
Amran menatap nyalang ke arah Nadia. Ia tak menyangka alasan istri pertamanya itu memaksanya menjalani pernikahan kedua karena dendam cinta lama.
"Apa kau masih mencintai laki-laki itu sehingga kau tega melakukan ini padaku juga Salma?" tanyanya dengan rahang mengeras.
Sekuat tenaga ia menahan emosinya karena ini masih berada di rumah sakit.
"Tidak mas... aku hanya mencintaimu..." ucap Nadia berusaha meyakinkan Amran.
"Jika kau benar mencintaiku tak mungkin kau akan melakukan hal selicik itu untuk memanfaatkanku!" sergah Amran.
"Sekarang pergilah... aku tak ingin melihat wajahmu saat ini. Masih ada Salma yang membutuhkan perhatianku" ucapnya dengan nada memelan.
"Tapi mas..."
"Tidak ada tapi-tapian... sudah cukup kau membuatku mengabaikannya selama ini tapi tidak untuk kali ini dan seterusnya" sambung Amran.
Laki-laki itu kemudian meninggalkan Nadia dan duduk di bangku tunggu di depan ruang IGD untuk menunggui Salma. Dunia Nadia sekarang hancur. Rumah tangganya yang ia bina selama ini hancur dalam waktu sekejap. Bukan karena kesalahan orang lain namun karena kesalahannya sendiri. Dengan sengaja ia menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangganya sendiri. Hal yang tak mungkin dilakukan oleh wanita lain. Dan alasan yang ia gunakan pun tak masuk akal. Hanya karena iri dan dengki pada Salma membuatnya menghancurkan kebahagiannya sendiri. Kini tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Ini hanya awal dari apa yang akan ia hadapi nanti jika keluarga Salma dan juga kedua orang tuanya sendiri tahu apa yang telah ia lakukan.
Nadia melangkahkan kakinya dengan gontai meninggalkan rumah sakit. Ia tak ingin pulang hingga ia hanya duduk di taman depan rumah sakit. Saat ini ia merasa sendiri dan tak ada yang mau mengerti dengan keadaannya. Egonya tetap mengatakan jika ia tak sepenuhnya bersalah. Walau hati nuraninya selalu mengingatkan tentang kebaikan yang selama ini Salma lakukan untuknya. Dan karena kebaikannya itulah sehingga Nadia bisa dengan mudah menggiring Salma untuk masuk ke dalam perangkapnya.
Beberapa jam sebelumnya....
Salma yang duduk di kursi penumpang sedang memandang kearah luar jendela mobil. Tampak pemandangan gedung-gedung bertingkat yang berkerlap-kerlip laksana bintang membuat gadis itu terkagum kagum. Baru kali ini ia melihat pemandangan kota saat malam hari secara langsung. Selama ini ia hanya bisa memandang dari balkon kamarnya dan tak pernah melihatnya secara langsung seperti sekarang. Saat mobil yang ditumpanginya berhenti di lampu merah tampak olehnya beberapa pengamen yang mencoba meraih rezeki di perempatan itu. Salma membuka kaca jendela di sampingnya untuk memberikan uang pada salah satu diantara mereka yang bertugas mengumpulkan pemberian orang yang ada di sana.
Salma tersenyum saat pengamen itu mengucapkan terima kasih. Hatinya miris saat melihat para pengamen itu yang masih berada dijalanan padahal hari sudah malam. Melihat itu hatinya tersentil dan merasa bersyukur sudah hidup dalam berkecukupan. Walau tentu saja hidup tak selalu sempurna. Saat lampu pengatur lalu lintas berubah hijau pak sopir pun kembali melajukan mobilnya. Salma yang duduk dibelakang pun menyenderkan badannya karena mulai merasa lelah. Matanya pun mulai terpejam. Saat itulah tiba-tiba ia merasakan sesuatu merangsek dari arah samping dibarengi dengan bunyi dentuman yang keras.
