
Sudah hampir satu bulan Salma tinggal di rumah ibunya. Kakinya yang terluka pun sudah hampir sembuh. Kini ia sudah tak lagi menggunakan kursi roda dan hanya saja saat berjalan ia masih tertatih. Selama berada di rumah ibunya Salma terlihat sangat bahagia. Amran yang setiap kali ada kesempatan selalu berusaha untuk menjenguk dan mendekati istrinya itu pun seakan terhalang karena ingatan Salma yang tak kunjung membaik. Di tambah lagi dengan Nadia yang selalu mengikutinya ketika Amran bertemu dengan Salma.
Di rumah pun Nadia berusaha untuk kembali menarik perhatian suaminya itu. Namun sikap Amran masih sedikit dingin terhadapnya. Bahkan lelaki itu lebih memilih untuk tidur di kamar yang dulu ditempati oleh Salma. Tak bisa disalahkan memang jika Nadia berusaha memperbaiki rumah tangganya. Namun sakit hati Amran atas kebohongan istrinya itu masih belum sembuh.
Sedang Salma walau ia tampak bahagia namun saat sedang sendiri terutama jika berada di dalam kamarnya ia selalu melamun. Hatinya sedang berperang antara mengikuti perasaannya yang mulai menerima Amran atau logikanya yang tak ingin berkaitan lagi dengan Nadia. Perilaku Salma yang sering murung saat sendiri sebenar sudah sejak lama diamati oleh bu Rahma. Namun ia masih menahan diri membiarkan putri sulungnya itu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Seperti kali ini saat kedua keponakannya baru saja pulang ke rumah mereka masing-masing tampak Salma langsung berubah murung walau saat bertatapan dengan ibunya ia berusaha tersenyum. Tiba-tiba pintu rumah bu Rahma diketuk dari luar. Bu Rahma dan Salma saling memandang tak tahu siapa yang datang malam-malam ke rumah mereka.
"Biar ibu yang membukakan pintu" ucap bu Rahma lalu beranjak dari duduknya.
Saat pintu di buka tampak seorang pria muda yang tak dikenal bu Rahma.
"Assalamulaikum bu..." ucapnya sopan.
"Waalaikum salaam... siapa ya?" tanya bu Rahma.
"Perkenalkan ... saya Dirga bu... teman SMU Salma"
"Teman SMU?"
"Iya bu... saya baru dengar jika Salma mengalami kecelakaan jadi saya kemari berniat untuk menjenguk walau mungkin sudah sangat terlambat" terangnya sambil tersenyum.
"Oh tidak apa-apa nak Dirga... sudah mau menjenguk saja saya sudah berteima kasih. Sebentar... saya panggilkan Salma" ucap bu Rahma.
Dirga pun mengangguk dan menunggu di luar rumah. Bu Rahma pun memberitahu kepada Salma tentang kedatangan Dirga. Salma terkejut mengetahui Dirga ada di depan rumahnya. Dari mana pria itu tahu jika ia kecelakaan dan kini tinggal bersama ibunya? apa Nadia yang memberitahukannya? tapi kenapa Nadia memberitahukan keadaannya pada Dirga bukankah dulu dia yang sengaja membuat Salma menikahi Amran? Salma sungguh tak dapat menebak apa yang sedang di rencanakan Nadia sekarang.
"Ayo temui temanmu itu" suruh bu Rahma.
Salma pun mengangguk dan melangkah pelan untuk menemui Dirga. Sesampainya di depan tampak Dirga sedang duduk di kursi teras.
"Ada apa kau kemari?" tanya Salma datar.
Dirga terkejut. Bukankah kata Nadia kalau Salma kini amnesia? tapi kenapa sikapnya sangat tidak bersahabat padanya? apa dia masih ingat dengan kejadian di kafe waktu itu? Dirga berfikir keras memikirkan segala kemungkinan yang membuat Salma bersikap dingin padanya.
"Kenapa kau kemari?" ulang Salma.
