Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Berusaha Berubah


__ADS_3

Nadia sangat terkejut dengan ucapan mama Aya yang mengatakan jika Salma telah berkorban untuknya.... Apakah Salma sudah mengingat lagi semuanya? Jadi karena itu Amran dan Salma bisa bercerai? Salma menceraikan suaminya agar Amran kembali padanya? Seketika hati Nadia mendidih. Semenyedihkan itukah anggapan Salma terhadap nasib rumah tangganya? Hingga gadis itu menceraikan Amran dan menyuruh suaminya itu untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Nadia?


Tidak! Nadia tidak terima jika Salma seperti menyedekahkan Amran untuk tetap jadi suaminya. Ego Nadia kembali mendominasi hatinya. Ia jadi sakit hati dan menganggap apa yang dilakukan Salma sama saja sedang menghina dirinya. Dengan hati yang emosi Nadia segera meninggalkan rumah mama Aya sebelum suami dan mama mertuanya itu mengetahui kedatangannya.


Nadia berjalan di pinggir jalan dengan fikiran kalut. Ia merasa sangat tersinggung dengan apa yang telah Salma lakukan. Pantas saja suaminya bersikap dingin padanya. Mungkin saja Amran beranggapan jika apa yang dilakukan Salma itu benar bak seorang pahlawan.


"Cih dasar pahlawan kesiangan!" desis Nadia dengan emosi yang sudah ke ubun-ubun.


Tak lama lewat sebuah taksi di depan Nadia dan ia pun langsung memanggilnya dan naik kedalam taksi itu. Segera disuruhnya sopir taksi untuk mengantarnya kembali ke rumah. Ia harus merebahkan dirinya agar dapat berfikir dengan tenang.


Sementara Amran setelah mengobrol dan makan malam di rumah mamanya pun langsung pulang ke rumah. Walau ia sebenarnya enggan. Saat sampai di rumah dilihatnya Nadia sedang menikmati makan malamnya sendirian. Ada sedikit rasa bersalah pada dirinya karena telah kasar pada Nadia tadi. Dengan perlahan ia pun mendekat kearah Nadia.


Nadia terkejut saat menyadari Amran sudah pulang dan duduk di depannya. Nadia berusaha tersenyum pada suaminya itu.


"Maafkan aku Nad..." ucap Amran tiba-tiba yang membuat Nadia terkejut.


"Mulai sekarang aku akan memperbaiki semuanya...." sambungnya lalu ia pun beranjak masuk ke dalam kamar.


Nadia tambah terkejut saat melihat Amran masuk ke dalam kamar mereka bukan kamar bekas Salma. Nadia tercenung dengan sikap suaminya. Apa Amran berubah karena ucapan mama mertuanya? sebaik itukah mama mertuanya yang dulu sempat difitnahnya agar memiliki alasan untuk memaksa Salma untuk menikahi suaminya?


Nadia tak jadi menghabiskan makanannya. Ia justru segera menyusul Amran ke kamar. Terlihat suaminya itu telah berganti pakaian hendak tidur.


"Mas..." panggilnya.


Amran pun menoleh kearah Nadia.


"Ada apa?"


"Maafkan aku mas..." ucap Nadia langsung menghambur ke arah Amran.


Amran terdiam. Namun perlahan pria itu mulai melingkarkan tangannya pada tubuh Nadia yang tengah bergetar karena menangis.


"Aku juga minta maaf Nad.... mungkin selama ini aku belum bisa menjadi imam yang baik untukmu hingga kau bisa melakukan kesalahan sebesar itu" sahut Amran yang kini mulai mengelus kepala Nadia pelan.


Nadia semakin menangis sesengukan. Dalam hati ia malu karena telah menganggap Salma menghinanya saat memutuskan mengembalikan Amran padanya. Nyatanya ia kini justru merasa berterima kasih karena suaminya yang dulu mulai kembali. Seandainya saja ia mempunyai kesempatan ia ingin mengucapkan maaf pada sepupunya itu.

__ADS_1


"Sudahlah... lebih baik kita sekarang tidur..." ucap Amran lalu membimbing Nadia ke tempat tidur.


Malam itu keduanya kembali tidur berdampingan setelah lama terpisah. Nadia tampak tidur dengan nyenyak malam itu karena berada disamping suaminya. Sementara Amran tengah berusaha melawan rasa rindunya pada Salma. Ia sadar kini statusnya tak mengijinkannya walau hanya untuk memikirkan mantan istrinya itu. Namun hati dan fikirannya sulit untuk diajak kompromi. Pria itu pun tertidur dengan hati resah.


......


Pagi hari setelah mengantar Nadia ke kantornya Amran segera menghubungi Bayu.


"Halo Bay... gua bisa minta tolong lu gantiin gua hari ini?"


".........."


"Gua ada urusan yang harus gua selesaikan hari ini"


".........."


"Ok makasih bro..." Amran pun mematikan ponselnya.


Kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju ke arah kota T. Ya ... hari ini Amran memutuskan untuk mencari Salma di kota T. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya ia sampai di kota T. Sebenarnya tindakannya ini termasuk bodoh karena walau kota T termasuk kota kecil namun wilayahnya juga cukuo luas. Amran seperti hendak mencari jarum diatas tumpukan jerami.


Namun tekadnya sudah bulat hari ini ia harus bisa menemukan Salma. Walau mungkin ia tak akan menemui gadis itu secara langsung namun setidaknya ia masih bisa memandangnya dari jauh. Dan itu sudah cukup bagi Amran.


