
Pagi hari selesai sholat subuh Salma dan bu Rahma sudah sibuh mengolah bahan dagangannya. Walau hanya gorengan mereka membuatnya beberapa macam. Selesai membantu ibunya mengolah bahan dagangannya Salma langsung membersihkan diri dan bersiap untuk memulai usahanya. Sedang bu Rahma menyiapkan sarapan sederhana untuk dirinya dan putrinya itu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Salma segera keluar dari kamar menemui ibunya.
"Ma... ayo makan dulu..." suruh bu Rahma saat melihat Salma mendekatinya.
"Iya bu.... ibu juga makan dulu"
"Iya nak..."
Keduanya pun langsung makan bersama. Selesai makan Salma pun berpamitan pada ibunya untuk memulai berjualan.
"Do'akan Salma ya bu... agar dagangan Salma laris"
"Iya nak... ibu selalu mendo'akanmu..."
Salma pun meraih dan mencium tangan ibunya baru kemudian ia mulai menuntun sepedanya yang di bagian belakangnya ia letakkan box tempatnya membawa dagangannya. Begitu ia keluar dari halaman rumah ia pun mulai menawarkan dagangannya dengan suara keras.
"Gorengan...gorengan...." teriaknya tanpa malu menawarkan dagangannya.
Bu Rahma yang masih dapat mendengar teriakan putrinya menawarkan dagangan meneteskan air mata haru. Dulu walau hidup mereka sederhana namun tak pernah anak-anaknya harus bekerja sampai seperti itu berjualan keliling. Walau begitu ia bersyukur karena anak-anaknya tak pernah malu mengerjakan pekerjaan apa pun asalkan halal.
"Semoga ini awal yang baik bagimu Ma...." do'anya dalam hati.
Salma berjalan sambil menuntun sepedanya dan tak lelah menawarkan dagangannya. Namun naas sedari tadi belum ada yang mau membeli dagangannya. Tak terasa ia sudah berjalan cukup jauh dari rumah kontrakannya. Kini ia sudah berada di daerah perkantoran. Meski gedung perkantoran di kota T tak semegah di kota asalnya namun tetap saja tempat tersebut bisa jadi tempatnya mengais rezeki.
Dengan perlahan ia memarkirkan sepedanya di trotoar depan gedung perkantoran yang terlihat cukup ramai dengan para karyawan yang mulai masuk kantor. Dengan ramah ia mencoba menawarkan dagangannya pada setiap orang yang melewati tempatnya berdiri disamping sepedanya.
Setelah beberapa kali tak berhasil akhirnya ada satu dua orang yang mau membeli dagangannya. Salma pun sangat bersyukur dagangannya mulai ada yang mau membeli. Tak berapa lama beberapa orang juga mulai membeli dagangannya. Ternyata pembeli pertamanya lah yang mempromosikan dagangannya setelah merasakan gorengan yang dijual Salma sangat enak.
Setelah agak siang seluruh gorengan yang dibawanya dari rumah pun sudah habis terjual. Bahkan ada beberapa karyawan yang sudah memesan gorengan untuk diambil saat istirahat siang. Salma pun segera mengayuh sepedanya untuk pulang. Beruntung kemarin ia dan ibunya membeli bahan gorengan cukup banyak dan masih ada yang belum mereka olah jadi bisa ia buat untuk memenuhi pesanan yang ia dapat.
"Assalamualaikum..." seru Salma saat tiba di rumahnya.
"Waaliakum salaam..." sahut bu Rahma dari dalam rumah.
"Bu... alhamdulillah dagangan Salma habis..." ucap Salma dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah..." sambut bu Rahma.
"Oh iya bu... tadi ada pesanan gorengan untuk nanti siang..."
"Baiklah kamu ganti baju dulu dan istrirahat saja dulu biar ibu yang menyiapkan pesanannya" ucap bu Rahma.
__ADS_1
Salma pun mengangguk dan langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu ia segera menghampiri ibunya untuk membantu menyiapkan pesanan.
"Kamu tidak istirahat dulu Ma?"
"Ga usah bu... nanti saja setelah mengantarkan pesanan" sahut Salma sibuk mengupas beberapa buah pisang untuk digoreng.
Menjelang waktu makan siang Salma sudah bersiap dengan sepedanya untuk mengantarkan pesanan. Ia juga sengaja menambah beberapa gorengan untuk berjaga jika ada pembeli lain disana. Setelah berpamitan dengan ibunya ia pun segera berangkat.
Tepat saat jam makan siang Salma sudah berdiri didepan gedung tempat tadi pembeli yang memesan dagangannya bekerja. Tak lama para pembeli itu pun datang untuk mengambil pesanan mereka. Dan benar saja diantara mereka ada yang membawa temannya yang akhirnya ikut membeli dagangan Salma.
Karena sebagian besar gorengan yang Salma bawa merupakan pesanan maka tak butuh waktu lama semua gorengan yang ia bawa langsung habis. Kemudian ia pun langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia pun langsung memberikan semua hasil berjualannya pada ibunya.
Bu Rahma sangat terharu putrinya sudah mulai sibuk bekerja dan terlihat mulai melupakan rasa sakitnya karena pernikahannya yang gagal. Ia juga merasa bersyukur bahwa usaha yang dijalani Salma sudah mulai menampakkan hasil.
Siang itu Salma beristirahat dengan tenang karena kelelahan berjualan. Saat azan ashar berkumandang bu Rahma pun segera membangunkan putrinya itu. Setelah membersihkan diri dan beribadah keduanya langsung pergi ke pasar untuk membeli bahan gorengan besok pagi.
