
Pagi hari suasana di rumah bu Rahma menjadi sangat ramai.Banyaknya anggota keluarga yang berkumpul ditambah dengan pak Adi dan Gita membuat ruang makan semakin sesak. Sehingga anak-anak memilih sarapan di ruang keluarga sambil menonton televisi. Salma yang sejak pagi sudah bangun langsung membantu ibu dan adik-adiknya untuk menyiapkan sarapan. Sementara Gita tampak belum bangun karena kelelahan setelah perjalanan jauh.
Setelah semua selesai sarapan Salma masuk ke kamar ibunya untuk membangunkan Gita. Ya setelah sholat subuh gadis itu kembali tidur.
"Gita... bangun Git..." panggil Salma sambil mengoyangkan tubuh adik iparnya itu.
"Hemmm... sebentar lagi kak..." sahut Gita yang masih mengantuk.
"Bangun Gita... kau harus sarapan dulu..." kata Salma.
Perlahan Gita pun bergerak dan mulai membuka matanya.
"Ini jam berapa kak?" tanyanya setelah mengucek matanya.
"Jam delapaan Git..."
"Astaghfirullah... maaf kak aku kesiangan..."
"Ga pa-pa kok Git... kamu pasti kecapekan kan?"
"He um..." angguk Gita.
"Ya sudah mandi gih!"
"Iya kak..." Gita pun bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah Gita masuk ke kamar mandi Salma pun ke luar dari kamar dan menyiapkan sarapan untuk adik iparnya itu. Sementara di halaman rumah tampak para keponakan Salma tengah asyik bermain bersama. Kebetulan ini hari minggu sehingga mereka libur sekolah. Sementara suami Shania dan Sakina menemani pak Adi dan Wahyu di teras rumah. Mereka tampak berbincang akrab. Gita yang sudah sekesai sarapan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring dan langsung memcucinya meski bu Rahma yang melihatnya sudah melarangnya.
Karena semua sudah berkumpul maka Agung mengusulkan agar mereka pergi berpiknik bersama meski hari sudah agak siang. Dan setelah berunding mereka memutuskan untuk pergi ke pemandian yang berada tak jauh dari rumah bu Rahma. Tempat itu memiliki kolam renang dan juga banyak gazebo yang bisa digunakan untuk makan-makan. Gita tampak bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Salma yang sangat ramah dan mau menerimanya. Sementara pak Adi tampak lebih sering bergabung dengan para menantu bu Rahma karena wanita itu tak pernah memberinya kesempatan untuk bisa berdua saja dengannya.
Sedang Wahyu sedari tadi terus berusaha membawa Salma menjauh agar bisa menghabiskan waktu bersama. Namun sepertinya akan sulit karena keempat keponakan Salma selalu mengekor pada tantenya itu. Pasalnya mereka masih merindukan Salma dan juga karena sejak dulu selalu mengabulkan permintaan mereka. Hingga setelah makan siang anak-anak mulai kelelahan dan mulai mengantuk sehingga mereka memilih untuk beristirahat di penginapan dekat pemandian.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wahyu. Ia segera mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan berdua di sekitar penginapan. Sementara Gita juga sengaja mengajak bu Rahma untuk berjalan-jalan. Padahal ia hendak mempertemukan pak Adi dengannya. Karena sebelumnya ia sudah menelfon pak Adi untuk menyusulnya ke restoran dekat penginapan. Saat pak Adi datang menyusul keduanya tampak bu Rahma kaget dan terlihat kurang nyaman. Sedang Gita bersikap seolah tak menyadari kecanggungan yang terjadi antara bu Rahma dan pak Adi.
__ADS_1
Mereka pun berbincang setelah Gita menyuruh pak Adi memesan minuman. Gita tampak selalu mendominasi percakapan dengan bu Rahma sedang pak Adi hanya sebagai pendengar saja. Hingga tiba-tiba Gita izin untuk pergi ke toilet.
"Papa tunggu disini sebentar ya sama tante Rahma... aku mau ke toilet sebentar..." kata Gita mencoba menjauh agar kedua orang dewasa yang ada di hadapannya itu bisa memiliki waktu untuk berbicara berdua.
"Iya... tapi jangan lama-lama..." sahut pak Adi yang merasa canggung karena sikap bu Rahma yang tidak terlalu ramah padanya.
"Tante maaf aku tinggal dulu sebentar ya..."
"Iya..." sahut bu Rahma sambil tersenyum meski terpaksa.
Setelah Gita melangkah pergi bu Rahma dan pak Adi tampak terdiam canggung tak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Gita yang sejatinya tidak benar-benar pergi ke toilet pun memperhatikan keduanya secara sembunyi-sembunyi. Melihat kedua orang itu yang masih saling diam membuat Gita menjadi gemas sendiri. Pantas saja dulu dengan mudah mamanya mengacaukan hubungan keduanya karena dua orang itu yang masih menuruti egonya masing-masing.
"Ehm... Ma... bisa kita bicara?" kata pak Adi setelah keduanya terdiam cukup lama.
"Bicara saja mas..." sahut bu Rahma datar.
Sesungguhnya ia bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh laki-laki yang ada dihadapannya itu. Namun ia juga harus memberi kesempatan padanya untuk menjelaskannya sendiri.
"Aku sudah berpisah dengan Desi..." ungkap pak Adi tanpa basa-basi.
Sungguh ia tak menduga jika pak Adi benar akan meninggalkan istrinya itu.
"Apa kau sudah tidak waras mas? bagaimana dengan Wahyu dan Gita? apa kau tidak pernah memikirkan perasaan keduanya jika kau dan Desi berpisah?" cecar bu Rahma.
