
Sejak keluar dari ruangan dokter tempat pak Adi dan Gita melakukan tes DNA keduanya tampak diam larut dalam fikiran masing-masing. Sebenarnya ada rasa lega dan senang saat tahu jika mereka berdua benar ayah dan anak. Tapi kenyataan jika Wahyu bukan darah daging pak Adi tak urung membuat keduanya juga merasa sedih. Wahyu adalah anak berbakti yang didambakan setiap orangtua. Juga kakak yang mengayomi bagi Gita. Sungguh dalam hati keduanya masih tak rela menerima keyataan pahit bahwa Wahyu bukan sedarah dengan keduanya.
"Pa... apa kita akan memberitahu kak Wahyu tentang hal ini?" tanya Gita setelah keduanya sudah berada di dalam mobil yang kini dikemudikan oleh pak Adi sendiri.
"Ya kita harus memberitahukan ini padanya nak... karena dia juga berhak tahu kebenarannya... tapi tidak sekarang" jawab pak Adi.
"Papa benar..." sahut Gita sambil menarik nafasnya berat.
"Maaf nak... sebenarnya papa sudah punya rencana sendiri tentang Wahyu. Tapi ini juga untuk melindungi Wahyu dari mama kalian..." batin pak Adi.
Pak Adi memang sudah menyiapkan rencana agar bu Desi tidak dapat menggagalkan rencana pernikahan Wahyu dan Salma. Jika perlu pria itu akan melakukan apa saja agar Wahyu tidak bernasib sama dengannya dulu. Apa lagi dulu Wahyu juga pernah dijebak oleh Friska. Untung saja ia dapat menolongnya hingga masa depan Wahyu dapat diselamatkan.
Di tempat lain tampak Friska tengah uring-uringan karena saat kemarin ia meminta bantuan ayahnya pria itu menolaknya mentah-mentah. Baru kali ini ayah Friska menolak keinginan putrinya itu. Bukan tanpa alasan pria paruhbaya itu menolak permintaan putrinya. Sejak kejadian pemerkosaan yang dituduhkan pada Wahyu yang ternyata cuma jebakan dari putrinya sendiri itu membuat pak Halim tak lagi sembarangan mengabulkan permintaan putrinya.
Apalagi kali ini putrinya kembali ingin memiliki Wahyu pria yang dulu pernah ia jebak. Dalam logika mana ada pria yang mau dengan wanita yang telah menjebak dan mencoreng nama baiknya. Apalagi saat terakhir ketika ia bertemu pak Adi di kantor polisi. Pria itu dengan jelas mengatakan jika terbukti Friska yang sengaja menjebak Wahyu maka dia tidak akan tinggal diam. Dan benar pak Adi langsung membuat Friska membayar perbuatannya dengan langsung dikeluarkan dari kampus disamping juga harus menghadapi tuntutan hukum karena memfitnah dan membohongi petugas kepolisian.
Tapi sepertinya Friska tak mau menerima penolakan apalagi dari ayahnya yang selama ini memanjakannya.
"Lihat saja Wahyu... bagaimana pun aku akan mendapatkanmu" batin Friska.
Wajah Friska memerah menandakan ia sedang dalam amarah. Tak akan ia biarkan orang lain memiliki Wahyu. Apa lagi Salma yang dimatanya sangat tidak sepadan dengan Wahyu dan juga keluarganya.
"Mungkin aku bisa membujuk tante Desi untuk bekerja sama membatalkan pernikahan Wahyu..." gumam Friska sambil tersenyum sinis.
Dengan segera ia menghubungi bu Desi yang kontaknya sudah ia simpan sebelumnya. Tentu saja Friska dapat dengan mudah mendapatkan nomor kontak bu Desi karena saat kasusnya dulu dengan Wahyu ia sudah sempat menghubungi wanita itu untuk menawarkan perdamaian. Meski akhirnya Wahyu tetap saja menolaknya.
"Halo tante... lama kita tidak bertemu..."
"Ada apa kau menghubungiku lagi Friska?" tanya bu Desi ketus.
__ADS_1
"Tenang tante... aku menelfon hanya ingin memberikan tante penawaran yang menarik..." ujar Friska menjeda kalimatnya.
"Maksud kamu?"
"Aku tahu tante... jika tante tidak setuju dengan wanita pilihan Wahyu..." kata Friska sambil tersenyum.
"Dari mana kau tahu hah?" tanya bu Desi.
"Tentu saja aku tahu tante... sebab aku faham sekali dengan selera tante... jadi tidak mungkin tante akan setuju jika putra tante menjalin hubungan dengan wanita rendahan seperti itu"
"Jadi apa mau kamu?" tanya bu Desi yang sebenarnya sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka.
Sebenarnya bu Desi sudah tahu jika Friska masih berharap bisa mendapatkan Wahyu. Karena itu ia berniat untuk mengikuti permainan gadis itu. Walau sebenarnya ia juga kurang setuju jika putranya berhubungan dengan Friska. Dalam fikiran bu Desi, Fiska adalah gadis dengan gangguan jiwa karena terobsesi dengan Wahyu. Tapi ia juga tak dapat menolak ajakan gadis itu... toh dengan demikian ia bisa menyingkirkan Salma dan mengkambing hitamkan Friska. Jadi ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
Dengan semangat Friska membeberkan rencananya pada bu Desi. Mendengar rencana Friska yang menurut bu Desi terdengar nekat namun ia senang dan menyetujui rencana gadis itu. Sedang Friska seperti mendapatkan angin segar saat bu Desi mendukung rencananya. Apa lagi mama Wahyu itu juga bersedia membantu melancarkan rencana Friska.
