
Dua hari telah berlalu dan kini saat makan malam yang telah direncananakan oleh Wahyu dan Salma. Semua keluarga berkumpul bahkan bu Desi pun ikut datang bersama kedua orangtuanya. Bu Rahma dan kedua adik Salma sengaja datang bersama keluarga mereka. Wahyu memang mengundang mereka semua dengan alasan untuk mempererat hubungan keluarga mereka. Saat makan malam berakhir Wahyu memberi tahukan tentang kehamilan Salma pada semua orang. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut dan langsung merasa bahagia karena kehamilan Salma. Kecuali satu orang yaitu bu Desi. Namun wanita paruh baya itu berusaha untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya dengan menampilkan senyumannya.
"Sial! kenapa perempuan itu bisa hamil secepat ini sih?" batin bu Desi sambil meremat telapak tangannya yang berada di bawah meja.
Semua orang mengucapkan selamat pada Salma dan Wahyu yang sebentar lagi akan memiliki momongan. Meski dadanya bergemuruh tapi bu Desi tetap menampilkan wajah bahagia didepan anak dan menantu yang tak disukainya itu.
"Selamat Wahyu... sebentar lagi kau akan segera menjadi seorang ayah..." ucap pak Adi sambil memeluk erat tubuh Wahyu.
"Terima kasih pa..." sahut Wahyu membalas pelukan pak Adi.
Sementara bu Rahma tampak bahagia saat memeluk putri sulungnya itu ketika memberikan selamat. Wanita paruh baya itu dengan lembut mengusap perut Salma yang masih terlihat rata.
"Kau jaga baik-baik calon anak kalian didalam sini ya sayang... jangan terlalu lelah dan juga sres... jika ada sesuatu yang mengganjal lekas bicarakan dengan suamimu dan juga ibu..." ucap bu Rahma yang langsung diangguki oleh Salma.
"Kakak selamat ya..." Shania dan Sakina pun memberikan selamat padaa kakak mereka itu.
Gita pun tak ketinggalan dia terlihat sangat antusias saat mengetahui kehamilan Salma.
"Kak nanti kalau mau belanja kebutuhan dedek bayinya aku diajak ya..." ujar Gita yang gemas ingin segera membelikan pakaian bagi calon keponakannya.
"Ish kau ini kandungan Salma saja baru beberapa minggu kau sudah mau membelikannya pakaian..." kata Wahyu tahu apa yang ada didalam fikiran adiknya.
"Habis aku suka sekali kalau melihat baju-baju bayi... membayangkan kalau keponakanku memakainya..." sahut Gita.
"Kenapa kau tidak menikah saja kalau sudah ingin mendandani bayi? kan kau bisa memilikinya sendiri?" kata Wahyu.
"Kakak! kau mengejekku?" sungut Gita yang memang masih jomblo.
"Tidak... aku justru memberimu semangat agar segera mencari pendamping dan segera menikah" kata Wahyu lagi.
"Tapi aku masih ingin kuliahku selesai dulu kak..."
"Tapi tidak ada salahnya kan jika kau mencari pasanganmu dulu... soal menikah itu belakangan..."
"Iya-iya.... berasa udah jadi perawan tua aja aku... padahal baru 21 tahun..." ucap Gita lirih.
"Jangan dengarkan ucapan kakak kamu itu nak... kau lihatlah kakak iparmu itu... dia baru menikah saat usianya sudah 28 tahun... itu pun akhirnya gagal saat usia pernikahannya masih seumur jagung... jadi nikmatilah hidupmu saat ini jangan jadikan beban tentang jodoh dan pernikahan... karena semua itu ada di tangan Allah... jika sudah saatnya kau pasti akan menemukan jodohmu..." nasehat bu Rahma yang membuat Gita langsung memeluk erat ibu dari kakak iparnya itu.
