Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Pernikahan


__ADS_3

Bu Rahma menyetujui permintaan Wahyu yang ingin merahasiakan persiapan pernikahannya dengan Salma. Sebagai orangtua ia hanya ingin putrinya bahagia. Meski tidak ada kebahagiaan yang sempurna karena masih ada kerikil tajan yang akan menghalangi kebahagiaan keduanya. Tapi bu Rahma yakin jika Wahyu mampu melindungi dan membahagiakan Salma.


Salma yang tak tahu jika persiapan pernikahannya sudah berlangsung terlihat masih biasa saja. Ia hanya fokus pada kesembuhannya dan sesekali memeriksa kiosnya dengan di antar oleh Wahyu. Pria itu sungguh menjaganya agar tak terlalu capek. Hingga satu minggu kemudian tiba-tiba kedua adiknya datang bersama suami dan anak-anak mereka. Pada Salma mereka beralasan ingin menjenguk Salma karena saat ia baru pulang dari rumah sakit mereka tidak sempat menjemputnya dan mengantarkannya pulang.


Salma sangat bahagia dengan kedatangan adik-adiknya dan juga keluarganya. Karena rumah kontrakan Salma tidak terlalu besar membuat suasana rumah menjadi sangat ramai dengan kedatangan mereka. Sehari kemudian saat Salma baru bangun dari tidurnya ia mendengar keramaian di rumahnya bertambah. Entah apa yang sedang terjadi pasalnya meski sejak kedua adiknya dan keluarga mereka datang suasana rumah menjadi ramai tapi tidak sepagi ini. Terdengar suara orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. Saat Salma baru saja membuka pintu kamarnya terlihat Shania sudah berdiri didepan pintu.


"Ada apa Nia, kok sepertinya pada sibuk semua?" tanya Salma penasaran.


"Hem hari ini kita akan pergi ke pesta kak..." sahut Shania sambil tersenyum.


"Pesta?" tanya Salma tak mengerti.


"Udah kakak ikut aja yuk... dari pada dirumah sedirian..." sambung Shania.


"Memang semuanya pergi?"


"Iya... ibu juga ikut kok... jadi kakak ikut ya..." bujuk Shania.


"Baiklah... kakak ganti baju dulu..."


"Pakai baju ini saja gantinya" kata Shania sambil memberikan sebuah paper bag pada Salma.


Salma pun mengangguk dan mengambil paper bag itu dari Shania dan membawanya ke dalam kamar. Setelah selesai mandi ia pun segera membuka paper bag itu dan mengambil gaun yang ada di dalamnya. Saat melihatnya Salma agak terkejut saat melihat ternyata itu merupakan kebaya panjang dengan warna peach yang sangat anggun. Dengan sekali lihat saja Salma tahu jika kebaya itu sangat mahal dan bukan untuk pesta biasa.


Dengan sedikit ragu ia pun mengenakannya. Tak lama terdengar ketukan dan terdengar suara Sakina yang memanggilnya.


"Kak... kakak sudah berpakaian?" tanyanya.


"Iya... masuklah" sahut Salma.


Tak lama pintu pun dibuka dari luar dan Sakina pun masuk bersama seseorang yang membawa tas besar.


"Kak... ini Ayu... dia yang akan merias kakak..." terang Sakina.


"Merias? tapi akukan bisa sendiri Na..." tolak Salma.


"Sudah... kak nurut saja... nanti di pesta ada kak Wahyu lho... biar dia pangling melihat kakakku ini yang jadi bertambah cantik..." bujuk Sakina.


"Tapi Na..."


"Ga pa-pa kak... demi kak Wahyu kakak harus tampil beda hari ini..."


"Baiklah..." Salma pun akhirnya menurut dan membiarkan Ayu untuk merias wajahnya.

__ADS_1


Selang satu jam kemudian tampak Ayu sudah menyelesaikan tugasnya. Saat melihat hasilnya Salma tampak sangat terkejut. Pasalnya ia sampai tidak dapat mengenali diriny sendiri dalam riasan itu.


"Nona Salma cantik sekali... pasti semua orang sangat terkejut dan terpesona dengan penampilan nona saat ini... terutama tuan Wahyu..." ucap Ayu sambil tersenyum.


