
Seorang pria tengah memeriksa bubu yang sudah ia pasang sejak kemarin. Ia berharap akan mendapatkan ikan yang banyak sehingga bisa ia jual dan mendapatkan uang untuk membeli beras. Sudah dua buah bubu yang ia periksa dan hasilnya lumayan, drum bekas minyak tempatnya meletakkan ikan hasil tangkapannya hari ini sudah hampir penuh. Pria itu pun bersenandung riang sambil berjalan menuju bubu terakhir yang ia tempatkan agak ke tengah sungai.
Hanya batang pohon tumbang yang melintang di aliran sungai yang menjadi penahan agar bubu yang dipasangnya tidak hanyut terbawa arus sungai. Saat ia tiba di tempat ia meletakkan bubu terakhirnya alangkah terkejutnya ia saat melihat sesosok tubuh manusia yang tersangkut tepat di tempat dimana ia menaruh bubunya. Karena takut pria itu langsung berlari ke arah kampungnya tanpa terlebih dahulu memeriksa sesosok tubuh tersebut. Drum tempatnya menyimpan ikan pun tertinggal di tepi sungai.
"Tolong! tolong! ada mayat!" teriaknya di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Warga yang mendengar teriakannya pun seketika berhamburan keluar dari rumah mereka masing-masing. Sedang pria itu terus berlari menuju ke rumah kepala kampung. Sesampainya di sana ia pun segera menceritakan apa yang sudah dilihatnya tadi. Kemudian bersama dengan kepala kampung dan warga lainnya mereka pun diantar oleh pria itu ke tempat ia menemukan tubuh manusia. Segera beberapa warga berupaya mengeluarkan tubuh yang ada di tengah sungai itu. Saat sudah diletakkan di tepi sungai barulah mereka mengetahui jika wanita itu masih hidup meski sangat lemah. Apa lagi ternyata wanita itu juga dalam keadaan hamil besar.
Secara bergotong royong para warga segera membawa tubuh wanita itu ke rumah kepala kampung untuk mendapatkan pertolongan. Sementara ada warga lain yang pergi ke bidan desa untuk memeriksa kesehatan wanita itu. Setelah digantikan pakaian dan diperiksa oleh bidan, wanita itu pun mulai sadar. Perlahan wanita itu mulai mengerjap dan membuka matanya.
"Sshhh...!" rintihnya lirih.
Bidan yang sedari tadi merawatnya pun segera mendekat ke arah wanita itu.
"Syukurlah anda sudah sadar..." ucapnya penuh kelegaan.
"Di... di mana saya?" kata wanita hamil itu dengan pandangan bingung menatap sekelilingnya.
"Kita sedang ada di rumah kepala kampung Sekayu... tadi kamu ditemukan tidak sadarkan diri hanyut di sungai oleh salah satu warga sini..." terang sang bidan lembut.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga kamu sampai hanyut di sungai?" tanya bidan itu lagi.
Wanita itu tampak berfikir sambil memegangi kepalanya. Sekelebat banyangan mulai tampak dalam ingatannya. Wajah seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan tatapan bengis dan tergiang ucapan wanita itu yang tak menginginkan kehadirannya dan juga bayi dalam kandungannya. Seketika ia langsung memegangi perutnya. Saat menyadari perutnya yang masih membuncit disertai tendangan kecil bayinya membuat wanita itu langsung menghembuskan nafasnya lega.
"Tenang saja... bayi dalam kandunganmu dalam keadaan baik-baik saja... sebenarnya ini suatu keajaiban jika kamu dan bayimu bisa selamat... karena saat kmai temukan keadaanmu sangat memprihatinkan..." sambung sang bidan.
"Terima kasih..." ucap wanita itu tulus.
__ADS_1
"Sama-sama... oh iya... siapa namamu? perkenalkan namaku Ningsih... panggil saja Ning" kata bidan itu sambil mengulurkan tangannya.
"Salma... nama saya Salma..." sahut Salma menyambut uluran tangan bidan Ning.
"Kalau begitu kau makanlah dulu agar kau cepat sembuh..." kata bidan Ning sambil mengambil bubur yang ada di atas nakas dan bersiap menyuapi Salma.
"Sa... saya bisa makan sendiri..." tolak Salma yang tidak enak jika harus disuapi oleh bidan Ning.
"Baiklah... makanlah yang banyak setelah itu minumlah vitamin yang sudah aku sediakan..."
Salma pun mengngangguk patuh. Dengan perlahan ia mulai memakan bubur yang tadi diberikan oleh bidan Ning. Perutnya yang lapar membuat Salma langsung menghabiskan bubur itu. Setelahnya ia pun meminum vitamin yang diberikan oleh bidan Ning.
"Bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?"
"Iya..."
Ia tahu jika Salma mungkin tengah trauma dengan kejadian yang sudah menimpanya. Salma menarik nafasnya berat. Dalam hatinya ia ragu untuk bercerita pada bidan Ning yang baru saja di kenalnya. Namun jika tidak ia takut jika suatu hari nanti ia akan menyebabkan masalah pada para penolongnya itu. Akhirnya dengan terbata ia pun menceritakan apa yang sudah menimpanya dengan jujur pada bidan Ning. Ia juga berharap wanita itu bisa menolongnya mencari jalan terbaik bagi permasalahnnya dengan bu Desi. Karena walau bagaimana pun ia tidak ingin wanita yang sudah kelahirkan suaminya itu nanti masuk ke dalam penjara.
Meski ia juga tidak bisa melupakan apa yang sudah dilakukan oleh wanitaa paruh baya itu pada dirinya dan juga bayi dalam kandungannya.
"Aku rasa lebih baik kami menghubungi keluargamu... dan jika kau masih merasa takut jika ibu mertuamu itu akan kembali menyakitimu alangkah baiknya jika kau juga berterus terang tentang perlakuannya padamu kepada keluargamu kalau perlu kau laporkan mertuamu itu pada pihak berwajib... bukan aku menyuruhmu untuk memasukkan ibu mertuamu itu ke dalam penjara... tapi perbuatannya dudah perbuatan kriminal..." terang bidan Ning lembut.
Ia tahu dari cara bicara dan sikap Salma terlihat jika wanita itu bukan tipe orang yang mudah untuk tega pada orang lain meski ia sendiri sudah disakiti oleh orang tersebut.
"Bagaimana? apa kau ingin aku hubungi keluargamu sekarang?"
"Baiklah Ning... kau bisa menghubungi nomor ponsel ibuku... tapi jangan katakan jika kau tahu penyebab aku di sini karena perlakuan ibu mertuaku.. aku hanya tidak ingin menambah panik ibuku..." kata Salma akhirnya.
__ADS_1
Kemudian ia pun menyebutkan nomor ponsel ibunya pada bidan Ning yang langsung mencatatnya dan langsung menghubungi bu Rahma. Tak butuh waktu lama panggilan bidan Ning pun dijawab oleh bu Rahma. Dengan hati-hati bidan muda itu pun menceritakan tentang penemuan Salma di kampungnya. Dia juga menjelaskan jika Salma dalam keadaan selamat dan sehat meski mengalami luka-luka saat terhanyut di sungai. Begitu juga dengan bayi dalam kandungannya yang juga sehat.
Di seberamg sana bu Rahma terdengar sangat bahagia dan bersyukur putri sulungnya telah ditemukan dan dalam keadaan selamat dan juga sehat. Wahyu yang berada di samping bu Rahma dan ikut mendengarkan pembicaraan ibu mertuanya itu pun juga merasa sangat bersyukur dan bahagia. Ia bahkan meminta agar bu Rahma memberikan ponselnya agar ia bisa berbicara langsung dengan bidan Ning.
"Bu bidan... bisakah saya berbicara dengan istri saya?" ucapnya langsung begitu bu Rahma memberikan ponselnya.
Bidan Ning pun langsung menyetujuinya dan memberikan ponselnya pada Salma yang sedari tadi juga duduk di samping bidan Ning.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam... sayang..." jawab Wahyu dengan suara bergetar saat mendengar suara dari Salma.
"Mas... kau sudah sadar?" ucap Salma saat mendengar suara suaminya.
"Iya sayang... kamu ada dimana? mas kangen..." sahut Wahyu.
"Aku juga kangen kamu mas..." balas Salma sambil menitikkan air mata.
"Katakan dimana kamu sekarang sayang... mas akan susul kamu..."
"Tapi bagai mana dengan kesehatanmu mas?"
"Kau tenang saja... mas sudah tidak apa-apa... sekarang katakan dimana kamu sekarang..."
"Aku juga tidak tahu mas... biar bidan Ning yang akan menjelaskannya..."
Lalu Salma pun mengembalikan ponsel bidan Ning. Dan bidan Ning lalu memberitahukan dimana kampung itu berada pada Wahyu. Sebelum mengakhiri sambungan telpfonnya tak lupa Wahyu mengucapkan terima kasih kepada penolong istrinya itu dan mengatakan akan segera datang untuk menjemput Salma.
__ADS_1