Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Rasa Yang Kembali


__ADS_3

Bu Rahma dan pak Adi langsung keluar dari dalam mobil begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit. Bu Rahma yang mencemaskan keadaan Salma langsung berlari ke ruang perawatan putrinya itu. Perkataan pak Adi tentang kecelakaan yang terjadi merupakan kesengajaan membuatnya sangat mengkhawatirkan keselamatan putrinya. Saat tiba di depan pintu ruang perawatan Salma, bu Rahma berhenti senjenak untuk mengatur nafasnya sebelum masuk ke dalam. Setelah merasa tenang ia pun kemudian baru membuka pintu dan segera masuk ke dalam.


Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Pak Adi yang baru menyusulnya pun ikut terkesiap. Bagaimana tidak keduanya melihat Salma dan Wahyu tertidur dengan posisi saling berhadapan diatas brankar. Meski keduanya hanya tertidur dan tidak melakukan hal yang melanggar norma namun cukup membuat dua orang paruh baya itu terkejut.


Bu Rahma bergerak hendak membangunkan Wahyu, namun segera dicegah oleh pak Adi dengan menahan tubuh bu Rahma dan menggelengkan kepalanya pelan saat wanita paruh baya itu menatap kearahnya. Perlahan ia menarik tangan bu Rahma untuk keluar dari dalam ruang perawatan.


"Kenapa kau mencegahku mas?"


"Biarkan mereka Ma... lagi pula mereka tak melakukan apa-apa selain hanya tidur" sahut pak Adi enteng.


"Tapi mas... bagaimana pun mereka belum menikah... bagaimana kata orang nanti jika ada yang melihatnya?" protes bu Rahma.


Pak Adi tersenyum tipis melihat bu Rahma yang memprotesnya. Ini yang ia sukai dari diri wanita yang sejak dulu sudah menawan hatinya itu. Selalu berusaha menjaga kehormatannya.


"Kau tenang saja Ma... besok aku akan menyuruh Wahyu untuk menikahi Salma begitu ia keluar dari sini" sahut pak Adi.


Bu Rahma melotot mendengar perkataan pak Adi. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Salma menikah secepat itu dengan Wahyu setelah mengetahui jika bu Desi tak merestui keduanya dan sudah berencana mencelakai putrinya itu. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan perempuan itu jika tahu jika Salma adalah putrinya.


"Apa mas sudah tidak waras hah? bagaimana bisa mereka menikah sementara istrimu tidak merestui bahkan berencana mencelakai putriku! apa mas fikir ini dunia fantasi hingga semua bisa sesuai dengan yang mas inginkan?" seru bu Rahma frustasi.


Jika dulu ia bisa mundur dan meninggalkan cintanya agar pak Adi tak berpisah dari keluarganya maka kini ia harus membawa putrinya Salma pergi untuk menyelamatkan nyawanya. Baginya berurusan dengan keluarga pak Adi dan bu Desi tidak akan membawa kebahagiaan bagi putrinya Salma namun justru kesengsaraan atau bahkan kehilangan nyawa. Cukup dua kali ia hampir kehilangan Salma. Dan ia tak akan membiarkannya terulang lagi.


Dengan perasaan dongkol bu Rahma meninggalkan pak Adi dan berjalan menuju toilet. Di dalam toilet ia kembali berfikir apa yang harus ia lakukan agar bisa membawa Salma menjauh dari Wahyu dan keluarganya tanpa terlalu membuat Salma menderita. Bu Rahma menghela nafasnya berat. Sesungguhnya ia menyukai Wahyu sebagai pria baik yang sangat cocok dengan Salma. Namun keluarga pria itu yang rumit dan ibunya yang licik membuat bu Rahma harus bertindak untuk melindungi putrinya agar tidak lagi terluka.

__ADS_1


Sementara pak Adi yang mengikuti bu Rahma dengan setia menunggu wanita itu keluar dari dalam toilet. Dalam fikirannya ia sudah menduga jika bu Rahma akan kembali memelakukan hal yang dulu pernah ia lakukan saat memilih berpisah dari pak Adi. Saat melihat bu Rahma keluar dari dalam toilet ia langsung mencegatnya.


"Apa yang akan kau lakukan Rahma?" tanya pak Adi berjalan mengikuti langkah bu Rahma.


"Jangan katakan jika kau akan memisahkan mereka berdua..." lanjutnya sambil menarik tangan bu Rahma untuk menghentikan wanita itu melanjutkan langkahnya.


Bu Rahma masih tetap diam tak mau menjawab pertanyaan pak Adi. Hingga pak Adi menarik tangan bu Rahma yang membuat wanita itu langsung terjatuh dalam pelukannya. Sesaat keduanya terpaku dalam keheningan yang tiba-tiba saja tercipta. Debaran jantung keduanya bertalu saling bersautan setelah sekian lama. Suaranya pun dapat terdengar oleh keduanya. Rasanya masih sama... hangat... dan penuh kenyamanan.


Wajah bu Rahma pun kini sudah merona. Ia tak menyangka akan kembali merasakan perasaan yang ia fikir tak akan lagi ia rasakan setelah kepergian suaminya untuk selamanya. Ah tidak! tidak boleh! ia tidak boleh terlena! ada hal yang yang lebih penting dari perasaannya saat ini yang harus ia fikirkan. Putrinya! ya nyawa putrinya akan selalu dalam bahaya jika berhubungan dengan Wahyu dan juga keluarganya.


Segera bu Rahma melepaskan dirinya dari pak Adi dan setengah berlari wanita itu langsung pergi ke ruang perawatan Salma. Saat tiba di sana tampak Wahyu sudah terbangun dan sudah duduk di kursi di samping brankar Salma. Sedang Salma terlihat masih tertidur pulas.


