
Sesampainya di rumah Salma langsung membawa masuk kotak tempatnya menaruh gorengan ke dalam setelah mengucapkan salam. Tampak ibunya sedang sibuk menyiapkan makan siang.
"Bagaimana hari ini jualanmu Ma... apa lancar?" tanyanya saat Salma hendak menyiapkan bahan dagangannya.
"Alhamdulillah bu.... lancar bahkan ada teman Salma pesan gorengan agak banyak..." ucap Salma tersenyum senang.
"Alhamdulillah..." sahut bu Rahma yang ikut bahagia.
Selesai memasak bu Rahma pun membantu Salma menyiapkan dagangannya. Keduanya mengerjakannya sambil mengobrol sehingga tak merasakan lelah. Tiga puluh menit sebelum jam makan siang semua pesanan dan beberapa tambahan gorengan sudah selesai dibuat dan Salma pun segera bersiap untuk membawanya ke tempatnya berjualan.
"Salma pergi dulu ya bu... assalamualaikum..." pamitnya.
"Waalaikum salam... hati-hati di jalan ya nak..." sahut bu Rahma.
Salma pun mengangguk dan segera mengayuh sepedanya menuju tempatnya berjualan. Sesekali ia bersenandung lirih menggambarkan jika hari ini perasaannya sedang bahagia. Saat sedang menata dagangannya seseorang sudah menghampirinya. Ternyata orang itu Wahyu.
"Hai Ma... pesananku sudah siap? tanyanya.
"Eh... mas... kok sudah keluar? bukannya jam makan siang masih lima belas menit lagi?" tanya Salma saat melihat Wahyu sudah berdiri dihadapannya.
"Emmm... barusan aku ada kerjaan diluar jadi sekalian saja kemari... apa pesananku sudah siap?"
"Udah... ini" ucap Salma sambil memberikan dua kantong kresek berisi pesanan Wahyu.
"Ini uangnya" kata Wahyu menyerahkan satu lembar uang merah pada Salma.
"Ini kembaliannya mas..." ucap Salma sambil mengangsurkan uang kembalian.
"Ga usah Ma... itu untuk kamu saja..."
"Tapi mas..."
"Ga pa-pa... itung-itung buat tambah tabungan kamu biar cepat bisa sewa kios"
"Terima kasih mas..." ucap Salma akhirnya menerima pemberian Wahyu.
"Ngomong-ngomong soal kios... kios disebelah ini mau disewakan lho..."
"Masak sih mas? kok ga ada tulisannya?" tanya Salma.
"Aku tahu dari pemiliknya langsung Ma... soalnya aku kenal dengan orangnya" jelas Wahyu.
"Tapi pasti mahal mas..." ujar Salma.
"Nanti kan bisa nego Ma..." bujuk Wahyu.
"Lagi pula nanti aku bisa bujuk orangnya agar kamu bisa bayar sewa bulanan... jadi lebih ringan" sambungnya.
__ADS_1
"Aku fikirkan dulu ya mas" sahut Salma.
"Iya ... tapi jangan lama-lama... soalnya yang seperti ini jarang banget lho..."
"Iya ... besok aku akan kasih jawaban setelah berunding dengan ibuku..." putus Salma.
Wahyu pun tersenyum senang karena rencananya hampir berhasil. Kemudian Wahyu pun segera pamit beralasan harus kembali ke kantornya. Padahal ia menghindari pertemuan dengan para karyawannya karena jam makan siang sudah tiba. Salma pun mengangguk tak sadar dengan kebohongan Wahyu tentang pekerjaannya.
...........
Keesokan harinya saat Salma tengah membereskan dagangannya di siang hari Wahyu datang menghampirinya. Pria itu kembali menanyakan soal niat gadis itu untuk menyewa kios. Salma yang semalam sudah meminta pendapat ibunya tentang hal itu pun akhirnya setuju dengan tawaran Wahyu.
Wahyu pun langsung mengajak Salma untuk menemui pemilik kios. Salma kaget karena masih jam kerja dan Wahyu mengajaknya keluar.
