Jodoh Istri Kedua

Jodoh Istri Kedua
Kenyataan


__ADS_3

Hanya butuh waktu sekejap dagangan Salma sudah ludes tak tersisa. Setelah memasukkan uang hasil penjualannya dalam dompet Salma pun mulai membereskan tempatnya berjualan. Salma mengikat box tempatnya menaruh gorengan dibelakang sepedanya baru kemudian ia menaiki dan mengayuh sepedanya untuk pulang. Sepanjang jalan Salma bersenandung lirih. Hari ini ia sangat bahagia karena hasil penjualannya hari ini sangat banyak.


Saking senangnya bersenandung sampai ia tak menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya. Saat Salma sampai di rumah kontrakannya ia pun segera masuk ke dalam rumah. Sementara orang yang sejak tadi mengikuti Salma tampak tersenyum tipis dari dalam mobil yang dikendarainya.


"Ternyata kau tinggal di sini Ma..." gumamnya.


Lalu kemudian ia pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tapi ternyata bukan hanya dia yang berada di tempat itu. Ada orang lain yang juga sedang memperhatikan Salma. Orang itu bahkan belum beranjak dari tempatnya memperhatikan Salma.


Tampak orang itu seperti tengah berfikir keras antara menemui Salma atau meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan gadis itu. Setelah cukup lama terdiam dan hanya memandang rumah kontrakan Salma akhirnya orang itu pun memutuskan untuk pergi. Deru suara mesin mobil kembali terdengar menjauhi tempat itu.


Salma yang tampak senang masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Bu Rahma yang baru saja menyelesaikan sholatnya pun langsung menjawab salam putrinya dari dalam kamar.


"Ibu baru selesai sholat?" tanya Salma saat dilihatnya bu Rahma tengah melipat mukenanya.


"Iya nak... kmau sholat dulu sana setelah itu kita makan siang" suruh bu Rahma.


Salma pun mengangguk menuruti perintah ibunya. Ia pun segera membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu. Sementara bu Rahma menata makanan diatas meja. Selesai sholat Salma segera menemui ibunya di ruang makan.


"Ayo makan dulu nak..." ajak bu Rahma.


Salma pun mengangguk. Lalu keduanya pun makan dengan lahap. Setelah makan keduanya beristirahat sejenak sebelum nanti mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan membuat gorengan.


..............


Sudah empat bulan ini Nadia berusaha untuk mengambil hati suaminya lagi. Hilangnya ingatan Salma akan pernikahannya membuat Nadia berfikir jika kesempatannya sangat besar. Namun apa yang di harapkan sungguh diluar kenyataan yang kini terjadi. Sejak kecelakaan yang menimpa Salma nyaris setiap malam suaminya itu selalu tidur di kamar bekas Salma. Bahkan untuk sekedar tersenyum padanya pun jarang apalagi berbicara pada Nadia. Suaminya yang dulu sangat hangat kini berubah menjadi sangat dingin.


Nadia mencoba bersabar karena kini ia sadar semua terjadi karena ulahnya sendiri. Dan semua karena dendam kesumat yang ia simpan pada Salma padahal gadis itu sama sekali tak berbuat salah padanya. Hanya karena mendapatkan perhatian dari orang sekitarnya bukan berarti dia sengaja mencari perhatian bukan? Namun apa mau dikata semua sudah terjadi ... dulu ia begitu buta karena rasa irinya.


Pagi ini Nadia sengaja membuat sarapan sendiri untuk suaminya. Sengaja ia membuat masakan kesukaan suaminya itu. Setelah selesai ia pun segera membersihkan diri dan berdandan cantik untuk suaminya. Saat ia keluar dari kamar tampak Amran yang semalam lagi-lagi tidur di kamar bekas Salma sudah duduk di depan meja makan.


"Selamat pagi mas..." sapa Nadia sambil tersenyum.


"Pagi" jawab Amran datar.