Seketika Salma membuka matanya dan badannya sudah terlempar kearah samping tempatnya duduk tadi. Terdengar suara decitan mobil terseret. Dilihatnya pak sopir sudah dalam keadaan tak sadar karena tubuhnya yang terhimpit dari arah samping. Salma pun merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kepala dan sisi kanan tubuhnya. Ternyata tubuhnya juga mengalami hal yang sama dengan yang terjadi pada pak sopir yang ada di depannya. Salma ingin berteriak namun suaranya seakan langsung menghilang dan ⁹darah sudah mulai menetes dari kepala dan membasahi wajahya. Matanya nanar menatap sisi mobil yang semakin menjepit tubuhnya karena sesuatu yang besar menabrak dan menyeret mobil yang ditumpanginya itu. Salma merasakan jika pandangan matanya menjadi semakin buram dan akhirnya ia merasakan pandanganya menjadi gelap. Rasa sakit yang sejak tadi dirasakannya pun lenyap seketika.
Saat membuka matanya Salma merasa berada ditempat yang sangat asing. Berkali-kali Salma mengerjapkan matanya yang silau karena setiap benda yang dilihatnya seakan mengeluarkan sinar.
"Aku ada dimana?" tanyanya dalam hati.
Setelah beberapa saat akhirnya matanya sudah dapat beradaptasi dengan suasana yang ada di tempat itu. Tampak semua yang ada disana berkilau keemasan bahkan untuk rumput yang terhampar disepanjang matanya memandang. Saat itulah ia melihat seseorang menghampirinya. Semula ia tak dapat mengenali orang itu sebab seperti semua yang ada di tempat itu, wajah orang itu pun bercahaya. Namun saat orang itu sudah berada dihadapannya ia baru tahu jika itu ayahnya.
"Ayah..." panggil Salma lalu ia pun langsung memeluk tubuh pria yang sangat dirindukannya sejak lama.
"Ayah menjemputku?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya.
Ayahnya menggeleng.
__ADS_1
"Ayah hanya menjengukmu sayang" ucapnya lembut.
"Tapi aku lelah ayah... aku ingin bersama ayah saja..." rengek Salma pada ayahnya seperti saat ia kecil dulu.
"Tidak bisa nak... waktumu belum tiba... kembalilah dan lupakan masa lalumu" sahut ayahnya bersamaan dengan itu perlahan tubuh ayahnya mulai menghilang.
Sekeras apa pun Salma memanggil ayahnya namun lelaki cinta pertamanya itu tak lagi kembali. Tiba-tiba tubuhnya seperti tertarik oleh pusaran sesuatu yang membuatnya melayang ke dalam pusatnya dan ia tak tahu kemana akan terbawa. Saat tersadar ia telah berada di sebuah ruangan serba putih dengan bau khas karbol. Ia tahu kini ia berada di dalam ruangan rumah sakit namun matanya masih terasa berat dan susah untuk ia buka. Karenanya ia pun memilih untuk tidur.
Di ruang tunggu Amran tengah berbicara dengan dokter yang menangani Salma.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?".
"Alhamdulillah nyonya Salma telah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan biasa"
"Kapan saya bisa menjenguk istri saya dok?"
"Nanti setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat biasa"
"Terima kasih dok..."
"Sama-sama... kalau begitu saya permisi dulu"
Tak lama tampak beberapa perawat keluar dengan membawa brankar yang ditempati Salma untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
Amran pun segera mengikuti langkah para perawat itu. Sementara mama Aya sedang berusaha menghubungi ibu Salma.
"Assalamualaikum..." ucapnya saat terdengar suara tersambung.
"Waalaikumsalam..." jawab bu Rahma.
"Maaf menelfon malam-malam mbak..."
"Iya tidak apa-apa... sebenarnya ada apa ya? kok sepertinya penting banget?"
