
Mendengar perkataan pelayannya Gita malah tersenyum senang membuat para pelayan yang lain tampak kebingungan. Tak biasanya nona mereka bersikap seperti itu sebab biasanya ia akan langsung marah dan membuat pelayannya itu langsung dipecat.
"Ada apa dengan nona Gita hari ini?" bisik salah satu pelayan pada rekannya.
Sedang rekannya itu hanya mengedikkan bahunya tanda ia pun tak tahu alasannya. Sedangkan Gita sudah melangkah ke arah meja makan untuk makan malam bersama kedua orangtuanya. Bu Desi tampak terkejut saat melihat penampilan putrinya yang polos tanpa make up sedikitpun.
"Kamu kenapa Git? apa kamu sakit?" tanya bu Desi.
"Ga kok ma..." sahut Gita sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Adi yang juga memperhatikan putrinya itu malah tersenyum.
"Kamu terlihat lebih segar nak tanpa polesan make up tebal itu" ucap pak Adi.
Gita yang tak menyangka mendapatkan pujian dari ayahnya langsung tersenyum senang.
"Terima kasih pa.." kata Gita.
"Ck... segar apanya ... kalau pucat mah iya ..." sergah bu Desi.
"Jangan dengarkan kata mama kamu... kamu malah terlihat lebih cantik jika begini" sambung pak Adi yang melihat perubahan putrinya itu.
"Iya pa..." sahut Gita.
Bu Desi pun enggan meneruskan perdebatan mereka walau hatinya masih dongkol karena putrinya bisa secepat itu menuruti perkataan pak Adi.
Sementara Wahyu tampak tengah mengendarai sepeda motornya menuju rumah Salma. Malam ini ia berniat mengajak Salma untuk makan malam bersama. Walau ia tak membuat janji sebelumnya ia berharap gadis itu mau menerima ajakannya. Sesampainya di rumah Salma ia pun langsung memgetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Assalamulaikum..."
"Waalaikum salam..."
Tak lama pintu rumah pun terbuka dan tampak wajah dari gadis yang ingin ia ajak keluar itu.
"Mas Wahyu? ada apa mas?" tanya Salma dengan wajah bingung.
"Aku ingin mengajakmu makan diluar... maukan?" tanya Wahyu langsung.
Salma tampak terkejut dengan kedatangan serta ajakan Wahyu yang tiba-tiba. Tak lama tampak bu Rahma keluar dari dalam rumah.
"Eh ada nak Wahyu... kenapa ga diajak masuk dulu Ma? ayo masuk dulu nak..." ucapnya ramah.
"I...iya bu..." sahut Salma terbata mendengar ucapan ibunya.
Sedang Wahyu hanya tersenyum melihat wajah Salma yang terlihat imut dimatanya saat terlihat gugup.
"Emm... saya ingin minta ijin untuk mengajak Salma keluar sebentar boleh bu?" tanya Wahyu setelah dirinya masuk dan duduk di ruang tamu.
"Boleh saja nak..." sahut bu Rahma.
"Sudah Ma... cepat kamu siap-siap agar nak Wahyu tidak menunggumu lama..." kata bu Rahma pada putrinya.
Mendengar ucapan ibunya, Salma pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk segera berganti pakaian. Sementara Wahyu menunggunya di ruqng tamu ditemani oleh bu Rahma. Selesai berganti pakaian dan memoles wajahnya tipis, Salma pun meraih tas selempang kecilnya lalu keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Saat melihat Salma yang baru keluar dari dalam kamar Wahyu sangat terpesona dengan penampilan gadis pujaannya itu. Sebab walau pun Salma hanya mengenakan setelan celana panjang dengan atasan kaos sederhana gadis itu tampak sangat cantik apalagi dengan polesan make up tipisnya membuat penampilannya mirip dengan gadis remaja.