"Terima kasih..." sahut Salma yang tersipu.


"Kakak... kakak cantik sekali..." seru Shania dan Sakina saat keduanya masuk ke dalam kamar Salma dan melihat penampilan Salma.


"Memangnya kita mau kemana? sampai aku harus dirias seperti ini?" tanya Salma saat kedua adiknya membawanya keluar dari dalam kamar.


"Ke pesta kakak..." jawab Sakina sambil mengerling pada Shania.


"Iya pesta... tapi pesta dimana?"


"Di hotel kakak... jadi kita semua harus tampil beda..." kini Sakina yang menjawab.


Salma pun mengangguk faham. Tak lama bu Rahma menghampiri ketiga putrinya. Senyumnya langsung mengembang melihat penampilan Salma.


"Kau cantik sekali sayang..." ucapnya sambil memeluk putri sulungnya itu.


Tanpa ia sadari setetes air mata lolos dari kelopak matanya.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Salma saat melepas pelukan ibunya dan melihatnya menangis.


"Ayo kita berangkat sekarang... nanti kita terlambat..." ajak Agung suami Sakina.


Mereka pun berangkat dengan mobil ke tempat acara dengan tiga mobil. Salma berada dalam satu mobil bersama ibunya sementara yang lain dengan mobil yang lainnya.


"Ibu... kenapa menyewa mobil begitu banyak hanya untuk datang ke pesta?" tanya Salma.


"Kamu tidak usah memikirkannya Salma... semua ini sudah disiapkan oleh Wahyu" terang bu Rahma.


Salma semakin bingung dengan semua yang dialaminya. Tapi saat ia bertanya ibunya selalu mengelak seolah tengah memyembunyikan sesuatu darinya. Ibunya hanya mengatakan jika nanti ia juga akan tahu semuanya saat mereka sampai di tempat acara. Akhirnya Salma pun hanya bisa bersabar menunggu hingga sampai ke tempat acara untuk mengetahui semuanya.


Sementara di rumah orangtuanya bu Desi tampak sangat marah dan membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya.


"S**l! berani sekali mereka melakukan semuanya tanpa memberitahukannya padaku!" teriaknya.


"Ada apa ini?" seru pak Danu.


"Mereka sudah tidak menganggapku lagi pa... Wahyu menikah hari ini dan tak satu pun ada yang memberitahukannya padaku! aku tahu justru dari temanku yang mendapatkan undangannya" kata bu Desi dengan wajah merah.


"Memang apa yang mau kau harapkan lagi setelah semua kesalahan yang kau lakukan selama ini hah?"

__ADS_1


"Tapi aku ibu kandung Wahyu pa..."


"Sekarang kau bilang ibu kandung? sedang selama ini kau sama sekali tidak mau memikirkan perasaan putramu!" ketus pak Danu.


Sebenarnya ia juga sudah mendapatkan undangan dari pak Adi tentang pernikahan Wahyu namun karena tahu jika putrinya itu kak menyetujui pernikahan Wahyu dengan wanita pilihannya pak Danu sengaja tak memberitahukannya pada bu Desi. Ia takut jika putrinya itu akan menggagalkan rencana pernikahan Wahyu. Walau bagaimana pun pak Danu juga tak ingin cucunya tidak mendapatkan kebahagiaannya hanya karena keegoisan mamanya sendiri.


"Lalu kau mau apa sekarang?" tanya pak Danu lelah.


Diusianya yang sudah senja ini putrinya masih saja membuat masalah. Bukannya berusaha berubah tapi malah semakin menjadi.


"Aku tidak rela jika anak dari perempuan miskin itu jadi menantuku pa!" seru bu Desi.


"Tapi Wahyu mencintainya nak... begitu juga wanita itu meski ia seorang janda" sahut pak Danu yang tak mengerti dengan perilaku putrinya.


"Tapi dia putri Rahma pa! wanita yang dulu hampir menikah dengan mas Adi!" terang bu Desi akhirnya.


"Wanita itu pasti sudah merencanakan semuanya setelah putrinya menikahi Wahyu ia juga akan merebut mas Adi dariku!" sambungnya.


