Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Permintaan Maaf


__ADS_3

Kata "SAH" membuat semua orang yang mendengarnya merasa lega. Apalagi kedua mempelai yang duduk berdampingan di depan penghulu. Setelah menyematkan cincin di jari masing-masing, Salma pun mencium punggung tangan Wahyu. Setelahnya Wahyu pun mencium kening Salma. Semua orang yang hadir tampak bahagia. Bahkan kedua orangtua pak Adi dan bu Desi pun terlihat datang memberikan restu mereka. Hal ini tentu saja membuat Wahyu dan yang lainnya merasa lega. Itu berarti jika Salma sudah diterima dikeluarga pak Adi. Meski bu Desi tidak terlihat namun tak mengurangi kebahagiaan sepasang pengantin baru itu.


"Selamat Wahyu... Salma... semoga kalian menjadi pasangan yang mawadah warahmah..." ucap pak Hamid saat menemui keduanya selesai akad.


Bu Lastri pun mengucapkan selamat dan memeluk Salma sebagai cucu menantunya. Meski ia dan suaminya tahu jika Wahyu bukan darah daging pak Adi namun keduanya sudah terlanjur menyayangi Wahyu sebagai cucu mereka dan tak akan pernah berubah. Bahkan ada rasa iba pada Wahyu yang tak mengetahui kebejatan mamanya.


Pak Danu dan istrinya bu Anggi pun tampak terharu dengan penerimaan orangtua pak Adi pada cucu mereka Wahyu. Mereka semakin merasa malu atas sikap putri mereka bu Desi. Apalagi sampai saat ini ia tak mau menunjukkan niat baik untuk menyesali semua perbuatannnya pada pak Adi dan keluarganya. Kemudian pak Hamid dan pak Danu bersama istri mereka menemui bu Rahma. Mereka merasa harus mengucapkan maaf pada wanita itu karena telah banyak berbuat salah padanya.


"Maafkan kami Rahma atas segala kesalahan yang telah kami perbuat padamu..." kata pak Hamid mewakili keempatnya.


Bu Rahma tampak terkejut dengan perubahan sikap kedua orangtua pak Adi dan juga mertuanya. Ia tak menyangka jika sikap sombong yang dulu mereka perlihatkan padanya telah berubah. Bu Rahma yang memiliki sifat hampir sama dengan Salma pun tak bisa menolak permohonan maaf mereka yang terlihat tulus.


"Saya sudah memaafkan kalian sejak bertahun yang lalu... jadi mari kita lupakan masa lalu dan saya harap kita bisa menjadi keluarga yang sebenarnya..." kata bu Rahma yang membuat bu Lastri langsung memeluk wanita yang dulu hampir menjadi menantunya itu.


"Terima kasih Ma... sejak dulu kau tidak pernah berubah... tetap saja hatimu lembut... mama merasa menyesal dulu telah memisahkanmu dengan Adi..." bisik bu Lastri ditelinga bu Rahma.


"Jangan berkata begitu... ini sudah takdir kami yang tidak bisa bersatu... kita ikhlaskan saja..." balas bu Rahma kemudian mengurai pelukannya.


Pak Adi yang melihat semua itu tampak tersenyum lega kedua orangtuanya telah sadar atas kesalahan mereka dan mau meminta maaf secara langsung pada bu Rahma wanita yang sampai saat ini masih bersemayam dihatinya. Wahyu dan Salma juga yang lainnya ikut melihat jika orangtua dan mertua pak Adi sudah terlihat akrab dengan bu Rahma pun merasa lega. Kebahagiaan seakan datang bertubi pada mereka kebersatuan keluarga sangatlah indah. Setelah acara akad selesai Salma langsung dibawa oleh kedua adiknya dan juga Gita ke sebuah kamar yang ada di dekat ballroom untuk mengganti pakaiannya dengan gaun karena akan langsung melakukan acara resepsi. Sementara Wahyu juga berganti dengan tuksedo dengan warna yang senada dengan gaun Salma.