"Tapi mas... apa nanti atasan kamu ga marah kalau kamu keluar saat jam kerja?" tanya Salma.
"Emmm aku tadi sudah minta ijin untuk pulang cepat kok Ma..." sahut Wahyu berbohong.
Bagaimana mungkin ada yang akan memarahinya karena keluar saat jam kantor karena dialah pemilik perusahaan sebenarnya. Salma yang tak tahu hanya percaya saja dengan alasan yang dibuat Wahyu.
Wahyu memang sengaja tak memberitahukan siapa sebenarnya dirinya pada Salma karena ia tak mau gadis itu malah menjauhinya. Ia ingat dulu ketika sekolah Salma tak pernah bergaul akrab dengan teman sekolahnya yang kebanyakan orang kalangan atas karena merasa minder dan hanya ingin fokus dengan sekolahnya.
"Mas ketemu orangnya dimana? jauh ga? soalnya aku takut ninggalin sepeda sama kotakku disini" ujar Salma membuyarkan lamunan Wahyu.
"Kamu titipin saja sama satpam depan Ma... pasti dia mau..." usul Wahyu.
Setelaj menitipkan sepedanya Salma pun menghampiri Wahyu yang telah menunggunya diatas sepeda motor. Begitu Salma mendekat Wahyu langsung memasangkan helm pada kepala Salma. Salma yang tak menyangka dengan perlakuan Wahyu itu pun terdiam karena terkejut.
"Ayo naik!" ajak Wahyu yang menyadarkan Salma dari keterkejutannya.
Salma pun menurut dan membonceng dibelakang. Untung saja Salma selalu mengenakan celana panjang setiap ia berjualan karena naik sepeda. Sehingga gadis itu dapat membonceng dengan mudah tanpa takut roknya tersingkap. Sengaja Wahyu menggunakan motor agar Salma tidak curiga dengan pekerjaan Wahyu yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat berkendara keduanya sampai disebuah rumah tempat tinggal pemilik kios tersebut. Setelah bertemu dengan pemilik kios dan bernegosiasi akhirnya Salma dapat menyewa kios tersebut dengan harga yang cukup terjangkau oleh Salma. Bahkan Salma membayar sewanya secara bulanan sehingga semakin meringankan Salma.
"Terima kasih tadi sudah menolongku mendapatkan sewa kios mas..." ucap Salma saat keduanya berjalan keluar dari rumah pemilik kios.
"Sama-sama Ma... kau kan adik dulu kelasku dan juga rekan satu tim saat lomba... jadi sudah sepatutnya aku membantumu" sahut Wahyu sambil tersenyum.
Salma pun membalas senyuman Wahyu. Yang tidak Salma tahu sesungguhnya Wahyu sudah membayar sewa dengan harga lebih tinggi pada pemilik kios. Jadi yang tadi mereka lakukan hanya sandiwara pada Salma. Ia hanya ingin Salma tidak bolak balik saat menjual gorengannya.
"Kita beli minuman dulu ya Ma?" ajak Wahyu.
"Iya mas..." sahut Salma menyetujui.
Wahyu pun menghentikan motornya disebuah kedai es kelapa muda. Keduanya pun langsung turun dan memesan dua gelas minuman untuk mereka. Lalu keduanya pun duduk di bangku yang disediakan. Saat mereka tengah menikmati es kelapa muda yang mereka pesan tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Wah...wah...wah... belum ada dua bulan jadi janda ternyata sudah dapat gandengan lagi..."
__ADS_1
Salma dan Wahyu pun langsung menoleh dan ternyata itu Susi salah satu teman Nadia yang pernah ia lihat di restoran.
"Maksud kamu apa?" tanya Wahyu.
"Eh... kamu ga tahu kalau perempuan di sebelah kamu itu janda?" tanyanya dengan nada mengejek.
Salma hanya diam karena memang itu benar adanya. Wahyu yang menoleh kearah Salma melihat jika wajah gadis itu terlihat biasa saja tak terlihat malu atau pun marah.
