Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Dilema


__ADS_3

Bu Desi terbangun dari tidurnya dan mendapati jika dirinya hanya tidur sendirian semalaman. Ia pun duduk dan mendengus kesal teringat tentang perdebatannya dengan pak Adi.


"S**l! siapa yang sudah memberitahunya tentang Wahyu? dan apa? tes DNA? tidak dia tidak boleh melakukannya!" batin bu Desi sambil meremas selimutnya.


"Aarrrgghh!! kenapa aku sial sekali sih! Wahyu menyukai perempuan miskin dan janda... sedang mas Adi... dia sepertinya sudah mulai berubah" seru bu Desi geram.


"Apa laki-laki itu yang memberitahu mas Adi tentang Wahyu? Tapi kenapa? sudah puluhan tahun dan baru sekarang dia mengungkapkannya?" batin bu Desi mengira-ngira.


Sebenarnya ia tahu siapa ayah kandung Wahyu karena memang Wahyu merupakan hasil perselingkuhannya dengan seseorang saat pak Adi tengah tugas ke luar negeri selama dua bulan. Ya selama dua bulan ia berselingkuh untuk menyalurkan hasratnya selama pak Adi tak ada di sampingnya. Dan setelah pak Adi kembali pun ia masih berhubungan dengan pria itu selama beberapa hari sebelum akhirnya pria itu pergi entah kemana.


Ia tahu jika Wahyu bukan putra pak Adi karena saat pak Adi kembali ia selalu saja menghindari kewajibanya melayani suaminya sendiri karena terlena dengan selingkuhannya. Dan saat pria itu menghilang ia pun baru tahu jika ia sedang hamil. Namun bukan bu Desi namanya jika ia tak bisa menutupi aibnya dari suami dan juga mertuanya. Tapi tidak dengan kedua orangtuanya. Mereka langsung tahu jika ia hamil dengan pria lain saat ibunya mendampinginya periksa ke dokter kandungan dan tahu usia kandungan bu Desi yang sebenarnya. Karena itulah ia mengaku pada kedua orangtuanya bahwa ia tak tahu siapa ayah Wahyu karena ia melakukannya dalam keadaan tidak sadar karena mabuk di club tanpa sepengetahuan suaminya.


Kini masalah yang sudah ia anggap selesai dan tak akan pernah terungkap karena selama ini tak pernah ada yang curiga ternyata salah. Pak Adi sudah tahu semuanya. Dan bodohnya ia tak tahu sejak kapan suaminya itu tahu.


"Seharusnya dulu aku gugurkan saja sebelum kandunganku diketahui mas Adi dan keluarganya" batin bu Desi.


Ya dulu ia sempat berfikir akan mengugurkan kandungannya saat ia tahu hamil dengan selingkuhannya. Tapi kedua orangtuanya melarangnya dan mengatakan jika kehamilannya bisa lebih mengikat pak Adi dengannya. Dan benar saja saat mengetahui jika bu Desi hamil pak Adi semakin bersikap hangat dengannya. Hingga akhirnya Wahyu pun lahir. Dan kemudian disusul dengan kelahiran Gita yang membuatnya seolah membayar kesalahannya dengan memberi pak Adi keturunan asli darah dagingnya meski jarak kelahiran Wahyu dan Gita cukup jauh.


Dengan malas bu Desi bangun dari tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menjernihkan fikirannya setelah merasa penat karena masalah yang tengah menderanya. Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian serta memoles wajahnya ia pun segera menuju meja makan untuk sarapan. Tampak Gita sudah ada di sana tengah menyantap makanannya. Sikap Gita pun akhir-akhir ini berubah padanya.


"Kau mau kemana pagi-pagi sudah rapi begitu Git?" tanya bu Desi setelah duduk di seberang putrinya.


"Tentu saja kuliah ma" sahut Gita seadanya.


"Kuliah?" bu Desi mengernyitkan keningnya.


Sejak kapan putrinya itu kuliah? bukankah dulu Gita bahkan tidak pernah berfikir untuk sekedar punya niatan untuk melanjutkan kuliah?


"Sejak kapan kau ingin kuliah?" tanya bu Desi penasaran mengapa tiba-tiba Gita berubah dan ingin kuliah.

__ADS_1


"Sejak aku tahu jika kak Wahyu bukan kakakku dan itu karena mama yang sudah berselingkuh!" batin Gita muak dengan sikap ibunya yang begitu tenang seolah tak terusik dengan dosanya selama ini.


"Sejak aku ingin berubah..." sahut Gita sekenanya.


Bu Desi terdiam. Ia bisa melihat kilat kemarahan di mata putrinya itu meski Gita tetap berkata dengan nada biasa.


"Ada apa pula dengan Gita? kenapa sepertinya ia menyimpan kemarahan padaku?" batin bu Desi tak mengerti.


Seetelah menyelesaikan sarapannya Gita pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengenakan tas selempangnya yang tergantung di kursinya.


"Aku berangkat dulu ma..." ucap Gita datar namun ia juga masih mau meraih tangan mamanya dan mencium punggung tangannya.


Sebenarnya ia masih marah dan malas berpamitan pada mamanya. Tapi ia ingat dengan dengan pesan seorang penceramah yang pernah ia dengar saat menghadiri acara pengajian yang kini sering ia ikuti setiap minggunya bahwa ia harus tetap bersikap hormat kepada orangtuanya meski mereka telah berbuat salah. Meski Gita belum mengenakan hijab namun ia kini memang lebih religius. Ia sudah menjalankan ibadahnya secara penuh dan rajin untuk menimba ilmu agama.