"Begini mbak...saya ingin mengabarkan jika saat ini Salma mengalami kecelakaan..." kata mama Aya perlahan berusaha agar tidak terlalu mengagetkan besannya.
"Innalillahi... ya Allah ... lalu bagaimana dengan Salma mbak? apa dia baik-baik saja?"
"Maaf mbak... Salma terluka parah... dan saat ini sedang ditangani oleh dokter" terang mama Aya sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
Tubuh bu Rahma langsung merasa lemas. Ia tak menyangka jika putri sulungnya itu akan celaka.
"Ada apa bu?" tanya Shania yang kebetulan sedang menginap di rumah ibunya itu bersama suami dan kedua anaknya.
"Kakakmu Salma..."
"Kenapa dengan kak Salma bu?"
"Salma kecelakaan Nia..." kata bu Rahma dengan suara tercekat.
Shania pun mengambil ponsel yang berada ditangan ibunya.
"Assalamualikum... ini Shania tante...sekarang kak Salma dirawat dimana?"
"Di rumah sakit Jaya Medika... nanti tante akan kirim lokasinya"
"Iya tante... secepatnya kami akan ke sana terima kasih"
"Iya nak...sama-sama"
Selesai menghubungi besannya mama Aya pun lalu menghubungi istri sopirnya.
Setelah itu ia pun kembali ke ruang IGD. Saat itulah ia melihat Amran yang sedang mengikuti para perawat yang membawa brankar Salma. Segera ia berjalan mengikuti mereka.
"Salma akan di bawa kemana Amran?" tanyanya setelah berhasil berjalan disisi Amran.
"Ke ruang perawatan ma..." jawab Amran sambil menggandeng tangan mamanya.
Keduanya pun akhirnya berjalan bersisian mengikuti langkah para perawat membawa Salma. Sesampainya di ruang perawatan mereka langsung duduk di kursi disamping brankar Salma setelah para perawat pergi. Amran memandang wajah istri keduanya itu dengan pilu... ia merasa sangat bersalah karena sudah termakan kebohongan Nadia hingga berbuat dholim pada Salma. Mama Aya yang melihat kesedihan dan penyesalan putranya hanya bisa menghela nafas pelan.
Ada rasa lega karena putranya sudah mulai sadar atas sikapnya yang salah selama ini. Dan dari sikap yang ditunjukkan Amran sejak mengantar Salma kemarin terlihat putranya itu juga mulai ada rasa pada istri keduanya itu. Mama Aya juga merasa jika kesalahan juga tak sepenuhnya ada pada putranya itu. Hanya saja Amran sangat naif saat begitu saja percaya dengan ucapan istrinya tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.
"Nak..." panggil mama Aya sambil mengelus pundak putranya itu.
"Kamu jangan khawatir... Salma gadis yang kuat, sekarang kita berdo'a saja agar dia segera sadar" sambungnya.
"Ayo kita sholat dulu nak... minta pada Allah untuk keselamatan dan kesembuhan Salma..." Amran pun mengangguk.
Lalu keduanya pun meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke musholla.
__ADS_1
Sementara di rumah bu Rahma ia tengah bersiap untuk pergi menjenguk Salma. Hatinya merasa tidak tenang sejak mendengar putri sulungnya itu kecelakaan. Untung saja suami Shania dapat segera meminjam mobil pada Pak Karno yang merupakan ayah Nadia. Bahkan pak Karno dan istrinya pun akan ikut serta. Sedang Sakina akan menyusul dengan suaminya menggunakan mobil milik mertuanya. Setelah semuanya dirasa lengkap mereka pun segera berangkat namun sebelumnya mereka menitipkan kedua anak Shania pada mertuanya yang tinggal tak jauh dari rumah bu Rahma. Selama dalam perjalanan mereka semua tak henti-hentinya berdo'a untuk keselamatan Salma. Sedang suami Shania bergantian dengan pak Karno untuk menyetir mobil yang mereka gunakan.