
Bu Desi baru saja mematikan ponselnya saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang menuju kamarnya dengan pak Adi. Segera ia berpura-pura sudah tertidur. Tak lama terdengar suara seseorang membuka pintu kamar namun sebelum orang itu masuk ke dalam kamar terdengar suara ponsel pak Adi berbunyi. Orang itu pun tak jadi masuk ke dalam kamar. Bu Desi menduga jika itu pak Adi. Lama bu Desi menunggu pak Adi kembali ke dalam kamar namun pria paruh baya itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Sepertinya pak Adi pergi karena panggilan telfon tadi. Tapi siapa yang menelfon pak Adi malam-malam begini? apa itu Wahyu? atau seseorang yang lain yang akhir-akhir ini sering mengganggu fikiran pak Adi?
Pertanyaan demi pertanyaan menghantui fikiran bu Desi. Ia merasa jika sikap suaminya berubah padanya. Memang sejak dulu sikap pak Adi tidak terlalu ramah padanya namun pria itu tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami padanya. Namun akhir-akhir ini sepertinya pak Adi sudah enggan berdekatan dengannya. Bahkan pria itu malah mulai mengancamnya jika ia berani mengganggu hubungan Wahyu dan Salma. Bahkan ia sempat melihat kilatan kemarahan pada mata pak Adi saat ia mencoba merayu suaminya itu setelah pertengkaran mereka.
Yang semakin tidak ia mengerti adalah perubahan sikap Gita putrinya. Gadis itu juga tidak mau berbicara akrab dengannya seperti dahulu. Bahkan wajah putrinya itu terlihat enggan seolah jijik saat ia mengajak gadis itu berbicara.
"Ada apa dengan semua anggota keluargaku ini? mereka semua berubah sejak kedatangan perempuan miskin itu" batin bu Desi geram.
"Tapi setidaknya kini perempuan miskin itu sudah tidak bisa lagi mengganggu putraku... karena sebentar lagi Friska b*d*h itu akan menghabisi nyawanya" sambungnya masih di dalam hatinya sambil tersenyum dan kembali menutup matanya tidur.
Sementara itu Friska sudah dibawa ke gudang tempat pak Adi biasa menbawa orang yang ingin dihukumnya dengan tangannya sendiri. Wahyu pun beberapa kali pernah ikut dengan pak Adi. Kedua pria itu akan menampakkan sifat mereka yang kelam yang tak pernah terbayangkan jika berada di tempat itu. Kini Friska telah diletakkan diatas sebuah kursi. Kedua tangan dan kakinya sudah terikat begitu juga mulutnya sudah ditutup lakban.
"Mana perempuan itu?" tanya pak Adi pada anak buahnya yang berjaga saat ia melangkah masuk ke dalam.
"Itu tuan!" tunjuk salah satu pria berotot yang ada di sana.
"Bangunkan dia!" suruh pak Adi.
Salah satu anak buah pak Adi langsung mengambil ember yang berisikan air dingin dan langsung mengguyurkannya ke arah Fiska. Wanita itu langsung gelagapan dan terbangun karena kini tubuhnya sudah basah kuyub dan mulai merasa kedinginan. Matanya menatap nanar ke sekelilingnya mencoba mencerna dimana kini ia berada. Pandangannya langsung tertumpu pada pak Adi yang kini tengah duduk di depannya sambil menyilangkan kakinya dan memandang tajam ke arahnya.
"Buka penutup mulutnya!" perintah pak Adi dengan suara dingin.
"Aaargh... om! apa maksudnya ini?" tanya Friska sambil menahan rasa sakit di bibirnya begitu lakban dimulutnya dilepaskan paksa oleh anak buah pak Adi.
"Maksudku? kau masih bertanya apa maksudku setelah apa yang coba kau lakukan pada calon menantuku hah?"
Fiska memandang pak Adi sambil berfikir. Akhirnya ia ingat hal terakhir yang dilakukannya sebelum ia tak sadarkan diri.
"Apa tadi yang memukul tengkukku itu pak Adi?" batinnya bertanya-tanya.
"Kenapa kau tidak menjawab hah!" seru pak Adi yang tidak sabar menghadapi wanita yang selalu mengganggu kehidupan Wahyu.
"A...apa maksudnya om?" tanya Friska masih mencoba berkilah.
"Oh ya? jadi kau tidak mengerti mengapa kau bisa berada disini? Baiklah... terus saja kau bersikap seolah bodoh... tapi tunggu saja... sebentar lagi Wahyu sendiri yang akan menghukummu setelah ia memergoki sendiri apa yang kau lakukan pada calon istrinya itu!" kata pak Adi.
"Apa! jadi yang memergoki dan memukul tengkukku itu adalah Wahyu?" batin Friska.
Melihat wanita yang ada didepannya itu masih diam pak Adi langsung pergi keluar setelah menyuruh anak buahnya untuk kembali menutup mulut Friska dengan menggunakan lakban. Sementara Wahyu yang masih menjaga Salma tampak bernafas lega setelah menyuruh dokter untuk memeriksa kondisi gadis itu dan mengatakan jika Salma baik-baik saja setelah tadi Friska sempat melepas alat pernafasannya.
__ADS_1
"Kau beristirahatlah sayang... aku harus pergi sebentar..." bisik Wahyu di telinga Salma.
Pria itu lalu keluar dari ruangan Salma dan menyuruh anak buahnya untuk berjaga. Kemudian ia pun segera pergi ke tempat dimana Friska kini di tahan oleh pak Adi. Selama perjalanan tampak Wahyu tengah menahan amarahnya. Jalanan yang lengang membuat Wahyu dapat mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga dalam waktu singkat ia sudah sampai di tempat tujuannya.