Sementara Wahyu sedang menghubungi Salma untuk mengajaknya mengurus persiapan pernikahan mereka. Wahyu memang ingin secepatnya meresmikan hubungannya dengan Salma agar tak ada lagi yang mengganggu keduanya. Termasuk mamanya sendiri. Sikap bu Desi yang terkesan cuek pada rencana Wahyu tak membuat pria itu lengah. Pengalamannya dengan Friska membuatnya waspada. Apalagi ia tahu sifat bu Desi yang tak akan menyerah jika keinginannya belum tercapai.
Saat sampai didepan kios Salma tampak gadis itu juga sudah menunggunya. Sepertinya ia juga menyuruh karyawannya untuk menggantikannya mengawasi kios. Salma langsung tersenyum pada Wahyu saat pria itu keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju kearahnya.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Wahyu saat ia sudah berada dihadapan Salma.
"Ga kok mas... aku baru saja keluar" sahut Salma.
"Baiklah... kita pergi sekarang" ajak Wahyu.
Wahyu langsung membukakan pintu mobil untuk Salma dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk di kursi penumpang disamping kemudi. Kemudian ia pun segera memasuki mobil dan duduk didepan kemudi. Lalu mereka pun segera meluncur ke restoran langganan Wahyu untuk makan siang terlebih dahulu. Selesai makan siang keduanya lalu pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.
Saat melihat Salma mencoba baju pengantinnya Wahyu tampak terpesona. Pasalnya Salma tampak sangat anggun mengenakan kebaya berwarna gading dengan desain sederhana namun terjesan mewah yang menambah aura kecantikannya. Begitu pula Salma yang juga terpesona dengan ketampanan calon suaminya yang mengenakan beskap yang berwarna senada dengan kebayanya.
__ADS_1
Setelah itu keduanya menuju ke gedung tempat mereka akan mengadakan acara akad dan resepsi. Melihat dekorasi yang dirancang khusus untuk pernikahan keduanya membuat Salma sangat terharu dan bahagia. Bagaimana tidak ternyata tanpa ia duga desain yang dipilihkan oleh Wahyu sangat elegan dan seperti impiannya.
Puas dengan hasil yang dicapai WO dalam mempersiapkan pernikahannya dengan Salma, Wahyu pun kemudian mengajak Salma untuk pulang karena hari sudah hampir sore. Sedari tadi Wahyu tak pernah berhenti tersenyum membuat Salma ikut tersenyum.
"Kau tampak sangat bahagia mas..." ujar Salma sambil menatap wajah calon suaminya itu.
"Tentu saja sayang... karena sebentar lagi kita akan menikah... dan impianku selama ini akan terwujud dengan menjadikanmu istriku..." kata Wahyu lalu menggenggam tangan Salma.
Kemudian pria itu pun menarik tangan Salma dan mengecupnya perlahan.
"Kau tahu rasanya seperti mimpi saat aku pertama kali melihatmu disini... dan aku juga merasa masih tidak percaya jika ini nyata kau sebentar lagi akan menjadi istriku" sambung Wahyu.
"Aku juga mas tak mengira jika akhirnya aku menemukan kebahagiaanku dan itu denganmu" ujar Salma tulus.
"Aku mencintaimu Salma..."
"Aku juga mas..." sahut Salma.
Tanpa mereka sadari jika sedari tadi ada yang mengikuti kendaraan yang mereka pakai. Tampak wajah bengis tergambar diwajah ayu yang sebenarnya tampak seperti wajah tak berdosa. Tapi yang ada dalam benaknya adalah rencana jahat untuk melenyapkan nyawa seseorang.
Saat Wahyu dan Salma berada di dekat alun-alun kota tiba-tiba Salma teringat jika ibunya berpesan ingin Salma membelikannya kue pukis yang sangat disukai oleh bu Rahma. Salma pun meminta Wahyu untuk berhenti sejenak agar ia bisa membeli kue pesanan ibunya. Mobil Wahyu pun berhenti di pinggir alun-alun. Lalu Salma pun keluar dari dalam mobil untuk membeli kue pukis pada pedagang kaki lima yang ada disana. Wahyu tidak langsung ikut turun karena harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Saat Salma berjalan ke arah penjual kue pukis tiba-tiba saja dari arah belakang tampak sebuah truk yang terlihat oleng melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menuju kearah Salma. Tanpa peringatan truk itu langsung meluncur dan menabrak apa pun yang ada di depannya termasuk Salma yang tengah berada di depan gerobak penjual pukis.
Wahyu yang baru saja keluar dari dalam mobil tersentak kaget saat melihat dengan mata kepalanya sendiri saat tubuh Salma terlempar ke tengah jalan saat truk itu menabrak gerobak penjual pukis. Sedetik Wahyu hanya terdiam mematung menyaksikan kejadian yang memilukan itu. Namun kemudian ia langsung tersadar dan segera berlari ke arah dimana tubuh Salma sudah tergeletak bersimbah darah.
Truk yang tadi menabrak pun akhirnya berhenti saat menabrak pohon beringin yang berada di pinggir alun-alun. Warga pun langsung berhamburan berusaha menyelamatkan para korban dan juga mengamankan sang sopir. Wahyu memeluk tubuh Salma yang sudah tak bergerak dan penuh dengan darah.
"Salma... bangun sayang!" teriaknya dengan air mata yang bercucuran.
__ADS_1
"Pak ayo cepat kita bawa ke rumah sakit!" ucap seorang warga yang menyadarkan Wahyu.
Dengan dibantu beberapa warga Wahyu membawa tubuh Salma dengan menggunakan mobilnya. Salah seorang warga bersedia menjadi sopir agar Wahyu dapat mendampingi Salma di kursi belakang.