Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Terkuak


__ADS_3

Wahyu langsung menghubungi bu Rahma begitu Salma dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Setelah sarapan bu Rahma beserta anak dan menantunya langsung pergi ke rumah sakit. Sedang Salma sudah mulai bisa berkomunikasi. Hal ini cukup menggembirakan mengingat kecelakaan yang dialaminya cukup parah. Namun luka yang dideritanya membuatnya trauma dan mengalami kehilangan ingatannya tentang kecelakaan yang menimpanya. Setidaknya Adam bersyukur hanya ingatan mengenai kecelakaan itu saja yang dilupakan Salma dan bukan seluruh ingatannya.


Entah apa yang akan terjadi jika Salma benar melupakan semuanya. Apa lagi persiapan pernikahan mereka yang sudah hampir rampung. Mungkin saat ini acara pernikahan mereka akan ditunda karena keadaan Salma pasca kecelakaan. Tapi setidaknya acara itu tidak batal. Dan Wahyu sangat bersyukur karena yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Salma.


"Mas... ibu... mana?" tanya Salma saat baru saja selesai sarapan dengan di suapi oleh Wahyu.


"Sebentar lagi pasti datang sayang... tapi ibu bilang kalau dia akan kemari sehabis sarapan bersama adik dan juga iparmu..." terang Wahyu.


"Maaf... mas... karena... aku... acara... pernikahan... kita... ditunda..." ucap Salma terbata.


Wajahnya tampak sendu mengingat persiapan yang sudah mereka lakukan sudah hampir seratus persen.


"Bukan salahmu sayang... semua ini sudah takdir dari Allah... yang terpenting sekarang kamu selamat" sahut Adam sambil membelai rambut Salma.


Tak lama bu Rahma pun datang dengan kedua putrinya dan juga kedua menantunya. Salma sangat terharu kedua adiknya datang bersama suami mereka padahal mereka memiliki anak yqng belum dewasa.


"Anak-anak sama siapa?" tanya Salma yang khawatir dengan keponakannya.


"Kakak jangan khawatir... anak-anak bersama nenek dan kakeknya..." sahut Sakina.


Ia tahu kakaknya pasti sangat khawatir melihatnya dan Shania datang bersama suami mereka tanpa anak-anak mereka.


"Maaf sudah membuat kalian khawatir..." lanjut Salma.


"Kakak bilang apa sih? kami ini adikmu kak... jadi jangan bersikap sungkan seperti ini..." ucap Shania.


Kedua adik Salma pun memeluk kakak mereka dengan hangat. Sudah lama mereka tidak seperti ini. Dulu disaat mereka masih kecil hingga remaja ketiganya memang sangat dekat. Salma yang jika dengan orang luar sulit bergaul tapi tidak dengan kedua adiknya. Ia sangat akrab dengan keduanya walau ia agak tertutup dengan isi hatinya namun ia seorang kakak dan pendengar yang baik bagi kedua adiknya itu. Jarang sekali ketiganya bertengkar. Kalau pun iya maka salah satu diantara mereka akan saling mendamaikan.


Bu Rahma yang tahu jika sejak Salma dirawat Wahyu belum pulang terbukti dengan pakaiannya masih yang kemarin ia pakai, menyuruh pria itu untuk pulang untuk beristirahat di rumahnya. Bu Rahma tahu jika di rumah sakit tak mungkin Wahyu bisa beristirahat dengan nyaman. Meski sempat menolak namun saat Salma yang memintanya pria itu langsung menurut. Hal itu tentu saja membuat semua yang ada disana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wahyu jadi begitu penurut jika bersama Salma.


Setelah berpamitan akhirnya Wahyu pun pulang. Bukan ke rumah pribadinya namun ke rumah orangtuaanya. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan papanya jika benar mamanya membantu Friska mencelakai Salma. Sementara di rumah pak Adi tampak pria itu tengah menatap bu Desi tajam. Sejak pagi saat istrinya itu bangun pak Adi sudah menginterogasinya. Namun bukan bu Desi namaya jika ia tak pandai mengelak. Tapi pak Adi juga bukan pria seperti dulu yang dengan mudah bisa dikelabuhi.

__ADS_1


Sejak tadi ia tetap mencecar wanita itu walau selalu saja berusaha mengelak. Karena merasa sudah tidak ada jalan lain akhirnya ia pun menggunakan kartu asnya. Kali ini bi Desi pasti akan mengakui apa yang sudah ia lakukan bersama Friska.


"Jadi kau tetap memilih untuk bungkam dan mengelak jika kau membantu perempuan itu?" tanya pak Adi dengan suara datar.


"Sudah berapa kali aku bilang sih mas... aku ga tahu apa-apa..." sanggah bu Desi keukeh.


"Baik... sekarang aku ingin bicara masalah yang lain. Dan kali ini aku harap kau mau jujur..." kata pak Adi.


"Sebenarnya Wahyu itu anak siapa?" tanya pak Adi dengan suara bergetar menunjukkan jika pria itu tengah menahan emosinya.


"Ma... maksud... mas apa? tentu saja dia anakmu mas..." sahut bu Desi terbata karena merasa terkejut dengan pertanyaan pak Adi.


Dalam hatinya wanita paruhbaya itu tengah terguncang dengan pertanyaan pak Adi.


"Dari mana mas Adi tahu jika Wahyu bukan darah dagingnya? apa ada yang membocorkannya? tapi siapa? tak mungkin papa dan mama yang melakukannya... tapi selain mereka tak ada orang lain lagi yang tahu kecuali... pria itu!" batin bu Desi.