"Lalu memangnya kenapa jika dia janda? ada masalah dengan kamu?" tanya Wahyu.
Salma terkejut dengan pembelaan Wahyu dan menoleh kearah pria yang ada disebelahnya itu.
"Tentu saja ... sebab dia itu janda setelah jadi istri kedua suami temanku!" sahut Susi sambil menunjuk pada Salma.
"Bukankah mbak tahu alasan kenapa saya sampai jadi istri kedua dari suami temanmu itu ha? jadi ga usah pura-pura jadi pahlawan kesiangan!" ujar Salma yang kini angkat bicara.
Wajah Salma yang biasanya terlihat lembut kini berubah menjadi garang. Bukan hanya Wahyu yang terkejut tapi juga Susi yang sedari tadi terlihat meremehkan pun kini terlihat menciut nyalinya. Bukan tanpa sebab Salma kini berubah. Salma sudah merasa lelah selalu dipojokkan karena statusnya dulu. Padahal perempuan dihadapannya itu tahu pasti alasan hingga Salma menjadi istri kedua suami Nadia. Tapi masih juga cari gara-gara dengannya.
"Ck... lepas dari Amran ternyata selera kamu jadi turun ya... emang kamu itu cocoknya sama pegawai rendahan seperti dia bukannya seorang pengusaha seperti suami Nadia..." kata Susi masih mencoba untuk menekan Salma.
"Memang kenapa kalau dia pegawai rendahan? yang penting pekerjaannya halal dan ga sok kaya tapi nyatanya cuman nebeng doang!" sahut Salma.
Susi yang merasa di skakmat oleh Salma pun tak bisa membalas dan akhirnya ia berlalu dengan muka ditekuk.
"Maaf jika karena aku, kamu jadi ikut dihina mas..." ucap Salma setelah Susi pergi.
"Ga pa-pa kok ma..." ujar Wahyu.
"Tapi apa benar kalau kamu itu janda dan pernah jadi istri kedua?" tanya Wahyu hati-hati.
Salma mengangguk dan menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata usahanya untuk melupakan masa lalunya hingga ia harus pindah ke luar kota masih saja sia-sia. Masa lalunya masih saja mengikutinya.
"Bagaimana bisa Ma?"
"Ceritanya panjang mas... tapi sungguh jika saat itu aku bisa menolak maka aku tak akan mau jadi istri kedua. Dan lagi saat ini aku juga sudah bercerai tapi tetap saja gelar pelakor masih saja disematkan padaku"
"Sudahlah Ma... jangan kau fikirkan perkataan perempuan tadi. Sekarang kamu fokus saja sama usaha kamu agar jadi semakin maju" kata Wahyu mencoba memberi semangat pada Salma.
Salma pun menggangguk dan mencoba untuk tersenyum pada Wahyu, pria yang akhir-akhir ini sering sekali membantunya.
"Iya mas... tapi apa mas ga malu berteman denganku setelah tahu masa laluku?" tanyanya dengan wajah sendu.
Sebenarnya Salma kini mulai merasa nyaman dekat dengan Wahyu walau hanya sebagai teman. Sebab sejak dulu dia juga belum pernah memiliki teman dekat atau pun sahabat. Sebab sejak dulu ia hanya berteman sekedarnya saja. Sehingga sering kali ia hanya bisa memendam perasaannya sendiri tanpa bisa memberitahu pada orang lain.
Namun beda dengan Wahyu ... Salma bisa langsung merasa nyaman dengan laki-laki itu dan merasa seperti bisa bercerita apa saja padanya tanpa malu.
"Tentu saja tidak Ma... kalau aku malu sudah dari tadi aku meninggalkanmu disini..." sahut Wahyu sambil tertawa membuat Salma ikut terkekeh.
__ADS_1
"Entah apa yang terjadi sebenarnya padamu Ma... tapi aku akan menunggu hingga kau siap menceritakan semuanya padaku" batin Wahyu saat menatap Salma yang kembali menghabiskan minumannya.