Tak terasa sudah satu bulan Salma menjalani profesi barunya. Dan selama itu pula sudah banyak yang menjadi langganannya. Mereka bahkan berlomba untuk memesan terlebih dahulu agar tidak kehabisan. Kini box yang Salma bawa pun lebih besar dari yang pertama kali ia bawa karena jumlah gorengan yang ia jual bertambah banyak.
Seperti saat ini Salma tengah sibuk melayani pembeli yang cukup banyak sehingga mengerumungi tempatnya berjualan. Sebuah mobil mewah hendak memasuki area parkir gedung depan Salma menggelar dagangannya. Tampak penumpang mobil itu pun penasaran dengan kerumunan yang terjadi di sebrang.
"Pak sebenarnya ada apa kok di sana ramai sekali?" tanyanya pada sang sopir.
"Saya juga tidak tahu pak... tapi sepertinya itu tempat orang berjualan gorengan" jawab sang sopir.
"O..." sahut pria yang ada di kursi penumpang.
"Selamat pagi pak..." ucapnya sambil membungkuk sebentar.
"Pagi... Sis tolong kau belikan gorengan di depan untuk saya" titahnya.
Sekretarisnya itu pun mengerutkan dahinya tak menduga jika atasannya itu makan gorengan. Namun wanita itu langsung melaksanakan perintah atasannya tanpa bertanya.
Setelah mengantre sebentar wanita yang bernama Siska itu pun bisa membelikan pesanan atasannya itu. Karena ia tidak tahu gorengan kesukaan atasannya ia pun membeli berbagai macam gorengan. Setelah itu ia pun segera kembali ke kantor dan menyerahkan pesanan atasannya tersebut.
"Ini pak pesanan bapak..." ucapnya dengan sopan sambil meletakkan gorengan yang baru dibelinya itu diatas meja.
Pria itu menatap bungkus gorengan yang dibawa sekretarisnya itu. Tampak sekali jika bungkusnya saja terlihat cukup bagus bukan hanya kresek dengan kertas koran saja seperti penjual gorengan biasanya. Gorengan itu tampak dibungkus dengan kardus kekinian sehingga tampak lebih mewah.
"Berapa harganya?" tanyanya pada Siska.
"Hanya seribu perbuah pak... kecuali pisang goreng yang dua ribu perbuah" terang Siska.
Pria itu pun manggut-manggut.
__ADS_1
"Ini bos mau makan gorengan apa mau nanam modal kok dari tadi cuma memperhatikan kemasannya dan ga dimakan?" batin Siska.
Pria itu pun membuka kardus gorengan itu dan mulai mengambil pisang goreng dan memakannya. Terasa sekali adonan tepung dan pisang yang digunakan sempurna hingga ia berani bersumpah jika baru kali ini ia merasakan pisang goreng bisa selezat ini. Kemudian ia pun mengambil gorengan yang lain. Lagi-lagi ia merasakan kelezatan yang berbeda dari semua gorengan yang pernah ia makan. Pantas saja penjual gorengan itu sangat laris.
"Sejak kapan penjual gorengan itu berjualan di depan?" tanyanya setelah puas memakan gorengan.
"Sudah sejak satu bulan yang lalu pak" jawab Siska.
Pria itu pun berdiri dan melangkah ke arah jendela yang menghadap ke depan gedung. Dari sana ia dapat melihat jika penjual itu sedang membereskan dagangannya. Sepertinya ia sudah akan pulang.
"Apa setiap hari selalu ramai seperti tadi?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya pak..." sahut Siska yang makin penasaran dengan sikap atasannya yang biasanya sangat cuek dengan sekitarnya itu.
"Baiklah apa saja agenda kita hari ini?" tanya pria itu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Siska pun langsung menerangkan jadwal kerja mereka hari ini. Dan tak lama mereka pun sibuk melakukan aktifitas kerjanya.
...........
Jam makan siang sudah tiba... Salma pun sudah bersiap ditempatnya menunggu pelanggannya mengambil pesanan mereka. Memang Salma masih menerima pesanan untuk jam makan siang. Walau ia harus bolak balik ke rumahnya. Tapi ia senang karena langganannya semakin bertambah tiap harinya.
Saat ia sedang mempersiapka pesanan agar nanti saat pemesannya datang ia tinggal memberikannya tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Salma..." panggilnya.
Salma pun mendongak dan mendapati wajah yang asing dimatanya.
"Siapa?" tanyanya bingung.
"Kau lupa?" tanya orang itu lagi.
"Maaf ..." ucap Salma saat tak dapat mengingat orang yang ada didepannya.
"Aku Wahyu..."
"Wahyu?"
"Wahyu anak IPA yang pernah satu kelompok denganmu saat kita ikut lomba cerdas cermat dulu" ucap pria itu sambil tersenyum.
"Oh... maaf aku lupa" sahut Salma malu.
"Tidak apa-apa lagi pula kita hanya beberapa hari bersama saat lomba saja kan? tentu saja kau lupa padaku" ujar pria itu tertawa kecil.
__ADS_1
"Kau bekerja disana?" tanya Salma sambil menunjuk gedung di seberang tempatnya berjualan. Pria itu pun hanya mengangguk. Tak lama tampak beberapa karyawan sudah mulai keluar dari dalam gedung. Mereka langsung menuju tempat jualan Salma karena sudah memesan sejak pagi.
Tampak Wahyu langsung menyingkir saat melihat para karyawan itu berdatangan. Salma yang tengah sibuk melayani para pelanggannya pun tak menyadari jika Wahyu telah pergi diam-diam. Namun pria itu tidak pergi jauh. Ia hanya bersembunyi dari para pelanggan Salma yang semuanya merupakan karyawannya sendiri. Ia hanya tidak ingin timbul kehebohan karena kehadirannya di tempat Salma berjualan.