
Baru saja bu Desi hendak menghabiskan kopi yang ada di dalam gelasnya tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarnya. Dengan malas bu Desi melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membukanya.
"Ada perlu apa?" tanyanya dengan tidak sabar tanpa melihat siapa yang ada di sana.
"Mama..." panggil Wahyu membuat bu Desi seketika mematung di tempatnya.
"Bisa kita bicara Des?" tanya pak Adi yang berdiri disamping Wahyu.
Bu Desi memandang pak Adi dan Wahyu secara bergantian.
"Apa mau kalian? bukankah sekarang kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau hah? apa lagi yang kalian inginkan dariku?"
"Aku mohon Des... kita bicara baik-baik di dalam..." kata pak Adi.
Bu Desi terdiam tak menyangka dengan nada bicara pak Adi yang terdengar panik. Puluhan tahun bersama ia tahu gelagat suaminya itu jika sedang dalam masalah besar.
"Baiklah... silahkan masuk..." ucap bu Desi kemudian.
Setelah ketiganya masuk ke dalam kamar bu Desi mereka pun duduk saling berhadapan. Bu Desi duduk diatas tempat tidur sementara pak Adi dan Wahyu duduk di kursi sederhana yang tersedia di sana.
"Sekarang katakan apa mau kalian!"
"Tadi Alex menemui Wahyu..." kata pak Adi membuat bu Desi terperanjat.
"Apa yang laki-laki itu katakan padamu Wahyu?" tanya bu Desi panik.
"Dia hanya bilang ingin berinvestasi di perusahaanku ma..." sahut Wahyu.
Bu Desi tampak menarik nafasnya lega.
"Tapi Wahyu sudah tahu yang sebenarnya Des... aku sudah memberitahunya..." kata pak Adi yang membuat bu Desi kembali terperanjat.
"Apa maksud kamu mas?"
"Iya ma... aku sudah tahu semuanya... bahkan sebelum papa memberitahuku..." sahut Wahyu.
Kini bukan hanya bu Desi yang terkejut tapi juga pak Adi.
"Dari mana kau tahu Wahyu?"
"Siapa yang memberitahumu?"
Tanya pak Adi dan bu Desi secara bersamaan.
"Aku tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian..." terang Wahyu yang membuat pak Adi dan bu Desi terdiam.
"Maafkan kami Wahyu... kami hanya tidak ingin menyakiti hatimu nak..." kata pak Adi.
__ADS_1
"Sudahlah pa... aku tidak apa-apa... Salma bilang kalian pasti memiliki alasan kuat hingga menyembunyikannya dariku..." sahut Wahyu.
"Lalu kenapa kau ingin menemuiku bersama Wahyu pa?" tanya bu Desi.
"Aku merasa Alex memiliki alasan lain untuk menemui Wahyu selain mengakuinya sebagai anak kandungnya... dan aku rasa itu bukan hal yang baik..." kata pak Adi.
"Maksudnya?"
"Entahlah... aku sendiri belum tahu apa sebenarnya yang dia inginkan selain Wahyu... tapi aku ingin bertanya padamu apa dia juga sudah menemuimu?" tanya pak Adi.
Bu Desi mengangguk pelan.
"Dia menemuiku dan mengatakan jika ia ingin aku mengatakan pada Wahyu jika dia ayah kandungnya... tapi aku langsung menolaknya..." sahut bu Desi sambil meremas kain sprei tempat tidur yang didudukinya.
Bu Desi sungguh tak menyangka jika Alex akan bergerak cepat dengan menemui Wahyu tanpa sepengetahuannya. Untung saja pak Adi mengetahui tindakan pria itu. Meski kini ia harus menghadapi kenyataan jika aibnya diketahui putranya itu. Setidaknya bukan dari mulut pria itu Wahyu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya bu Desi pada pak Adi dan juga Wahyu.
"Aku fikir lebih baik kita ikuti saja apa yang diinginkan pria itu dulu... agar kita tahu apa tuannya yang sebenarnya tiba-tiba datang dan ingin mengakuiku sebagai putranya..." ucap Wahyu yang tak mau memanggil Alex ayah.
"Baiklah kita ikuti rencanamu nak... tapi kau harus berhati-hati sebab papa dengar dia orang yang licik dan kejam dalam berbisnis... jangan sampai kau tertipu... meski papa tahu jika dia papa kandungmu" kata pak Adi yang disetujui oleh bu Desi.