__ADS_1
Bu Desi yang melihat kedekatan putrinya dengan bu Rahma merasa marah dan tak terima jika putrinya bisa sedekat itu dengan wanita yang ia anggap sebagai saingannya. Wajah wanita paruh baya itu sudah memerah melihat kedekatan bu Rahma dengan Gita. Tangannya pun sudah meremas ujung blazer yang digunakannya. Ibu mana yang tak cemburu saat melihat putrinya dekat dengan wanita lain apalagi wanita itu merupakan wanita yang ia anggap telah merebut suaminya.
Karena sudah tidak tahan melihat kedekatan orang-orang yang disayanginya dengan bu Rahma membuat bu Desi segera pergi dari rumah Wahyu dengan alasan jika ia sudah memiliki janji dengan teman lamanya. Meski agak keberatan dengan kepergian bu Desi terlebih dahulu namun Wahyu dan Salma memaklumi karena menyangka jika bu Desi benar ingin menemui teman lamanya yang sudah membuat janji sebelumnya. Setelah keluar dari rumah Wahyu bu Desi langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"S**l*n! ibu dan anak itu benar-benar sudah mencuci otak semua orang... awas saja... aku tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan... setelah berusaha merebut mas Adi sekarang giliran Gita yang ingin ia rebut!" umpat bu Desi sambil mencengkram stir mobilnya.
"Tunggu saja kalian berdua... akan kubuat kalian membayar semua rasa sakit yng aku rasakan saat ini... dan aku pastikan itu akan lebih sakit dari yang sudah aku rasakan..." sambungnya dengan penuh amarah.
Dibelokkannya mobil yang dikendarainya itu ke suatu tempat. Jika biasanya ia akan melampiaskan kemarahannya pada minuman keras maka kali ini dia tidak lagi melakukannya. Karena apa yang akan ia lakukan saat ini membutuhkan kesadaran diri seutuhnya. Bu Desi menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah yang tidak begitu besar namun tetap terkesan mewah. Tanpa ragu ia turun dari dalam mobilnya dan langsung menuju ke pintu rumah yang tidak memiliki pagar tersebut.
Tok... tok... tok...
Bu Desi mengetuk pintu rumah tersebut. Namun tak juga ada yang membukakan pintu. Kembali bu Desi mengetuk pintu itu kali ini dengan tidak sabar. Tak lama terdengar suara pintu dibuka dari dalam rumah dan tampaklah seorang wanita seumuran dengan bu Desi menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Tumben sekali kau mau kemari Des?" tanya wanita itu tanpa membiarkan bu Desi masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Bisa kita bicara Mar? aku sangat butuh bantuanmu..." sahut bu Desi.
"Masuklah..." ucap wanita itu sambil membukakan pintu lebih lebar agar bu Desi bisa masuk ke dalam.
"Duduklah!" perintahnya pada bu Desi setelah keduanya masuk ke dalam rumah.
"Ada apa kau kemari?"
"Aku ingin minta bantuanmu untuk memberiku obat untuk menggugurkan kandungan Martha..." jawab bu Desi tanpa basa basi.
"Apa kau malu karena kembali hamil diusiamu saat ini?" tanya Martha dengan nada mengejek.
"Bukan untukku... tapi orang lain..." sahut bu Desi.
"Siapa?"
"Kau tidak perlu tahu... kau hanya perlu memberikanku obat itu... dan aku akan membayar mahal..." kata bu Desi tak ingin Martha tahu semua detailnya.
"Baiklah... apa kau mau yang paling keras?" tanya Martha yang tak mau ambil pusing dengan urusan bu Desi.
Baginya mendapatkan uang itu lebih penting. Karena itulah selama ini ia juga sudah menyalah gunakan profesinya sebagai bidan dengan melayani aborsi ilegal di tempat prakteknya. Ia juga menjual obat penggugur kandungan pada yang membutuhkan.
__ADS_1
"Aku ingin yang tak menimbulkan jejak dan bisa langsung berhasil..." ucap bu Desi.
