
Salma melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari ibunya. Benar saja tampak oleh ya ibunya sedang sibuk melakukan sesuatu di sana.
"Bu..." panggil Salma.
Bu Rahma pun langsung berbalik menghadap Salma.
"Kau sudah pulang nak?" tanyanya lembut.
"Iya bu... baru saja" sahut Salma.
"Bu... ibu kenapa? apa ibu habis menangis?" tanya Salma saat melihat wajah ibunya sembab.
"Ga kok Ma... itu... tadi ibu pengen bikin bawang goreng..." terang bu Rahma.
"O..." sahut Salma.
Tiba-tiba Wahyu menyusul ke dapur untuk berpamitan karena ia dan ayahnya harus segera pulang. Bu Rahma dan Salma pun mengantar keduanya sampai ke teras depan. Setelah kepergian Wahyu dan ayahnya keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana? apa yang Wahyu bicarakan denganmu nak?" tanya bu Rahma saat keduanya tengah bersantai di depan televisi.
"Hemm... aku sudah menceritakan masa laluku bu pada mas Wahyu bu..." terang Salma.
"Lalu bagaimana tanggapannya?" tanya bu Rahma penasaran.
"Mas Wahyu bilang dia tidak mempermasalahkan masa lalu ku bu..."
"Syukurlah kalau begitu..." sahut bu Rahma lega.
"Tapi bu... ibu mas Wahyu tidak menyukaiku... bahkan ia pernah datang ke kios hanya untuk mengatakan jika dia tidak akan pernah merestui hubunganku dengan anaknya..."
Bu Rahma menghela nafasnya pelan lalu ia pun mengelus rambut putrinya itu. Ia tahu hal ini pasti terjadi saat ia tahu jika pak Adi adalah ayah Wahyu. Masa lalunya dengan pak Adi sudah menjadikan pelajaran baginya jika keluarga itu selalu menilai seseorang hanya dengan hartanya saja. Mereka pasti penganggap putrinya itu tak sepadan dengan mereka.
"Lalu apa yang akan kau lakukan nak? apa kau juga mencintai nak Wahyu?" tanya bu Rahma.
"Aku sendiri belum tahu tentang perasaanku padanya bu... tapi dengan sikap ibunya itu aku merasa akan sulit jika kami ingin bersama" sahut Salma.
Bu Rahma mendesah pelan dan dipeluknya putri sulungnya itu. Entah mengapa putrinya yang satu itu selalu saja tak mendapat keberuntungan dalam percintaannya. Dulu saat dengan Amran putrinya itu rela mengorbankan perasaan cinta yang mulai tumbuh padanya hanya demi Nadia sepupu sekaligus juga madunya. Dan kini saat ia sudah mulai bisa membuka hatinya untuk pria lain giliran keluarga dari pria itu sendiri yang malah menjadi penghalangnya.
"Lebih baik kau perbanyak berdo'a nak... karena hanya Allah lah yang bisa membolak balikkan hati setiap manusia..." nasehat bu Rahma.
"Iya bu..." sahut Salma sambil berusaha tersenyum agar ibunya tidak khawatir.
Di dalam mobil...
__ADS_1
Wahyu dan pak Adi tengah terlibat percakapan serius. Pak Adi menanyakan tentang kepastian perasaan Salma terhadap Wahyu. Dengan wajah yang gembira Wahyu memberitahukan pada ayahnya jika kini Salma mulai bisa membuka hati untuknya. Pak Adi pun tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu. Namun dalam hatinya ia sedikit terluka karena mengetahui jika mantan terindahnya akan menjadi calon besannya.
"Arrgh... apa yang sudah kau fikirkan Adi? orangtua macam apa kau ini yang tak mau berkorban demi kebahagiaan putranya sendiri" runtuknya dalam hati.
Tak bisa dipungkiri memang selama ini ia menjalani pernikahannya hanya dengan setengah hati karena sebenarnya masih ada nama wanita lain yang ada di dalam hatinya. Walau sudah berpuluh tahun berlalu namun nyatanya perasaan itu masih tetap ada didalam hatinya untuk Rahma...
