Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Sahabat


__ADS_3

Wahyu kembali mengantarkan Salma ke tempat ia menitipkan sepeda dan kotak gorengannya. Sengaja Wahyu tak melepas helm yang dipakainya agar tak ada yang mengenalinya. Setelah Salma mengambil sepedanya Wahyu juga mengantar gadis itu ke rumah dengan mengikutinya dari belakang dengan mengendarai sepeda motor.


Salma pun tak merasa keberatan saat Wahyu mengikutinya sampai ke rumah. Bahkan Salma mengajak Wahyu masuk dan mengenalkannya pada ibunya. Bu Rahma tampak menyambut Wahyu dengan ramah. Ia tak menduga teman yang dikatakan putrinya adalah seorang pria. Karena sejak dulu Salma tak pernah mengajak temannya ke rumah.


"Jadi nak Wahyu teman sekolah Salma dulu?" tanyanya.


"Iya bu tapi saya kakak kelasnya... kami pernah satu grup saat ikut lomba...." terang Wahyu.


"Oooh..." ujar bu Rahma menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu nak... kamu teman pertama yang dibawanya ke rumah... " sambungnya.


"Iiih... ibu ini ..." potong Salma saat mendengar perkataan ibunya.


Terus terang ia malu dengan kenyataan jika ia memang tak memiliki teman dekat. Bahkan sejak masuk SMU dulu ia selalu berangkat dan pulang sekolah sendiri. Berbeda dengan saat sebelum masuk SMU ia memang sering bareng Nadia karena rumah mereka yang berdekatan dan masih sepupu.


Wahyu memang tergolong supel karena dengan sekejap ia bisa akrab dengan Salma dan sekarang ia juga dengan cepat dekat dengan bu Rahma.


"Ya sudah bu... lebih baik saya pulang dulu sebab hari sudah hampir sore"


"Ah iya nak Wahyu... sekali lagi terima kasih sudah membantu Salma..."


"Iya bu... sama-sama"


Salma pun mengantar Wahyu hingga ke depan. Saat pria itu hendak menyalakan motornya sejenak ia memandang ke arah Salma.


"Bolehkah lain kali aku datang lagi kemari?" tanyanya.


"Iya... ga pa-pa mas... asal jangan ada yang marah saja..." sahut Salma."


"Mana mungkin ada yang marah.... yang ada malah senang karena tahu aku juga punya teman cewek" sahut Wahyu tertawa.


"Memang kamu ga punya teman cewek sama sekali?" tanya Salma penasaran.


"Sebenarnya punya tapi tidak sedekat ini..." kata Wahyu memandang Salma dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Salma tertegun. Namun ia menampik rasa penasaran yang muncul setelah perkataan Wahyu tadi dan mencoba berfikir logis. Mungkin saja memang pria itu cuma menganggapnya teman dekat. Hanya kebetulan saja jika ia seorang wanita jadi benar dia teman dekat wanita pertamanya.


"Ya sudah... aku pulang dulu ya Ma..."


"Iya mas..." sahut Salma.


Setelah kepergian Wahyu, Salma pun segera masuk ke dalam rumah. Disana terlihat bu Rahma tengah beristirahat dengan duduk di depan tv.


"Wahyu sudah pulang nak?"


"Iya bu..."


"Nak... sepertinya Wahyu itu orang baik..."


"Benar bu... bahkan tadi dia yang membujuk pemilik kios agar aku bisa membayar uang sewanya secara bulanan" terang Salma.


"Apa dia masih sendiri?" tanya bu Rahma.


"Sepertinya iya bu... kenapa?"

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pastikan nak... jangan sampai nanti ada yang salah faham dengan kedekatan kalian... karena tidak ada yang namanya persahabatan murni antara pria dan wanita " kata bu Rahma.


"Apa lagi status kamu... banyak yang memandang rendah predikat janda apalagi kamu masih muda" nasehatnya.


"Salma faham bu... Salma juga ga mau kembali dalam posisi sebagai orang ketiga dalam hubungan orang lain" sahut Salma.