Setelah berpamitan dengan bu Rahma keduanya pun pergi dengan berboncengan menaiki sepeda motor Wahyu setelah sebelumnya Wahyu mengenakan helm dan memakaikan juga untuk Salma dengan helm yang sudah ia siapkan. Wahyu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang agar ia dapat menikmati momen berduanya dengan Salma. Ia pun kemudian mengarahkan motornya ke sebuah kafe sederhana yang ada di dekat alun-alun kota. Sengaja ia membawa Salma ke tempat itu agar Salma merasa lebih nyaman.
Setelah memesan menu yang mereka inginkan mereka pun berbincang sambil menunggu pesanan mereka datang. Saat kedua tengah berbincang tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Wahyu.
"Mas Wahyu?" ucap seorang wanita cantik dengan penampilan elegan sambil mendekat kearah Wahyu.
"Maaf siapa ya?" tanya Wahyu saat menoleh kearah perempuan tersebut.
"Ish... masak mas Wahyu lupa? kita kan baru bertemu minggu lalu saat meeting di kantor kamu" ucap wanita itu langsung duduk di sebelah Wahyu tanpa permisi dan menganggap seolah Salma tak ada disana.
"Bu Dinda?"
"Iih... mas Wahyu gimana sih? masak aku dipanggil ibu... kita kan sepantaran" ujar perempuan itu dengan manja.
"Maaf..." sahut Wahyu sambil menatap Salma takut jika gadis itu salah faham.
"Oh iya kenalkan ini calon istri saya..." ucap Wahyu memperkenalkan Salma pada Dinda.
Dinda langsung menoleh kearah Salma dengan pandangan tidak suka. Sedang Salma yang terkejut dengan ucapan Wahyu yang mengatakan jika dirinya calon istri Wahyu hanya bisa tersenyum camggung.
"Masak sih? aku ga percaya deh kalau selera kamu wanita seperti dia" kata Dinda yang masih mencoba menekan Salma.
"Terserah... tunggu saja nanti akan aku kirimkan undangannya saat kami akan menikah" sahut Wahyu yang mulai geram.
"Hemm... ya sudah aku permisi dulu" kata Dinda yang mendapatkan jawaban telak dari Wahyu.
"Mas... kenapa kamu tadi bilang seperti itu?" tanya Salma setelah kepergian Dinda.
Salma hanya bisa menghela nafas pelan. Satu yang Salma tahu tentang Wahyu. Pria itu bisa sangat ramah pada siapa pun namun juga bisa langsung berubah sebaliknya jika orang itu sudah mulai mengusiknya. Tak lama pesanan mereka pun datang dan mereka makan dengan suasana hening. Sekesai makan Wahyu langsung mengajak Salma untuk berjalan-jalan di alun-alun kota.
"Maaf jika tadi kau tidak merasa nyaman Ma" ucap Wahyu saat keduanya tengah duduk di bangku yang ada di sisi alun-alun.
"Ga pa-pa mas..." sahut Salma pelan.
Sebenarnya tadi ia sudah merasa minder dengan kedatangan Dinda. Melihat penampilan Dinda yang terlihat mewah membuat Salma teringat dengan perkataan bu Desi yang mengatakan jika ia dan Wahyu tak sederajat.
"Kamu melamun Ma?" ucap Wahyu tiba-tiba.
"Eh... ga ..kok mas"
"Kamu kepikiran perkataan Dinda tadi ya?" tanya Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
Salma hanya terdiam dan memandang lurus ke arah depan. Melihat lalu lalang orang-orang yang lewat.
"Jangan kau masukkan dalam hati..." sambung Wahyu tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak Salma.
"Mas... jangan begini..." ucap Salma berusaha menyingkirkan kepala Wahyu dari pundaknya.
"Hemm.... sebentar saja Ma...." sahut Wahyu tak perduli dengan protes Salma.
"Hei! kalian sedang apa? mau mesum ya?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuat Wahyu langsung menegakkan kepalanya.