"Pa? papa kenapa kok kelihatannya suntuk?" ucap Wahyu saat melihat papanya melamun.
"Ah tidak nak... papa hanya memikirkan tentang mama kamu yang belum menyetujui hubunganmu dengan Salma..." sahut pak Adi memberi alasan.
"Iya pa... aku juga masih memikirkannya... aku tahu akan sulit untuk membujuk mama agar mau menerima Salma..." kata Wahyu masih sambil mengemudikan mobilnya.
"Tapi kau jangan khawatir Wahyu... papa pasti akan selalu mendukungmu... apalagi papa lihat jika Salma adalah wanita yang baik..." kata pak Adi memberi semangat pada putranya itu.
"Terima kasih pa... sudah mau merestui hubungan Wahyu dengan Salma..." ujar Wahyu sambil tersenyum.
"Sama-sama nak..." sahut pak Adi.
Keduanya pun melanjutkan berbincang sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah. Sementara itu bu Desi dan Gita tampak sedang asyik berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu mereka tak sengaja bertemu dengan bu Lusi beserta putrinya Kiara. Tampak ibu dan anak itu berusaha menyapa bu Desi dan juga Gita.
"Selamat siang jeng... wah kebetulan sekali kita ketemu disini..." kata bu Lusi dengan senyum mengembang.
Begitu juga dengan putrinya Kiara yang tampak sangat senang bertemu dengan calon ibu mertua dan adik iparnya itu. Namun tak mereka duga jika reaksi yang ditunjukkan oleh bu Desi dan juga Gita sangat diluar perkiraan keduanya.
"Ga usah sok akrab deh jeng Lusi... kalian itu ga selevel dengan keluarga kami! jangan kalian fikir jika kebohongan kalian berdua tidak bisa saya ketahui!" kata bu Desi langsung.
"Ck ... ga usah pura-pura deh tante... anak tante ini bukan lulusan universitas luar negri kan?" sergah Gita.
"Kalian tahu dari mana? itu hoaks ... mana mungkin saya berbohong..." ucap bu Lusi berusaha tersenyum menutupi kegugupannya.
"Bagaimana mereka bisa tahu?" batin bu Lusi.
"Alah... ga usah ngeles deh jeng... aku sudah tahu semuanya... kalian berdua hanya ingin memanfaatkan keluarga kami kan?" kata bu Desi.
"Lagi pula sekarang saya juga ga yakin tuh kalau kalian sekaya yang kalian bilang pada kami" sambung bu Desi.
"Maaf ya... kami ini ga mau berurusan dengan orang-orang yang ga selevel dengan kami!" kata bu Desi lagi sambil berlalu dari hadapan bu Lusi dan juga Kiara.
Gita pun mengikuti langkah ibunya sambil mencibir dua orang yang kini tengah mematung karena syok akibat semua rencana mereka sudah terbongkar bahkan sebelum rencana mereka berhasil.
Di rumah pak Adi tampak baru saja membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian sepulang dari rumah Salma. Sedang Wahyu langsung kembali ke rumahnya sendiri setelah mengantarkan ayahnya itu. Saat ia tengah menikmati kopi sambil bersantai dan membaca buku di teras belakang terdengar suara istri dan putrinya yang memasuki rumah. Pak Adi mendengus kesal saat mendengar keduanya yang membahas hal-hal yang tak jauh dari belanja dan menghabiskan uang.
Pak Adi berdehem saat keduanya melewati tempatnya duduk. Kedua ibu dan anak itu pun terdiam karena tak menyangka jika pak Adi sudah ada di rumah.
__ADS_1
"Eh papa ... tumben sudah pulang..." ujar bu Desi sambil mendekat ke arah suaminya.
"Sudah puas menghabiskan uangnya? atau masih kurang?" tanya pak Adi yang langsung membuat bu Desi dan Gita tertegun.