"Ya sudah lebih baik kita bersiap untuk ke pasar" ujar bu Rahma.


Salma pun mengangguk dan segera bersiap untuk pergi berbelanja untuk barang dagangannya besok.


.........


Sementara Wahyu yang kini sudah sampai di rumahnya tampak baru saja memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Saat ia memasuki rumah disana sudah menunggu ibunya dan juga adiknya.


"Sore ma..." ucapnya pada bu Desi ibunya.


"Sore .... kenapa kau pulang menggunakan motor Wahyu? kemana mobil kamu?"


"Mobilku masih digarasi ma... hari ini aku cuma ingin saja pakai motor" sahut Wahyu sambil duduk disamping adiknya Gita.


"Ck... alesan aja .... bilang saja kalau kakak sudah punya gebetan dan pengen berduaan..." sergah Gita.


"Dari mana kau tahu ha?"


"Kakak pikir kami ga tahu kalau akhir-akhir ini kakak lagi deket sama seseorang?" ucap Gita.


"Iya nak... kenapa kamu harus menyembunyikan semuanya dari kami?" sambung bu Desi.


"Memangnya gadis itu jelek? atau jangan-jangan dia itu sudah punya suami?" kata Gita membuat bu Desi langsung melotot memandang putranya.


"Benar itu Wahyu? kamu mendekati istri orang? mau ditaruh dimana muka mama kalau anak mama mengejar istri orang?"


Mendengar jawaban Wahyu membuat ibu dan adiknya langsung melotot.


"Mama ga salah dengarkan? kamu... putra dari keluarga Permana mendekati seorang janda?" kata bu Desi dengan penuh emosi.


"Memangnya kenapa dengan status janda ma?"


"Kenapa? kamu tanya kenapa? kamu itu pengusaha sukses Wahyu... wajah kamu juga tampan dan yang terpenting kamu itu perjaka mana pantas bersanding dengan seorang janda apalagi dia cuma penjual gorengan" kata bu Desi yang sudah tak mampu mengendalikan emosinya.


"Jadi mama sudah mengetahui semua? mama memata-matai Wahyu?" tanya Wahyu yang mulai ikut tersulut emosinya dengan sikap bu Desi yang sudah merendahkan Salma tanpa mengenalnya lebih jauh.


"Mas! kenapa mas jadi marah sama mama sih? maksud mama kan baik siapa tahu janda itu sengaja mendekati mas karena tahu mas itu orang kaya" ujar Gita yang juga tak menyukai wanita pilihan kakaknya karena mendengar jika wanita itu janda dan hanya penjual gorengan di pinggir jalan.


"Dia tidak tahu aku kaya Git..." jawab Wahyu.


"Dia hanya tahu kalau aku hanya karyawan biasa ... jadi stop berfikiran jika dia hanya mengincar kekayaanku saja!" sambung Wahyu dan pergi ke kamatnya meninggalkan ibu dan adiknya itu.


"Bagaimana ini ma... kakak sepertinya sudah tergila-gila dengan janda genit itu!" kata Gita.


"Mama juga ga tahu Gita... padahal mama sudah berniat menjodohkan kakak kamu dengan anak teman mama yang baru pulang dari luar negeri" sahut bu Desi dengan wajah masam.


"Sudahlah lebih baik kita pulang saja dulu mama pusing lama-lama di sini" sambungnya sambil beranjak keluar dari rumah Wahyu.


Mau tidak mau Gita pun terpaksa mengikuti langkah ibunya. Mereka pun pulang ke rumah keluarga Permana. Wahyu memang lebih memilih untuk tinggal di rumah yang ia beli dengan hasil kerjanya sendiri selama ini dari pada tinggal dengan keluarga besarnya.

__ADS_1


"Belum juga aku menyatakan perasaanku pada Salma, mama dan Gita sudah mengetahuinya" batin Wahyu resah.


"Bagaimana jika mama dan Gita mendatangi Salma dan mengintimidasi gadis itu? lalu apa Salma masih mau menemuiku jika dia tahu siapa aku sebenarnya? Aaargh... sial kenapa aku bisa ceroboh hingga tak tahu jika aku dimata-matai mama!" batin Wahyu lagi sambil mengusak rambutnya kasar.