"Mama minta maaf sama kamu Wahyu... andai saja mama dulu tidak melakukan kesalahan itu..." ucap bu Desi tercekat.
Baru kali ini ia merasa sangat bodoh dan juga menyesal dengan tindakan masa lalunya yang tidak bisa menahan hawa nafsu sehingga kini bukan hanya pak Adi yang menjadi korban tapi juga putranya. Tanpa diduga Wahyu langsung memeluk mamanya.
"Mama... kita pulang ke rumahku ya..." bujuk Wahyu.
"Tapi..."
"Mama tidak usah khawatir... Salma tidak pernah marah apalagi dendam sama mama... dia memaklumi sikap mama yang hanya ingin yang terbaik untuk putranya..." kata Wahyu yang ingin agar dengan bu Desi tinggal dengannya dan Salma maka mamanya itu akan menerima kehadiran istrinya.
"Iya Des... kau tinggallah dengan Wahyu... aku tahu kau tidak akan enak untuk pulang ke rumah orangtuamu..." sambung pak Adi.
"Baiklah... tapi aku ingin mencoba bicara dengan orangtuaku dulu... jika mereka mau memaafkanku maka aku akan kembali ke rumah mereka saja sebab mereka pasti sangat membutuhkanku saat ini..." sahut bu Desi pasrah.
"Baiklah... terserah kau saja..." sahut pak Adi mengerti.
"Enak saja... aku harus tinggal dengan anak perempuan j****g itu? tidak sudi..." batin bu Desi masih dengan menampakkan wajah sendunya.
Akhirnya bu Desi pun langsung mengemasi pakaiannya dan cek out dari hotel tersebut untuk kembali ke rumah orangtuanya dengan diantar oleh Wahyu dan pak Adi.
Sesampainya di rumah kedua orangtuanya bu Desi langsung bersujud dan meminta maaf pada pak Danu dan bu Anggi. Ia berjanji benar--benar akan merubah sifatnya dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Melihat sikap dan perkataan bu Desi yang terlihat tulus sebagai orangtua pak Danu dan bu Anggi pun langsung memaafkan putrinya itu dan memintanya kembali tinggal bersama mereka.
Setelah bu Desi memasukkan pakaiannya ke dalam kamarnya pak Adi pun mengajak bicara bu Desi berdua. Dia berharap bu Desi masih mau menerima bantuannya menghadapi pak Alex. Dan meski proses perceraian pak Adi dan bu Desi tetap berlangsung namun pak Adi berjanji akan tetap menganggap kedua orangtua bu Desi sebagai orangtuanya sendiri dan berharap bisa tetap berhubungan baik dengan bu Desi meski hubungan mereka akan berubah. Dan pak Adi juga berharap jika ia dan bu Desi masih bisa berteman demi Gita yang merupakan anak kandung keduanya.
Dengan wajah pasrah bu Desi mengiyakan semua yang dikatakan oleh pak Adi. Toh saat ini dia tidak punya kekuasaan apa pun untuk bisa menghadapi pak Alex sendirian. Sedang ia sendiri juga tidak tahu motif pria itu kembali setelah puluhan tahun tak pernah menemuinya meski sekedar menanyakan kabar. Maka dari itu bu Desi harus bisa mendapatkan perlindungan dari siapa pun termasuk pak Adi. Mungkin dengan cara ini juga ia masih bisa mempertahankan rumah tangganya yang diujung tanduk.
__ADS_1
Meski pun kemungkinannya kecil namun melihat pak Adi membelanya dari Alex membuatnya merasa masih ada kesempatan untuk memperbaiki rumah tangganya. Tentu saja ia tak akan begitu saja melepaskan pak Adi apalagi demi wanita yang bernama Rahma itu. Meski ia tahu jika belum tentu Rahma mau kembali pada pak Adi apalagi Salma sudah menjadi istri Wahyu. Tapi tetap saja status sebenarnya Wahyu yang bukan anak kandung pak Adi membuat bu Desi tak ingin memberikan celah pada kedua orang itu untuk kembali bersatu. Baginya pak Adi akan tetap menjadi miliknya selamanya.
"Ma... aku pulang dulu ya..." kata Wahyu setelah melihat jamnya dan menunjukkan jika sudah jam empat sore.
