Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Kritis


__ADS_3

Wahyu memandang wajah Salma yang masih terpejam. Terlihat dengan jelas jika wanita yang sekarang bergelar sebagai istrinya itu masih kelelahan setelah kegiatan panas mereka semalam. Senyum Wahyu kembali mengembang saat teringat jika semalam ia baru mengetahui jika istrinya itu ternyata masih tersegel. Jadi selama ini janda hanyalah status yang disandang oleh Salma. Sementara ia sendiri masih perawan. Ada rasa bahagia dan bangga saat mengetahui bahwa ia adalah orang pertama yang menyentuh Salma.


Perlahan disingkirkannya anak rambut yang menutupi sebagian kening Salma. Wajah polos Salma terlihat sangat cantik dimata Wahyu. Lenguhan kecil terdengar saat wanita itu merasakan gerakan tangan Wahyu yang membelai wajahnya. Perlahan kedua mata Salma terbuka dan saat melihat wajah Wahyu yang tepat berada di depannya ia tampak sedikit terkejut. Sepertinya ia lupa jika keduanya kini telah resmi menjadi suami istri.


"M...mas..." ucapnya terbata.


"Kenapa sayang? apa kau masih lelah?" tanya Wahyu sambil tersenyum.


"A..aku..." ucap Salma menggantung saat ingatannya kembali berputar tentang kegiatan semalam yang telah mereka lakukan.


Wajah Salma seketika memerah dan langsung menunduk karena malu saat mengingatnya. Wahyu yang tahu apa yang ada dalam benak istrinya langsung mengangkat dagu Salma agar wanita itu kembali menatap wajahnya.


"Tidak usah malu sayang... toh kita pasangan yang sah..." kata Wahyu lembut.


Salma menatap wajah Wahyu yang terlihat tampan meski baru bangun tidur. Rasanya seperti mimpi saat mengingat ia kini telah bergelar sebagai seorang istri. Bukan istri kedua namun istri satu-satunya bagi Wahyu.


"Kenapa melamun sayang?" tanya Wahyu.


"Aku hanya merasa masih tidak percaya jika kita sudah resmi menikah mas... dan aku bukan jadi istri kedua..." terang Salma.


Wahyu menghela nafasnya pelan, ia tahu jika Salma masih merasa trauma dengan predikat yang disematkan padanya dulu. Istri kedua... pasti orang lain akan berfikir jika ia hanya seorang pelakor yang menghancurkan rumah tangga orang lain tanpa mengetahui alasan sebenarnya.


"Tidak usah kau ingat lagi masa lalumu itu sayang... toh sekarang kalian sudah hidup bahagia dengan jalan masing-masing..." kata Wahyu mengingatkan Salma jika saat ini baik dirinya maupun mantan suami dan madunya telah hidup bahagia dengan hidup mereka masing-masing.


Bahkan saat Wahyu dan Salma menikah mereka juga datang dan mengucapkan selamat. Masa lalu ketiganya boleh kelam... namun jika mereka bisa saling memaafkan dan memperbaiki hubungan mereka alangkah baiknya bukan?


"Kau benar mas... mungkin semua sudah takdir yang pada akhirnya bisa mempertemukanku denganmu..." ungkap Salma kembali tersenyum.


"Sekarang bagaimana jika kita kembali berjuang untuk bisa menyusul mereka mendapatkan momongan?" ucap Wahyu sambil menaik turunkan alisnya.


"Mas..." protes Salma yang tak menyangka jika Wahyu belum juga puas setelah hampir semalaman mereka menghabiskan waktu bersama.


"Mumpung belum subuh sayang... cuma satu ronde..." bujuk Wahyu yang langsung memberikan rangsangan pada titik lemah Salma yang baru diketahuinya semalam.