"Kau masih mau mengelak Des? kau tahu jika aku melakukan tes DNA maka kebohonganmu akan langsung terbongkar!" seru pak Adi tak sabar.


"Kau fikir aku hanya menggertakmu saja?" kata pak Adi yang tahu dengan apa yang sedang difikirkan oleh bu Desi.


"Bukankah aku sudah bilang... jangan sekali-kali kau merusak hubungan Wahyu dengan Salma... tapi kau malah bekerjasama dengan wanita g*l* itu dan hampir saja membuat nyawa Salma melayang" sambung pak Adi.


"Jadi jangan salahkan aku jika akan aku katakan yabg sebenarnya pada Wahyu jika aku bukan ayah kandungnya..." kata pak Adi lagi.


Tanpa mereka berdua sadari jika sedari tadi Wahyu telah mendengarkan semuanya. Pria itu langsung limbung dan hampir saja menabrak pintu kamar kedua orangtuanya yang sedikit terbuka. Dengan menekan tangannya pada dinding Wahyu berusaha menegakkan dirinya.


"Benarkah aku bukan anak kandung papa?" batinnya.


Dengan langkah gontai ia pun menuruni anak tangga dan tak jadi masuk ke dalam kamarnya yang terletak disebelah kamar pak Adi dan bu Desi. Dengan fikiran kosong pria itu memilih untuk menenangkan dirinya di taman belakang.


"Tapi bukankah menurut semua orang aku lahir setelah mama dan papa menikah selama dua tahun? apa itu berarti jika mama sudah berselingkuh dari papa?" gumam Wahyu.

__ADS_1


Kepalanya kini terasa berat... baru saja ia menghadapi masalah dengan kecelakaan yang menimpa Salma... kini ada masalah baru yang membuat hatinya sangat terluka. Pak Adi orang yang selama ini ia anggap sebagai ayahnya ternyata bukan ayah kandungnya. Meski tadi ia sempat mendengar jika pak Adi tetap membelanya didepan bu Desi.


Dalam keadaan kalut seperti ini ia teringat dengan Salma. Tiba-tiba saja ia ingin bertemu dengan gadis itu dan menumpahkan isi hatinya. Sesaat ia agak ragu untuk menemui Salma karena kondisinya yang baru saja sadar. Namun entah mengapa ia merasa jika hanya berada di samping gadis itu ia akan merasa tenang. Dengan cepat Wahyu berbalik keluar dari rumah pak Adi. Ia langsung menuju mobilnya dan mengemudikannya ke rumah sakit tempat Salma dirawat.


Tak butuh waktu lama pria itu sudah sampai di tempat tujuannya. Dengan langkah kaki yang cepat Wahyu langsung berjalan ke ruang perawatan Salma. Sesampainya disana tampak Salma tengah duduk bersandar di atas brankarnya. Tak tampak siapapun disana. Sepertinya ibu dan kedua adik dan adik iparnya sedang keluar. Perlahan Wahyu mendekati Salma.


"Sayang..." panggilnya.


"Mas?" sahut Salma kaget karena Wahyu sudah kembali begitu cepat.


Bahkan pria itu belum juga mengganti pakaiannnya. Kening Salma pun langsung berkerut saat melihat wajah Wahyu yang terlihat seperti orang yang sedang tertekan. Reflek Salma merentangkan tangannya seolah menyuruh pria itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Wahyu pun langsung menghambur kearah Salma dan langsung memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. Untuk sesaat keduanya saling berpelukan. Salma seolah berusaha mengalirkan kehangatan pada Wahyu.


Pria itu yang semula merasa gundah gulana langsung merasa nyaman dalam pelukan Salma. Masih bersandar di kepala Salma karena posisi gadis itu yang masih berada diatas brankar, Wahyu mulai mengungkapkan isi hatinya. Tanpa ada yang ia tutupi Wahyu menceritakan semua yang baru saja diketahuinya. Salma terdiam setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Wahyu. Ia juga tak menyangka jika pak Adi bukanlah ayah kandung Wahyu. Karena selama ini yang ia tahu bahwa pak Adi sangat menyayangi Wahyu sebagai putra sulungnya.


"Kamu yang sabar ya mas... lebih baik mas bicarakan hal ini baik-baik dengan papa dan mamamu... jangan gegabah dengan cepat menyimpulkan sesuatu..." nasehat Salma saat keduanya telah mengurai pelukannya.


"Aku tidak tahu harus bertanya pada siapa Ma... karena bisa saja keduanya akan berbohong padaku" ujar Wahyu sendu.


"Mas bisa menanyakannya pada mereka berdua secara bersamaan agar jelas... tapi sebelumnya apa tidak lebih baik jika mas melakukan tes DNA terlebih dahulu tanpa sepengetahuan kedua orang tua mas?" usul Salma.


Wahyu menatap Salma tak mengerti.


"Maksudku jika mas melakukan tes itu terlebih dahulu maka kedua orangtua mas tidak akan bisa mengelak lagi..." sambung Salma.


Wahyu pun lalu mengangguk mengerti. Ia kembali memeluk wanita yang selalu bisa membuat hatinya menjadi tenang itu.


"Terima kasih Ma... kau masih mau menerimaku dengan kenyataan yang seperti sekarang ini" ucap Wahyu sambil mencium puncak kepala Salma lembut.


"Aku mencintaimu mas... karena itu aku akan menerimamu apa adanya dirimu seperti kamu yang juga mau menerima keadaanku..." sahut Salma membalas pelukan Wahyu.


Mata Salma terpejam dengan wajah yang terbenam di dada Wahyu. Sejak mengenal pria itu Salma selalu merasa nyaman bersamanya. Hingga ia semakin yakin jika Wahyu adalah jodoh terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2