
Bu Rahma sungguh tak menyangka jika pria yang ada dihadapanya itu berani menghakimi keluarganya tanpa mencari tahu kebenarannya. Urat-urat diwajah perempuan paruh baya itu mulai menegang. Ia tak terima dengan tuduhan Dirga yang menganggap seolah-olah ia telah menyuruh putrinya menjadi pelakor.
"Tuan Dirga yang terhormat... alangkah baiknya jika tuan menanyakan pada orang yang memberikan informasi pada tuan apakah pernikahan putri saya dan suaminya itu atas dasar suka sama suka atau karena keterpaksaan saja? jadi jangan anggap bahwa saya dan putri saya senang dengan keadaan pernikahannya" kata bu Rahma yang masih menahan amarahnya.
"Namun demikian karena pernikahan mereka sudah terjadi maka tak elok rasanya jika anda berusaha hadir diantara keduanya" sambung bu Rahma dengan menekan suaranya.
Sungguh saat ini rasanya ia ingin melempar keluar pemuda itu dari dalam rumahnya. Selama ini ia sudah gerah dengan omongan orang dibelakangnya tentang putrinya yang menjadi istri kedua dari suami sepupunya namun tak semenyakitkan saat orang itu berbicara tepat dihadapannya.
"Anda orang kaya dan berpendidikan tinggi akan sangat mudah bagi anda mencari gadis yang mau menjadi pendamping anda. Lagi pula anak saya bukan pelakor jadi dia tidak pantas bersanding dengan seorang pebinor!"
Dirga yang mendengarkan semua ucapan bu Rahma merasa tertohok dengan setiap ucapan wanita paruh baya itu. Ia tahu jika langkah yang diambilnya sudah salah. Bukannya mengambil hati bu Rahma tapi ia malah memuat wanita itu sakit hati dan membenci dirinya. Apalagi sikap Salma yang sebelas dua belas dengan ibunya membuatnya yakin jika kesempatannya mendapatkan gadis pujaannya itu sudah tak ada.
"Maaf bu jika ucapan saya sudah membuat ibu sakit hati. Tapi sungguh saya tidak bermaksud seperti itu... saya hanya ingin mendampingi Salma selama hidupnya" ucap Dirga masih berusaha membenarkan tindakannya.
"Ibu juga minta maaf jika kata-kata ibu tadi menyinggung perasaanmu... tapi seperti yang saya katakan tadi anak saya sudah bersuami dan tak perduli bagaimana alasannya mereka bisa menikah kenyataannya saat ini mereka masih berstatus suami istri maka ibu mohon jangan lagi mengganggu rumah tangga mereka. Lupakan Salma... diluar sana masih banyak gadis lain yang lebih baik dari anak saya dan berstatus single" sahut bu Rahma yang tak ingin memberi harapan pada Dirga.
"Baiklah bu... kalau begitu saya permisi" ucap Dirga akhirnya undur diri.
Pria itu pun pergi dengan mobilnya meninggalkan bu Rahma yang masih termangu di ruang tamu. Salma yang sejak tadi sudah kembali dari rumah Shania pun sempat mendengar semua pembicaraan ibunya dengan Dirga. Namun ia bersembunyi di balik tembok samping rumahnya.
"Ibu..." panggilnya saat masuk ke dalam rumah.
Bu Rahma menoleh kearah putri sulungnya itu dan mencoba untuk tersenyum. Namun Salma langsung menubruk ibunya dan bersimpuh dikaki bu Rahma yang masih duduk di kursi tamu.
"Ada apa nak? apa sudah terjadi sesuatu padamu?" tanya bu Rahma panik.
Salma menggelengkan kepalanya dan menangis di pangkuan ibunya.
"Maafkan Salma bu... karena Salma ibu harus menanggung malu..." ucapnya di sela tangisannya.
"Apa maksud kamu nak?" tanya bu Rahma tak mengerti.
