
Pak Adi mengeratkan rahangnya menahan amarah bahkan wajahnya yang putih sudah memerah. Dada pria paruh baya itu sudah bergemuruh saat mendengar laporan dari anak buahnya. Pak Adi memang menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa Salma. Pasalnya jalan itu merupakan jalan yang dilarang bagi truk untuk melintas. Bahkan tanda peringatan sudah terpampang jelas di setiap sudut sebelum memasuki area jalan itu. Oleh karena itu tak mungkin ada truk yang berani melintas di sana kecuali sang sopir itu buta huruf dan tak memiliki SIM sehingga tak dapat mengerti tanda larangan di sana.
"Apa kalian yakin dengan apa yang kalian katakan?"
"Iya pak... kami bahkan sudah mendapatkan rekaman cctv dari setiap toko yang ada di sepanjang jalan tersebut"
"Lalu?"
"Dari bukti rekaman cctv dari salah satu toko tersebut tampak truk itu seperti sudah menunggu tak jauh dari tempat kejadian" terang orang itu.
"Dan saat nona Salma turun dari mobil terlihat truk itu mulai melaju kearahnya. Itu bisa di buktikan dari waktu rekaman cctv dari tempat truk itu awalnya berhenti dengan cctv dimana nona Salma berada" sambungnya.
"Apa kau tahu siapa yang memberi informai pada sopir truk itu kapan Salma keluar dari dalam mobil anakku?" tanya pak Adi.
"Kami belum bisa memastikannya pak... sebab sopir truk masih ngotot bahwa saat itu ia sedang mengantuk dan rem truknya blong" terang anak buah pak Adi.
"Tapi bapak jangan khawatir kami akan mencari bukti lain dari rekaman cctv" sambungnya.
"Baik aku tunggu laporan kalian secepatnya!"
"Baik pak"
Setelah mematikan ponselnya pak Adi pun mendekat kearah Wahyu yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Kau tidak apa-apa nak?" tanya pak Adi pada Wahyu.
"Aku tidak apa-apa pa... hanya saja aku masih tidak bisa mengerti kenapa truk itu bisa lewat disana?" jawab Wahyu.
Ya... Wahyu juga tahu jika jalan di dekat alun-alun itu tempat dilarang truk untuk melintas. Karena itulah ia merasa janggal jika ada truk yang berani untuk melintas di sana.
"Kau tenang saja papa sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Saat ini yang yang terpenting kamu fokus pada Salma agar dia segera sadar" ucap pak Adi tak ingin Wahyu tahu tentang hasil penyelidikannya dulu sebelum semuanya jelas.
Tak lama pak Adi dan Gita pamit untuk pulang sebab besok Gita harus kuliah sedang pak Adi akan menggantikan Wahyu untuk sementara agar Wahyu bisa menjaga Salma.
Sementara itu di sebuah ruangan tampak seorang wanita tengah merayakan kemenangannya. Dia ... Friska. Ya dia yang menyuruh orang untuk menabrak Salma. Sungguh ia merasa sangat bangga pekerjaannya menyingkirkan Salma berjalan mulus. Bahkan pihak kepolisian hanya menduga jika itu murni kecelakaan. Tidak sia-sia ia membayar orang dengan iming-iming uang dalam jumlah besar sebagai bayaran agar mau melakukan tugasnya. Walau ia pun harus turun tangan sendiri saat mengawasi kemana saja Wahyu dan Salma berada. Meski ia harus menahan amarahnya saat menyaksikan kemesraan keduanya.
__ADS_1
Dan hasilnya sangat setimpal sebab kini Salma sudah terbaring kritis di rumah sakit. Tinggal menunggu waktu saja baginya untuk melihat wanita yang sangat dibencinya itu meregang nyawa.
"Ha... ha... ha.... kau sungguh sangat pintar Friska... perempuan itu pasti sudah meregang nyawanya sekarang... tinggal menunggu waktu agar aku bisa mendekati Wahyu saat dia sedang berduka" tawa Friska sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamarnya.
Setelah puas tertawa ia pun meraih ponselnya dan menghubungi bu Desi. Dengan satu kali panggilan wanita paruh baya itu langsung menjawab Friska.
"Selamat malam calon ibu mertua..." sapanya pada bu Desi.
"Apa maumu menelponku malam-malam begini?" tanya bu Desi sedikit kesal.
"Tenang ibu mertua... aku menghubungimu untuk memberitahu jika aku telah membereskan perempuan miskin itu" terang Friska sambil terkekeh.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah menyingkirkan perempuan itu!" kata Friska.
"Jadi kau yang menabrak Salma?" tanya bu Desi.
"Bukan aku ibu mertua... tapi orang suruhanku yang melakukannya..." terang Friska.
"Tentu saja..." sahut Friska.
"Tapi sepertinya perempuan itu belum tewas..."
"Maksudnya?"
"Ya dia masih kritis di rumah sakit karena tadi suamiku pergi kesana" kata bu Desi.
"Kau harus membereskannya!" sambung bu Desi.
Friska mematikan ponselnya sepihak. Kemarahan kini sudah mulai terlihat di wajahnya.
"S**l*n!" umpatnya sambil melempar ponselnyabke arah tempat tidur.
Sedang pak Adi dan Gita yang berada di dalam mobil tampak tengah membahas kecelakaan yang menimpa Salma.
__ADS_1
"Pa... apa papa tidak curiga dengan kecelakaan yang menimpa kak Salma?" tanya Gita sambil menoleh ke arah ayahnya.
