Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Keputusan


__ADS_3

Bu Rahma menghela nafasnya perlahan kemudian ia pun memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman baru kemudian ia pun mulai berbicara pada Salma.


"Ibu memang mengenal papa dan mamanya Wahyu dulu... jauh sebelum ibu bertemu dengan almarhum ayahmu..." terang bu Rahma.


"Maksud ibu?"


"Dulu ibu dan pak Adi pernah menjalin hubungan namun ditentang oleh kedua orangtua pak Adi karena status kami yang berbeda... terlebih ibu hanya seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh nenek ibu hingga berusia 17 tahun karena kemudian beliau meninggal karena sakit..." lanjut bu Rahma.


"Meski begitu pak Adi masih mempertahankan hubungan kami karena kami saling mencintai dan berencana untuk segera menikah... mengetahui hal itu kedua orangtua pak Adi menjebak putra mereka sendiri seolah-olah telah tidur dengan wanita yang sudah mereka jodohkan dengan pak Adi dan mengirimkan foto tak senonoh mereka pada ibu... saat itu ibu sempat percaya jika pak Adi benar tidur dengan wanita itu namun kebenaran akhirnya terungkap dan terbukti jika mereka tak pernah melakukan apa-apa... tapi melihat perbuatan kedua orangtua pak Adi yang sampai menjebak putra mereka sendiri membuat ibu sadar mungkin kami memang tak seharusnya bersatu... karena itu ibu memutuskan untuk meninggalkan pak Adi dan menyuruhnya untuk menikahi wanita pilihan kedua orangtuanya" ucap bu Rahma melanjutkan ceritanya.


"Jadi... mama mas Wahyu itu..."


"Ya dia wanita yang dijodohkan oleh orangtua pak Adi dan ikut menjebaknya..."


"Apa ibu masih mencintai pak Adi?" tanya Salma yang mengagetkan bu Rahma.


"Saat ini ibu tidak memikirkan hal seperti itu sayang... yang ibu fikirkan hanyalah kebahagiaan anak-anak ibu..." sahut bu Rahma sambil tersenyum dan menggenggam tangan Salma.


"Ibu... jika apa yang terjadi pada ibu terjadi juga padaku... apa yang harus aku lakukan? apa aku juga harus pergi meninggalkan Wahyu seperti ibu dulu meninggalkan pak Adi?" tanya Salma dengan suara sendu.


Bu Rahma tahu putrinya tengah bimbang...


"Ibu tidak bisa mengatakannya nak... karena semua keputusan ada di tanganmu untuk memutuskannya" kata bu Rahma.


"Seperti yang ibu bilang dulu sebuah pernikahan bukan hanya hanya antara dua orang tapi juga dua keluarga... dan jika mama mas Wahyu tetap tidak memberikan restu maka..."


"Ibu tahu apa yang kamu khawatirkan sayang... tapi jika kau mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Wahyu apa kau bisa menjamin jika nantinya Wahyu akan bahagia? dan apa wanita yang dijodohkan dengan Wahyu benar-benar bisa mencintainya dengan tulus?"


"Aku tidak tahu ibu... yang aku tahu saat ini aku sangat mencintai mas Wahyu dan aku ingin ia bahagia baik denganku atau pun tidak..." ujar Salma lirih.


Bu Rahma langsung memeluk putrinya itu erat. Ia tahu Salma buka tipe wanita yang egois ia justru lebih sering rela berkorban dari pada menyakiti orang lain. Meski belum tentu orang menghargai pengorbanannya.


"Salma... ibu fikir mungkin ini saatnya kamu benar-benar harus egois demi kebahagiaanmu dan juga Wahyu..." ucap bu Rahma lembut.


"Maksud ibu?"


"Maksud ibu... tak ada salahnya jika kau tetap bertahan bersama Wahyu... karena saat ini ada pak Adi yang akan mendukung dan melindungi kalian... dan jangan lupa ibu dan adik-adikmu pun akan selalu ada dibelakangmu untuk mendukung semua keputusanmu..." terang bu Rahma.


"Ibu..." ucap Salma sambil memeluk ibunya erat.