Nadia menghela nafasnya pelan. Walau sedikit kecewa dengan sikap Amran namun ia patut bersyukur kali ini suaminya mau menjawab sapaannya bukan seperti yang sudah-sudah hanya dengan menganggukkan kepala atau cuma memperdengar suara dehemmannya saja.


"Pagi ini aku sengaja memasakkan kesukaanmu mas...." ujar Nadia mencoba mencairkan suasana.


Amran hanya diam tapi ia membiarkan istrinya itu mengambilkan makanan untuknya. Dan tanpa bersuara pria itu langsung memakannya. Melihat itu sebenarnya Nadia ingin menangis namun ditahannya. Ia tak mau suasana pagi ini rusak karenanya.


"Mas... hari ini aku cuti dari kantor... bolehkah aku membersihkan kamarmu? sudah lama bukan kamar itu tidak dibereskan..." ucap Nadia.


"Terserah..." sahut Amran singkat.


"Aku berangkat ke kantor dulu" sambungnya lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.

__ADS_1


Nadia mengelus dadanya yang terasa sesak. Namun ia harus kuat. Ia tak mau rumah tangganya hancur. Setidaknya kali ini suaminya sudah mulai mau berbicara padanya.


Selesai makan ia pun segera masuk ke kamar Amran. Sesungguhnya niatnya bukan untuk membersihkan kamar namun ia hendak mencari tahu apakah suaminya itu masih menyimpan benda-benda yang dapat mengingatkannya pada Salma.


Setelah membersihkan dan membereskan bebeberapa barang di dalam kamar sambil memeriksanya ternyata tak ada satu barang pun yang ia fikir dapat mengingatkan suaminya pada Salma. Apakah hanya kebetulan saja suaminya menggunakan kamar itu untuk pisah ranjang dengannya? karena memang cuma kamar itu yang tersisa di rumah.


Nadia pun duduk di tepi tempat tidur setelah tak menemukan apa yang ia cari. Tiba-tiba matanya tertuju pada laci nakas yang ada disamping tempat tidur. Segera ia membuka laci itu dan memeriksa isinya. Tak ada foto atau benda apa pun yang berhubungan dengan Salma. Hanya terlihat beberapa amplop coklat. Saat Nadia membaca tulisan yang tertera disana ia sangat terkejut karena itu surat panggilan dari pengadilan Agama.


Dengan tangan bergetar ia membuka amplop itu untuk membaca isinya. Dalam fikirannya ia sudah takut jika itu surat permintaan Amran untuk bercerai dengannya. Namun ia makin terkejut karena ternyata itu surat panggilan untuk sidang perceraian Amran dan Salma.


"Jadi mas Amran akan menceraikan Salma?" batinnya.


Diperiksanya kembali semua isi surat pada semua amplop yang ada di sana. Hingga akhirnya ia mendapati surat keputusan pengadilan Agama yang menyatakan jika Amran dan Salma sudah resmi bercerai. Air mata Nadia seketika luruh. Ia tak tahu apakah itu air mata bahagia atau sedih saat tahu jika kini Salma sudah bukan lagi istri kedua suaminya.


"Tapi kenapa mas Amran ga bilang apa-apa sama aku?" batinnya sambil menghapus air matanya.


"Bukankah Salma hilang ingatan? tapi kenapa pengadilan Agama mengabulkan perceraian mereka? apa ini permintaan keluarga Salma?" sambungnya dalam hati.


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul dari benaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya pada Amran saat suaminya itu pulang nanti. Nadia pun lalu melanjutkan kegiatannya membersihkan kamar itu.


..............


Sore hari saat Amran sudah pulang Nadia berinisiatif membuatkan kopi untuk suaminya itu. Baru kali ini ia melakukannya. Sebab sebelumnya ia selalu menyuruh Artnya untuk membuatkannya.


"Ini mas kopinya...." ucap Nadia sambil meletakkan gelas kopi diatas meja saat suaminya tengah menonton televisi.


"Mas boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Nadia.


"Tanya saja" sahut Amran.


"Tadi saat membersihkan kamarmu aku menemukan surat perceraianmu dengan Salma mas..." kata Nadia sambil memandang suaminya lekat.