__ADS_1
"Ga kok pak... tadi saya hanya sedikit pusing jadi bersandar sebentar di bahu istri saya..." ucap Wahyu memberi alasan pada seorang pria paruh baya yang berseragam satpol pp.
"Benar begitu?" tanyanya pada Salma.
Salma pun hanya bisa mengangguk takut jika terjaring razia. Bisa-bisa ibunya di rumah syok dan mereka berdua langsung dinikahkan.
"Ya sudah... lain kali kalau lagi ga enak badan ga usah jalan keluar..." ujar petugas satpol pp tersebut.
"Iya pak... ini kami juga mau pulang..." kata Wahyu.
Lalu keduanya pun berjalan ke arah motor Wahyu yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Setelah menaiki sepeda motor dan berjalan sedikit jauh akhirnya keduanya bisa tertawa mengingat kejadian tadi.
"Kamu sih mas... bisa-bisanya bertingkah seperti tadi... untung saja kita tidak langsung digiring ke mobil patroli..." kata Salma.
"Kan kita ga ngapa-ngapain Ma..." sahut Wahyu tak mau kalah.
"Ish... kamu itu memang ga pernah mau kalah mas" sahut Salma sambil memukul punggung Wahyu pelan.
Pria itu pun hanya tertawa dengan perlakuan Salma. Wahyu pun kemudian mengarahkan motornya ke rumahnya. Salma yang baru menyadari jika Wahyu membawanya ke rumahnya menjadi tegang. Ia takut jika bertemu dengan bu Desi.
"Kamu kenapa Ma?"
"Mas .... kenapa kamu bawa aku kemari?" tanya Salma yang tidak tahu jika itu rumah pribadi Wahyu.
"Biar ga di grebek sama satpol pp..." sahut Wahyu.
"Iya... tapi kan aku takut jika ketemu sama mama kamu" kata Salma.
"Ini rumahku Ma... jadi mamaku ga tinggal disini" jelas Wahyu.
"Kalau begitu aku langsung pulang aja mas" ucap Salma yang membuat Wahyu langsung kaget.
"Kenapa? aku janji ga akan macam-macam Ma..." kata Wahyu sambil menggenggam tangan Salma.
"Tapi mas... aku ga mau jika kita cuma berdua saja di rumah kamu... bisa saja nanti kita khilaf"
"Baiklah... tapi biar aku yang mengantar kamu pulang"
Salma pun mengangguk setuju. Tak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan menuju ke rumah Salma. Keduanya larut dalam fikiran mereka masing-masing. Wahyu menghentikan motornya di depan rumah Salma.
"Ma... maaf jika tadi aku membawamu ke rumahku membuat kamu takut"
"Bukan begitu mas... aku hanya menjaga agar kita tidak melakukan hal-hal yang diluar batas" sahut Salma.
"Aku mengerti... sekarang ayo kita masuk"
Salma pun mengangguk. Wahyu langsung menggandeng tangan Salma dan wanita itu sama sekali tidak menolak membuat hati Wahyu menghangat.
Bu Rahma membukakan pintu setelah mendengar suara salam dari keduanya. Wahyu juga meminta maaf karena sudah membawa keluar Salma cukup lama dan tak sempat membawa oleh-oleh.
"Nak Wahyu ini ... emangnya ibu ini anak kecil yang harus diberi oleh-oleh gitu?" ucap bu Rahma sambil terkekeh.
"Bukan begitu bu..." sahut Wahyu masih merasa tidak enak dengan bu Rahma.
__ADS_1
"Lain kali masalah seperti ini ga usah difikirkan... ibu sudah merasa senang Salma bisa pergi keluar untuk refresing dan tidak di rumah saja seperti selama ini..." terang bu Rahma.
Kemudian Wahyu pun pamit untuk pulang karena malam sudah semakin larut membuatnya tak enak dengan para tetangga.