Mendapat perlakuan seperti itu dari putrinya membuat bu Desi tertegun. Sejak kapan putrinya bersikap sopan seperti itu? biasanya juga putrinya hanya cipika cipiki atau cuma melambaikan tangan jika akan pergi tanpa pernah mencium tangannya seperti itu. Namun Gita hanya bersikap biasa saja saat melihat mamanya yang masih tertegun dengan perlakuannya. Gadis itu pun langsung berlalu meninggalkan bu Desi yang masih terdiam di tempat duduknya.


Di rumah sakit...


Wahyu tampak kembali menyuapi Salma dengan telaten meski kekasihnya itu sudah mengatakan jika ia sudah bisa makan sendiri. Namun Wahyu tetap bersikeras untuk melayaninya makan. Dan akhirnya Salma pun hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Wahyu.


Bu Rahma yang menyaksikan itu dari balik pintu ruang perawatan itu pun menjadi merasa iba jika nantinya keduanya harus berpisah.


"Apa kau tega memisahkan keduanya setelah menyaksikan kedekatan keduanya Ma?" tanya pak Adi tiba-tiba sudah berada disamping bu Rahma.


Bu Rahma tak berani menoleh ke arah pak Adi. Entah mengapa jantungnya kini malah berdetak kencang saat mengetahui jika pak Adi berada begitu dekat dengan tubuhnya. Bahkan hembusan nafas pria itu dapat ia rasakan menyentuh tengkuknya membuat tubuhnya seketika meremang. Bukannya menjawab bu Rahma malah berbalik dan melangkah meninggalkan pak Adi. Ia tak mau hati dan tubuhnya mengkhianatinya. Ia harus menjauhi pak Adi sebisanya agar tak melakukan kesalahan yang akan ia sesali seumur hidupnya.


Melihat bu Rahma yang melangkah pergi membuat pak Adi menghembuskan nafasnya pelan. Mungkin akan sangat sulit baginya untuk bisa meraih hati wanita itu dengan statusnya saat ini. Saat pak Adi melihat kembali ke dalam ruang perawatan terlihat kedua sejoli itu tengah berbincang ringan. Sesekali terlihat keduanya tertawa bersama.


"Akan aku pastikan kalian bersatu... meski aku harus melawan semua orang termasuk Rahma sekali pun..." batin pak Adi.

__ADS_1


Sedangkan bu Rahma tampak tengah termenung duduk di bangku taman rumah sakit. Benar kata pak Adi... saat melihat kedekatan Salma dan Wahyu tadi masih bisakah ia tega menghancurkan kebahagiaan mereka dengan memisahkan keduanya? apalagi saat melihat rona kebahagiaan di wajah Salma saat bersama Wahyu. Sanggupkah ia merampasnya? sedangkan selama ini ia sendiri yang selalu mendo'akan kebahagiaan Salma? Tidak! ia tidak bisa sekejam itu... apa lagi pada putrinya sendiri. Bu Rahma menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil menggeleng keras.


Tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluknya dari samping. Bu Rahma dapat mencium parfum yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.


"Aku tahu kau tak mungkin setega itu pada putrimu sendiri" kata pak Adi sambil memeluk bu Rahma.


"Aku hanya tidak ingin Salma terluka lagi..." sahut bu Rahma lirih.


"Aku tahu... dan aku berjanji tidak akan pernah membiarkan Salma terluka lagi" sahut pak Adi lembut.


Sepasang paruh baya itu pun saling berpelukan selama beberapa saat sampai akhirnya bu Rahma mengurai pelukannya.


"Maaf..." ucapnya lirih.


"Untuk?"


"Semuanya... kau pasti sangat terluka karena keputusanku dulu..." terang bu Rahma.


"Kau benar... aku sangat terluka saat kau memilih untuk menyerah tentang hubungan kita. Tapi kini aku tidak menyesal karena kau telah melahirkan Salma sebagai pelita dalam hidup Wahyu..." ucap pak Adi menerangkan isi hatinya.


"Meski Wahyu bukan putra kandungku... aku tetap menyayanginya. Nasibnya mirip denganku... dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya..." sambung pak Adi.


"Maafkanlah kedua orangtuamu mas..." ucap bu Rahma lembut.


Ia tak ingin pak Adi menaruh dendam apalagi pada kedua orangtuanya sendiri. Meski kesalahan mereka sangatlah besar dan menyakiti pak Adi.


"Aku sudah memaafkan mereka bertahun yang lalu... tapi saat melihat mereka kembali mencampuri kehidupan Wahyu... aku tak terima... cukup aku yang merasakan sakit hati terpisah dari orang yang sangat aku cintai... tidak dengan Wahyu" kata pak Adi panjang lebar.


Bu Rahma terdiam mendengar perkataan pak Adi. Ia juga ingat betapa hancurnya ia saat memutuskan berpisah dengan pak Adi karena kedua orangtua pak Adi tak merestui mereka. Perbuatan licik mereka yang sampai menjebak putra mereka sendiri agar bisa berpisah dengannya. Butuh lebih dari satu tahun ia menata hidupnya agar tak ikut hancur dan akhirnya ia bertemu dengan almarhum suaminya yang menyembuhkan lukanya. Ia tak dapat membayangkan perasaan pak Adi bertahun-tahun bertahan dengan rumah tangga yang tidak diinginkannya. Apalagi sekarang terbukti jika istrinya telah mengkhianatinya dan menghasilkan Wahyu yang baru saja diketahuinya

__ADS_1


__ADS_2