Ia merasa sangat beruntung ada ibunya yang selalu ada untuknya. Sebagai seorang ibu, bu Rahma tak pernah membedakan kasih sayangnya pada semua putrinya. Namun kini karena hanya Salma yang masih belum menikah ia jadi lebih memberikan perhatiannya karena hanya Salma yang masih berada dalam tanggung jawabnya sebagai orangtua. Sementara kedua adiknya sudah menjadi tanggung jawab suami mereka masing-masing. Namun begitu ia juga tak pernah melupakan untuk memberikan perhatian pada Shania dan Sakina terutama menanyakan keadaan mereka setiap harinya meski hanya melalui telfon.


Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan hingga tak menyadari jika sudah sejak tadi ada Wahyu yang berdiri di depan ruang perawatan Salma dan mendengarkan semua percakapan ibu dan anak itu.


"Jadi sejak awal mama sudah berlaku curang untuk mendapatkan papa... tapi kenapa setelah mendapatkannya mama malah berselingkuh hingga melahirkanku ke dunia? jika tujuannya hanya untuk mengikat papa kenapa ia tidak berusaha mendapatkan keturunan dari papa saja bukannya dengan berselingkuh?" batin Wahyu.


Fikiran Wahyu sungguh kacau hingga ia tak menyadari jika pak Adi sudah ada dibelakangnya. Tepukan ringan dibahunya membuat Wahyu tersadar dari lamunannya. Saat ia menoleh terlihat pak Adi tengah tersenyum kepadanya lembut.

__ADS_1


"Ikut papa sebentar!" ucap pak Adi lalu berjalan ke arah taman rumah sakit.


Wahyu pun mengikuti langkah pak Adi lalu keduanya pun duduk di bangku yang ada disana.


"Apa kau sudah tahu tentang masa lalu papa dan bu Rahma?" tanya pak Adi.


"I... iya... pa..." sahut Wahyu terbata.


Sungguh ia merasa tak enak mengetahui masalalu papanya dengan calon ibu mertuanya. Apa lagi kini ia tahu jika mamanya ternyata bukan wanita baik-baik...ia semakin merasa bersalah karena perbuatan mamanya bu Rahma dan pak Adi jadi berpisah.


"Papa tahu apa yang kau fikirkan... tidak usah merasa bersalah nak... sebab semua yang telah terjadi itu adalah takdir lagi pula papa malah merasa bersyukur karena pada akhirnya papa juga merasa bahagia karena kau berjodoh dengan Salma putri dari wanita yang sangat baik dan dulu pernah mengisi hati papa... karenanya jangan biarkan orang lain memisahkan kalian berdua... jangan seperti papa... kau harus bahagia..." kata pak Adi yang langsung membuat Wahyu memeluk pria yang selama ini telah membesarkannya.


"Pa... aku sudah tahu jika papa bukan papa kandungku..." ucap Wahyu saat keduanya telah melepaskan pelukannya.


Degg....


Pak Adi menatap Wahyu dengan wajah kaget.


"Dari mana kau tahu?"


"Aku tidak sengaja mendengar saat mama dan papa bertengkar..."


"Itu..."


"Aku tahu papa tidak mungkin asal bicara saat itu sebelum papa punya buktinya... jadi aku mohon pa... jujur sama aku..."


"Iya Wahyu... semua yang kamu dengar itu benar... bahkan papa sudah melakukan tes untuk membuktikannya... maafkan papa tidak memberitahumu saat melakukannya..." kata pak Adi.


"Dari mana papa tahu?"


"Dari mulut mama kamu sendiri tanpa disadarinya... dan saat itu Gita juga mendengarnya..." terang pak Adi.


"Jadi Gita juga sudah tahu?"


"Iya... kami berdua juga melakukan tes bersama dan ternyata cuma kamu yang bukan anak papa... sebelumnya Gita bahkan terlihat frustasi saat mengetahui kamu anak kandung papa... ia takut jika ia juga bukan anak papa" kata pak Adi mengingat wajah putrinya saat pertama kali tahu ibunya berselingkuh...


"Kau tahu nak... walau kenyataannya kau bukan anak kandung papa... tapi kasih sayang papa tidak akan pernah berubah..."


"Papa..."


"Sudahlah... masalah ini tidak usah kau fikirkan lagi... mari kita jalani semua seperti biasa...."