Acara resepsi pun berlangsung meriah. Tampak Salma dan Wahyu tidak berdiri diatas panggung seperti pengantin biasanya. Keduanya memilih untuk berjalan menyambut tamu mereka. Konsep yang memang sejak awal dipilih oleh Wahyu dan Salma agar suasana resepsi terasa lebih santai dan kekeluargaan. Saat menyambut para tamu tampak ada sepasang suami istri yang sedari tadi tengah menunggu momen yang tepat untuk menghampiri kedua mempelai. Mereka adalah Amran dan Nadia. Mantan suami dan madu Salma. Karena walau bagaimana pun Nadia adalah sepupu Salma jadi bu Rahma sengaja mengundang mereka terlepas dari kejadian masa lalu ketiganya yang cukup rumit.


"Apa kita akan menemui mereka sekarang mas?" tanya Nadia pada Amran.


"Apa kau sudah siap?" tanya Amran balik.


"Iya mas... aku harus minta maaf langsung padanya sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahannya..." sahut Nadia yang tampak tengah berbadan dua.


"Baiklah... ayo!" ajak Amran sambil menggandeng tangan istrinya itu.


Bagi Amran Salma bak pelangi yang menghiasi hidupnya setelah hujan. Melintas sebentar lalu menghilang. Meski masih ada nama Salma disudut terdalam hatinya namun Amran tahu jika itu hanya karena masa lalu dimana mereka pernah bersama tidak lebih. Kini ia berusaha memenuhi hatinya dengan nama Nadia istrinya dan juga calon anak mereka yang kini dalam kandungan Nadia.


"Salma..." panggil Nadia saat mereka sudah berada dibelakang Salma dan Wahyu yang sedang berbincang dengan tamu lainnya.


Salma pun langsung membalikan tubuhnya dan melihat siapa yang memanggil namanya. Untuk sesaat ia tertegun bersitatap dengan mantan suami dan juga madunya. Namun dengan cepat Salma melengkungkan senyumnya dan langsung memeluk Nadia.


"Apa kabar Nad?" tanyanya setelah mengurai pelukannya.


"Aku baik Ma..." sahut Nadia sedikit canggung.


"Ayo kita bicara di tempat yang lebih tenang..." ajak Salma langsung menggandeng Nadia dan membawanya ke sudut ruangan yang cukup sepi dan terdapat meja kursi untuk para tamu duduk dan menyantap hidangannya.


Wahyu dan Amran pun mengikuti kedua wanita yang seakan telah melupakan keduanya sebagai suami mereka. Setelah mereka duduk di kursi Salma pun mempersilahkan Nadia untuk berbicara.


"Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu Ma... aku juga ingin minta maaf atas kelakuanku yang sangat egois dulu... hingga membuatmu menderita..." ucap Nadia sambil menggenggam tangan Salma.


"Aku sudah memaafkanmu sejak dulu Nad..." kata Salma sambil tersenyum tulus.


Nadia tampak terharu dan berkaca-kaca saat mendengar pengakuan Salma. Ya dia merasa sangat bodoh dan menyesal sekarang mengingat perbuatan yang telah ia lakukan pada sepupunya itu... karena keegoisannya bukan hanya Salma yang ia sakiti tapi ia juga sudah menyakiti banyak orang yang lain termasuk suaminya sendiri. Nadia terlihat terisak...

__ADS_1


"Hei... jangan menangis Nad... ibu hamil tidak boleh sedih..." ucap Salma lembut.


"Kau sudah tahu?" tanya Nadia.


"He..eum..." sahut Salma sambil mengangguk.


"Aku bahagia akhirnya kalian akan memiliki momongan..." sambung Salma.


"Ehem!" Wahyu berdehem memberi kode jika ada dirinya dan Amran disana.


"Apa?" tanya Salma polos.


"Kau tidak ingin mengenalkanku pada mereka?"


"Oh..." sahut Salma tenang.


"Ini kenalkan suamiku... Wahyu..." sambungnya kemudian.


Amran dan Nadia pun menyapa Wahyu.


"Aku dan Wahyu sudah saling kenal kok Ma... kita rekan bisnis..." terang Amran.


"Sudah kenal kenapa minta dikenalin lagi sih mas?" protes Salma pada Wahyu.


"Kan kenalnya sebagai rekan bisnis... bukan suami kamu..." sahut Wahyu enteng.


"Nadia ini sepupuku mas... dia..."


"Aku tahu..." potong Wahyu yang tak ingin Salma menjelaskan semuanya sebab ia sudah tahu sebelumnya dari bu Rahma saat ia akan mengundang Nadia dan Amran.


