Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Menyusul


__ADS_3

Salma tampak bahagia berkumpul dengan keluarganya. Terutama dengan para keponakannya. Ya sesungguhnya Salma sangat menyukai anak kecil. Namun sayang ia terlambat menikah apa lagi pernikahan pertamanya tak bertahan lama. Meski pernikahannya dengan Wahyu baru seumur jagung namun tak dapat di pungkiri jika Salma juga ingin segera memiliki momongan. Meski Wahyu tak pernah menuntutnya untuk segera memberinya keturunan.


"Tante... sering-sering aja kemari... biar kami bisa terus main sama tante seperti dulu..." ucap Sarah salah satu putri Shania.


"Iya sayang... akan tante coba... tapi tante tidak bisa janji yah?"


"Ish kau ini... tante kan capek kalo harus bolak-balik kemari Sar!" ujar Vano putra Sakina.


"Sudah-sudah... nanti kalau tante ga bisa sering kemari kan kalian bisa gantian ke rumah tante kalau liburan..." kata Salma melerai kedua keponakannya itu.


Kehebohan saat berkumpul dengan semua anggota keluarga adalah hal yang paling dirindukannya. Namun entah mengapa saat ini ia merasakan berbeda dihatinya. Ya meski ia bahagia bersama keluarganya tapi tak bisa ia pungkiri jika kini hatinya tengah merindukan Wahyu suaminya. Andai saja pria itu ada disini bersamanya maka senyumannya akan semakin lebar karena kebahagiaannya yang bertambah. Tapi apa mau dikata Wahyu sangat sibuk dengan pekerjaannya dan Salma tak ingin mengganggu konsentrasi suaminya.


Saat seluruh keluarga tengah bercengkrama di sore hari tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Salma yang tengah berada di dapur menyiapkan camilan bersama ibu dan kedua adiknya pun tak menyadari kedatangan orang itu. Saat ia menyajikan camilan alangkah terkejutnya Salma saat melihat seseorang yang sangat dirindukannya sudah berada di ruang tamu rumah ibunya.


"Mas Wahyu!" seru Salma lirih.


Semua orang yang melihat ekspresi Salma pun tersenyum.


"Iya Salma..." sahut Wahyu tersenyum melihat wajah istrinya yang langsung berbinar.


Tanpa sadar Salma langsung menghambur ke arah Wahyu dan memeluk pria itu dengan erat. Bahkan air matanya langsung menetes di kedua pipinya tanpa bisa ia bendung.


"Cie.. cie... yang kangen... ga inget sama yang lain..." goda Gita putri sulung Sakina yang langsung mendapatkan pelototan dari semua orang.


Salma pun langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan keponakannya itu.


"Maaf..." ucap Salma sambil menundukkan kepalanya karena malu.


"Ga usah malu kak... wajar kalau kakak rindu sama suami kakak sendiri..." ujar Shania yang tak ingin kakaknya merasa malu.


"Iya kak... wajar kok kalau kakak kangen sama suami sendiri..." sambung Sakina.


"Ya sudah kalau begitu kamu antar suamimu ke kamar Ma... biar dia istirahat sebentar... kasihan dia pasti capek sudah jauh-jauh kemari..." kata bu Rahma.


Salma pun mengangguk patuh dan membawa suaminya itu ke dalam kamarnya. Wahyu pun mengikuti langkah Salma sambil menggeret koper yang berisi pakaian gantinya. Sementara Gita langsung mendapatkan ceramah dari kedua orangtuanya karena berani menggoda Salma. Tapi bocah sepuluh tahun itu bukannya takut malah cengengesan karena berhasil menggoda tante kesayangannya itu. Sedang di dalam kamar Salma tengah menanyai suaminya.


"Mas kenapa ga bilang kalau mau nyusul kemari?" tanya Salma sambil membantu suaminya melepas kemejanya.


"Mas sengaja mau bikin kejutan untukmu sayang..." sahut Wahyu.

__ADS_1


Pria itu memandangi Salma dengan tatapan penuh kerinduan. Padahal baru semalaman dia tidak berjumpa dengan istrinya itu. Wahyu langsung menghentikan Salma saat wanita itu baru saja hendak mengambilkan pakaian ganti untuk Wahyu dari dalam koper.


