
Setelah kepergian Nadia, mama Aya dan Salma pun melanjutkan obrolan keduanya.
"Hari ini kamu berangkat kerja Ma?" tanya mama Aya.
"Iya ma... sebentar lagi Salma berangkat" jawab Salma.
"Benarkah sejak kamu bekerja belum sekalipun kamu libur?"
" Iya ma... tapi dari mana mama tahu?" tanya Salma.
"Kamu lupa ya... pemilik restoran itu kan teman mama" ucap mama Aya sambil tersenyum.
Salma pun mengangguk ia memang lupa jika pemilik restoran itu teman mama mertuanya bahkan ia bisa bekerja disana pun karena rekomendasi mama mertuanya itu.
"Jadi bagaimana jika mulai besok kau ambil cuti untuk liburan? kau bisa libur beberapa hari untuk menggantikan hari libur yang tak kau gunakan" saran mama Aya.
"Iya ma..."
"Kau juga bisa gunakan hari liburmu itu untuk pulang ke rumah ibumu ... mama tahu kamu pasti kangen padanya" sambung mama Aya.
Mata Salma langsung berbinar saat mendengar penuturan mama Aya. Sejak menikah memang belum sekali pun ia pulang menengok ibunya.
"Soal Nadia kamu tidak usah khawatir... bukankah yang dia tahu kamu akan menginap di sini selama satu minggu? jadi dia tidak akan tahu jika kamu pergi ke rumah ibumu"
"Terima kasih ma..." ucap Salma langsung memeluk mama mertuanya itu.
Ia tak menyangka baru semalam ia membahas hal ini dengan Amran tapi pagi ini mama mertuanya langsung mewujudkannya.
"Tidak usah berterima kasih sayang... ini sudah kewajiban mama membuatmu bahagia..." ucap mama Aya mengelus punggung menantu keduanya itu.
"Apa aku harus memberi tahu mas Amran ma?" tanya Salma yang memikirkan Amran yang akan panik jika ia tak memberitahu suaminya itu.
"Tidak usah... biar dia merasa kelimpungan sebentar..." kata mama Aya sambil terkekeh.
"Tapi ma ... apa tidak kasihan mas Amran ma...".
"Sudah ... tidak perlu merasa tidak enak... anggap saja ini sebagai hukuman karena sudah berbuat senena-mena padamu" sambung mama Aya dengan tegas.
Akhirnya Salma pun menuruti perkataan mama Aya. Tak lama ia pun berangkat ke tempatnya bekerja dengan diantar oleh sopir walau sebelumnya Salma sudah menolaknya dan seperti biasa mama mertuanya itu tidak mau menerima penolakan darinya. Sesampainya ditempatnya bekerja Salma langsung menemui atasannya untuk meminta cuti. Dan ternyata atasannya itu pun langsung menyetujuinya karena ia tahu baru kali ini Salma mengambil liburnya sejak pertama kali ia masuk kerja.
Salma pun merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan ibu dan kedua adiknya. Seharian ini Salma mengerjakan tugasnya dengan hati yang benar-benar bahagia. Bagaimana tidak... Amran sudah bersikap lebih baik sekarang dan besok ia akan bertemu dengan keluarga yang sudah lama ia rindukan.
Sementara Nadia setelah keluar dari rumah mama Aya langsung menaiki taxi online yang sudah menunggunya dan langsung pergi menemui kedua sahabatnya di restoran langganan mereka. Selama perjalanan Nadia mengumpat mama mertuanya yang selalu berusaha menguasai Salma.
"Awas saja kalau nanti dia mempengaruhi perawan tua itu untuk menggoda mas Amran" gerutunya kesal.
Sesampainya di tempat yang dituju ia pun segera keluar dari taxi yang membawanya dan menemui kedua sahabatnya yang sudah menunggunya di sana. Brak... dengan kesal di jatuhkannya tas tangannya keatas meja tempat kedua temannya sudah menunggu. Kedua wanita itu pun langsung kaget karena kelakuan Nadia.