"Papa... apa papa tidak marah dengan mama?"


"Marah? tentu saja... tapi papa mencoba memberi mamamu kesempatan lagi untuk berubah... namun jika dia melakukan sesuatu yang menyakiti papa atau pun kalian anak-anak papa... maka jangan salahkan jika papa memilih untuk berpisah dengannya..."


"Aku mengerti pa..." sahut Wahyu.

__ADS_1


Kedua pria itu pun lalu memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Salma. Disana tampak Salma tengah dibujuk ibunya untuk memakan makanan yang sudah disediakan rumah sakit.


"Ayolah Ma... makan sedikit saja agar kau bisa meminum obatmu dan segera sembuh..."


"Tapi bu... Salma sedang kenyang... sebentar lagi saja ya..." rengek Salma bak anak kecil.


"Kau jangan keras kepala... atau kau ingin disuapi ibumu ini hem?"


"Bukan begitu... aku hanya..."


"Hanya ingin aku yang suapi kamu?" potong Wahyu tiba-tiba sambil tersenyum dan menghampiri ibu dan anak itu diikuti oleh pak Adi.


"Mas..." ucap Salma terkejut melihat kehadiran Wahyu dan pak Adi.


Begitu juga bu Rahma yang tak menyangka jika pak Adi juga datang bersama Wahyu.


"Kalau begitu sini biar aku suapi..." kata Wahyu sambil mengambil piring berisi makanan Salma.


Bu Rahma pun bergeser membiarkan Wahyu untuk duduk di samping brankar Salma.


"Tidak perlu mas... aku bisa makan sendiri..." ucap Salma sambil berusaha mengambil piring yang di pegang oleh Wahyu.


"Tidak... biar aku yang suapi..." ujar Wahyu keukeuh.


"Tapi mas..." tolak Salma dengan wajah memerah malu karena ada pak Adi dan bu Rahma disana.


Pak Adi dan bu Rahm pun hanya tersenyum melihat tingkah sepasang kekasih itu. Keduanya kemudian memilih meninggalkan Wahyu dan Salma dan ke luar dari ruangan itu.


"Ayo sekarang kamu makan! bukankah sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi?" titah Wahyu sambil menyodorkan nasi dalam sendok didepan mulut Salma.


"Ayo aaa..." sambungnya.


Mau tidak mau akhirnya Salma pun menuruti perintah Wahyu. Wanita itu pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Wahyu dan mulai memakannya. Salma mengunyah makanannya sambil menatap wajah Wahyu. Dalam hatinya ia memikirkan perkataan ibunya. Benarkah jika saat ini ia boleh egois untuk tetap bersama dengan Wahyu pria yang dicintainya dan juga mencintainya?


Pengalaman ibunya memberinya contoh bahwa tidaknsemua pengorbanan akan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Buktinya pada akhirnya pak Adi masih tetap dikhianati istri yang dijodohkan keluarganya bahkan sampai melahirkan Wahyu. Jadi bolehkah ia egois sekarang?


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Wahyu tiba-tiba.


"Aku hanya berfikir jika seandainya kau ingin menikahi sekarang aku akan menerimanya mas" sahut Salma.


Senyum Wahyu langsung mengembang. Diketakkannya piring yang dipegangnya dan meletakkannya diatas nakas. Setelah itu ia pun langsung memeluk Salma lalu menciumi wajah kekasihnya itu.


"Terima kasih Salma... mulai saat ini aku berjanji akan selalu menjaga dan membuatmu bahagia..." ucap Wahyu.


Salma mengangguk bahagia. Wahyu pun mendekatkan wajahnya pada Salma dan mulai mencium bibir wanita itu dengan lembut. Setelah beberapa saat keduanya saling terbuai hingga keduanya saling melepaskan karena kehabisan nafas.


"Aku akan mengurus semuanya... jadi saat kau keluar dari sini kita akan langsung menikah" kata Wahyu sambil mengelus bibir Salma yang basah akibat perbuatannya.

__ADS_1


Salma hanya tersenyum dan memeluk tubuh Wahyu dengan erat. Akhirnya ia akan menikah dengan orang yang benar-benar dicintainya dan juga mencintainya.


__ADS_2