
Dengan bersusah payah Salma berusaha untuk terlihat tenang padahal kini hatinya sedang berdegup kencang. Tatapan Amran yang terasa menusuk hatinya membuat Salma langsung menundukkan wajahnya.
"Aku tak akan memaksamu untuk membalas perasaanku padamu tapi setidaknya jangan jauhi aku..." ucap Amran.
"Jika saat ini kau ingin sendiri akan aku biarkan kau pulang ke rumah ibumu...tapi hanya beberapa hari saja" sambungnya.
Mendengar ucapan Amran, Salma pun langsung mendongakkan kepalanya menatap mata Amran. Ia tak menyangka jika Amran akan mengijinkannya pulang ke rumah ibunya walau hanya untuk beberapa hari saja.
"Mas serius?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca dan senyumnya pun mulai terbit dibibirnya.
Amran pun mengangguk membenarkan. Sehingga wajah Salma langsung tampak bahagia.
"Tapi aku harus bilang apa pada Nadia?" ucapnya saat teringat jika ia juga harus memberitahu Nadia tentang kepulangannya ke rumah ibunya.
Wajahnya pun seketika kembali sendu. Amran mendesah pelan. Tampaknya memang Nadia merupakan penghalang kebahagiaan Salma walau pun yang paling sederhana.
"Itu biar aku pikirkan nanti ... kau tenang saja" kata Amran mengelus kepala Salma pelan lalu membenamkannya ke dalam dadanya.
"Mulai sekarang kau tak perlu khawatir aku akan berusaha untuk melindungimu semampuku" ucap Amran sambil memeluk tubuh Salma.
Dan gadis itu pun tak lagi berontak saat Amran kembali memeluknya. Bahkan Salma seperti menikmati perlakuan lembut Amran padanya yang selama ini tak pernah dirasakannya.
"Tidurlah... besok pagi sekali akan kuantar ke rumah mama agar Nadia tak curiga..." sambungnya.
Salma pun mulai memejamkan matanya. Dan ajaib baru sebentar saja ia langsung tertidur pulas. Amran mengecup kepala Salma sebelum kemudian ia pun menyusul Salma ke alam mimpi. Dan keduanya pun tidur dengan saling berpelukan. Pagi hari saat Salma bangun dari tidurnya ia merasakan jika Amran belum juga melepaskan pelukannya.
Salma menatap wajah suaminya yang kini berada disampingnya dan tampak masih terlelap. Baru kali ini Salma dapat memperhatikan wajah Amran dari dekat. Saat ini sebenarnya hatinya sedang sangat sakit sebab ia harus menutupi sebuah rasa yang kini hadir dalam hatinya untuk Amran. Sebab ia sadar bahwa ada Nadia diantara mereka. Walau statusnya istri kedua namun ia tak mau merebut Amran dari sepupunya itu. Karena itulah air mata Salma mulai meleleh membasahi pipinya.
Hatinya semakin sakit sejak pengakuan Amran semalam. Amran mulai mencintainya? sedang dirinya juga merasakan hal yang sama. Tapi apakah rasa yang kini hadir diantara mereka itu benar? sebab Salma sadar ia akan menjadi yang kedua dan selamanya orang akan menganggapnya sebagai pelakor. Ya Allah ... kenapa nasib percintaannya harus seperti ini? setelah sekian lama menyendiri hidupnya harus berubah demi menyelamatkan nyawa sepupunya sendiri yang ternyata hanya ingin membalas dendam padanya. Dan kini ia malah jatuh cinta pada orang yang dijadikan alat balas dendam oleh sepupunya itu.
"Kenapa kau menangis?" Salma tersentak kaget karena ternyata Amran sudah bangun dan melihatnya sedang menangis.
Dengan lembut Amran membersihkan air mata yang masih menetes dari mata Salma.
"Jangan pernah menangis lagi kecuali karena bahagia..." sambung Amran.
