Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Ayah Kandung Wahyu


__ADS_3

Bu Desi merasakan pusing dikepalanya saat ia baru membuka matanya. Ia pun mencoba untuk duduk bersandar pada sesuatu dibelakangnya. Namun saat pandangan matanya mulai fokus bertapa terkejutnya ia saat menyadari jika saat ini dirinya bukan berada di kamar hotelnya melainkan berada disamping bak sampah. Saat ia mengedarkan pandangannya ia baru menyadari jika ia berada di lorong sempit yang kumuh. Segera ia mencari tasnya yang berisi dompet dan juga barang berharga lainnya.


Untung saja ia segera menemukannya. Ternyata tasnya tergeletak tak jauh dari tempatnya terbangun tadi. Ia pun segera memeriksa isi tasnya dan ia pun langsung lemas saat menyadari jika tak ada satu lembar pun uang cash berada di dalam sana. Sedang kartu kredit dan juga ATm nya sudah tidak bisa ia gunakan lagi. Sebab semalam sebelum ia terlalu mabuk ia sudah mencoba menggunakannya tapi ternyata semua kartu itu telah diblokir. Karena itu ia pun menggunakan semua uang cash yang dibawanya untuk melanjutkan acara minumnya.


"B***g**k... siapa yang sudah membiarkan aku berada di tempat kotor seperti ini? apa para pegawai bar s**l*n itu? berani sekali mereka!" sungut bu Desi sambil berusaha untuk berdiri.


Meski masih sedikit sempoyongan bu Desi berhasil berdiri dan berusaha melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Setelah berjalan agak jauh akhirnya ia pun menemukan jalan besar. Dengan penampilan yang masih acak-acakan bu Desi pun mencoba memanggil sebuah taksi yang lewat. Melihat keadaan bu Desi yang acak-acakan seperti itu sopir taksi tersebut tak mau berhenti dan malah melewati bu Desi. Hal ini sungguh membuat bu Desi kesal. Hari semakin siang yang membuat kepala bu Desi semakin pusing karena kepanasan.


Tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan bu Desi dan membuatnya tertegun. Tak lama kaca jendela didekat kursi pengemudi pun dibuka dari dalam. Dan alangkah terkejutnya bu Desi saat ia tahu siapa orang yang berada dibalik kemudi dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam mobil.


"Kau!" tunjuk bu Desi dengan geram.


"Masuklah... kita bicara di dalam..." ajak orang itu tanpa basa basi.


Bukannya menurut dan masuk ke dalam mobil, bu Desi malah memilih untuk pergi dari sana dengan berjalan kaki. Sungguh bu Desi merasa jika saat ini ia sungguh sangat sial. Bagaimana tidak... setelah tadi ia tersadar dan sudah berada di tempat kumuh dengan keadaan yang kacau kini ia malah bertemu dengan orang yang sama sekali tidak ingin ditemuinya lagi seumur hidupnya. Dengan nafas terengah karena lelah dan juga tengah menahan amarah bu Desi terus berjalan tak tentu arah. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat pengemudi mobil tadi tiba-tiba sudah berdiri di depannya dan menghadang langkahnya.


"Minggir!" teriak bu Desi pada orang itu.


"Aku mohon Des... ikutlah denganku... kita harus bicara..." kata orang itu tak mau menyerah.


Bu Desi yang merasa sudah dalam keadaan terjepit karena menyadari jika ia kini tak memiliki uang sepeser pun di dalam tasnya dan tidak mungkin bisa kembali ke hotel akhirnya mengangguk pasrah. Ia pun kemudian mengikuti pria itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan sopan pria itu membukakan pintu mobil untuk bu Desi dan setelah wanita itu masuk ke dalamnya ia pun segera menutupnya lalu berlari kecil mengitari depan mobil lalu masuk ke tempat kemudi lalu menjalankan mobilnya.


"Kita akan kemana dulu?" tanya pria itu berusaha mencairkan suasana karena sejak mereka masuk ke dalam mobil keduanya tak saling bicara.

__ADS_1


"Ke hotel Season..." sahut bu Desi singkat.


Tanpa banyak tanya pria itu pun langsung mengarahkan mobilnya ke hotel yang tadi disebutkan oleh bu Desi. Saat mereka sampai di tempat yang mereka tuju keduanya pun langsung masuk ke dalam. Namun di lobi bu Desi langsung menyuruh pria itu agar tidak mengikutinya ke kamarnya dan hanya boleh menunggunya disana. Lagi-lagi pria itu pun hanya menurut dan mau menunggunya di lobi hotel. Lalu bu Desi pun langsung menuju lift untuk pergi ke kamarnya.


Selang tiga puluh menit kemudian bu Desi pun kembali turun ke lobi untuk menemui pria tadi setelah ia selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa ia juga membawa bekal uang cash miliknya yang sebelumnya ia simpan di brankas kamar hotelnya di dalam tasnya.


"Apa maumu menemuiku?" tanya bu Desi tanpa basa basi.


"Kita bicara di tempat lain saja..." ajak pria itu.


Bu Desi yang tak ingin berlama-lama berurusan dengan pria itu pun langsung setuju dan mereka pun pergi ke sebuah restoran dengan menggunakan mobil pria itu. Sesampainya di restoran keduanya pun langsung memilih tempat yang privat agar apa yang mereka bicarakan tidak di ketahui orang lain.


