Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Bertemu


__ADS_3

Hari ini Wahyu kembali masuk ke kantor setelah beberapa hari ia hanya fokus pada kesembuhan Salma. Sebenarnya ia masih enggan namun ada meeting penting yang harus ia hadiri dan tidak bisa ia wakilkan. Bahkan pak Adi juga harus ikut karena ini permintaan khusus sang klien yang meminta Wahyu dan pak Adi yang langsung menemuinya. Entah mengapa sesungguhnya Wahyu sedikit merasa curiga dengan keinginan kliennya saat ini. Tapi demi perusahaan ia pun harus profesional dan mengikuti kemauan kliennya.


Salma yang masih harus berada di rumah sakit untuk beberapa hari lagi karena masih memulihkan lukanya kini sedang ditemani oleh ibunya. Bu Rahma tampaknya sudah tidak berkeinginan untuk memisahkan Wahyu dengan Salma setelah pak Adi berjanji akan melindungi Salma. Tampak keduanya tengah berbincang saat tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruang perawatan Salma.


"Bagus sekali kamu ya... sengaja membuat anak dan suami saya membenci saya!" seru bu Desi begitu masuk.


Bu Rahma yang saat itu membelakangi pintu karena duduk menghadap Salma yang tidur diatas brankarnya langsung menoleh. Bu Desi yang masih mengenali bu Rahma sebagai mantan dari pak Adi pun langsung melotot tak mengira jika calon mertua Wahyu adalah bu Rahma.


"Kau!" serunya sambil menunjuk ke arah bu Rahma.


"Iya... kenapa?" tanya bu Rahma tenang.


"Jangan bilang kalau dia itu putrimu!" kata bu Desi menunjuk Salma.


"Dia memang putriku!" sahut bu Rahma.


"Jadi ibu dan anak sama-sama menginginkan milikku hah!"


"Milikmu? apa maksud dari perkataanmu?"


"Tentu saja suami dan anakku!" sergah bu Desi marah.


"Jangan asal bicara!" bu Rahma tak terima jika ia dan anaknya dianggap sebagai perebut milik orang.


Salma tampak bingung dengan pertengkaran bu Desi dengan ibunya. Ia tak mengerti jika mama Wahyu itu menyeret ibunya dalam permasalahan mereka.


"Aku tidak asal bicara... pasti kau sengaja menyuruh putrimu untuk menggoda putraku agar kau juga bisa menggoda suamiku!" seru bu Desi.


Plaaakkk!


Sebuah tamparan mengenai pipi bu Desi. Langsung saja bekas merah tercetak jelas diwajahnya yang baru saja melakukan perawatan.


"Aaarrghh...." ringis bu Desi sambil memegangi pipinya yang memerah.


"Jangan memutar balikkan fakta! siapa yang merebut siapa? apa kau sudah lupa? atau kau pura-pura amnesia?" seru bu Rahma geram.


Cukup sudah kesabarannya pada bu Desi... dulu ia mau mengalah dan memilih pergi dari pak Adi. Tapi sekarang untuk putrinya ia tak akan lagi mau mengalah. Kebahagiaan Salma adalah prioritasnya meski harus kembali berhadapan dengan orang-orang licik dari masa lalunya.

__ADS_1


Bu Rahma maju mendekat ke arah bu Desi dan mendorong wanita itu untuk keluar dari ruang perawatan putrinya. Ia tak ingin masa penyembuhan putrinya terganggu dengan kehadiran bu Desi. Namun wanita itu ternyata tak mau menyerah dan berontak sehingga bu Rahma sekali lagi menghadiahinya dengan tamparan.


Plaakk!


Bu Desi terkejut... wanita lemah yang dulu ia kenal sudah berubah menjadi singa betina. Saat itu juga bu Rahma menyeret bu Desi keluar dari ruangan Salma.


"Jangan sekali-kali kau berani lagi mengancam dan berusaha mencelakai putriku! atau kau akan melihat kemarahanku yang sesungguhnya!" ancam bu Rahma.