"Kamu kenapa sih Nad? pagi-pagi sudah ngamuk begitu?" tanya Susi yang kesal karena sikap Nadia yang seenaknya.
__ADS_1
"Aku lagi kesal sama mertuaku!" kata Nadia ketus.
"Memang apalagi yang dilakukan oleh nenek tua itu hah?" tanya Mira.
"Kau tahu kemarin dengan seenaknya dia menjemput Salma dari rumah dan mengajaknya untuk menginap dirumahnya, dan tadi saat aku datang kesana untuk menyuruh si Salma pulang dia malah bilang kalau dia ingin perawan tua itu menginap lagi di rumahnya selama satu minggu!" terang Nadia dengan suara kesal.
"Jadi hal apa yang telah membuatmu marah seperti ini?" tanya Mira.
"Kau itu b*d*h apa t***l hah? kalau disana si tua itu mempengaruhi Salma untuk menggoda mas Amran bagaimana?" sentak Nadia.
Sedang Susi sudah memberikan tatapan horor pada Mira agar tak lagi memancing emosi Nadia.
"Sudah Nad... lebih baik kau tenangkan dulu fikiranmu... ini minum teh hangat yang sudah aku pesankan untukmu" ucap Susi berusaha menenangkan Nadia sambil mengangsurkan teh yang telah ia pesan.
Dengan masih menahan kesal Nadia meminum teh tersebut. Setelah itu ia pun merasa lebih tenang.
"Kau mau makan apa? kami juga belum memesan makanan karena menunggu kamu datang" sambung Susi sambil memanggil pelayan untuk memesan menu sarapan mereka.
Tak ada percakapan diantara ketiganya saat menyantap makanan mereka. Setelah selesai ketiganya pun langsung berangkat ke kantor tempat mereka bekerja.
Sementara Amran setelah mengantarkan Salma ke rumah mamanya langsung kembali ke apartemennya untuk mengganti mobilnya dengan yang biasa ia gunakan agar Nadia tak curiga. Setelah itu ia langsung berangkat menuju kantor perusahaannya tanpa kembali ke rumah untuk menemui Nadia. Sesampainya di kantor tampak Bayu sudah memperlihatkan senyuman jahilnya. Amran tahu jika sebentar lagi sahabatnya itu pasti akan menginterogasinya. Maka ia pun langsung masuk ke dalam ruangannya sedang Bayu langsung mengekorinya dari belakang.
"Bagaimana semalam? apakah sukses?" tanya Bayu sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil.
Amran hanya tersenyum simpul yang membuat sahabatnya itu semakin penasaran.
"Auww...sakit tahu! kalau lu ga mau menceritakannya juga ga pa-pa tapi jangan langsung main kekerasan kayak gitu kalee..." ujar Bayu sambil mengelus keningnya yang ngilu.
"Salah sendiri udah berani ngomong seenak jidat lu..." balas Amran tanpa merasa bersalah.
"Tapi bener deh gua penasaran dengan yang kalian lakukan semalam. Secara kalian kan cuman berdua dan kalian sama-sama dewasa... masa ga ada kejadian romantis gitu?" kata Bayu.
"Kalau pun memang terjadi emang gua harus bikin laporan sama lu?" sungut Amran yang jengah dengan kekepoan sahabat somplaknya itu.
"Jadi sekarang lu udah mulai mau main rahasia-rahasiaan sama gua? oke... tapi awas saja kalau nanti lu minta bantuan sama gua..." ancam Bayu.
"Oke gua cerita..." kata Amran yang memang tak bisa lepas dari sahabatnya itu. Kemudian ia pun menceritakan semua yang terjadi di apartemen semalam walau tidak secara detail. Setelah mendengar cerita Amran, Bayu pun menganggukkan kepalanya.