"Ehem... nak Wahyu... kenapa kau tidak istirahat di rumah? bukannya tadi kau sudah pulang?" tanya bu Rahma.


"Maaf bu... saya merasa tidak tenang meninggalkan Salma..." sahut Wahyu.


"Kalau begitu biar ibu menggantikanmu... sekarang kau beristirahatlah!" kata bu Rahma.


Wahyu mengagguk setuju lalu berpindah ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Tak butuh waktu lama untuk pria itu kembali tertidur. Sesungguhnya ia tadi terbangun karena merasa kurang nyaman dengan posisi tidur bersebelahan dengan Salma. Bukan karena brankar yang digunakan sempit namun berada disamping Salma membuatnya merasa tak nyaman karena menahan hasratnya sebagai lelaki normal bila berdampingan dengan wanita yang dicintainya.


Sementara pak Adi yang tersadar setelah kepergian bu Rahma memilih untuk menunggu dan duduk di bangku yang berada di luar ruang perawatan. Dalam hatinya pria itu masih mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan juga bu Rahma. Apakah ia masih memiliki perasaan yang sama seperti yang selama ini tersimpan di dalam hati pak Adi? jika benar mungkinkah masih ada kesempatan untuk mereka kembali bersama?


Dengan perasaan yang masih campur aduk pria paruh baya itu mencoba untuk memejamkan matanya. Disandarkannya tubuhnya sandaran bangku yang sedang didudukinya mencoba mencari posisi yang nyaman untuknya beristirahat. Sedang bu Rahma di dalam tampak tengah memandangi wajah putrinya yang terlihat damai di dalam tidurnya.

__ADS_1


"Maafkan ibu Salma... mungkin keputusan ibu ini akan membuatmu kembali terluka... tapi ibu tidak ingin kehilangan kamu sayang..." batin bu Rahma sambil membelai wajah putrinya itu dengan lembut.


"Kenapa takdirmu selalu begini sayang... tak bisakah kau hidup tenang dan bahagia dengan orang yang kau cintai? ya Allah... salahkah jika saat ini aku mengeluh pada Mu?" gumam bu Rahma lirih tanpa seorang pun dapat mendengarnya.


Pagi menjelang... suara azan membangunkan bu Rahma dari tidurnya. Ternyata semalam ia tertidur sambil menelungkupkan kepalanya di samping Salma. Setelah merenggangkan ototnya sejenak bu Rahma lalu keluar dari ruang perawatan Salma untuk sholat di mushola rumah sakit. Saat ia membuka pintu tampak olehnya pak Adi yang tengah tertidur di bangku depan ruang perawatan Salma. Ada rasa kasihan melihat pria paruh baya itu meringkuk menahan dingin disana.


Perlahan bu Rahma menghampiri pak Adi yang tengah tertidur pulas. Dengan hati-hati di sentuhnya wajah pak Adi agar pria itu tak menyadari apa yang dilakukannya. Bu Rahma mendesah pelan. Entah mengapa perasaan yang bertahun-tahun berusaha ia hilangkan kini kembali menggerogoti hatinya. Terus terang ia tak menyukainya. Ada sisi di hatinya yang ingin tetap mempertahankan almarhum suaminya sebagai satu-satunya pria yang ada di dalam hatinya. Namun perasaannya pada pak Adi yang kini mulai hadir kembali membuatnya menjadi bimbang.


Dengan menahan rasa sesak yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya bu Rahma bangkit dan berjalan meninggalkan pak Adi menuju mushola. Tanpa ia sadari jika sedari tadi pak Adi sudah terbangun dan mengetahui apa yang dilakukan wanita itu padanya. Bibir pak Adi pun menyunggingkan senyuman bahagia. Ternyata wanita pujaannya juga masih memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Akan aku selesaikan masalahku dengan Desi, lalu aku akan mengejarmu kembali Ma..." batin pak Adi sambil memandang punggung bu Rahma yang semakin menjauh.


Di dalam ruang perawatannya Salma juga mulai terbangun. Ia kaget tak menemukan Wahyu berada disampingnya. Dengan was-was ia mencari keberadaan Wahyu dengan pandangan matanya. Hatinya langsung lega saat melihat pria yang dicintainya itu tengah tertidur diatas sofa. Ia pun tersenyum mengingat tadi ia sempat tidur bersama pria itu. Wajahnya kembali memerah saat mengenang betapa ia sempat begitu dekat dengan Wahyu. Ia bahkan sudah membayangkan jika nantinya mereka sudah resmi menikah.


Tanpa ia sadari Wahyu juga sudah terbangun dan sudah menghampirinya. Pria itu tampak tersenyum saat melihat Salma yang tengah melamun dengan wajah yang merona.


"Apa yang sedang kau fikirkan hem?" bisiknya lembut di telinga Salma.


Salma yang terkejut sontak memalingkan wajahnya dan sialnya bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir Wahyu sekilas.


"Mas..." gumam Salma lirih sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Wahyu menarik pelan tangan Salma yang menutupi bibir indahnya dan mulai mendekatkan wajahnya kembali pada Salma. Nafasnya sudah memburu saat dengan lembut ia kembali mengecup bibir Salma. Gadis itu terlihat membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti itu dari Wahyu. Mata Wahyu sudah terlihat berkabut. Namun tampak pria itu tengah menahan hasratnya agar tidak bertindak lebih jauh. Ia tak ingin merusak wanita yang dicintainya apalagi masih dalam keadaan terluka.

__ADS_1


"Maaf..." ucapnya tulus sambil mengusap ujung bibir Salma.


Gadis itu pun hanya bisa mengangguk pelan. Karena sesungguhnya ia pun hampir terlena dengam perlakuan Wahyu padanya.


__ADS_2