"Hem.. aku mendengar jika kau kecelakaan Ma... jadi aku ingin menjengukmu..."
"Baiklah.... tapi kau lihat aku sudah baik-baik saja bukan?" kata Salma tetap dengan nada datar.
"Kenapa kau ketus begitu Ma? apa kau ingat sesuatu?" tanya Dirga selidik.
__ADS_1
Salma kaget dan meruntuki kebodohannya yang tak bisa menahan amarahnya karena teringat perkataan Dirga yang menghinanya di kafe.
"Tidak... hanya saja entah kenapa aku tidak suka dengan kehadiranmu" sahut Salma datar menutupi kekagetannya.
Dirga menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata walau ingatan Salma hilang namun rasa sakit yang diderita gadis itu karena perkataannya masih terekam dalam memorinya.
"Baiklah ... aku minta maaf jika kedatanganku tidak membuatmu senang" kata Dirga.
Salma hanya diam tak menanggapi perkataan Dirga. Sungguh entah kenapa ia sangat marah pada pria yang ada dihadapannya ini. Bukan karena perkataan pria itu yang menghina dirinya sebagai istri kedua namun rasanya ia tak rela jika Amran juga terkena imbasnya padahal ia dan Amran hanya korban permainan Nadia. Ah kenapa Salma jadi memikirkan suaminya itu?
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu... sekali lagi maaf jika kedatanganku mengganggumu" ucap Dirga setelah beberapa saat keduanya saling diam.
Salma hanya mengangguk mempersilahkan pria itu pergi tanpa mau membuka suara lagi. Dirga pun berlalu dan masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya dan meninggalkan rumah Salma. Sedang Salma masih berdiri mematung di teras rumah. Bukan memikirkan kepergian Dirga tapi malah memikirkan keadaan Amran saat ini. Apakah suaminya itu masih memikirkannya atau malah sudah kembali berbaikan dengan Nadia? secara selama ini setiap suaminya itu datang Nadia selalu mengekorinya.
Sementara Amran yang sengaja menginap di apartementnya karena sedang tak ingin bertemu dengan Nadia sedang melamun dikamarnya. Kamar yang pernah ditidurinya bersama Salma. Bahkan keduanya tidur ditempat tidur yang sama dan ia pun mencium Salma untuk pertama kalinya di sana. Bayangan Salma selalu mengikutinya bahkan walau ada Nadia disampingnya. Nadia... jika mengingat wanita itu rasa jengkel Amran selalu muncul. Bisa-bisanya wanita itu mengucapkan jika masih mencintainya tapi malah menyuruhnya menikahi sepupunya hanya karena tak ingin sepupunya itu bertemu dengan cinta pertamanya.
"Salma... sampai kapan kau tak bisa mengingatku? inikah hukumanku karena dulu telah menyia-nyiakanmu?" batin Amran sambil memeluk bantal yang pernah digunakan Salma.
Di saat bersamaan di rumah bu Rahma, ia sedang menanyai Salma tentang Dirga. Salma pun menjelaskan semuanya tentang Dirga yang merupakan cinta pertama Nadia.
"Apa Dirga tahu jika dulu Nadia menyukainya?"
"Jadi kau tahu Nadia cinta sama Dirga dari siapa?"
"Dari cerita Nadia bu... tapi itu karena aku tidak sengaja mendengarnya saat dia bicara dengan temannya" sahut Salma.
"Oh... ibu kira..."
"Ibu kira apa?"
"Ibu kira Nadia yang cerita langsung padamu"
Salma menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia pun pamit pada ibunya untuk istirahat di kamar. Bu Rahma pun mengiyakan karena ia juga sudah ingin beristirahat. Sesampainya di dalam kamar Salma langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Fikirannya melayang. Tiba-tiba wajah Amran terlintas difikirannya. Entah kenapa ia merasakan rindu yang dalam pada suaminya itu. Dengan perlahan ia pun bangun dari tempat tidurnya. Dibukanya laci nakas yang ada disamping tempat tidurnya. Disana ada sebuah foto pernikahan yang diam-diam ia ambil dari album foto pernikahannya yang di simpan di lemari ruang tv.