Masih dengan terisak ia pun menceritakan tentang sandiwara amnesianya. Ia juga menceritakan alasannya melakukan semuanya. Setelah menenangkan putrinya bu Rahma pun mendudukkan Salma disampingnya. Bu Rahma yang sangat mengerti dengan sifat anaknya itu dapat mengerti dengan keputusan Salma.
"Ibu mengerti dengan perasaanmu nak... tapi sikapmu yang berpura-pura seperti ini malah akan menambah masalah..." ucapnya perlahan.
"Kau lihat .... belum apa-apa sudah ada Dirga yang mencoba mendekatimu walau ia tahu kau masih bersuami. Jika kau ingin berpisah dengan nak Amran bicarakanlah hal ini baik-baik dengannya... jangan menggantung status pernikahan kalian seperti ini. Jika begini apa bedanya kamu dengan Nadia?" nasehat bu Rahma yang membuat Salma terkesiap.
__ADS_1
Ia memang tidak berfikir hingga sejauh itu. Ya apa yang dikatakan ibunya itu benar... apa bedanya ia dengan Nadia yang mempermainkan perasaan Amran suaminya.
"Lalu Salma harus bagaimana bu..."
"Katakan yang yang sebenarnya jika kau tidak amnesia... dan minta maaflah pada suamimu. Dan jangan lupa kau juga harus meminta maaf pada mama mertuamu juga. Kau tahu ia sangat menyayangimu Salma.." kata bu Rahma panjang lebar.
Salma mengangguk setuju dengan perkataan ibunya. Ia pun berniat untuk segera menemui suami dan ibu mertuanya untuk meminta maaf. Bu Rahma pun bersedia mengantarkan putrinya itu saat menemui keduanya.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali bu Rahma dan Salma sudah bersiap ke rumah mama Aya. Setelah malam sebelumnya Salma juga mengakui sandiwara amnesianya pada kedua adik dan iparnya. Untung saja mereka juga seperti bu Rahma yang dapat mengerti alasan Salma. Kepergian bu Rahma dan Salma kali ini dengan menggunakan mobil sewaan beserta sopirnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan mereka pun sampai di rumah mama Aya. Kedatangan keduanya langsung disambut oleh mama Aya dengan gembira apalagi setelah keduanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Salma. Mama Aya pun tak marah saat tahu selama ini Salma pura-pura amnesia. Sebab ia juga sebenarnya ingin memberi sedikit pelajaran pada Amran agar bisa menghargai Salma.
"Lalu apa sekarang kau ingin berterus terang pada suamimu sayang?" tanya mama Aya.
"Iya ma... aku tidak ingin mempermainkan perasaan orang lain lagi dan akan menghadapi semua masalahku dengan tegar" ucap Salma yakin.
"Hemm... kau benar memang semua harus kau hadapi bukan malah lari... baiklah kalian istirahat saja dulu di sini. Biar nanti mama suruh Amran kemari agar kalian berdua bisa bicara dengan leluasa ..." kata mama Aya.
Kemudian ia mengantarkan bu Rahma dan Salma ke kamar tamu agar keduanya bisa beristirahat. Setelah ia pun menghubungi Amran di kantornya.
"Halo nak... bisakah siang ini kau ke rumah?"
"Datang saja ke rumah ada hal penting yang ingin mama bicarakan sama kamu" ucap mama Aya.
"Baiklah ma... nanti siang aku ke rumah" sahut Amran.
Setelah menutup panggilannya mama Aya mendesah pelan. Ia tahu Amran pasti sangat bahagia jika tahu Salma tidak benar-benar amnesia. Namun ia juga sedih karena ia tahu jika Salma sudah berkeputusan untuk mundur dari pernikahannya dengan Amran.
Namun ia tak dapat memaksa gadis itu untuk tetap bertahan dalam rumah tangganya apalagi ada Nadia diantara mereka. Sungguh keadaan anak dan menantunya itu seperti buah simalakama yang setiap keputusan hanya mendatangkan luka.