Bu Desi mematung di depan pintu yang sudah ditutup oleh bu Rahma. Perempuan itu sudah berubah! sepertinya ia tidak akan mudah menekan Salma untuk tidak mendekati Wahyu. Bu Desi kini juga khawatir jika perubahan sikap suaminya juga karena keberadaan bu Rahma.


"Siaaal! kenapa harus wanita itu yang menjadi ibu dari perempuan miskin itu?" maki bu Desi dalam hati.


Pantas saja pak Adi tampak sangat setuju jika Wahyu berjodoh dengan Salma. Sepertinya suaminya itu ingin menyambung kisahnya pada keduanya.


"Tidak! ini tidak bisa dibiarkan! jika Wahyu benar menikah dengan Salma maka mas Adi akan sering bertemu dengan perempuan itu... dan mungkin saja perasaannya yang dulu akan kembali apa lagi mas Adi sudah tahu jika Wahyu bukan anak kandungnya!" batin bu Desi saat meninggalkan rumah sakit.


"Saat ini aku harus minta bantuan pada papa dan mama mertua... sepertinya mereka belum tahu jika Wahyu bukan cucu mereka" batin bu Desi mulai bisa tersenyum.


Ia lalu menyuruh sopirnya untuk membawanya ke rumah mertuanya. Ia harus bertindak cepat agar mendapat dukungan dari mertuanya. Sebelum pak Adi membongkar aibnya pada kedua mertuanya itu dan menghancurkan rencananya.


Sementara Wahyu dan pak Adi tengah menunggu klien mereka di sebuah restoran didampingi asisten mereka. Tak lama orang yang mereka tunggu pun datang. Tampak seorang pria paruh baya dengan perawakan tambun datang bersama dua orang wanita. Seorang tampak sebaya dengan pria itu sedang yang lainnya tampak lebih muda. Pak Adi dan Wahyu saling pandang tak mengerti dengan sikap klien mereka kali ini.


"Tidak apa-apa pak Dedi... kami juga baru saja sampai" kata pak Adi ramah.


"Perkenalkan ini istri dan juga putri saya Laras..." terang pak Dedi.


"Maaf pak... saya fikir ini bukan acara makan keluarga..."


"Pak Adi tidak usah kaget... istri saya ini juga salah satu pemegang saham di perusahaan saya begitu juga putri saya yang sudah bekerja disana" terang pak Dedi sambil tersenyum penuh arti.


"Baiklah bagaimana jika kita langsung bicara tentang tujuan kita kemari?" kata pak Adi setelah sebelumnya mereka memesan makanan pada pelayan di sana.


Mereka pun langsung membahas bisnis yang sedang mereka melakukan bersama. Setelah mereka mencapai kesepakatan pak Adi pun pamit untuk kembali ke kantor bersama Wahyu dan asisten mereka. Namun pak Dedi menahan keduanya dan meminta agar pak Adi menyuruh asistennya untuk kembali ke kantor terlebih dahulu karena ada yang ingin ia bicarakan dengan pak Adi dan Wahyu.


Tak mau menyinggung kliennya pak Adi pun menuruti permintaan pak Dedi. Meski Wahyu sudah menampakkan tampang dinginnya.


"Sekarang katakan apa yang anda inginkan?" tanya pak Adi pada pak Dedi.

__ADS_1


"Begini pak Adi... nak Wahyu... sejak dulu saya mengagumi kalian berdua sebagai ayah dan anak yang menjadi pengusaha sukses dan sangat dihormati di kota ini... jadi saya ingin sekali menjalin hubungan dengan keluarga anda dengan menjodohkan putri saya dengan nak Wahyu..." kata pak Dedi menerangkan maksudnya.


Istri dan putrinya pun terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala mengiyakan maksud dari pak Dedi. Wajah Wahyu langsung memerah tak menyangka jika keluarga yang dihadapannya bisa berfikir untuk menjodohkan dirinya dengan putri mereka.