"Aku juga pulang dulu Des... jika ada apa-apa hubungi aku dan Wahyu..." sambung pak Adi.
Bu Desi pun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Setelah pak Adi dan Wahyu berpamitan pada kedua orangtua bu Desi mereka pun pulang. Pak Adi mengantarkan Wahyu terlebih dahulu ke kantornya untuk mengambil mobilnya yang tadi di tinggal di sana. Setelah itu ia pun pulang ke rumahnya.
Sementara Salma yang sejak menikah sudah mewakilkan pengelolaan kiosnya pada anak buah kepercayaannya sudah bersiap menyambut kepulangan suaminya. Ia memang ingin fokus mengurus rumah tangganya meski Wahyu membebaskannya untuk tetap bekerja. Tapi sebagai wanita ia tahu jika suaminya akan lebih senang jika ia fokus mengurus rumah tangganya dibanding sibuk diluar meski pun itu hal yang positif. Karena itu ia mewakilkan karyawan kepercayaannya untuk mengelola kiosnya sedang dia hanya sesekali saja datang kesana untuk mengecek perkembangan kiosnya.
Saat melihat Wahyu yang baru keluar dari dalam mobilnya Salma pun langsung menyambutnya. Dengan senyum yang mengembang ia menghampiri Wahyu dan mencium punggung tangan suaminya itu kemudian ia mengambil tas kantor suaminya dan mengapitnya masuk ke dalam rumah.
"Apa hari ini kau sangat sibuk mas?" tanya Salma saat membantu membukakan jas suaminya di dalam kamar mereka.
"Iya sayang... hari ini selain dikantor aku juga pergi dengan papa untuk mencari mama..." ujar Wahyu sambil membuka kancing kemejanya.
"Memangnya mama kenapa mas?"
"Mama pergi dari rumah dan tidak memberikan kabar setelah ia juga keluar dari rumah kakek..." terang Wahyu.
"Apa mama sudah ketemu?"
"Alhamdulillah Ma...kami sudah menemukannya dan membawanya kembali ke rumah kakek..."
"Alhamdulillah... kalau begitu sekarang mas mandi dulu sana... biar aku buatkan kopi untuk mas dan kita bisa bicara lagi..." ucap Salma lembut.
"Iya... kalau begitu aku mandi dulu..." sahut Wahyu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi Wahyu pun menghampiri istrinya yang terlihat sedang menata camilan pendamping di taman belakang rumah mereka.
"Wah... pas sekali ini... kau memang tahu kesukaanku Ma..." seru Wahyu saat melihat Salma tengah menyiapkan camilan yang disukai Wahyu untuk pendamping minum kopi.
Salma pun tersenyum melihat antusias suaminya yang hanya dengan disuguhkan kopi dan camilan sederhana.
"Mas ini kayak gak pernah disuguhkan hal seperti ini sebelumnya saja..." ujar Salma sambil terkekeh.
"Memang sering sih sayang...tapi kalau kau yang menyajikannya terasa sangat istimewa..." sahut Wahyu tiba-tiba langsung memeluk pinggang Salma dari belakang.
Dengan memeluk tubuh istrinya ini membuat Wahyu melupakan masalah yang tengah dihadapinya saat ini. Kelembutan Salma mampu membuat Wahyu merasa jika ia akan selamanya baik-baik saja selama Salma tetap berada disampingnya.
"Mas... jangan begini... malu jika dilihat orang..." ucap Salma lirih saat Wahyu tak juga melepaskan belitannya dan malah mulai mengendus belakang lehernya yang jenjang dan terekspos karena Salma menggelung rambutnya keatas.
"Biarkan saja toh mereka pasti maklum karena kita masih pengantin baru... lagi pula inikan rumah kita... terserah kita mau ngapain..." sahut Wahyu yang tak mau menghentikan kegiatannya.
"Tapi mas... nanti kopinya dingin..." kata Salma mencoba mengalihkan perhatian suaminya yang mulai mesum.
"Hemmm... baiklah... aku minum dulu kopinya" ujar Wahyu pasrah dan melepaskan tubuh istrinya itu dan duduk dikursi yang ada lalu mulai menyesap kopinya.
__ADS_1
Rasanya nikmat menjalani kehidupan yang tentram seperti ini. Bersama Salma, Wahyu merasa jika kehidupannya lebih berwarna serta tentram dengan perilaku lembut istrinya itu.