Salma yang mendapatkan serangan telak akhirnya pasrah dan bahkan mulai menikmati perlakuan suaminya itu. Hingga keduanya pun kembali mengulang kegiatan mereka semalam yang membuat keduanya kembali bersimbah peluh. Baru saja keduanya selesai dengan kegiatan mereka terdengar suara azan subuh yang membuat keduanya tak bisa kembali memejamkan mata. Mengerti dengan keadaan istrinya yang masih kelelahan Wahyu langsung membopong tubuh Salma ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah selesai keduanya pun melaksanakan sholat subuh berjamaah. Baru setelah melaksanakan ibadah mereka keduanya bisa kembali beristirahat. Wahyu yang merasa candu pada istrinya langsung memeluk tubuh Salma baru kemudian ia bisa tertidur pulas. Demikian juga dengan Salma... ia sama sekali tak merasa keberatan dengan sikap Wahyu. Bahkan ia merasa nyaman merasakan kehangatan dan aroma tubuh suaminya itu.


Di tempat lain...


Bu Desi tampak tengah mengoceh tak karuan di dalam mobilnya. Semalam ia tak pulang ke rumah orangtuanya karena ia lebih memilih untuk pergi ke club dan menghabiskan waktu dengan minum-minum. Meski usianya sudah tidak muda lagi namun ia masih saja hobi minum minuman keras secara sembunyi-sembunyi. Apa lagi jika ia sedang suntuk seperti sekarang ini. Masalah yang ia hadapi sekarang malah membuatnya semakin larut dalam minuman keras.


"Dasar j*l**g b**n****k! ibu dan anak sama saja... selalu saja merebut milikku! awas saja... akan aku singkirkan kalian berdua sekaligus!" ocehnya sambil meremas dan memukuli stir mobilnya.


Sejak berpisah dari pak Adi dan pulang ke rumah orangtuanya bu Desi memang tidak lagi menggunakan sopir untuk mengantarnya kemana-mana. Dia lebih suka menyetir sendiri karena tak ingin sang sopir mengadu pada kedua orangtuanya kemana saja ia pergi. Dengan kesadaran yang masih tersisa ia pun mengemudikan mobilnya pulang. Untung saja ia bisa selamat sampai di rumah dan tak terjaring razia polisi atau pun kecelakaan akibat mengemudi dalam keadaan mabuk.


Sesampainya di rumah tampak semua orang masih tertidur karena waktu masih dini hari. Suasana yang sepi membuat bu Desi bisa langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa harus bertemu dengan kedua orangtuanya terlebih dahulu meski ia berjalan sambil sempoyongan. Setelah masuk ke dalam kamarnya bu Desi langsung menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur. Tak lama dengkuran langsung terdengar dari mulutnya pertanda jika ia sudah tertidur.


Matahari sudah mulai tinggi saat bu Desi mulai mengerjapkan matanya dan terbangun dari tidurnya. Kepalanya langsung terasa pusing akibat ia kebanyakan minum semalam. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya dan berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri ia langsung mengambil obat untuk meredakan rasa pusing dikepalanya.


Dengan tenang ia pun turun ke ruang makan. Ia sudah bisa menduga jika kedua orangtuanya pasti sudah menunggunya di sana sejak tadi. Karena itu ia sengaja memyembunyikan obatnya di dalam saku bajunya.


"Baru bangun kau Des? dari mana saja kau semalam hah?" tanya pak Danu ketus.


Ia tak habis fikir dengan tingkah putrinya itu. Meski tak melihat langsung pak Danu sudah bisa menebak jika putrinya itu pasti habis minum-minum di club semalaman hingga pulang menjelang pagi. Seharusnya putrinya itu mau datang ke pernikahan Wahyu meski belum memberikan restu. Tingkah bu Desi sungguh tidak menunjukkan sikap orang dewasa yang sesuai dengan usianya.


"Jadi kamu minum-minum lagi?" kini bu Anggi yang bertanya pada putrinya itu.


Bu Desi hanya diam dan malah memutar matanya seolah bosan dengan pertanyaan kedua orangtuanya itu.


"Apa kau tidak ingat umur Des? sampai kapan kau akan bersikap seenaknya seperti ini? kau tahu... sikapmu yang seperti inilah yang membuatmu jadi kehilangan suami dan juga anak-anakmu..." kata pak Danu terdengar putus asa.


"Aku tidak salah pa! perempuan itu dan anaknya yang merebut keluargaku sendiri... termasuk kalian!" seru bu Desi.


"Desi! kau..." kalimat pat Danu terpotong karena tiba-tiba saja dadanya terasa sakit dan seakan tak bisa bernafas membuat pria senja itu meremas dadanya.