Baru kali ini pak Adi terlihat marah saat tahu jika keduanya habis berbelanja dan jalan-jalan.
"Papa kenapa sih kok tiba-tiba kayak ga rela kalau kami menggunakan uang papa untuk berberlanja?" tanya bu Desi.
"Bukan tiba-tiba ma... tapi melihat kelakuan mama yang semakin hari semakin keterlaluan sampai-sampai ga ingat tugas dan kewajiban mama di rumah membuat papa jadi muak! apalagi sekarang Gita juga sudah ikut-ikutan..." kata pak Adi.
"Lho salahnya apa pa? Gita kan pergi sama mamanya sendiri bukankah itu lebih bagus?" sahut bu Desi.
"Bagus kalau mama mengajaknya ke kegiatan positif... tapi ini... mama malah bikin dia seperti mama yang cuma bisa jalan-jalan, bergosip dan berbelanja. Lihat putrimu itu! dia sudah seperti wanita paruh baya... bukan gadis yang sedang senang-senangnya mencari pengalaman hidup" ucap pak Adi panjang lebar.
"Papa!" seru bu Desi dan Gita bersamaan.
Keduanya tak rela jika Gita disamakan dengan wanita paruh baya.
"Memang betulkan? lihat dandananmu! mana ada anak gadis seusiamu yang berdandan seperti tante-tante!" kata pak Adi lagi.
Gita langsung berlalu ke kamarnya sambil menghentakkan kakinya karena marah.
"Lihat pa! anakmu jadi marah" kata bu Desi.
"Biar saja .... biar dia tahu jika kelakuannya ga sesuai dengan usianya" sahut pak Adi sambil berlalu.
Dikamarnya ... Gita menatap dirinya di depan cermin. Tampak bayangan dirinya yang mengenakan pakaian seksi dengan make up wajah yang tebal. Usianya memang baru 20 tahun. Sebab ia lahir dengan jarak cukup jauh dari kakaknya Wahyu. Wahyu sudah duduk di kelas dua SMP saat ia lahir. Gita mendesah pelan. Selama ini ia menganggap penampilannya sudah sangat sempurna sehingga ia sering kali mendapat perhatian lebih dari lawan jenisnya. Namun memang kebanyakan dari mereka adalah pria dewasa dan bukan sepantarnya.
"Apa karena penampilanku ini sehingga aku tampak lebih tua dari umurku sebenarnya?" batinnya.
"Arrgh... pantas saja selama ini kebanyakan om-om yang mau mendekati aku... sedangkan Angga yang selama ini aku incar malah tak pernah melirikku" gerutunya dalam hati.
Dengan cepat disambarnya pembersih make up yang ada di meja riasnya dan segera membersihkan seluruh make up yang ada diwajahnya. Setelah selesai ditatapnya lagi wajah polosnya yang tanpa make up itu.
"Terlihat lebih muda..." batinnya sambil memegang wajahnya sendiri.
Ya... selama ini ia memang tak pernah lepas dari tatanan make up tebalnya. Malam hari saat ia selesai membersihkan wajahnya pun ia tak pernah memperhatikan lagi wajahnya sendiri dan langsung mengoleskan krim perawatannya lalu tidur.
"Ternyata papa benar... aku malah terlihat lebih tua dengan make upku selama ini..." gumamnya.
Setelah membersihkan diri ia pun keluar dari dalam kamarnya dengan wajah polos tanpa make up. Tampak beberapa pelayan rumahnya yang berpapasannya dengan terlihat tertegun dengan perubahan anak majikannya itu.
"Kenapa?" tanya Gita saat tahu jika ia sedang ditatap oleh para pelayannya.
__ADS_1
"Nona terlihat lebih cantik dari biasanya..." ucap salah satu pelayan tanpa sadar.
Gadis itu langsung terlihat pucat saat menyadari ucapannya barusan. Ia takut jika nonanya marah dan bisa dipastikan jika itu terjadi maka ia harus bersiap untuk dipecat.