Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Hamil


__ADS_3

Setelah selesai sholat Wahyu dan Salma kembali ke ruangan Wahyu. Ia lalu mengambil kotak makan yang tadi dibawa Salma.


"Mas kan tadi aku udah bilang kalo masakannya bau..." protes Salma saat melihat suaminya kembali ingin memakan isi kotak makan yang tadi ia bawa.


"Tapi aku pengen makan masakan kamu ma..." sahut Wahyu tak mau kalah.


Bahkan wajah pria itu sudah tampak sangat ingin makan masakan Salma tadi.


"Baiklah... tapi aku tunggu diluar aja ya mas..." ujar Salma akhirnya yang merasa tak enak melihat wajah suaminya yang terlihat sudah sangat kelaparan.


Wahyu hanya menganggukkan kepalanya dan Salma langsung keluar dari ruangan Wahyu. Ia memilih untuk duduk dan berbincang dengan sekretaris Wahyu yang meja kerjanya tepat di depan ruangan Wahyu. Sementara Wahyu tampak sangat lahap memakan masakan yang dibawa oleh Salma tadi.


"Rasa masakan Salma sangat enak... tapi kenapa dia malah bilang jika ini bau ya?" batin Wahyu masih mengunyah makanannya.


Selesai memnghabiskan semua makanan yang ada di dalam kotak Wahyu langsung membereskan bekas makannya dan menyusul Salma.


"Sudah selesai mas?" tanya Salma saat melihat Wahyu keluar dari dalam ruangannya.


"Iya..." sahut Wahyu menghampiri istrinya itu.


"Apa kamu masih mau disini menemaniku?" tanya Wahyu kemudian.


"Iya..."


Wahyu pun membawa Salma kembali ke dalam ruangannya.


"Kau duduklah dulu disini... aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku..." ucap Wahyu sambil menuntun Salma duduk di sofa.


Salma pun menurut dan Wahyu langsung melanjutkan pekerjaannya. Sambil menunggu Wahyu menyelesaikan pekerjaannya Salma memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosan. Saat keduanya tengah sibuk dengan kegiatan mereka tiba-tiba sekretaris Wahyu memberintahu jika pak Alex datang dan ingin menemui Wahyu. Wahyu menghela nafasnya pelan. Ia tahu pria itu pasti ingin kembali membahas kerja sama yang ia tawarkan pada Wahyu. Meski Wahyu sudah mempelajari dan tak menemukan hal aneh pada draft kerja sama yang diberikan pak Alex tapi kenyataan jika pria itu adalah ayah kandungnya membuat Wahyu bimbang. Apa lagi saat ini ada Salma bersamanya.


"Bagaimana pak?" tanya sang sekretaris membuat Wahyu tersadar dari lamunannya.


"Baiklah... biarkan dia masuk..." putus Wahyu kemudian.


"Siapa mas?" tanya Salma yang melihat wajah suaminya yang sedikit keruh.


"Pak Alex... beliau orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku..." terang Wahyu tak ingin membuat istrinya khawatir.


Salma pun hanya mengangguk.

__ADS_1


"Apa aku harus meninggalkan kalian berdua?" tanya Salma kemudian.


"Tidak usah Ma... lagi pula aku juga ingin mengenalkanmu padanya..."


"Baiklah..."


Tak lama pak Alex pun masuk dengan diantar oleh sekretaris Wahyu. Pria paruh baya itu terlihat sangat senang Wahyu mau menemuinya. Namun ia juga sedikit kaget saat meihat Salma juga ada di ruangan Wahyu.


"Maaf sepertinya anda sedang ada tamu...."


"Tidak pak Alex... dia ini istri saya... baru saja dia mengantarkan makan siang untuk saya" ucap Wahyu.


"Oh... beruntung sekali anda memiliki istri yang sangat perhatian..." kata pak Alex.


"Terima kasih atas pujiannya... oh iya perkenalkan ini Salma... istri saya..." kata Wahyu memperkenalkan Salma.


"Salma..."


"Alex..."


Ucap keduanya bergantian dan saling berjabat tangan sebagai perkenalan. Seperti yang sudah di duga sebelumnya jika Alex kembali menanyakan tentang kerja sama yang ia tawarkan. Karena ia tak menemukan kejanggalan yang akan merugikan perusahaannya akhirnya Wahyu pun menyatakan persetujuannya. Alex sangat senang dengan jawaban Wahyu meski keduanya belum menandatangani surat kontrak secara resmi. Kemudian ketiganya melanjutkan pembicaraan dengan membahas masalah lain yang lebih ringan karena pak Alex tidak ingin membuat Salma merasa bosan. Ia tahu jika istri Wahyu itu bukan wanita yang suka membahas soal bisnis meski ia juga memiliki bisnis kuliner.


Apa lagi saat tadi Wahyu memperkenalkan Salma padanya. Secara tidak langsung pria itu memperkenalkan Salma sebagai menantunya. Menantu... ah... rasanya pak Alex tak dapat mempercayainya... ia yang selama ini juga menginginkan momongan tiba-tiba mengetahui jika dirinya memiliki seorang putra. Dan kini putranya itu telah menikah. Tak ayal kini pak Alex justru ingin segera membuka fakta jika Wahyu adalah putra kandungnya dan ingin agar Wahyu mau mengakuinya sebagai ayahnya. Bukan lagi agar ia mendapatkan donor tulang sum sumnya tapi murni agar Wahyu menerimanya sebagai ayah dan keluarganya.