"Gua bisa mengerti dengan sikap Salma yang belum sepenuhnya bisa menerima lu secepat ini... tapi dengan kejadian semalam gua yakin cepat atau lambat Salma pasti akan bisa memaafkan dan menerima lu sebagai suaminya" kata Bayu sambil menepuk pundak Amran berusaha memberi semangat pada sahabatnya itu.
Sore hari saat pulang kerja ternyata sopir mama Aya sudah menunggu Salma. Hingga Salma pun terpaksa ikut dan pulang ke rumah mama mertuanya itu. Sesampainya di sana tampak mama Aya yang sudah menunggunya.
"Bagaimana sayang? apa kau sudah meminta ijin untuk cuti?" tanyanya tak sabar.
"Iya ma... dan alhamdulillah diijinkan" ucap Salma sambil tersenyum.
"Ya sudah pergi mandi dulu sana... lalu bersiap-siap untuk ke rumah ibumu" kata mama Aya.
"Kita akan berangkat malam ini ma?"
__ADS_1
"Iya.... sudah sana cepat! oh iya di kamar sudah ada baju ganti buat kamu tadi siang mama baru beli".
"Kenapa mama harus repot-repot?"
"Ga kok sayang... mama memang kebetulan tadi ke mall dan baru ingat kalau kamu ga punya baju ganti jadi mama beli saja sekalian" terang mama Aya sambil tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih ma... udah beliin aku baju..." ucap Salma.
"Ya sudah sana mandi..."
"Iya ma... aku ke kamar dulu ya"
Mama Aya pun mengangguk dan Salma pun segera masuk ke kamar yang sejak semalam digunakannya. Bukan kamar Amran tapi kamar tamu sebab mama Aya mengerti jika Salma pasti tak merasa nyaman jika tidur dikamar suaminya itu karena disana pasti ada jejak Nadia.
Setelah membersihkan diri Salma pun menemui mama Aya yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
"Duduk di sini dulu nak..." ajak mama Aya saat melihat Salma yang datang menghampirinya.
"Nanti kamu berangkat selepas magrib saja ya" kata mama Aya.
"Mama tidak ikut?" tanya Salma.
Mama Aya menggelengkan kepalanya.
"Mama masih ada urusan di sini jadi mama ga bisa pergi sama kamu Ma"
Salma pun mengangguk mengerti. Mereka pun mengobrol ringan sesekali keduanya tertawa lepas bersama. Sungguh jika tak tahu status keduanya pasti orang akan mengira jika keduanya ibu dan anak karena keakraban keduanya.
Selepas magrib mama Aya mengantar Salma sampai ke dalam mobil. Mama Aya memang menyuruh sopirnya untuk mengantar kepulangan Salma.
"Kamu hati-hati ya dijalan... dan bersenang-senanglah di rumah ibumu..." kata mama Aya.
"Iya ma... terima kasih sudah mengijinkan Salma menjenguk ibu..."
"Sama-sama sayang... ingat jika ibumu bertanya tentang Amran bilang saja jika suamimu sedang keluar kota jadi tidak bisa mengantarmu...oke?".
"Iya ma..."
"Ya sudah sekarang berangkatlah agar tak terlalu kemalaman sampai di sana" kata mama Aya.
"Pak sopir kalau nyetir hati-hati ya... kalau capek bapak kembali besok pagi saja" kata mama Aya pada sopir yang akan mengantar Salma.
"Baik nyonya..."
Kemudian mobil yang membawa Salma pun melaju meninggalkan rumah mama Aya.
"Sekarang saatnya memberikan kedua orang itu pelajaran" batin mama Aya.
Walau pun ia sudah melihat perubahan sikap putranya namun tetap saja ia ingin memberi pelajaran pada putranya itu apalagi dengan Nadia yang telah berani mempermainkan pernikahan dan menyakiti Salma demi balas dendam tak berdasarnya.
__ADS_1