menuju ruangan lain yang ada di dekat sana untuk menenangkan putrinya itu. Sesampainya diruangan yang khusus disediakan oleh pihak hotel untuk beristirahat bagi keluarga pak Adi, Gita langsung menangis keras. Diluapkannya rasa sakit akibat kelakuan buruk ibunya kepada suami dan juga anak-anaknya.
"Pa...apa Gita bukan anak kandung papa?" tanyanya lagi dengan suara menyayat hati pada pak Adi.
Pak Adi pun tak dapat memberikan jawaban pasti karena fakta jika Wahyu bukan anaknya membuat ia juga meragukan Gita sebagai putri kandungnya.
"Besok kita tes DNA ya.." ucap pak Adi setelah berfikir sesaat.
"Tapi bagaimana jika benar aku bukan putri kandung papa?" tanya Gita dengan suara bergetar.
"Kau jangan khawatir... apa pun hasilnya nanti kau tetap putri papa... dan papa tidak akan pernah berubah atau pun berhenti menyayangimu" sahut pak Adi sambil menangkupkan kedua tangannya diwajah Gita yang sudah sembab.
Mereka pun kembali berpelukan berusaha untuk saling menguatkan.
Sementara di tempat yang berbeda tampak Wahyu dan Salma yang sedang berbahagia tak pernah lepas bergandengan tangan. Wahyu seolah tak membiarkan Salma sedikitpun jauh dari sisinya. Sambil berbincang dengan beberapa rekannya pria itu tampak tak canggung memperlihatkan kemesraannya dengan Salma. Sedang Salma masih saja terlihat canggung.
"Selamat ya bro!" ucap seseorang tiba-tiba sambil menepuk pundak Wahyu dari belakang.
Wahyu dan Salma pun seketika berbalik kebelakang melihat siapa yang menyapa. Wahyu tampak senang dan langsung memeluk Dirga teman SMUnya dulu. Sedang Salma tampak diam tak beraksi.
"Ini calon istrimu?" tanya Dirga mencoba bersikap biasa padahal hatinya sedang sakit karena tadi ia juga melihat saat Wahyu melamar Salma melalui layar besar.
__ADS_1
"Iya..." sahut Wahyu bangga sebab ia juga tahu jika dulu Dirga pernah suka pada Salma.
Yang Wahyu tidak tahu jika perasaan suka Dirga pada Salma masih tetap sama dan tak pernah berubah.
"Selamat ya..." ucap Dirga sambil mengulurkan tangannya pada Salma.
Setelah menggantung beberapa saat akhirnya Salma mau juga membalas uluran tangan Dirga. Ada rasa lega di hati pria itu saat akhirnya Salma mau membalas uluran tangannya.
"Terima kasih" ucap Salma lalu segera menarik tangannya.
"Mas aku lelah..." ucap Salma pada Wahyu.
"Oh baiklah... maaf Dirga aku permisi dulu untuk mengantar Salma..." kata Wahyu lalu membawa Salma ke ruangan yang sudah disiapkan untuk beristirahat.
"Apa kau masih belum sepenuhnya memaafkan aku Salma? apa kata-kataku dulu begitu melukaimu hingga kau tidak bisa begitu saja memaafkanku?" batin Dirga sambil menatap punggung Salma yang menjauh bersama Wahyu.
Tapi setidaknya tadi Salma tidak bersikap terlalu dingin padanya dan mau membalas uluran tangannya. Mungkin mulai saat ini ia harus mulai menghapus nama Salma dari hatinya dan mulai membuka lembaran baru hidupnya.
Saat Salma dan Wahyu tiba di ruangan tempat mereka akan beristirahat mereka terkejut saat melihat Gita yang sedang menangis dipelukan papanya.
"Gita ...kamu kenapa dek?" tanya Wahyu khawatir daan segera mendekat.
"Ga pa-pa... adikmu hanya sedang patah hati..." sahut pak Adi asal.
"Siapa yang sudah membuatmu patah hati? coba katakan siapa orangnya?" tanya Wahyu emosi tak terima adiknya disakiti.
"Ish kakak jangan membuatku malu... dia tidak tahu kalau aku menyukainya..." kata Gita tak mau masalah itu diperpanjang.
"Baiklah... nanti kakak akan kenalkan kamu dengan pria yang baik dan pasti mau mencintaimu apa adanya" ujar Wahyu berusaha menghibur adiknya.
"Ah kakak... mentang-mentang baru melamar kak Salma udah mau jadi mak comblang saja..." kata Gita sambil terkekeh mulai melupakan rasa sedihnya.
"Sudah-sudah biar Gita papa antar pulang kerumah saja... kasihan wajahnya sudah sembab" kata pak Adi.
