Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Janggal


__ADS_3

Wahyu dan seorang petugas penyelamat turun ke dalam jurang dengan menggunakan tali pengaman. Mereka juga membawa peralatan untuk menyelamatkan Salma. Perlahan keduanya turun dengan dibantu beberapa petugas penyelamat lain yang menjaga tali dari atas. Para petugas medis pun sudah mulai berdatangan bersiap untuk menangani korban yang terluka. Setelah beberapa saat Wahyu dan petugas penyelamat turun, akhirnya mereka pun sampai di tenpat Salma berada. Wanita hamil itu tampak sedikit pucat dan lemah.


"Sayang!" seru Wahyu sambil mendekat ke arah Salma.


"Mas..." sahut Salma lirih.


Tubuh Salma bergetar saat Wahyu memeluknya. Tangisnya tidak terdengar namun Wahyu tahu jika istrinya itu tengah menangis dan ketakutan.


"Tenang sayang... aku ada disini..." ucapnya lembut.


"Pak lebih baik anda antarkan istri anda ke atas... biar nanti teman saya akan menggantikan anda untuk menolong korban lainnya..." kata petugas penyelamat saat Wahyu memasang pengaman pada tubuh Salma sebelum ia membawa istrinya itu naik ke atas.


"Baik... terima kasih pak..." ucap Wahyu yang dijawab dengan anggukan oleh sang petugas.


"Terima kasih juga pak..." Salma pun mengucapkan terima kasih pada petugas yang membantu suaminya itu menyelamatkan dirinya.


"Sama-sama bu..."


Kemudian Wahyu pun membawa Salma keatas dengan menggunakan tali pengaman setelah memberitahukan pada para penyelamat diatas bahwa ia akan mulai mendaki. Sementara petugas yang tadi bersamanya juga mengawasi dari bawah. Dengan bantuan dari petugas yang ikut menariknya dari atas jurang Wahyu dan Salma dapat sampai diatas dengan selamat. Setelah melepaskan semua alat pengaman pada tubuh mereka Wahyu dan Salma pun menuju ambulans yang sudah tersedia agar Salma mendapatkan perawatan. Seorang petugas penyelamat yang lain juga turun ke jurang menggantikan Wahyu untuk menyelamatkan para penculik yang kini menjadi korban kecelakaan.


"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya dok?" tanya Wahyu saat Salma baru saja diperiksa oleh dokter setelah ia dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.


"Syukurlah pak... ibu dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja... hanya sedikit syok atas apa yang baru saja terjadi..." terang sang dokter.


"Terima kasih dokter..."


"Sama-sama pak... sekarang bapak boleh menemui istrinya..."


"Sekali lagi terima kasih dok..." ucap Wahyu yang diangguki oleh sang dokter.


Setelah itu Wahyu pun langsung menemui Salma yang masih terbaring di brankar ruang perawatan. Meski masih agak pucat namun wanita itu langsung tersenyum saat melihat kedatangan Wahyu.


"Mas..." panggilnya lirih sambil merentangkan tangannya.


Segera Wahyu mendekat pada istrinya itu dan langsung memeluknya.


"Aku takut mas... mereka tadi ingin membunuhku..." adu Salma dalam pelukan Wahyu.


Wahyu tercekat mendengar perkataan Salma. Entah mengapa ia merasa ada yang janggal pada perampokan yang menimpa kios Salma. Apa lagi saat Salma mengatakan para perampok itu akan menghabisinya.


"Bukannya mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau sayang? kenapa mereka harus membunuhmu juga? jika untuk menghilangkan bukti dan saksi... bukannya para karyawanmu juga sudah mengenali mereka? kenapa hanya kamu yang mereka incar?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu alasannya mas... tapi sebelum kecelakaan tadi mereka mengatakan akan membunuhku..." terang Salma masih dalam pelukan Wahyu.


Wahyu tercenung. Dalam fikirannya ia mengira-ngira siapa kiranya orang yang ingin mencelakai istrinya itu. Dan hanya ada satu nama yang terlintas dalam fikirannya saat ini. Mamanya. Ya terakhir kali saat Wahyu memergoki mamanya yang sedang berusaha untuk mencelakai Salma ia memang mengancam wanita yang telah melahirkannya itu agar tidak lagi mengusik istrinya jika tidak ia tidak akan lagi mau mengakui dan menemui mamanya lagi.


Tapi apa sampai sekarang mamanya masih saja ingin menyingkirkan Salma? Padahal ia berharap dengan bertambahnya usia kandungan Salma maka mamanya akan luluh dan mau menerima wanita itu sebagai menantunya.


"Kau istirahat saja dulu sayang..." ucap Wahyu berusaha mengalihkan perhatian Salma.


"Iya mas..." sahut Salma menurut.


Wahyu pun membantu Salma agar nyaman berbaring diatas brankarnya. Setelah yakin jika istrinya itu sudah tertidur Wahyu pun langsung keluar dari kamar perawatan Salma untuk menelfon asistennya dan menyuruh untuk menyelidiki apakah mamanya terlibat dalam kasus Salma. Baru saja ia mematikan ponselnya terlihat olehnya pak Adi dan Gita datang dengan tergopoh-gopoh.


"Bagaimana keadaan Salma nak?" tanya pak Adi saat ia dan Gita sudah berada di depan Wahyu.


"Alhamdulillah pa... dia dan bayinya baik-baik saja... hanya masih sedikit syok dengan apa yang baru saja terjadi..." sahut Wahyu.


Pak Adi dan Gita langsung menarik nafas lega mendengar perkataan Wahyu. Keduanya tadi langsung pergi ke lokasi kecelakaan namun Wahyu dan Salma sudah pergi ke rumah sakit dengan ambulans sehingga keduanya pun langsung menyusul.