Setelah beristrahat sebentar bu Rahma dan Salma pun menemui mama Aya yang sedang sibuk dengan tanaman hias kesayangannya. Ketiga wanita itu tampak akrab saat mengobrol sambil memperhatikan beberapa tanaman hias yang tampak asri menghiasi taman belakang rumah mama Aya.
Saat jam makan siang terdengar deru suara mobil Amran yang memasuki halaman depan mama Aya. Setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah Amran pun langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui mamanya. Ia sangat terkejut saat melihat mamanya sedang berbincang hangat dengan bu Rahma dan juga Salma di taman belakang. Pria itu tampak tak percaya saat melihat Salma yang sepertinya sudah mengenali mamanya.
Dengan bergegas ia pun segera menghampiri ketiganya. Salma yang mendengar suara seseorang yang mendekat menoleh dan terkejut saat melihat Amran sudah berada di sana. Salma pun bangkit dari duduknya.
"Mas..." ucap Salma pelan namun Amran masih dapat mendengarnya.
__ADS_1
Tanpa melihat sekelilingnya pria itu langsung memeluk tubuh Salma. Rasa rindu yang selama ini ia rasakan ia luapkan saat itu juga. Bahkan pria itu tak dapat menahan air matanya yang ikut menetes. Mama Aya dan bu Rahma yang menyaksikan itu pun ikut merasa terharu.
"Mas... lepaskan .... ada mama Aya dan ibuku di sini!" ucap Salma sambil melepaskan pelukan Amran perlahan.
Amran yang baru menyadari jika di situ juga ada mamanya dan ibu mertuanya pun melepaskan pelukannya pada Salma.
"Maaf ma... ibu..." ucapnya dengan kikuk setelah melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa nak... ibu mengerti" ucap bu Rahma.
Sedang mama Aya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Kalian bicara saja duluan.... kami akan membiarkan kalian bicara berdua disini" kata mama Aya yang diangguki oleh bu Rahma.
Keduanya pun memilih untuk pergi ke dalam rumah meninggalkan sepasang suami istri itu sendiri.
"Jadi kau sudah sembuh Ma?" tanya Amran saat keduanya sudah sendiri.
"Maaf mas... selama ini aku sudah berbohong..." sahut Salma.
"Berbohong? maksudnya?" tanya Amran tak mengerti.
"Iya mas... sebenarnya aku tidak amnesia... aku hanya ingin menjauh sementara dari kamu dan juga Nadia... sekali lagi maafkan aku..." terang Salma yang mulai terisak.
Amran kembali memeluk istrinya itu. Ia mengerti mengapa Salma sampai berbuat seperti itu. Mungkin Salma memang harus menjauh sementara agar dapat memenangkan fikirannya.
"Tidak apa-apa Ma... mas ngerti..." ucapnya sambil mengelus kepala Salma pelan.
"Kau memang perlu waktu untuk sendiri..." sambung lalu mengecup puncak kepala Salma.
Lama keduanya terdiam dalam posisi berpelukan. Seakan ingin melepaskan rasa rindu yang tak dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata. Lalu perlahan Amran mulai melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Salma. Tampak gadis terlihat sangat cantik alami dengan sinar bahagia memancar dari wajahnya yang kini sedikit berisi.
"Apa kau bahagia selama di rumah ibu?" tanya Amran sambil mengelus wajah Salma.
Salma menganguk pelan.
"Maafkan aku ... selama bersamaku kau merasa tak bahagia dan tertekan" sambung Amran dengan suara bergetar.
__ADS_1
Tak dapat dipungkiri saat berjauhan dengan Salma sangat menyiksanya apalagi dengan amnesia yang diderita gadis itu semakin membuatnya frustasi. Tapi ia hanya bisa menganggap itu hukuman karena telah sering menyakiti hati istrinya itu. Dan kini ia bahagia karena Salma kembali padanya.