"Merebut Adi? apa papa tidak salah dengar Desi? bukannya dulu kau yang merebut Adi dari wanita itu? dan kamu pula yang berselingkuh hingga melahirkan Wahyu. Meski Gita anak Adi tapi bagaimana bisa sampai saat ini kamu masih menyimpan foto selingkuhanmu itu? dan kini kau malah menuduh orang lain yang akan merebut Adi! ingat Des... Adi sudah menggugat cerai kamu!" seru pak Danu sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Papa! papa kenapa?" teriak bu Anggi melihat suaminya meremas dadanya sendiri.


Dengan segera wanita senja itu memapah tubuh suaminya lalu mendudukkannya di sofa.


"Desi! kenapa kau tidak bisa berubah dan malah membuat papamu seperti ini?" seru bu Anggi.


"Sudahlah ma... ini memang salah kita yang tidak bisa mendidiknya..." kata pak Danu.


"Kau tahu Des... sebenarnya mereka sudah mengundang kita tapi papa sengaja tidak memberitahukannya padamu karena papa tahu kau pasti akan mengacaukan pernikahan Wahyu... untuk kali ini papa mohon kau bisa menahan egomu demi kebahagiaan Wahyu..." ucap pak Danu.


Kemudian pria itu pun mengajak istrinya keluar dari kamar bu Desi untuk berangkat ke tempat acara pernikahan Wahyu karena sebentar lagi akad akan dilaksanakan. Sebagai kakek dan nenek Wahyu mereka ingin menghadiri acara yang sangat penting bagi Wahyu cucu mereka. Sementara bu Desi hanya berdiri mematung ditempatnya. Kini ia merasa sendirian bahkan kedua orangtuanya pun tak lagi mau membelanya apalagi mendukung dirinya.


"Aaarrggh.... kenapa semua orang membenciku? semua ini memang gara-gara perempuan miskin itu dan juga anaknya! awas saja akan aku balas kalian semua!" teriaknya sambil kembali melempar barang apa saja yang ada didekatnya.


Sementara Salma dan keluarganya sudah tiba di depan sebuah hotel yang terlihat sangat megah. Mereka pun langsung berjalan menuju ball room tempat diadakannya acara. Semakin mendekati tempat acara Salma sudah bisa menduga jika mereka akan menghadiri acara pernikahan. Tapi pernikahan siapa? batin Salma. Sedang ia sama sekali tak merasa menerima undangan pernikahan dari siapa pun. Saat ia memasuki ruang ball room yang kini sudah diubah menjadi ruang untuk pernikahan barulah ia sadar jika ini acara pernikahannya sendiri karena semua dekorasi yang ada adalah yang sudah ia dan Wahyu sepakati dengan pihak WO.


Salma tak mungkin melupakan desain yang ia pesan sendiri saat itu bersama Wahyu karena itu merupakan desain yang ia impikan. Di tambah lagi saat ia sudah melihat Wahyu yang sudah duduk dikursi bersama pak Adi dan beberapa orang di tengah ruangan yang sepertinya merupakan tempat untuk mengucapkan akad. Salma memandang ibunya dengan tatapan bertanya.


"Ini semua keinginan Wahyu nak... ia ingin kalian segera menikah... tapi ia tak ingin membuatmu lelah karena dalam masa pemulihan jadi dia sendiri yang mengurusnya..." terang bu Rahma akhirnya.


Mata Salma berkaca-kaca tak menduga jika Wahyu sudah berbuat sejauh itu untuk melaksanakan pernikahan mereka.


"Jangan menangis sayang... nanti riasanmu rusak! jadilah pengantin yang cantik dan bahagia" kata bu Rahma saat melihat Salma yang hampir menangis.

__ADS_1


Kemudian bi Rahma dan Shania mengapit Salma untuk berjalan menuju ke tempat Wahyu yang sudah menunggunya di depan meja akad. Disana juga sudah ada penghulu dan juga paman Salma yang akan menjadi wali nikah. Wahyu yang melihat Salma yang terlihat sangat cantik tampak terpesona. Sedangkan Salma tampak tersenyum simpul. Meski ia terkejut dengan pernikahannya namun tidak dapat ia pungkiri jika hatinya saat ini sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan sah menjadi istri Wahyu.


__ADS_2