"Lalu?" sahut Amran datar.


"Kenapa mas ga bilang sama aku?" tanya Nadia langsung.


"Untuk apa? apa kau akan mencari cara lain untuk menyakiti Salma lagi setelah dia lepas dari pernikahan kami ... begitu?" jawab Amran yang kini menatap Nadia tajam.


"Bukan begitu maksudku mas..." ucap Nadia tak terima dengan tuduhan Amran.


"Lalu apa? kau ingin kita seperti dulu sebelum kau berbohong demi egomu itu? tidak mungkin Nadia ... karena sikap kamu sudah sangat keterlaluan" kata Amran lalu pergi keluar dari rumah.


"Mas!!" panggil Nadia.


Namun Amran tak menghiraukannya. Ia yang beberapa bulan ini berusaha untuk menjalankan permintaan Salma untuk kembali pada Nadia merasa sudah tak sanggup lagi. Ia menyadari jika hidupnya semakin tersiksa tanpa Salma walau terlihat jika Nadia sudah berusaha untuk berubah. Salahkah dirinya jika belum bisa menghilangkan rasa cintanya pada mantan istrinya itu?

__ADS_1


Amran masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju ke rumah mamanya. Ia akan memohon sekali lagi pada mamanya untuk memberitahu dimana kini Salma tinggal. Sebab sejak sebulan yang lalu ia dan ibunya sudah pindah dan rumah itu kini ditempati oleh adiknya. Ia yakin mamanya tahu dimana gadis itu kini tinggal karena hubungan mamanya dan Salma sangat dekat.


Sesampainya di depan rumah mamanya, Amran langsung masuk ke dalam mencari mamanya. Wanita paruh baya itu ia temukan sedang berada di kebun belakang rumahnya. Saat Amran akan memanggil mamanya terlihat wanita itu sedang menerima telfon dari seseorang. Amran pun urung memanggil mamanya itu dan berjalan perlahan mendekati mamanya.


"Iya Salma... mama baik-baik saja..." terdengar suara mamanya.


"................."


"Iya.... mereka tidak ada yang tahu sayang... oh iya bagaimana dengan usaha baru kamu... apakah lancar?"


"...................."


"Syukurlah.... tapi nak apa kau tidak kelelahan mengendarai sepeda sambil berjualan seperti itu?"


"...................."


"Iya... ibu tahu... walau pun kota T termasuk kota kecil tapi mama tetap khawatir sayang .... kalau kau pergi kemana-mana hanya menggunakan sepeda" kata mama Aya.


"....................."


"Baiklah kalau begitu.... sudah ya sayang mama tutup dulu telfonnya sebentar lagi magrib" ucap mama Aya kemudian menutup telfonnya.


"Jadi Salma tinggal di kota T?" batin Amran.


Kemudian Amran menghampiri mamanya dan berpura-pura tak mengetahui jika mamanya baru saja menerima telfon dari Salma.


"Assalamualaikum ma..." ucapnya.


"Waalaikum salaam..." sahut mama Aya tersenyum melihat kedatangan putranya.


"Kamu dari mana nak?" tanyanya.


"Dari rumah ma..." sahut Amran.


"Kamu tidak sama Nadia?"


Amran hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa kau masih belum bisa memaafkan istrimu nak?" tanya mama Aya lembut.


"Apa mama juga sudah memaafkannya?" tanya Amran balik.


"Sejujurnya mama masih agak kesal padanya... tapi bagaimana pun dia itu istrimu..." sahut mama Aya sambil mendesah pelan.


"Mama juga ingin agar rumah tanggamu tidak sampai hancur seperti rumah tanggamu dengan Salma. Jangan buat pengorbanannya sia-sia nak..." sambung mama Aya.

__ADS_1


Arman hanya bisa terdiam mendengar ucapan mama Aya. Sedang tak jauh dari tempat keduanya berbincang tampak Nadia tengah berdiri terpaku mendengar percakapan keduanya.


__ADS_2