Terlihat disana foto dirinya dan Amran saat pernikahan mereka. Selama ini jika ia merindukan suaminya itu ia akan memandangi foto tersebut. Ia tak berani menyimpan foto Amran di ponselnya takut jika ada yang akan melihatnya dan sandiwaranya pasti akan terbongkar. Ia sedang berusaha menjauhi suaminya dan mengembalikannya pada Nadia. Ia tak ingin ada lagi dendam antara dirinya dan Nadia. Cukup ia saja yang merasakan sakit karena cintanya yang terhalang.
Keesokan harinya saat Salma sedang membantu ibunya membuat kue pesanan tetangganya terdengar suara ketukan pintu. Melihat ibunya yang sedang sibuk mengaduk adonan ia pun berjalan untuk membukakan pintu. Salma terkejut saat kembali melihat Dirga sudah berdiri disana.
"Pagi Ma..." ucapnya sambil tersenyum.
"Pagi" jawab Salma datar.
__ADS_1
"Ada perlu apa kau kemari pagi-pagi?" sambungnya.
"Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan" sahut Dirga masih dengan tersenyum.
"Maaf aku sibuk"
"Sibuk apa?"
"Bukan urusanmu" sahut Salma ketus.
"Siapa Ma?" tanya bu Rahma yang menyusul keluar.
"Selamat pagi bu..." ucap Dirga.
"Oh nak Dirga.... silahkan masuk..."
Dirga pun melangkah masuk ke dalam mengikuti bu Rahma. Sementara Salma masih mematung di luar. Hatinya masih kesal dengan sikap Dirga yang masih saja datang ke rumahnya meski tahu jika ia sudah menikah. Walau saat ini yang ia tahu jika Salma amnesia. Namun tetap saja seharusnya pria itu dapat menahan diri untuk tidak sering-sering menemuinya.
"Ada perlu apa ya nak Dirga kemari?" tanya bu Rahma.
"Maaf bu.... sebenarnya saya ingin mengajak Salma keluar sebentar" ucapnya kikuk.
Wajah bu Rahma tiba-tiba berubah mengeras. Namun ia berusaha untuk tetap sopan pada tamunya apalagi ada Salma yang belum mengingat pernikahannnya.
"Salma .... bisa ibu minta tolong kau pinjamkan oven pada Nia?" suruhnya pada Salma.
"Baik bu" sahut Salma yang senang karena tak harus menemui Dirga.
Melihat Salma yang disuruh bu Rahma, Dirga pun menawarkan diri untuk menemaninya. Namun langsung dicegah oleh bu Rahma dengan alasan rumahnya yang dekat. Salma tersenyum tipis sementara Dirga terlihat kecewa namun tak bisa memaksa.
Setelah Salma pergi ke rumah adiknya Shania, bu Rahma menatap Dirga tajam. Karena Dirga teman SMU Nadia dan Salma, bu Rahma sudah bisa menduga jika kabar kecelakaan Salma didapatnya dari Nadia. Dan itu berarti pemuda itu tahu jika Salma sudah menikah dan hanya amnesia.
"Maaf nak Dirga... bukankah kamu tahu jika Salma sudah menikah?" tanya bu Rahma langsung.
Dirga terkesiap dengan pertanyaan bu Rahma. Lalu ia pun pengangguk pelan.
"Jika sudah tahu kenapa nak Dirga masih saja mendekati anak saya? saat ini dia memang belum mengingat pernikahannya tapi dimata hukum dan agama Salma itu istri sah suaminya" ucap bu Rahma menohok Dirga.
"Tapi bukankah Salma hanya dijadikan istri kedua? apa ibu rela anak ibu dijadikan istri muda apalagi suaminya itu suami sepupunya" sahut Dirga.
Wajah bu Rahma semakin memerah... ia tak terima jika putrinya dianggap sebagai wanita murahan dan perebut suami sepupunya sendiri.
__ADS_1