Sesampainya disana Wahyu langsung turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam. Terlihat pak Adi sudah menunggunya di depan dan langsung menghampirinya saat melihat Wahyu datang.
"Dimana perempuan itu pa?" tanya Wahyu begitu sudah berada dihadapan pak Adi.
"Dia ada di dalam nak... papa belum melakukan apa pun padanya... biar kau saja yang mengurusnya" ucap pak Adi sambil menepuk pundak Wahyu.
Pria itu langsung mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sementara pak Adi mengikutinya dari belakang bersama anak buahnya.
"Heh bangun kau!" teriak Wahyu sambil menyiram Friska dengan air yang sudah disiapkan oleh anak buahnya.
Kembali Friska gelagapan dan mengangkat wajahnya. Wanita itu tampak terkejut saat melihat Wahyu sudah berdiri dihadapannya.
"Wahyu...." desisnya lirih sambil menahan rasa dingin dibadannya.
"Bagus sekali kau sudah bangun! sekarang kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan pada calon istriku!" kata Wahyu sambil menjambak rambut Friska.
Wanita itu langsung mengerang kesakitan. Rasa sakit dan perih pada kepalanya membuat kepalanya pening. Tidak sampai di situ Wahyu bahkan menampar wanita itu tanpa ampun hingga wajah Friska memerah bahkan mulutnya sampai mengeluarkan darah. Bukannya merasa kasihan Wahyu malah menyuruh anak buahnya untuk kembali menyiram Friska dengan air saat wanita itu mulai terlihat hilang kesadaran.
Wajah cantik Friska sudah tidak berbentuk lagi... lebam dan sobek disana sini membuat yang melihatnya seperti melihat monster.
"Bunuh saja aku..." ucap Friska lirih.
"Membunuhmu? ck... itu sangat enak untukmu!" sahut Wahyu.
"Aku ingin kau tersiksa dengan perlahan hingga kau tak berani lagi menampakkan wajahmu didepanku" sambungnya sambil tersenyum sinis.
"Katakan... siapa yang membantumu!" seru Wahyu.
Friska menggelengkan kepalanya.
"Kau fikir aku akan percaya begitu saja hah! cepat katakan siapa yang membantumu!"
Tiba-tiba Friska mendongakkan kepalanya dan menatap Wahyu sambil tersenyum aneh.
"Kau pasti tidak akan menyangka siapa yang sudah membantuku dan tega mengkhianatimu" sahut Friska.
"Lalu apa kau akan memperlakukannya sepertiku saat kau tahu siapa dia?" tanya Friska terkekeh hingga membuatnya tersedak.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Maksudku apa kau juga akan menyiksa orang itu seperti yang kau lakukan padaku jika kau tahu siapa orang itu hah?" sahut wanita itu mulai berani.
"Tentu saja..." tukas Wahyu.
"Kalau begitu bagaimana jika aku katakan jika orang itu adalah mamamu sendiri?"
"Kau jangan berani-beraninya berbohong j*l**g!"
"Aku tidak berbohong!" seru Friska.
"Kau!"
"Sudahlah Wahyu... biar mereka yang mengurus perempuan itu..." potong pak Adi.
"Tapi pa..."
"Sudah.... kau urus saja Salma... biar mamamu papa yang urus!" kata pak Adi tanpa mau dibantah.
Wahyu pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Ia juga sudah khawatir karena sudah terlalu lama meninggalkan Salma. Setelah kepergian Wahyu pak Adi langsung menyuruh anak buahnya membawa Friska ke kantor polisi untuk mendapatkan hukumannya karena bukti yang dikumpulkan anak buahnya sudah lengkap. Namun sebelumnya ia menyuruh anak buahnya untuk memberikan alasan bahwa wanita itu dikeroyok orang karena disangka pencuri saat di rumah sakit untuk diberikan pada polisi kenapa wajah Friska sampai jadi babak belur. Setelah itu ia pun pulang ke rumahnya untuk membuat perhitungan dengan bu Desi.
Wahyu yang baru sampai di rumah sakit langsung menuju ruang perawatan Salma. Pria itu mendesah pelan saat sudah berada di samping Salma. Wajah Salma yang pucat membuat hati Wahyu sangat sakit.
"Harusnya aku buat wanita itu lebih menderita..." batin Wahyu sambil membelai wajah Salma.
Tiba-tiba sesuatu terjadi pada gadis itu. Perlahan jari-jari Salma bergerak perlahan begitu juga dengan kedua matanya yang mulai terbuka. Wahyu yang melihat jika Salma mulai membuka matanya langsung memencet tombol untuk memanggil dokter ke dalam ruangan.
"Kau sudah sadar sayang?" ucapnya langsung mengecup kening Salma.
"A...aa.."
"Tenang sayang... sebentar lagi dokter akan memeriksamu..." kata Wahyu sambil menggenggam tangan Salma erat.
Tak lama dokter dan perawat pun datang dan langsung memeriksa kondisi Salma. Wahyu mundur ke belakang untuk memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Salma.
"Bagaimana dokter?" tanya Wahyu saat melihat dokter telah selesai memeriksa Salma.
"Syukurlah tuan kondisi pasien sudah membaik dan sebentar lagi bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa..." terang sang dokter.
"Syukurlah... terima kasih dok"
__ADS_1
"Sama-sama tuan..."
Tak lama para perawat membawa Salma untuk di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Wahyu pun selalu mendampingi Salma.