Bu Anggi yang melihat itu langsung menghambur ke arah suaminya dan mencoba menolongnya.


"Bibik... cepat panggil sopir untuk siapkan mobil saya akan bawa bapak ke rumah sakit!" teriaknya panik.


Dengan tergopoh-gopoh sang Art pun langsung memberi tahu sopir untuk menyiapkan mobil dan membantu membawa tubuh pak Danu untuk masuk ke dalam mobil. Bu Desi yang melihat ayahnya yang kritis tampak terkejut dan panik. Ia tak menyangka perdebatannya dengan orangtuanya telah menyebabkan sang ayah kritis. Namun saat bu Desi hendak ikut masuk ke dalam mobil yang membawa pak Danu bu Anggi malah melarangnya.

__ADS_1


"Kau tidak usah mengurusi kami lagi! urus saja dirimu sendiri!" serunya saat melihat putrinya hendak ikut masuk ke dalam mobil.


Hati bu Anggi sudah sangat sakit hati dengan kelakuan putrinya yang selalu membangkang hingga menyebabkan penyakit jantung suaminya kembali kumat. Mendapat penolakan dari ibunya membuat bu Desi tertegun sebab selama ini hanya ibunya yang selalu bersikap lembut padanya meski ia telah berulang kali melakukan kesalahan. Hingga ia tak menyadari jika mobil yang membawa kedua orangtuanya telah pergi menjauh.


"Pa... tolong bertahanlah!" isak bu Anggi di dalam mobil sambil memangku kepala suaminya.


Pak Danu terlihat tak bereaksi karena sudah tak sadarkan diri.


"Pak percepat mobilnya!" perintah bu Anggi pada sopirnya.


Tanpa menjawab sang sopir langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Untung saja keadaan jalanan cukup sepi sehingga meski melaju dengan kecepatan tinggi tidak mengganggu pengendara yang lain. Sementara bu Desi yang baru tersadar dari keterkejutannya langsung menaiki mobilnya dan menyusul kedua orangtuanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit pak Danu langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan. Bu Anggi hanya bisa pasrah menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan gelisah.


"Bertahanlah mas..." batin bu Anggi yang tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.


Tak berapa lama tampak bu Desi juga sudah berada disana. Namun ia tak berani mendekat ke arah ibunya. Rasa bersalah pada ayahnya dan penolakan ibunya tadi membuatnya tak berani mendekat. Ia hanya bisa berdo'a dalam hati agar ayahnya dapat diselamatkan. Saat akhirnya pintu ruang IGD dibuka dari dalam barulah bu Desi berani mendekat demi mengetahui keadaan ayahnya langsung dari dokter.


"Keluarga pak Danu?"


"Iya dok... saya istrinya..." sahut bu Anggi.


Sedang bu Desi hanya diam dan berdiri disebelah ibunya itu.


"Begini bu... pak Danu mengalami serangan jantung yang cukup parah yang menyebabkan beliau dalam kondisi kritis... namun ibu jangan khawatir sebab kami sudah berhasil membuat kondisinya stabil... namun begitu beliau masih harus dirawat intensif selama beberapa hari kedepan..." terang sang dokter yang membuat bu Anggi dan bu Desi merasa sedikit lega karena nyawa pak Danu masih selamat.


"Bisa saya menemui suami saya dok?" tanya bu Anggi yang ingin segera melihat keadaan suaminya.


"Bisa bu... tapi setelah kami pindahkan ke ruang perawatan" terang sang dokter.


"Baik dok... terima kasih sebelumnya karena telah menyelamatkan nyawa suami saya..." sahut bu Anggi tulus.


"Sama-sama bu... kalau begitu saya permisi" kata dokter tersebut undur diri.


"Iya dok..." kata bu Anggi.

__ADS_1


Tak berapa lama terlihat pak Danu dibawa keluar dari dalam ruang IGD untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Bu Anggi dan bu Desi langsung mengikuti para perawat yang membawa tubuh pak Danu menggunakan brankar menuju ke ruang perawatannya. Selama itu pula keduanya hanya saling diam.


__ADS_2