"Sekarang cepat katakan apa maumu!" kata bu Desi setelah keduanya duduk di tempat yang mereka pilih dan memesan menu.


"Apa gunanya? dan kenapa harus menunggu sampai puluhan tahun hah?" ujar bu Desi yang kembali emosi karena diingatkan lagi pada kejadian masa lalunya.


"Aku akui aku salah Des... tapi saat itu aku harus kembali ke negaraku karena ayahku meninggal dunia... dan saat aku kembali kemari dan ingin menemuimu aku malah melihatmu sedang bersama suamimu dengan perutmu yang sudah membesar" terang pria itu.


"Aku fikir saat itu kamu sudah kembali pada suamimu seutuhnya hingga kau mau mengandung anaknya... tapi ternyata..." sambung pria itu.


"Apa maksudmu? tentu saja anak yang kukandung itu anak dari suamiku!" sergah bu Desi yang tak ingin orang itu tahu jika ialah ayah dari anak yang dikandungnya saat itu yaitu Wahyu.


"Kau jangan berbohong padaku Desi! aku sudah menyelidikinya dan melakukan tes DNA dan hasilnya bahwa Wahyu itu putraku... Alexander Wijaya..." kata pria itu yang tersulut emosi karena bu Desi tak mau mengakui jika ialah ayah dari Wahyu.

__ADS_1


"Lalu apa maumu sekarang Alex? mau mengakui didepan Wahyu bahwa kau adalah ayah kandungnya? ha... ha... ha... lucu sekali kau! kau fikir dia akan percaya dengan semua bualanmu itu hah? bagi Wahyu, Adi adalah ayahnya yang merawat dan membesarkannya bukan kau... ingat itu!" kata bu Desi yang entah kenapa tak rela jika pria yang dulu pernah ia cintai itu mengakui sebagai ayah kandung Wahyu.


"Dia akan percaya Desi... sebab dia juga sudah tahu jika Adi bukanlah ayah kandungnya... apa lagi aku juga memiliki surat hasil dari tes DNA nya denganku... jangan lupa itu!" kata pak Alex yang tak mau kalah.


Bu Desi terlihat syok saat pak Alex mengatakan jika Wahyu sudah tahu jika pak Adi bukanlah ayah kandungnya.


"Apa kau yang memberitahunya?" tanya bu Desi geram.


"Bukan... tapi mulutmu sendirilah yang akan mengatakannya..." kata pak Alex sambil tersenyum miring.


"Apa maksudmu?" tanya bu Desi terkejut.


"Apa kau akan memaksaku untuk mengatakannya pada Wahyu? mimpi kau!" seru bu Desi lagi.


"Aku tidak perlu memaksamu karena dia yang akan melakukannya sendiri... kau lihat saja nanti..." ujar pak Alex sambil menyeringai.


Dibakar emosi bu Desi pun langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan pak Alex tanpa menunggu pesanannya. Melihat bu Desi yang emosi dan meninggalkannya sendiri di restoran itu membuat pak Alex langsung menelfon anak buahnya untuk menjalankan rencananya.


Sementara bu Desi yang sudah berada didalam taksi menuju ke hotel tempatnya menginap tampak sangat kesal. Ia tak menyangka jika pria masa lalunya akan datang disaat yang paling tidak tepat. Dulu ia sengaja masih menyimpan fotonya dengan pak Alex hanya untuk pemgingatnya bahwa laki-laki itu b***g**k dan jika mereka bertemu ia akan membalas dendam padanya. Tapi saat ini jangankan untuk membalas dendam, untuk menyelamatkan pernikahannya saja ia tidak bisa... dan kenyataan jika semua orang sudah tahu rahasia masa lalunya termasuk Wahyu membuatnya semakin terpuruk.


Setelah masuk ke dalam kamar hotelnya bu Desi langsung memesan makanan melalui layanan kamar. Dan bukan hanya makanan ia juga memesan beberapa botol minuman untuk menghilangkan fikirannya yang kusut. Saat ini bu Desi benar-benar terpojok dan tak ada satu pun orang yang bisa ia mintai tolong. Dia benar-benar sudah merasa jika ia kini hidup sendirian. Saat melihat tumpukan uang yang tersimpan di brankas kamarnya bukannya merasa senang ia malah merasa miris. Kini ia baru merasa jika harta tidak serta merta membuatnya hidup bahagia seperti yang selama ini ia bayangkan.


Ingin rasanya ia kembali ke rumah kedua orangtuanya namun ia ragu dan merasa gengsi sebab harus mengakui kesalahannya. Bu Desi memang orang yang keras kepala dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya atau pun meminta maaf. Dalam kamus hidupnya ia merasa jika dialah yang paling benar dan orang lain harus mengikuti kemauannya. Tapi kini kenyataan malah menamparnya. Bukannya menjadi sorotan yang baik ia justru terjerumus dalam masalah yang seperti tidak ada hentinya. Dan semuanya berasal dari ulahnya sendiri di masa lalu.

__ADS_1


Saat bu Desi menenggak minuman terakhirnya ia baru menyadari satu hal... bahwa selama ini ia hanya hidup dalam dunianya sendiri yang semu. Tak ada bahagia... atau pun cinta... semuanya hanya rekayasa yang ia rancang sendiri meski itu menyakiti orang-orang yang menyayanginya.


__ADS_2