"Hah kau itu suka bermimpi... mana ada yang seperti itu... kalau kau mau kau bisa memberinya dosis kecil setiap hari dari obat kerasku... dengan begitu tidak akan ada yang curiga jika itu karena obat penggugur kandungan..." usul Martha.
"Baiklah... sekarang mana? aku membutuhkannya sekarang..."
"Baiklah... kau tunggu sebentar" kata Martha.
Kemudian wanita itu pun masuk ke dalam ruang kerjanya yang berada di samping ruang tamu. Tak lama ia pun kembali keluar dengan membawa sebuah botol obat.
"Ini... berikan pada orang itu tiga tetes pada minuman atau pun makanannya dua kali setiap hari... aku jamin dalam hitungan hari janin itu akan langsung luruh dari dalam kandungannya..." terang Martha sambil mengangsurkan botol obat itu pada bu Desi.
"Baiklah... ini untuk bayaranmu!" kata bu Desi sambil memberikan amplop berisi uang yang tidak sedikit kepada Martha.
"Terima kasih... senang berbisnis denganmu..." ucap Martha sambil tersenyum setelah menghitung uang yang ada didalam amplop.
Bu Desi membalas senyuman Martha dengan anggukan. Kemudian ia pun berdiri dari duduknya dan berpamitan untuk segera pulang. Setelah masuk ke dalam mobilnya bu Desi tersenyum puas karena apa yang dibutuhkannya untuk melancarkan rencananya sudah berada dalam tangannya. Kini ia hanya harus bisa mencari cara agar bisa memasukkan obat itu ke dalam makanan atau minuman Salma.
Sementara di rumah Wahyu satu persatu anggota keluarga besarnya pun pulang. Hanya tinggal bu Rahma yang memang akan menginap untuk beberapa hari. Wanita paruh baya itu ingin menemani putri sulungnya itu sebentar dalam menghadapi kehamilan pertamanya. Kedua putrinya yang lain beserta keluarganya harus pulang terlebih dahulu karena pekerjaan dan anak-anak yang harus masuk sekolah.
Setelah semua orang pulang dan bu Rahma beristirahat di kamar tamu, Salma dan Wahyu pun masuk ke kamar mereka. Sedari tadi wajah keduanya tampak sangat bahagia.
"Sehatlah selalu anak papa di dalam sana... papa sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu nak..." ucap Wahyu sambil mengelus perut Salma yang masih rata saat keduanya tengah berada di tempat tidur.
Mendengar ucapan suaminya Salma sangat bahagia. Wahyu adalah pria yang telah membuatnya kembali jatuh cinta dan kini akan menjadikannya seorang ibu. Sungguh ini seperti impian yang menjadi nyata. Memiliki suamin yang baik dan mencintainya serta bisa memiliki keturunan dengannya.
"Apa yang sedang kau fikirkan sayang?" tanya Wahyu saat melihat Salma termenung.
"Aku hanya teringat dengan impianku dulu mas... dulu aku sangat ingin memiliki suami yang mencintai aku dengan tulus dan memiliki anak dengannya... kini semua itu telah terwujud bersamamu mas..." ungkap Salma.
Wahyu memandang wajah istrinya dengan lembut. Ia membelai wajah Salma dengan jemari tangannya dan memberikan kecupan di kening Salma.
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu sayang..." ucap Wahyu.
Pria itu pun lalu menarik tubuh Salma ke dalam pelukannya. Sedang Salma langsung menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
"Aku janji kita akan menjadi keluarga yang bahagia..." bisik Wahyu ditelinga istrinya.
__ADS_1
Salma pun tersenyum sambil memejamkan matanya. Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari wanita hamil itu pertanda jika ia kini tengah mengarungi dunia mimpi. Wahyu kembali mengecup puncak kepala Salma dan ikut memejamkan matanya menyusul istrinya ke alam mimpi.