Tanpa pikir panjang Amran langsung masuk ke dalam mobil dan segera menyusul gadis bersepeda itu. Semakin ia amati gadis yang kini berada di depannya itu semakin ia yakin jika itu adalah Salma. Amran pun mengikuti gadis itu hingga ia sampai di sebuah rumah. Tampak dengan jelas oleh Amran saat Salma memarkirkan sepedanya dan membawa kotak besar yang tadi berada dibelakang sepedanya masuk ke dalam rumah.


Amran ingin sekali masuk ke rumah tersebut dan menemui Salma. Namun ia ragu karena teringat dengan janjinya pada Salma untuk tidak lagi menemuinya dan melupakannya. Lama ia diam di dalam mobilnya. Berperang dengan perasaannya sendiri hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa menemui Salma.


.......


Malam telah tiba saat Amran sampai di rumah. Tampak Nadia tengah menunggunya di depan rumah. Ada rasa bersalah yang menyusup di hati Amran saat melihatnya. Semalam ia sendiri yang berjanji untuk memperbaiki hubungan mereka tapi hari ini Amran malah membohongi istrinya itu dengan mencari Salma diam-diam.


Amran menghentikan mobilnya di depan rumah. Tampak Nadia langsung berjalan menyambut suaminya.


"Maaf Nad... aku pulang terlambat dan tidak menjemputmu pulang...."


"Ga pa-pa mas... tadi saat aku telfon Bayu katanya kamu lagi ngecek proyek yang daerahnya susah untuk mendapatkan sinyal..." kata Nadia.

__ADS_1


Amran langsung mengecek ponselnya dan benar ada beberapa panggilan dari istrinya itu. Mungkin saja karena tadi ia terlalu fokus mencari Salma hingga dering ponselnya pun tak ia dengar.


"Maaf..." ulang Amran yang tak tahu harus beralasan apa.


"Kita masuk dulu saja mas... kamu pasti capek" sahut Nadia sambil menggandeng tangan suaminya lalu masuk ke dalam rumah.


Amran pun mengikuti langkah istrinya dan masuk ke dalam rumah. Sejak malam itu keduanya berusaha untuk berubah dan memperbaiki rumah tangga mereka. Setelah melihat Salma yang baik-baik saja membuat Amran merasa harus memenuhi janjinya pada gadis itu untuk melupakan kisah mereka dan kembali pada Nadia.


Sementara di kota T Salma yang baru saja merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur tiba-tiba merasakan sakit didadanya. Entah mengapa tapi sepertinya ia merasakan akan kehilangan. Dan wajah Amran seketika hadir dalam ingatannya. Ia merindukan mantan suaminya itu. Walau terlihat baik-baik saja sesungguhnya Salma tengah melawan rasa rindu pada Amran yang kini telah menjadi mantan suaminya. Hatinya sakit jika teringat dengan momen mereka yang sekejap.


Salma akui selama ini hanya Amran yang berhasil memasuki hatinya. Walau Salma pernah menjalin hubungan dengan pria lain sebelumnya, namun itu hanya untuk menyenangkan ibunya yang ingin agar ia segera menikah. Tapi sayang cinta pertamanya harus kandas karena ia tak ingin merebut kebahagiaan Nadia sepupunya walau karena wanita itu pula ia akhirnya bisa jatuh cinta pada Amran.


Salma menghapus air matanya yang sempat meleleh. Ia harus melupakan Amran. Pria itu kini sudah bukan lagi miliknya. Salma harus menguatkan hatinya dan melupakan semua kenangannya bersama Amran. Anggap saja itu mimpi yang sudah berakhir dan kini Salma harus menatap masa depannya tanpa Amran dan juga Nadia.


Hampir tengah malam ketika akhirnya Salma bisa memejamkan matanya. Walau dengan mata sembab karena habis menangis tapi akhirnya ia dapat tidur dengan tenang.


Pagi hari Salma kembali dengan aktifitasnya menyiapkan dagangannya dibantu oleh ibunya. Untung saja matanya tak lagi sembab saat ia terbangun tadi sehingga ibunya tak merasa curiga dengannya. Setelah sarapan Salma pun berpamitan pada ibunya dan segera pergi ke tempatnya berjualan.


Saat Salma baru selesai membereskan dagangannya dan bersiap untuk pulang tiba-tiba Wahyu datang menghampirinya.


"Kau sudah mau pulang Ma?" tanyanya.


"Iya..." sahut Salma sambil tersenyum.


"Boleh aku pesan gorenganmu nanti siang?"


"Boleh saja... aku malah senang ..." sahut Salma.


Kemudian Wahyu pun memesan beberapa jenis gorengan pada Salma dengan jumlah lumayan banyak membuat Salma penasaran.


"Emang kamu bisa menghabiskan semuanya sendiri mas?" tanya Salma.


"Gak... itu bukan buat aku sendiri... tapi mau aku berikan pada ibuku di rumah..."


"Memang karyawan sini bisa pulang ke rumah saat jam makan siang ya?" tanya Salma bingung.

__ADS_1


"Eh itu.... kan karyawan bisa makan diluar... jadi buat ngirit aku makan di rumah saja lagi pula rumahku tidak jauh dari kantor..." ucap Wahyu sedikit berbohong.


Salma hanya menganggukkan kepalanya dan mengatakan menyanggupi pesanan Wahyu dan akan mengantarkannya saat jam makan siang. Setelah itu ia pun berpamitan pada Wahyu dan segera pulang karena harus segera membuatkan pesanan para pelanggannya untuk nanti siang.


__ADS_2