Wajah pria itu tampak sangat teduh saat mengucapkan kata-kata itu yang membuat Salma bertambah sesak karena harus memungkiri perasaannya sendiri. Tiba-tiba Amran mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Salma lembut. Gadis itu pun membelalakkan matanya karena kaget sebab Amran telah mengambil ciuman pertamanya. Jantung Salma serasa mau melompat dari tempatnya mendapat perlakuan dari Amran itu. Tak berbeda dengan Amran yang juga merasakan debaran hebat didadanya saat melakukan ciuman itu. Bahkan ia menahan tengkuk Salma agar mereka dapat berciuman lebih lama.
Barulah saat keduanya merasa kehabisan nafas Amran menghentikan ciumannya. Tampak keduanya tersengal setelah aktifitas yang baru saja mereka lakukan. Amran mengusap bibir Salma lembut. Tampak jika bibir itu sedikit memerah setelah apa yang ia lakukan tadi.
"Apa kau marah?" tanyanya saat melihat Salma menundukkan wajahnya.
Gadis itu menggeleng pelan. Bagaimana Salma bisa marah sedang tadi dia juga merasa menikmatinya. Lagi pula keduanya masih suami istri jadi tak ada yang salah jika mereka berciuman bahkan jika mereka berbuat lebih. Amran pun tersenyum dan kembali melakukan apa yang tadi dimulainya. Tapi kali ini ia melakukannya dengan lebih agresif yang membuat Salma langsung menahan dada Amran karena ia tak ingin melakukan yang lebih. Mendapat penolakan halus dari Salma, Amran pun sadar jika dirinya sudah lepas kendali dan menuruti nafsunya tadi.
__ADS_1
"Maaf..." ucapnya pelan takut jika Salma akan menjauh darinya karena dirinya yang tidak dapat menahan hasratnya.
Salma pun mengangguk.
"Kita sholat saja ya mas..." ajak Salma mengalihkan pembicaraan.
Amran pun mengangguk dan mereka pun bersiap sebab sayup-sayup sudah terdengar suara adzan. Baru kali ini Amran menjadi imam sholat. Sebab selama ini ia dan Nadia selalu sholat sendiri-sendiri atau hanya ia yang melaksanakan kewajiban bagi umat muslim itu? sebab selama ini ia jarang sekali melihat Nadia melaksanakan kewajibannya itu dirumah.
Selesai sholat keduanya pun bersiap untuk ke rumah mama Aya. Sengaja mereka datang pagi sekali agar tak dicurigai Nadia. Keduanya pun langsung menaiki mobil yang dibawa Amran kemarin.
"Mas ini mobil siapa?" tanya Salma yang sudah penasaran sejak kemarin.
"Ini mobilku juga Ma... dulu sebenarnya aku ingin memberikannya pada Nadia tapi dia menolaknya. Padahal aku sudah terlanjur membelinya jadi aku simpan saja di apartemen dan sesekali aku gunakan" terang Amran.
"Apa Nadia tahu tentang mobil ini dan apartemen?".
"Tidak... aku belum menceritakannya pada Nadia" ucap Amran.
"Lalu mobil mas yang biasa dimana?"
"Di apartemen hanya aku parkirkan agak jauh di dalam jadi kau tak melihatnya" sambung Amran.
Salma pun mengangguk faham. Sesampainya di depan rumah mama Aya mobil mereka langsung dibukakan pintu gerbang oleh pak satpam saat melihat jika pengemudinya adalah Amran. Saat masuk ke dalam rumah tampak mama Aya menyambut keduanya dengan masih mengenakan mukena.
"Iya ma... maaf mengganggu mama pagi-pagi" kata Salma sambil mencium punggung tangan mama mertuanya itu.
Amran yang melihat pemandangan di depannya tersenyum senang.