"Mas..." ucap Salma terkejut saat Wahyu menarik tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.


"Aku sangat merindukanmu Ma..." bisik Wahyu di telinga Salma.


"Aku juga mas..." sahut Salma sambil menyusupkan kepalanya ke dada bidang Wahyu.


Wahyu pun mengecup pelan kening Salma dan berlanjut hingga entah bagaimana mulanya hingga akhirnya keduanya kini malah bergulat diatas kasur. Untung saja tak ada yang mengganggu keduanya hingga Salma tidak akan merasa bertambah malu karena ketahuan keluarganya langsung b**c**t* dengan suaminya begitu keduanya bertemu. Setelah sesi panas keduanya pun langsung membersihkan diri bersama karena tidak enak dengan anggota keluarga yang lain. Keduanya bahkan bergantian mengeringkan rambut mereka dengan hair dryer karena tak ingin ada yang tahu tentang kegiatan panas mereka tadi.


Setelah selesai keduanya langsung keluar dari dalam kamar dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Dan karena waktu maghrib sudah tiba mereka pun segera mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah di ruang keluarga. Selesai sholat mereka pun melanjutkan dengan makan malam bersama. Kemudian para pria berbincang di teras rumah sementara anak-anak menonton televisi. Sedang para wanita berkumpul diruang makan saling bercerita tentang kehidupan mereka. Bu Rahma tampak bahagia saat mendengarkan cerita dari ketiga putrinya tentang kehidupan keluarga mereka masing-masing.


Rasanya ia sudah merasa lega melihat ketiga putrinya sudah menemukan pasangan mereka dan memiliki keluarga masing-masing. Ia merasa sudah memenuhi janjinya pada almarhum suaminya untuk mendidik dan menjaga ketiga putri mereka hingga mereka bisa menemukan kebahagiaan masing-masing.


"Mas... tugasku sudah selesai... lihatlah ketiga putri kita sudah menemukan kebahagiaan mereka... jika waktunya tiba kau menjemputku... aku ikhlas mas... putri-putri kita sudah berada di tangan pria yang tepat untuk menjaga mereka..." batin bu Rahma dengan mata berkaca-kaca saat melihat ketiga putrinya saling bercerita dengan antusias dan wajah yang bahagia.


Baru saja keluarga itu akan masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat tiba-tiba terdengar pintu rumah di ketuk dari luar. Dengan saling berpandangan seolah bertanya siapa tamu malam-malam yang datang ke rumah mereka. Danu suami Shania langsung membuka pintu untuk mengetahui siapa tamu yang datang malam-malam.


"Assalamualaikum..."


"Waalalaikum salam... pak Adi? dek Gita?" seru Danu terkejut saat tahu jika yang datang adalah mertua dan adik ipar Salma.


"Ah tidak apa-apa pak... mari silahkan masuk..."


"Iya terima kasih..." ucap pak Adi dan Gita bersamaan.


Keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah. Semua orang tampak terkejut dengan kedatangan keduanya terutama Wahyu karena papanya tidak bilang sama sekali jika akan menyusul dirinya.


"Papa..." panggil Wahyu.


"Maaf Wahyu... adikmu ngotot ingin menyusulmu dan Salma kemari..." terang pak Adi yang tahu jika Wahyu bingung dengan kedatangannya dan Gita.


"He... he... maaf kak... bolehkan Gita ikut liburan di sini? Gita kesepian di rumah..." rengeknya agar Wahyu tidak memarahinya karena memaksa papanya mengantarkan ke rumah mertuanya.


"Ga pa-pa kok Git... kami malah senang disini jadi tambah ramai..." sahut bu Rahma yang bisa melihat jika Gita membutuhkan suasana baru akibat permasalahan kedua orangtuanya.


"Kamu tidur sama ibu ya..." sambungnya sambil menggandeng Gita untuk masuk ke dalam kamarnya.


"La papa bagaimana?" cetus pak Adi yang merasa diabaikan oleh bu Rahma.

__ADS_1


"Bapak jangan khawatir masih ada satu kamar kosong kok untuk istirahat... biar anak-anak tidur dalam satu kamar..." jawab Shania sambil tersenyum.