"Maaf pak Dedi... apa pak Dedi belum tahu jika sebentar lagi putra saya akan menikah menikah dengan tunangannya?" kata pak Adi berusaha tenang.


"Saya tahu... tapi bukankah penawaran saya lebih menarik? putri saya masih gadis dan dari keluarga terpandang disamping itu perusahaan kita akan lebih kuat dari sebelumnya jika kita menjadi keluarga dibandingkan dengan calon istri nak Wahyu yang seorang janda dan hanya penjual gorengan" kata pak Dedi tak mau menyerah.


"Apa bapak fikir jika hanya karena status janda maka ia tak pantas bersanding dengan saya? padahal banyak diluaran sana yang berstatus gadis tapi tidak bisa menjaga kehormatannya. Hanya karena alasan cinta atau bahkan hanya untuk sekedar merasakan s*k* sebelum waktunya mereka menyerahkan keperawanannya pada sembarang pria" sergah Wahyu yang tak terima status Salma dipermasalahkan.


"Apa maksud anda anak saya tidak bisa menjaga kehormatannya?" tanya pak Dedi berang.


"Saya tidak bilang begitu... tanyakan saja pada putri anda sendiri!" sahut Wahyu datar.


Pak Dedi kini menatap putrinya tajam. Selama ini ia memang tahu jika pergaulan putrinya cukup bebas. Tapi sebagai ayah ia masih percaya jika putrinya masih bisa menjaga kehormatannya dan hanya menyerahkannya pada suaminya kelak. Ia juga tak terima dengan perkataan Wahyu yang seolah menyindir putrinya. Tak disangka wajah putrinya kini justru terlihat pucat.


"Apa yang dikatakan Wahyu benar? bahwa kau sudah tidak bisa menjaga kehormatanmu?" tanya pak Dedi dengan suara dingin.


"A... aku...."


"Maaf pak Dedi... saya fikir ini sudah menyangkut urusan pribadi keluarga anda... lebih baik kalian bicarakan di rumah saja" potong pak Adi yang tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga orang lain.


"Baik terima kasih..." kata pak Dedi lalu langsung berdiri.


"Kita pulang sekarang!" titahnya pada anak dan istrinya.


Kedua wanita ibu dan anak itu pun langsung mengikuti langkah pak Dedi meninggalkan tempat itu. Sudah bisa ditebak jika akan ada badai besar menanti mereka di rumah.


"Apa kau mengenal putri pak Dedi sebelumnya... hingga kau tahu jika wanita itu bukan wanita baik-baik?" tanya pak Adi saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Tidak... aku hanya menunjukkan fakta bahwa saat ini banyak sekali wanita bertopeng yang mengaku suci namun busuk hati dan perbuatannya" sahut Wahyu.


"Hemm... kau benar..." ucap pak Adi.


"Dan sayangnya salah satu diantara mereka adalah mamamu..." sambung pak Adi dalam hatinya.


Keduanya pun lalu kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaan mereka. Saat waktu pulang tiba Wahyu bergegas menuju ke rumah sakit untuk menemui Salma. Ia sungguh sangat merindukan kekasihnya itu meski baru sehari mereka tidak berjumpa. Sementra Salma tengah berbincang dengan ibunya serius.

__ADS_1


"Bu... sebenarnya ada masalah apa antara ibu dengan mamanya mas Wahyu? sepertinya ia sudah mengenal ibu sebelumnya dan dia juga terlihat sangat membenci ibu" tanya Salma penasaran.


Bu Rahma menghela nafasnya pelan... ia berfikir mungkin ini sudah saatnya ia menceritakan masa lalunya dengan pak Adi dan juga bu Desi pada Salma agar putrinya itu tidak salah faham jika seandainya bu Desi menggunakan masa lalu mereka untuk menekan putrinya itu.


__ADS_2