"Apa ada pengkhianat disekitarku?" fikir Wahyu setelah beberapa saat terdiam.


"Aku harus segera mengatakan perasaanku pada Salma sebelum mama dan yang lainnya bertindak dan membuat Salma menjauh dariku..." tekadnya.


.....


Di tempat lain tampak Salma tengah menyisir rambutnya setelah membersihkan diri sepulang dari pasar bersama ibunya. Dia termenung memandang pantulan wajahnya di cermin. Salma sedang memikirkan perkataan ibunya siang tadi tentang Wahyu.


Memang benar selama ini ia hanya mengenal Wahyu dari pengakuan laki-laki itu saja tanpa tahu kebenarannya. Apakah memang ia masih sendiri atau sudah punya kekasih atau bahkan sudah menikah. Tapi perasaanya sekarang pada pria itu memang hanya sebatas teman maka dari itu ia merasa tak enak jika harus menyelidiki latar belakang Wahyu dan juga keluarganya.


Namun apa yang dikatakan ibunya juga ada benarnya... jangan sampai jika suatu hari nanti tiba-tiba ada seseorang yang datang padanya dan mengaku sebagai istri Wahyu dan tidak menyukai kedekatannya dengan pria itu.


"Euh..." desah Salma sambil tetap menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Kenapa nasibmu sangat malang Ma.... dulu kau terpaksa jadi istri kedua sepupumu dan sekarang saat kamu menemukan seorang teman yang membuatmu nyaman untuk berbagi kenapa harus seorang pria?" ucapnya lirih pada bayangannya di cermin.


Tiba-tiba ia teringat dengan Rini... ya bukankah Rini juga sahabatnya? Ish... ia bahkan lupa dengan wanita yang sempat jadi tempat curhatnya dulu. Tiba-tiba ia ingin sekali menghubungi Rini... ada rasa bersalah karena telah melupakan sahabat pertamanya itu. Dan tak memberi kabar saat ia memutuskan untuk pindah keluar kota.


Salma pun langsung bangkit dari duduknya dan mencari ponselnya. Ia ingin segera mencari nomor ponsel Rini dan segera menghubunginya. Untung saja saat memeriksa nomor kontak di ponselnya ia masih menemukan nomor Rini. Dengan cepat ia pun menghubungi nomor tersebut. Tak lama terdengar suara Rini diseberang sana.


"Halo... siapa ya?"


"Halo Rin.... ini aku Salma..."


"Salma? Ya Allah.... kamu itu kemana saja selama ini? kata pemilik restoran kamu sudah keluar dari pekerjaanmu... tapi kenapa kamu ga kasih kabar aku? mana nomor kamu tidak aktif lagi" berondong Rini saat tahu jika Salma yang menghubunginya.


Salma semakin merasa bersalah karena pergi begitu saja tanpa memberitahu pada sahabatnya itu.


"Maaf Rin... waktu itu aku tidak sempat memberitahumu..."


"Kamu dimana sekarang?" tanya Rini penasaran.


"Di kota T... Rin"


"Kamu pindah keluar kota?"


"Iya..."


"Apa karena suami kamu?" tanya Rini.


"Aku sudah pisah Rin..."


"Jadi..."


"Iya... sekarang aku sama seperti kamu" ujar Salma.


"Ya Allah Ma... aku ga nyangka kamu bakal bernasib sama sepertiku..." suara Rini terdengar sendu.


"Ga pa-pa Rin... bukankah ini lebih baik dari pada aku tidak bahagia?"


"Kau benar Ma... sekarang apa kau bahagia?"

__ADS_1


"Insyaallah aku merasa bahagia Rin.."


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka hingga terdengar suara bu Rahma yang memanggilnya karena sudah terdengar suara azan magrib. Lalu mereka pun mengakhiri sambungan telpon mereka setelah berjanji akan saling mengirim kabar lagi.


__ADS_2