
Tanpa dikomando kedua adik Salma bersama suami dan anak-anak mereka langsung pamit demi menyadari jika suasana di dalam sana sedikit mencekam. Hanya ada keluarga Wahyu dan bu Rahma yang tetap berada di dalam ruang perawatan Salma. Mereka langsung memandang tajam pada bu Desi dan kedua orangtuanya.
"Kenapa kau membawanya kemari Danu?" tanya pak Hamid papa pak Adi.
"Tentu saja untuk ikut menengok cicit kami yang berarti juga cucu putriku juga..." sahut pak Danu tanpa merasa bersalah.
"Cucu? sejak kapan putrimu menganggap Salma sebagai menantunya yang sedang mengandung cucunya hah? dan sudah berapa kali putrimu itu berusaha mencelakakan Salma dan juga kandungannya? apa kau sama sekali tidak ingat itu? dan sekarang dengan entengnya kau mengatakan jika dia ingin menengok cucunya..." kata pak Hamid dengan sangat geram.
Memang semenjak pernikahan Salma dan Wahyu kedua orangtua pak Adi sudah menerima Salma sebagai cucu menantu mereka. Dan mereka tidak terima saat Salma celaka atas perbuatan bu Desi. Apalagi saat Wahyu menceritakan semua perbuatan bu Desi sebelumnya yang sudah sering mencoba mencelakai Salma.
"Tapi putri kami sudah berubah... dia sudah mengakui jika Salma menantunya yang melahirkan cucu baginya..." bela pak Danu.
"Apa kau yakin dan bisa menjamin jika putrimu itu memang sudah benar-benar berubah?" tekan pak Hamid.
Pak Danu mengangguk dengan yakin. Karena selama berada di rumah bu Desi sudah menunjukkan perubahan sikapnya. Istri pak Danu, mama bu Desi juga berusaha membela suami dan juga putrinya. Baginya perubahan bu Desi akhir-akhir ini adalah tulus dan tidak direkayasa.
"Sudahlah ma... pa... jika memang mereka sudah tidak bisa mempercayaiku tak apa... kesalahanku memang sangat banyak dan fatal jadi wajar jika mereka jadi seperti itu..." ucap bu Desi menghentikan perdebatan orangtuanya dengan mantan mertuanya itu.
"Aku permisi..." sambung bu Desi sambil berbalik dan keluar dari ruang perawatan Salma.
"Kalian benar-benar tidak mau memberi Desi satu kesempatan lagi?" tanya pak Danu dengan suara sendu.
__ADS_1
"Mas..." ucap Salma tiba-tiba sambil mengelus lengan suaminya itu.
Salma yang mudah luluh langsung memasang wajah memohon pada suaminya itu agar mau memaafkan kesalahan bu Desi. Wahyu yang faham dengan keinginan istrinya itu tampak masih enggan menurutinya.
"Walau bagaimana pun dia mama kandung kamu mas... maafkanlah dia..." sambung Salma.
"Tapi kau tahu kan jika dia sama sekali tidak pernah mengasihanimu dan mencoba mencelakaimu..."
"Aku tahu... tapi sekali ini aku mohon beri mamamu kesempatan..." lanjut Salma.
Semua yang ada di sana tampak terdiam.dengan perkataan kedua suami istri itu. Mereka tak menyangka jika Salma masih mau membela bu Desi setelah semua perbuatan buruknya pada Salma.
"Salma..."
Ucap semua orang yang disana bersamaan. Sungguh entah terbuat dari apa hati wanita itu yang bisa dengan mudah selalu memaafkan kesalahan orang-orang yang telah menyakitinya. Bahkan pak Danu dan istrinya juga ikut terkejut. Mereka tak menyangka diamnya Salma bukan karena tak ingin memberi kesempatan pada bu Desi namun malah sebaliknya. Bu Desi yang masih berada di depan pintu juga mendengarnya. Hatinya langsung mencelos mendengar pembelaan dari Salma. Rasa malu mulai menjalar dihatinya.
Bagaimana tidak, wanita yang selama ini ingin ia habisi malah tetap mau memaafkan kesalahannya dan tetap mau menganggapnya sebagai ibu Wahyu dan masih menghormatinya.