Meski berat tapi pak Alex ingin memperjuangkan Wahyu sebagai putranya. Ia tak ingin kesalahannya dulu terulang lagi. Ia bahkan sudah rela berbagi jika Wahyu masih ingin menganggap Adi sebagai ayahnya. Setidaknya ia nanti tidak akan kehilangan momen menjadi kakek jika seandainya istri Wahyu hamil dan melahirkan cucunya. Tidak seperti saat Wahyu dilahirkan... dimana dia sama sekali melewatkannya karena ia sama sekali tidak mengetahuinya.


Sementara itu... Wahyu tengah bersama Salma menuju ke rumah sakit. Meski Salma sudah berusaha menolak tapi Wahyu ngotot untuk memeriksakan kesehatan Salma. Kejadian kecelakaan yang pernah menimpa Salma membuat Wahyu selalu waspada sebab ia takut jika ada efek samping akibat dari kecelakaan itu yang mungkin baru terjadi sekarang.


"Mas kita pulang saja... masak baru masuk angin aku harus periksa ke dokter..." rengek Salma.


"Bukan begitu sayang... aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada kesehatanmu... jadi lebih baik kita langsung periksa saja... bukankah mencegah itu lebih baik?" ucap Wahyu tak mau dibantah.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit dan setelah mendaftar keduanya pun langsung menuju ke ruangan sang dokter. Tidak menunggu lama nama Salma pun di panggil dan keduanya langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dokter yang memeriksa Salma pun tersenyum dengan hasil diagnosanya.


"Berdasarkan hasil diagnosa saya kesehatan nyonya Salma baik-baik saja jadi tidak usah di khawatirkan. Tapi saya juga ingin bertanya pada nyonya apakah bulan ini sudah mendapatkan menstruasi?" tanya sang dokter pada Salma.


Salma terkejut dengan pertanyaan dokter tersebut. Memang sudah hampir dua bulan ini ia tidak mendapatkan menstruasi setelah terakhir saat sebelum ia menikah dengan Wahyu.


"Saya rasa saya sudah telat hampir dua bulan dok..." terang Salma.

__ADS_1


"Kalau begitu sebaiknya nyonya memeriksakan diri pada dokter Obgyn... karena menurut perkiraan saya nyonya sedang mengandung..." sahut sang dokter sambil tersenyum.


"Benarkah itu dokter?" tanya Wahyu yang terkejut.


"Itu hanya perkiraan saya saja tuan... untuk pastinya silahkan periksa ke dokter Obgyn nanti saya berikan surat rujukannya..."


"Terima kasih dokter...." ucap Salma dan Wahyu bersamaan.


"Sama-sama..."


Kemudian dokter pun menuliskan surat rujukan pada Wahyu dan Salma. Setelah itu keduanya pamit setelah kembali mengucapkan terima kasih. Keluar dari ruang pemeriksaan keduanya langsung menuju ke ruang dokter Obgyn. Keduanya tampak harap-harap cemas saat sang dokter memeriksa hasil tes urine Salma.


"Menurut hasil tes yang baru saja kita lakukan ternyata nyonya Salma memang sedang hamil..." kata sang dokter.


"Benarkah dok?" tanya keduanya bersamaan.


"Iya... sekarang mari kita lakukan USG untuk melihat perkembangan janin yang ada dalam kandungan nyonya..." kata sang dokter.


Kemudian Salma pun dibimbing oleh perawat untuk berbaring diatas brankar. Wahyu juga ikut berdiri disamping istrinya itu. Setelah sang dokter mengoleskan gel diatas permukaan perut Salma dan menempelkan alat disana nampak dilayar monitor satu titik berada dalam kandungan Salma.


"Lihatlah titik yang ada di dalam layar tuan... nyonya... itu adalah calon bayi kalian... menurut perkiraan usia kandungan nyonya sekarang sudah memasuki empat minggu..." terang sang dokter sambil mengerakkan alat yang dipegangnya diatas perut Salma yang masih rata.


Kedua calon ayah dan ibu itu pun tampak terharu menatap layar monitor yang menampilkan calon bayi mereka. Sedari tadi Wahyu terus mengenggam satu tangan Salma dan sesekali menciuminya. Sedang Salma tampak meneteskan air mata haru. Impiannya untuk segera memiliki momongan akan terwujud.


"Terima kasih sayang..." ucap Wahyu sambil mengecup kening Salma saat wanita itu baru turun dari atas brankar.


"Keadaan janin dan ibunya sangat sehat... namun harus terus dijaga pola makannya dan juga nyonya jangan sampai kecapekan atau pun stres karena itu akan mempengaruhi perkembangan janin nantinya... untuk saat ini saya akan resepkan vitamin untuk menjaga kandungan nyonya..." kata dokter panjang lebar.


Wahyu dan Salma pun mengangguk tanda mengerti dan menuruti perkataan sang dokter. Setelah mendapatkan resep dari dokter keduanya pun berpamitan setelah mengucapkan terima kasih. Wajah Wahyu dan Salma tampak berseri saat keluar dari ruang pemeriksaan.


"Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu sayang... ingat kata dokter jangan kecapekan apa lagi stres..." ucap Wahyu sambil mengelus perut Salma yang masih rata saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Iya mas..." sahut Salma tersenyum melihat sikap suaminya yang mulai protektif.


"Lalu kapan kita akan memberitahu keluarga kita mas?" tanya Salma.


"Bagimana kalau kita mengadakan makan malam bersama dua hari lagi untuk memberitahukan kabar ini pada semua?"


"Hemmm... boleh... tapi bagaimana dengan ibu mas... beliau kan ada diluar kota..." ujar Salma sendu.

__ADS_1


"Nanti akan aku fikirkan caranya agar ibu juga bisa datang saat makan malam bersama..." kata Wahyu yang membuat Salma bahagia.


__ADS_2