Akhirnya pak Adi diantar oleh Agung suami Sakina ke kamar tamu. Sementara anak-anak sudah dipindahkan terlebih dahulu.


"Maaf pak... tempatnya agak berantakan..."


"Tidak apa-apa nak Agung... saya yang minta maaf karena sudah merepotkan..."


"Ah tidak kok pak... kami justru senang karena tambah ramai..." sahut Agung.


Agung pun mempersilahkam pak Adi untuk beristirahat setelah sebelumnya menawarkan makan malam namun ditolak pak Adi dengan alasan sudah makan malam tadi dengan Gita sebelum mereka sampai disana. Sementara Gita sudah mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. Bu Rahma tampak tidak keberatan tidur dengan Gita. Wanita itu bahkan memperlakukan Gita seperti putrinya sendiri. Dia membuat gadis itu merasa nyaman berada disampingnya.


"Pantas saja papa tidak bisa melupakan bu Rahma... karena sifatnya sangat lembut dan telaten... beda dengan mama..." batin Gita sambil memandangi wajah teduh bu Rahma saat wanita itu telah tertidur.


"Maafkan Gita mama... karena sudah merestui papa untuk mengejar cintanya pada bu Rahma... Gita harap mama juga bisa menemukan pria baik yang bisa membuat mama melupakan papa dan bisa hidup bahagia..." batin Gita lagi.


Tak terasa air mata gadis itu pun meleleh di atas pipi mulusnya. Sesungguhnya hatinya juga sakit saat tahu jika kedua orangtuanya tidak mungkin lagi bersama. Namun ia berusaha bersikap dewasa dan mencoba memahami keadaan keduanya. Dan ia merasa tidak bisa egois karena ia tahu jika dipaksakan terus bersama kedua orangtuanya bukannya bahagia tapi malah akan saling menyakiti dan akhirnya menderita.


Gita kini hanya mengikuti takdir dan berusaha mengembalikan kebahagiaan papanya dari sakitnya pengkhianatan mamanya meski itu berarti dengan mendekatkan papanya dengan bu Rahma. Dengan hati yang sedang gundah akhirnya Gita bisa menutup matanya dan tertidur setelah cukup lama terjaga karena fikirannya. Sementara di kamarnya Salma dan Wahyu tengah membahas kedatangan pak Adi dan Gita yang tiba-tiba.


"Mas... sebenarnya ada apa kok papa dan Gita datang tiba-tiba?" tanya Salma saat keduanya sudah berbaring bersama diatas tempat tidur.


"Mungkin Gita merasa kesepian di rumah sayang... karena mama sudah ga di ada rumah dan tinggal di rumah kakek dan nenek..." terang Wahyu sambil membelai rambut istrinya.


"Hemmm... kasihan Gita... baiklah besok akan aku ajak dia jalan-jalan..." kata Salma.


"Ck... kenapa malah mau menemani Gita sih? aku kan kemari agar bisa bersamamu..." sungut Wahyu.


"Tapi kan mas... Gita..."


"Biar Gita pergi dengan papa atau dengan yang lainnya saja... aku masih ingin bersamamu..." potong Wahyu sambil menatap tajam ke arah Salma.


Glek!


Salma menatap suaminya yang kini dalam mode merajuk.


"Mas..." panggil Salma lembut mencoba merayu suaminya agar tak lagi merajuk.


Dibelainya wajah Wahyu dengan perlahan hingga jari-jarinya menyentuh rahang tegas Wahyu. Ia tak ingin membuat suasana hati suaminya memburuk padahal pria itu sudah bela-belain menyetir sendirian untuk menyusulnya. Mendapat perlakuan lembut dari Salma membuat emosi Wahyu kembali mereda. Tapi tidak dengan sesuatu yang ada dibawah sana yang kini malah mulai menegang. Wahyu pun mulai mendekatkan wajahnya pada Salma dengan nafas yang mulai memburu. Kecupan dan sentuhan lembut ia labuhkan pada Salma hingga membuat wanita itu pun terlena. Dan akhirnya kejadian sore tadi pun kembali terulang.

__ADS_1


__ADS_2