"Hemmm... memang kenapa?" tanya pak Adi yang tak ingin putrinya kepikiran.
"Bukankah di jalan tempat kecelakaan itu ada larangan bagi truk untuk melintas?"
"Iya ... kau benar nak... saat ini papa juga sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya. Papa minta saat ini kamu juga harus berhati-hati karena papa takut jika kecelakaan Salma itu ulah saingan bisnis papa dan Wahyu..." kata pak Adi pada Gita.
Gita pun mengangguk mengiyakan perkataan papanya. Memang kecelakaan yang menimpa Salma sangat aneh. Wajar jika papanya curiga jika ada orang yang sengaja ingin mencelakainya. Dan saingan bisnis papanya juga Wahyu bisa jadi tersangkanya sebab dalam bisnis terkadang orang mau melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Di rumah sakit Wahyu yang melihat bu Rahma dan kedua adik dan ipar Salma yang masih bertahan di sana merasa tak tega. Bu Rahma yang sudah dari sore... sedang kedua adik dan ipar Salma yang baru datang dari luar kota dan langsung datang ke rumah sakit.
"Ibu ... lebih baik ibu dan keluarga pulang saja dulu... biar saya yang disini menemani Salma" kata Wahyu.
"Tapi nak..."
"Pulanglah bu... kasihan adik-adik Salma... mereka pasti lelah karena baru datang dari luar kota" jelas Wahyu pada bu Rahma.
Bu Rahma pun memandangi anak-anak dan menantunya. Dilihatnya wajah keempatnya tampak lelah karena perjalanan jauh. Wahyu benar anak dan menantunya terlihat kelelahan. Bu Rahma merasa dirinya tidak boleh egois. Akhirnya bu Rahma pun menurut dan mengajak anak dan menantunya untuk pulang ke rumah kontraknnya terlebih dahulu untuk beristirahat. Setelah berpamitan dan menitipkan Salma pada Wahyu mereka semua pun pulang.
Setelah bu Rahma beserta anak dan menantunya pulang Wahyu pun mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di bangku tunggu di depan ruang ICU. Keadaan tubuhnya yang juga lelah membuat pria itu lama kemudian akhirnya tertidur dengan posisi duduk bersandar disana. Tanpa ia sadari jika ada seseorang yang kini tengah mengawasinya. Saat sudah memastikan jika Wahyu sudah terlelap orang itu pun berjalan perlahan menuju ruang ICU.
Dengan sedikit berjingkat orang itu pun membuka pintu ruang ICU dan masuk ke dalam. Saat melihat wajah pucat Salma beserta alat-alat medis yang terpasang di tubuh gadis itu tampak orang itu tersenyum sinis. Langkah orang itu tampak ringan bahkan seakan tengah menari saat mendekati Salma.
"Kau sungguh menyusahkan Salma... jika orang lain saat ini pasti sudah terbungkus kain kafan... tapi sepertinya kau masih ingin menyusahkanku sehingga masih bertahan sampai saat ini dan membuatku terpaksa sekali lagi harus turun tangan untuk memastikanmu tewas!" ucap Friska sambil memeriksa alat medis yang terpasang di tubuh Salma.
"Ah kau sungguh merepotkan... " gumamnya saat mencari alat mana yang harus ia lepas agar Salma terlihat mati dengan wajar.
Setelah memeriksa beberapa saat akhirnya ia memutuskan untuk melepas alat bantu pernafasan Salma. Sambil membuka alat bantu pernafasan Salma, Friska terus berceloteh seakan tengah berbincang dengan korbannya. Tanpa ia sadari jika perbuatannya telah diketahui oleh seseorang yang kini telah berdiri dibelakang wanita itu.
Tanpa aba-aba orang itu langsung memukul tengkuk Friska yang membuat wanita itu langsung tak sadarkan diri dan tubuhnya merosot ke lantai. Wahyu tampak menggeretakkan giginya pertanda ia tengah menahan amarahnya. Setelah memukul tengkuk Friska ia langsung memasang kembali alat bantu pernafasan Salma. Salma yang semula tampak terengah kehabisan nafas karena alat pernafasannya dilepas oleh Friska kini kembali bisa bernafas normal.
Sesudah memastikan jika Salma kini sudah baik-baik saja Wahyu langsung menyeret tubuh Friska setelah sebelumnya ia menghubungi pak Adi dan anak buahnya untuk membawa Friska dari rumah sakit. Wahyu tak ingin meninggalkan Salma sediri di rumah sakit karena itu ia meminta pak Adi yang mengurus Friska. Segera anak buah Wahyu datang dan menyeret tubuh Friska setelah sebelumnya memberikan obat bius melalui saputangan yang di tempelkan di hidung wanita itu agar pingsan lebih lama sehingga mereka mudah membawanya ke tempat biasanya mereka memberi hukuman pada orang yang bersalah pada keluarga pak Adi.
Pak Adi yang menerima panggilan dari Wahyu langsung pergi begitu Wahyu memberi tahu jika orang yang mencelakakan Salma sudah ia tangkap dan kini tengah dibawa ke markas rahasia mereka. Dalam perjalanan pak Adi tampak berfikir dari mana Friska tahu jika Salma selamat dan ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Apa ada mata-mata di dalam keluargaku yang menberitahukan keadaan Salma pada peremouan gila itu? tapi siapa?" fikir pak Adi sambil menyetir mobilnya