"Baiklah jika itu maumu... akan aku kabulkan tapi jika dia berulah lagi dan masih ingin mencelakaimu maka saat itu tidak ada kata maaf lagi meski dia ibu kandungku..." kata Wahyu tegas.
Kemudian pria itu pun mengajak pak Danu dan istrinya beserta bu Desi ke ruang bayi untuk melihat putrinya Yuma. Sementara pak Hamid dan yang lainnya menatap Salma dengan pandangan tak percaya.
__ADS_1
"Ibu kenapa menatapku begitu? bukankah ibu yang sudah mengajarkan aku untuk selalu berprasangka baik pada orang yang mau meminta maaf dan ingin berubah?"
"Tapi dia belum minta maaf padamu nak..." sergah pak Adi.
"Mungkin mama masih merasa gengsi pa... kedatangannya kemari saja sudah memperlihatkan jika dia sudah mulai menerima aku dan juga Yuma..." sahut Salma tenang.
Semua yang ada disana hanya bisa menarik nafas mereka dengan berat. Meski tidak mempercayai sepenuhnya jika bu Desi benar-benar mau berubah, namun karena perkataan Salma mereka kembali berfikir untuk memberi bu Desi satu kesempatan lagi. Apa lagi benar kata Salma jika kehadiran bu Desi di sana untuk melihat bayi Salma dan Wahyu sudah memperlihatkan jika sesungguhnga wanita paruh baya itu sudah mulai menerima dan perduli dengan keadaan Salma dan juga bayinya Yuma.
Sementara Wahyu sudah mengantar kakek dan neneknya juga bu Desi ke ruang perawatan bayi. Ia menunjukkan bayinya dengan bangga. Wajah Yuma yang terlihat sangat menggemaskan tentu saja berhasil menggetarkan hati ketiga orang dewasa yang baru saja melihatnya itu. Bahkan bu Desi pun merasakan keharuan di dalam hatinya saat melihat wajah malaikat kecil itu. Da rasa penyesalan di dalam hatinya atas semua perbuatan yang telah ia lakukan selama ini. Jika saja salah satu rencananya berhasil maka saat ini tidak mungkin ia bisa memandang wajah polos dan menggemaskan Yuma.
Ingin rasanya bu Desi meminta izin pada Wahyu untuk bisa menggendong tubuh gembul cucunya itu. Namun bu Desi merasa malu pada putranya itu karena malu atas perbuatannya dimasa lalu. Hanya pandangan sendu yang bisa ia pancarkan karena ia merasa tidak bisa memeluk cucu pertamanya itu. Setelah puas memandangi wajah Yuma mereka pun bergegas menuju tempat perawatan Salma.
"Terima kasih..." ucap bu Desi pada Wahyu sebelum melangkah meninggalkan ruang bayi.
Wahyu hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Demikian juga dengan kedua orantua bu Desi... mereka juga mengucapkan terima kasih sudah diberi kesempatan untuk melihat cicitnya. Mereka pun kembali ke ruang perawatan Salma.
Sampai di ruang perawatan Salma disana hanya tinggal pak Adi dan bu Rahma yang sedang menemani Salma. Sementara yang lainnya sudah pulang. Gita yang tadi datang bersama pak Adi sengaja ikut pulang dengan kakek dan neneknya. Melihat pak Adi yang bersama bu Rahma membuat nafas bu Desi langsung memburu. Tidak dapat dipungkiri jika bu Desi masih saja cemburu jika melihat pak Adi dan bu Desi berada di satu ruangan yang sama.
Padahal kedua orang itu tidak sedang bersikap romantis dihadapannya. Dengan sekuat tenaga bu Desi mencoba untuk menahan emosinya dan berusaha mengalihkan fikirannya dari bu Rahma dan pak Adi. Kemudian bu Desi langsung berusaha untuk meminta maaf dari Salma.
"Maafkan kesalahan mama selama ini Ma... karena emosi mama sudah sering mencelakai kamu..." ucapnya dengan tulus.
__ADS_1
"Iya ma... Salma sudah sejak lama sudah memaafkan mama dan maafkan Salma juga jika selama ini Salma belum menjadi seorang menantu yang baik" sahut Salma.
Keduanya pun saling berpelukan membuat semua yang ada disana pun merasa terharu.