"Ayo kalian duduk dulu... mama akan segera kembali" ujar mama Aya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mereka semua duduk di ruang keluarga mama Aya langsung meminta penjelasan dari putranya itu. Kemudian Amran pun menceritakan semuanya hingga ia dan Salma terpaksa harus menginap berdua di apartemen. Mama Aya menghela nafas pelan. Sebenarnya di dalam hatinya ia merasa bahagia mengetahui ternyata anak dan menantunya itu bisa semakin dekat. Tapi ia tahu akan sulit bagi keduanya untuk bersatu karena ada Nadia diantara mereka.
"Mama akan membantu kamu sayang... kalian tidak usah khawatir Nadia tidak akan pernah tahu" ucap mama Aya sambil menggenggam tangan Salma.
"Kalau begitu aku langsung kembali ke apartemen ya ma..." ucap Amran sambil mencium punggung tangan mamanya lalu mengangsurkan tangannya pada Salma.
Salma pun reflek menyambut tangan suaminya dan mencium punggung tangan Amran. Mama Aya tersenyum melihat keduanya yang mulai akur. Setelah Amran pergi mama Aya memanggil seluruh asisten rumahnya termasuk juga satpam yang menjaga pintu gerbang. Ia memerintahkan jika ada yang bertanya mereka harus menjawab bahwa Salma sejak semalam menginap di sana sedang Amran belum pernah datang ke sana. Semua pekerja di rumah mama Aya pun patuh dengan perintah dari nyonyanya itu.
"Kita sarapan dulu saja ya sayang..." ajak mama Aya setelah semua kembali pada tugas mereka masing-masing.
"Iya ma..." sahut Salma.
Keduanya pun lalu makan bersama. Saat itulah terdengar suara bel rumah. Sang asisten rumah tangga pun langsung melihat siapa yang datang. Tak lama ia pun kembali untuk memberitahu nyonyanya.
__ADS_1
"Nyonya di depan ada nona Nadia..." lapornya.
"Baiklah saya akan menemuinya... ingat ya apa yang sudah saya katakan tadi" ucap mama Aya.
"Iya nyonya...." lalu ia pun undur diri.
"Ayo Ma... kita temui Nadia" ajak mama Aya.
Salma pun mengangguk dan mengikuti mama mertuanya menemui Nadia. Hari ini wajah Nadia tampak kusut walau sudah ia tutupi dengan make up.
"Pagi ma..." sapa Nadia sambil memeluk mama Aya.
"Tumben kamu pagi-pagi sudah kemari?" tanya mama Aya pura-pura polos.
"Em itu ma... aku kangen sama Salma" ucapnya asal. Mama Aya dan Salma saling pandang.
"Aneh... bukannya Salma baru menginap semalam di sini? kau ini seperti anak kecil yang kehilangan ibunya saja..." kata mama Aya.
Nadia menelan ludahnya mendengar perkataan mama Aya yang seperti menyindirnya.
"Memangnya kamu sendirian dirumah? bukannya Amran selalu bersamamu?" cecar mama Aya.
"Itu ma... mas Amran semalam ga pulang ke rumah karena masih di luar kota ada urusan pekerjaan" jelas Nadia.
"Kamu sudah sarapan Nad?" tanya Salma berusaha mencairkan suasana yang semakin memanas.
"Aku sudah janji dengan temanku untuk sarapan bersama Ma" ucap Nadia yang tak ingin berlama-lama di rumah mama Aya.
Salma pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya ma... dan kamu Salma nanti langsung pulang ke rumah ya" kata Nadia yang seperti memerintah Salma.
"Eh... Salma masih akan menginap di sini dulu selama satu minggu ke depan" sergah mama Aya.
"Memangnya kenapa ma?" tanya Nadia terkejut.
"Sama seperti alasan kamu kemari mama juga masih kangen sama Salma" sahut mama Aya cuek.
"Tapi ma... kenapa lama sekali?"
"Terserah mama... lagi pula Salma juga tidak keberatan iya kan Salma?" tanya mama Aya pada Salma.
"Iya ma..." jawab Salma yang tak bisa menolak permintaan mama mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah ma... terserah mama saja" ucap Nadia akhirnya. Kemudian ia pun berpamitan dan segera pergi dari sana.