"Baiklah... kami pamit dulu Ma... soalnya Nadia tidak boleh kecapekan..." kata Amran undur diri.


"Iya Ma... maaf tidak bisa lama-lama..." sambung Nadia.


"Tidak apa-apa Nad... kalian datang saja sudah membuatku bahagia... jika kau sudah lahiran nanti beritahu aku ya..." kata Salma.


"Iya Ma... pasti" sahut Nadia sambil tersenyum.


Keduanya pun kembali berpelukan sebelum akhirnya Nadia dan Amran meninggalkan tempat itu.


"Kamu kenapa mas?" tanya Salma melihat Wahyu yang memasang wajah datarnya setelah Nadia dan Amran pergi.


"Aku ingin tahu... apa kau masih punya perasaan padanya?" tanya Wahyu.


Salma terkekeh dengan pertanyaan Wahyu. Namun saat melihat Wahyu yang mulai kesal ia pun menghentikanya.


"Tentu saja tidak..." sahutnya lembut sambil meraih tangan Wahyu dan meletakkannya didadanya.


"Disini... hanya ada namamu mas" ucapnya tegas.

__ADS_1


Wahyu pun langsung tersenyum dan mengecup sekilas bibir ranum Salma yang membuat wanita itu membelalakkan matanya karena terkejut. Bisa-bisanya pria itu menciumnya didepan umum meski keduanya kini telah resmi menjadi suami istri. Reflek Salma pun menghadiahi Wahyu dengan cubitan diperutnya.


"Auch..." ringisnya.


"Rasakan! bisa-bisanya mas mesum didepan umum!" sungut Salma.


"Maaf sayang..." rengek Wahyu takut jika nanti malam ia batal unboxing karena ulah nakalnya barusan.


"Kalian kenapa?" tanya bu Rahma yang baru saja mendekat.


"Tidak apa-apa bu hanya Salma agak kekelahan..." ujar Wahyu beralasan membuat Salma menatap tajam suaminya itu.


Bisa-bisanya Wahyu menjadikannya kambing hittam. Tapi bukannya takut Wahyu malah berpura-pura tidak melihatnya.


"Ya sudah lebih kalian langsung istirahat saja... toh para tamu sudah banyak yang pulang tinggal keluarga kita saja yang masih ada di sini..." kata bu Rahma.


Salma dan Wahyu pun mengangguk... keduanya pun memilih untuk istirahat karena memang sudah merasa lelah. Sedang bu Rahma menghampiri keluarga yang lain dan memberitahu jika Wahyu dan Salma tengah beristirahat. Saat semua tamu telah pulang barulah bu Rahma pergi ke kamarnya yang sudah dipesankan oleh Wahyu. Saat itulah ia bertemu dengan pak Adi.


"Teima kasih Ma... kamu sudah memaafkan kedua orangtuaku..." kata pak Adi.


"Tidak perku berterima kasih mas... karena itu sudah seharusnya aku lakukan karena mereka benar-benar telah menyesal" sahut bu Rahma.


"Jadi sekarang bisakah kita membicarakan tentang kita?"


"Maksudnya?"


"Aku masih memcintaimu Ma..."


"Tapi kita tidak mungkin bersama mas... kau tahu itu..."


"Kenapa?"


"Kenapa mas bilang? karena kita ini besan mas... lagi pula kau masih beristri jadi jangan gila mas!" sahut bu Rahma mulai emosi.


"Aku akan bercerai dengan Desi..." kata pak Adi.


"Aku tidak perduli!"


"Tapi aku perduli! karena aku mencintaimu dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu Rahma!" ucap pak Adi frustasi.


Bu Rahma menghela nafasnya pelan. Ia tidak boleh emosi menghadapi pak Adi.


"Aku mohon mas... biarkan aku hidup sendiri bersama anak dan menantuku... bagiku menikah itu cukup sekali... aku harap kau mengerti" terang bu Rahma.


Kemudian ia pun melangkah pergi meninggalkan pak Adi yang masih berdiri di tempatnya.


"Lalu apa arti perhatianmu saat di rumah sakit itu Ma? apa kau hanya merasa kasihan padaku?" seru pak Adi sebelum bu Rahma melangkah jauh.


"Alu tidak mengasihanimu mas... itu hanya perhatian sesama teman saja..." sahut bu Rahma lalu melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2