"Biar Wahyu saja yang mengantar pa... sekalian mengantar Salma pulang" tawar Wahyu.
"Hem... baiklah kau antar adikmu pulang... biar papa mengurus semuanya disini" ujar pak Adi.
Akhirnya Wahyu, Salma dan Gita pun pamit pulang terlebih dahulu. Sedang pak Adi kembali ke ruang pesta. Sebisa mungkin ia menutupi rasa marah dan bencinya pada bu Desi dan semua orang yang telah membuatnya terjebak dalam pernikahan termasuk kedua orangtuanya sendiri. Sementara Wahyu sengaja mengantarkan Salma ke rumahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Saat sampai di depan rumah Wahyu turun dan mengantar Salma sampai ke dalam rumah karena ia juga ingin bicara langsung dengan bu Rahma mengenai lamarannya. Sedangkan Gita memilih untuk menunggu di dalam mobil.
"Jadi nak Wahyu berniat menikahi Salma?" tanya bu Rahma setelah mendengar cerita Wahyu tentang lamarannya yang sudah diterima oleh Salma.
"Iya bu..." sahut Wahyu sambil mengangguk tegas.
"Ibu hanya bisa memberikan restu jika Salma sudah menerima lamaran nak Wahyu" ujar bu Rahma.
"Kalau begitu secepatnya saya akan menentukan tanggal pernikahan kami bu..." kata Wahyu bersemangat setelah mendapat restu dari bu Rahma.
"Iya..."
Setelah itu Wahyu pun segera berpamitan karena tak ingin Gita terlalu lama menunggunya di mobil. Salma yang mengantarkan Wahyu sampai di depan rumah tampak mengkhawatirkan Gita.
"Mas... kalau bisa jangan biarkan Gita terlalu bersedih ya ..." ucap Rahma.
"Hemm iya... kau juga cepat masuk dan istirahat karena sebentar lagi kita akan sibuk menyiapkan pernikahan kita..." kata Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
Salma pun mengangguk pelan. Dan sebelum berbalik menuju mobilnya Wahyu mengecup kening calon istrinya itu lembut. Salma tersentak kaget tak menduga dengan tindakan Wahyu. Namun tak urung ia juga merasa senang dengan perlakuan Wahyu hingga kedua pipinya pun langsung bersemu merah.
"Sudah... aku pulanga dulua ya..." sambung Wahyu lalu melangkah menuju mobilnya.
Salma baru masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Wahyu benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Tampak bu Rahma masih menunggunya di ruang keluarga.
"Ibu..." panggil Salma sambil duduk di samping bu Rahma.
"Apa kau bahagia nak?" tanya bu Rahma sambil menggenggam tangan putrinya itu dengan lembut.
"Iya bu... aku harap semuanya tidak akan pernah berakhir..." sahut Salma.
"Semoga kau selalu bahagia dengan Wahyu nak..." do'a bu Rahma yang diamini oleh Salma.
Di dalam mobil tampak Gita yang sudah berpindah duduk disamping Wahyu yang sedang menyetir. Wajah gadis itu masih tampak sembab dan pandangannya selalu kearah luar jendela mobil.
"Dek... jangan terlalu bersedih karena cintamu..." kata Wahyu memecahkan keheningan.
"Iya kak.." sahut Gita pelan dan menoleh kearah kakaknya.
"Andai kau tahu apa yang terjadi kak... kau mungkin juga akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini... orang yang telah melahirkan kita ternyata bukan wanita yang bisa menjaga kehormatannya. Dia tega mengkhianati pria sebaik papa..." batin Gita.
__ADS_1
Air mata pun mulai menetes kembali dari sudut matanya. Namun dengan cepat dihapusnya dengan punggung tangannya. Setelah mereka sampai di kediamaan pak Adi, Gita langsung masuk ke dalam kamarnya. Wahyu yang merasa jika adiknya membutuhkan waktunya sendiri sengaja membiarkannya. Tapi ia juga masih mengawasi agar adiknya itu tidak melakukan hal bodoh.
Di dalam kamar Gita kembali menangis. Hal yang paling menyakitkan adalah jika kita dikhianati oleh orang terdekat kita. Apalagi ini adalah ibu kandungnya. Selama sisa acara pesta pak Adi berusaha bersikap biasa tapi saat acara selesai ia langsung meninggalkan istri dan mertua serta orangtuanya tanpa sepatah kata. Rasanya ia sudah sangat muak dengan orang-orang yang disebut keluarganya itu. Ia juga kefikiran dengan mental Gita jika esok mereka menjalani tes DNA. Namun tes itu memang harus dilakukan agar semuanya jelas dan Gita juga dirinya berhak mengetahui kebenarannya.