"Apa ibunya Salma sudah diberitahu?" tanya pak Adi.


"Sudah pa... tadi saat baru saja menerima kabar tentang Salma, ibu menelfon menanyakan Salma karena saat ia menghubungi Salma, Salma tidak menjawab panggilannya... jadi terpaksa Wahyu mengatakan semuanya..." ungkap Wahyu.


"Mungkin ibu kak Salma sudah mempunyai firasat tentang putrinya kak... jadi dia langsung menghubungi kakak..." kata Gita.


"Pa... aku merasa ada yang janggal dengan apa yang baru menimpa Salma..." ungkap Wahyu saat ia dan pak Adi hanya berdua karena Gita harus ke toilet sebentar.


"Maksud kamu?" tanya pak Adi tak mengerti.


"Tadi Salma bilang jika para perampok itu bukan membawanya untuk dijadikan sandera pa... tapi untuk dihabisi oleh mereka..." terang Wahyu yang membuat pak Adi sangat terkejut.


"Maksud kamu ada yang sengaja menyuruh mereka untuk menghabisi Salma dengan berkedok perampokan?"


"Iya pa..." sahut Wahyu.


"Tapi siapa yang begitu dendam dengan Salma hingga berusaha untuk membunuhnya nak?"


"Aku juga tidak tahu pa..." sahut Wahyu lirih.


Namun dalam hatinya ia yakin jika mamanya lah yang berada dibalik semua ini. Dan tanpa diketahui oleh Wahyu jika pak Adi pun saat ini memiliki fikiran yang sama denganya namun saat ini tak ada bukti yang bisa mengarah pada bu Desi bahwa dia adalah dalang dari semuanya.


Bu Rahma datang saat hari telah larut. Perjalanan panjang dari kota asalnya tak membuatnya lelah deni mengetahui keadaan putri sulungnya itu. Bersama Shania ia berangkat dengan menggunakan mobil sewaan karena para suami putrinya itu tidak dapat mengantarkan. Saat sampai di depan ruang perawatan Salma ia melihat pak Adi dan Wahyu yang duduk dibangku.

__ADS_1


"Nak Wahyu... bagaimana keadaan Salma?" tanyanya begitu sampai di depan kedua pria itu.


"Ibu..." Wahyu terkejut melihat ibu mertuanya sudah datang bersama Shania.


"Tenanglah Rahma... Salma baik-baik saja... dia hanya butuh istirahat karenanya dirawat disini" terang pak Adi yang membuat bu Rahma dan Shani langsung bisa bernafas lega.


"Bisakah kami menjenguknya?" tanya Shania yang juga khawatir pada kakaknya itu.


Pak Adi dan Wahyu pun mempersilahkan Shania dan ibunya untuk masuk ke ruang perawatan Salma karena di dalam sana pun sudah ada Gita yang sedang menemani Salma. Bu Rahma menghambur ke arah putrinya saat dilihatnya Salma masih terbangun dan sedang berbincang dengan Gita.


"Salma!" panggil bu Rahma.


"Ibu?" Salma tampak terkejut melihat ibunya dan Shania ada di ruang perawatannya.


Bu Rahma langsung mendekat ke arah putrinya dan langsung memeluk tubuh Salma.


"Ibu tahu dari mana aku ada di sini?" tanya Salma setelah bu Rahma mengurai pelukannya.


"Tadi ibu menelfonmu tapi tidak kau angkat... dan saat ibu menelfon Wahyu dia mengatakan semuanya pada ibu..." terang bu Rahma sambil mengelus kepala putrinya itu lembut.


"Maaf sudah membuat ibu dan yang lainnya khawatir..."


"Tidak apa-apa kak... ini bukan salah kakak..." sahut Shania.


Ketiganya pun berbincang sebentar sebelum akhirnya Salma disuruh ibunya untuk tidur. Setelah Salma tertidur ketiga wanita yang lain pun keluar dari kamar Salma.


"Kalian akan menginap di rumah Wahyu?" tanya pak Adi pada bu Rahma dan Shania saat keduanya keluar dari dalam ruang perawatan Salma bersama Gita.


"Iya..." sahut bu Rahma singkat.


"Kalau begitu biar kalian aku antar... sebab Wahyu masih harus menjaga Salma sedang Gita juga harus pulang karena besok masih harus kuliah" tawar pak Adi.


Bu Rahma pun menurut. Setelah berpamitan pada Wahyu mereka semua pun pulang. Pak Adi mengantarkan Gita terlebih dahulu karena jarak rumah pak Adi yang lebih dari rumah sakit baru kemudian pak Adi mengantarkan bu Rahma dan Shania ke rumah milik Wahyu.


Sementara di tempat lain tampak seseorang tengah marah karena rencanya yang sidah disusun begitu rapi ternyata juga gagal untuk menyingkirkan Salma dan juga bayi yang dikandungnya.


"Arrgghh... sial! kenapa susah sekali menyingkirkan wanita miskin itu sih! harus pakai cara apa lagi agar dia lenyap selamanya dari dunia ini hah?" teriaknya frustasi.


Wanita itu memandang foto Salma dan Wahyu yang ia ambil diam-diam saat keduanya tengah jalan berdua dengan penuh amarah.


"Kau lihat saja nanti Wahyu... setelah wanita itu berhasil aku singkirkan akan aku buat kamu menjadi milikku!" seringai wanita itu dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Dan jika kau masih saja menolakku saat wanita itu sudah lenyap maka akan aku buat kamu menyusulnya sekalian!" serunya sambil melempar sebuah belati pada foto Wahyu dan Salma.


Wanita itu langsung tertawa senang karena ia masih punya banyak cara yang ia siapkan untuk bisa memiliki Wahyu pria yang masih menjadi obsesinya itu.


__ADS_2