"Aku sudah membicarakannya dengan mereka... dan mereka mengerti jika aku dan Desi sudah tidak bisa bersama lagi..." terang pak Adi.
"Lalu untuk apa kau mengatakannya padaku mas?"
"Aku ingin kita kembali seperti dulu Ma..."
"Aku tidak bisa mas..." sahut bu Rahma cepat.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kau masih bertanya kenapa mas? banyak sekali alasan aku tidak bisa menerimamu kembali mas... aku bukan wanita yang bisa berbahagia diatas penderitaan orang lain... Desi masih sangat mencintaimu mas... kau harus tahu itu!" sergah bu Rahma.
"Tapi kami akan saling menyakiti jika tetap bersama Ma... apa kau tidak bisa melihat itu? Mungkin kau benar jika sekarang Desi masih mencintaiku...ah tidak... dia tidak mencintaiku sejak awal Ma... dia hanya terobsesi padaku... dan dia belum menyadari itu hingga tanpa sadar bukan hanya kita yang ia sakiti tapi juga dirinya sendiri..." ucap pak Adi panjang lebar.
Bu Rahma terdiam mendengar ucapan pak Adi. Dalam hatinya ia mulai memikirkan perkataan pria itu, tapi logikanya kembali menyadarkannya. Karena bukan hanya masalah pak Adi dan bu Desi saja yang belum berakhir tapi juga karena kini Salma sudah menjadi istri Wahyu dan itu berarti mereka besan. Meski kenyataannya Wahyu bukan anak kandung pak Adi tapi dimata dunia dia dan pak Adi adalah ayah dan anak. Dan bu Rahma tidak ingin memperumit hubungan mereka.
"Maaf mas... tapi keputusanku sudah bulat... kita tidak bisa bersama... dan aku mohon jangan seperti ini lagi... biarlah kita tetap berhubungan hanya sebatas antara besan saja..." ucap bu Rahma mengakhiri percakapan keduanya.
Meski kecewa dengan keputusan bu Rahma tapi pak Adi tidak bisa memaksa bu Rahma untuk mau menerimanya kembali. Akhirnya keduanya oun kembali saling terdiam. Tak lama Gita pun kembali dan bersikap seolah ia tak tahu apa-apa. Tapi sesungguhnya gadis itu sudah mendengarkan percakapan kedua orang dewasa itu melalui ponsel yang sengaja ia tinggalkan di meja untuk mendengarkan percakapan keduanya. Ya Gita memang membawa dua ponsel yang satu ia bawa dalam tasnya sedang yang satu sengaja ia letakkan diatas meja setelah kedua ponsel itu terhubung sebelumnya.
"Maaf apa aku kelamaan tante?" tanya Gita pada bu Rahma.
"Tidak nak... apa kau masih ingin berjalan-jalan lagi?"
"Tidak tante..."
"Kalau begitu kita kembali saja ke penginapan" ajak bu Rahma yang sudah ingin menjauh dari pak Adi secepatnya.
Ketiganya pun kemudian kembali ke penginapan. Sedangkan Wahyu dan Salma tengah menikmati waktu berdua mereka dengan berjalan-jalan menikmati suasana sore. Dengan bergandengan tangan keduanya menyusuri jalan sekitaran tempat mereka menginap. Sesekali keduanya berhenti dan membeli makanan pinggir jalan sebelum akhirnya kembali ke penginapan.
Malam harinya selesai makan malam mereka pun kembali ke rumah bu Rahma. Tapi tidak dengan Shania dan keluarganya karena besok anak-anaknya sudah kembali ke sekolah maka ia dan suaminya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah mereka sendiri. Jadi mereka pun berpisah di jalan.
Sesampainya di rumah bu Rahma mereka pun langsung masuk ke kamar mereka masing-masing karena sudah sangat kelelahan. Gita masih tetap tidur dengan bu Rahma meski kini ada kamar kosong karena kepulangan keluarga Shania. Setelah semuanya tertidur kini tinggal pak Adi yang belum bisa memejamkan matanya.
"Kenapa rasanya sulit sekali menyakinkanmu untuk kembali padaku Ma? apa memang sebenarnya kita benar-benar tidak berjodoh?" batin pak Adi sambil memandang keluar jendela kamarnya.
Tatapan laki-laki paruh baya itu terlihat kosong. Kemarin ia masih sempat berfikir jika ia masih ada kesempatan kemabali pada bu Rahma... tapi kini ia jadi pesimis setelah tadi mendengar perkataan bu Rahma.
"Apa salah jika aku masih mencintaimu sampai detik ini Ma?" gumam pak Adi lirih.
Rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya kini semakin menjadi. Kilasan masa lalunya bersama bu Rahma kembali berkelebat di depan matanya. Penyesalan demi penyesalan atas apa yang sudah ia lakukan dulu kini membuat pria itu merasa terpuruk.
"Jika saja dulu aku lebih tegas dalam mempertahankanmu di sisiku... mungkin kini kita masih akan bersama Ma... maafkan aku yang lemah dan menuruti semua permintaanmu dulu..." batin pak Adi.
__ADS_1
Sementara di lain tempat bu Rahma pun ternyata belum juga tertidur. Perkataan pak Adi tadi ternyata membuat hatinya goyah. Meski tadi ia telah menolak tegas pria itu, tapi tidak bisa ia pungkiri jika dalam hatinya bu Rahma juga berharap sama dengan pak Adi. Namun hubungan yang rumit antara dirinya dengan pak Adi, Salma dan juga Wahyu membuat wanita itu kembali merasa jika keputusannya tadi sudah tepat.